Savana sudah siap untuk tidur siang dengan Reno yang duduk di pinggiran kasir menemani sahabatnya itu. Beberapa menit berlalu, tapi mata Savana tak kunjung juga terpejam.
"Ihh Renooo, Sava beneran belum ngantuk," rengek Savana kesal. Savana sudah seperti anak TK yang dipaksa tidur oleh orang tuanya sekarang. "Sava gak mau tidur ah," lanjutnya lalu mengubah posisinya dari berbaring ke duduk dengan menyandarkan punggungnya di kepala kasur.
Reno hanya menghela napas pelan ketika Savana menolak tidur. "Yaudah, kalo gak mau tidur kamu mau ngapain Sava?" tanya Reno lembut. Cowok itu mengubah posisinya untuk mendekat kearah Savana, lalu duduk tepat di sebelah gadis itu. Sava sedikit menggeser tubuhnya ke samping agar Reno juga bisa menyenderkan punggungnya di sebelah Savana.
"Sava mau cerita aja Ren!" semangat Savana menatap Reno dengan binar matanya yang tampak berseri.
Reno tersenyum dan mengangguk. Sudah biasa Savana berbagi cerita kepada Reno. Tentang apapun Savana pasti akan menceritakannya kepada Reno. Bahkan kalau ditanya lebih sering mana Savana menyampaikan keluh kesahnya, kepada Reno atau Mamanya, Savana akan menjawab kepada Reno. Karena hanya Reno yang selalu ada di sampingnya.
"Mau cerita apa kamu Sava?" tanya Reno menatap Savana yang semakin terlihat bersemangat.
"Geo!" satu nama yang tak ingin Reno dengan keluar dari mulut Savana malah diucapkan oleh gadis itu.
Wajah Reno berubah menjadi masam begitu mendengar nama Geo. Reno benar-benar takut Savana akan berada di dalam masalah yang besar jika gadis itu benar-benar menyukai Geo.
Geo bukan lah seseorang yang akan diam saja ketika dia merasa ketenangannya terganggu. Sedangkan Reno tahu, Sava kalau sudah menyukai seseorang pasti gadis itu akan sangat hiperaktif kepada seseorang yang gadis itu sukai. Dan itu berarti Savana akan sangat hiperaktif kepada Geo.
Dan itu adalah suatu bahaya besar.
Geo mungkin memang tak melukai fisik Savana. Tapi cowok itu sudah pasti akan melukai hati Savana. Dalam, dan akan sangat dalam.
Reno ingin sekali mencegah Savana untuk bercerita lebih tentang Geo. Reno tak ingin mendengar kalimat-kalimat penuh harapan Savana kepada Geo. Namun, begitu dia melihat wajah Savana yang sangat bersemangat dan terlampau senang begitu menyebutkan nama Geo, Reno rasa, dia harus mengurungkan niatnya.
"Hm Geo? Kenapa dia?" tanya Reno berakting seolah cowok itu sangat antusias mendengarkan cerita Savana.
Savana yang seperti mendapatkan sinyal hijau untuk diizinkan bercerita itu tersenyum semakin lebar dan segera memulai ceritanya.
"Sava suka Geo Reno," ujar Savana dengan nada bergembira. Sungguh, ini adalah satu kalimat pembuka yang mampu membuat Reno terdiam seribu bahasa. Reno tak tahu lagi harus berekspresi seperti apa.
Di satu sisi, Reno senang bisa melihat Savana bahagia ketika Savana berhasil menemukan orang baru yang bisa membuat gadis itu mungkin akan sedikit lupa dengan seseorang di masa lalu gadis itu. Ah, sebut saja mantan.
Jangan salah, gadis polos lugu dan mungil seperti Savana sudah mempunyai seorang mantan. Dia adalah mantan pertama Savana. Mereka berpacaran saat Savana duduk di kelas 9 SMP.
Yaa, bisa dibilang sekitar 2 tahun yang lalu.
Dan di sisi lain, Reno bingung harus bagaimana menanggapi perasaan Savana disaat dia tahu, Geo, orang yang Savana sukai itu berpotensi besar untuk membuat Savana patah hati.
Dan titik puncak kebingungan Reno adalah, kedua orang itu merupakan sahabatnya. Geo dan Savana, mereka sahabat Reno kan? Reno bingung harus berbuat seperti apa jika nanti Geo benar-benar melukai hati Savana.
Reno tak mungkin melukai Geo, sahabatnya sendiri. Tapi Reno juga tak mungkin membiarkan sahabatnya yang lain terluka, yaitu Savana.
Reno tak bisa memilih salah satu diantara keduanya. Tapi Reno bisa tahu mana yang harus di bela. Dan sudah pasti itu Savana.
Namun lagi-lagi, kalaupun Reno berencana akan melukai Geo, Reno tak yakin cowok itu bisa. Bukan lagi karena alasan Geo adalah sahabatnya. Tapi alasan kali ini adalah Savana sendiri. Reno yakin Savana tak akan membiarkannya melukai seseorang yang gadis itu sukai. Sekalipun seseorang yang gadis itu sukai telah memberikan luka yang cukup besar dan dalam.
Hati Savana begitu lembut, dia akan dengan berbesar hatinya akan melindungi orang yang dia sayangi. Selagi dia bisa. Itulah Savana.
"Reno...," Savana menggoyangkan bahu Reno lumayan keras. Pasalnya sedari tadi Reno hanya diam tak menanggapi Savana, padahal Savana hanya akan melanjutkan cerita ketika Reno sudah merespon. "Reno kenapa sih?"
Reno tersadar dari lamunan panjangnya. Ah, Reno tak sadar sudah begitu lama berpikir kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi. "Gak apa-apa Sava, Reno cuma lagi mikir aja," balas Reno kemudian.
Dahi Savana bergelombang bingung. "Mikir apa sih Reno? Kok sampe lama banget?" tanyanya penasaran.
Reno menggelengkan kepalanya. "Bukan apa-apa kok Va," ujarnya. "Udah ayo, lanjutin ceritanya. Reno bakalan dengerin," lanjut Reno tersenyum kecil.
Dengan semangat Savana mengangguk. Gadis itu lalu bercerita dengan bahagianya. "Geo baik ya Reno, Geo mau nolongin Sava padahal kan Geo gak kenal Sava," ujar Savana. "Eh, tapi Sava juga gitu sih kalo Sava lihat ada yang butuh bantuan Sava. Pasti Sava tolongin," lanjutnya.
"Mmm tapi kan berarti Geo sama Sava sama-sama orang baik. Berarti kita cocok dong ya Reno," tambah Savana meminta pendapat Reno. Reno bingung harus berkata seperti apa.
Beberapa saat Reno berpikir, Reno akhirnya memutuskan untuk mendukung apapun yang Savana lakukan. Reno akan menjadi supporter untuk Savana. Menyemangati gadis itu di setiap langkah usahanya untuk mendekati Geo.
Siapa tau kan, Savana mampu meluluhkan hati Geo. Siapa tahu Geo luluh dengan Savana, si gadis polos lugu dan menggemaskan ini.
"Iya Sava, kamu sama Geo cocok kok," balas Reno tersenyum tipis menatap Savana yang semakin tersenyum lebar.
"Wah kalo udah Reno yang bilang kaya gini, Sava jadi makin semangat buat deketin Geo nya. Makasih pendapatnya ya Reno. Pendapat Reno udah kaya energi aja buat Sava. Sava langsung semangat nih!" ujar gadis mungil itu dengan cengiran khasnya.
"Tugasnya sahabat kan memang untuk mendukung sahabatnya saat sahabatnya itu butuh dukungan Sava," jelas Reno. Tangan cowok itu terulur menyusup ke belakang leher Savana lalu mengelus surai hitam gadis itu. "Jadi, Reno bakalan selalu dukung Sava kalau Sava butuh dukungan kaya gini. Jangan malu buat bilang sama Reno ya?" ujar Reno lagi.
Savana mengangguk dengan cepat. "Sava akan selalu bilang sama Reno. Sava akan cerita semuanya ke Reno. Biasanya selalu gitu kan?" ujarnya.
Reno ikut mengangguk. "Iya," ujarnya. "Tapi Reno minta, Sava jangan sampe lupa sama Reno ya kalo Sava udah punya pacar nanti? Entah itu Geo atau siapapun itu. Bisa kan Sava?" tanya Reno yang lebih mengarah ke permintaan.
Savana mengangguk lagi tanpa ragu. "Bisa Reno! Kan waktu itu Sava juga gak lupain Reno. Lagian mana mungkin Sava lupain Reno sih, Reno kan segalanya buat Sava," balas gadis itu tersenyum ceria.
"Iya Sava, tetep seperti itu ya?" pinta Reno lagi.
"Siap komandan!" ujar Savana semangat dengan tangan hormat dan juga wajah yang di buat serius. Layaknya prajurit.
Reno terkekeh kecil melihat tingkah sederhana Savana yang sangat menggemaskan ini. "Udah yuk sekarang Sava istirahat," ujar Reno. Cowok itu kembali menggeser tubuhnya menjauh dari Savana. Membuka selimut gadis itu lalu mengisyaratkan Savana untuk kembali berbaring.
"Tapi kan Reno, Sava-," belum sempat Savana menyelesaikan perkataannya, Reno dengan cepat menyela.
"Gak boleh protes Sava," larang Reno dengan jari telunjuknya yang bergoyang ke kanan dan kekiri. "Sava nurut sama Reno oke? Sava gak mau kan kalo sampe Reno di marahi Mama Sania gara-gara Reno gak bisa buat Sava tidur?" Reno menatap Savana dengan tatapan seriusnya.
Savana perlahan menggeleng. Dia tak mau Reno dimarahi Mama Sania karenanya. "Gak mau Reno. Sava gak mau Reno di marahi Mama Sania gara-gara Sava," ujarnya.
"Nah makanya, kalo Sava gak mau Reno kena marah, sekarang Sava tidur ya?" ujar Reno kembali menatap Savana lembut.
"Iya Reno," Savana pasrah. Gadis itu membaringkan tubuhnya di kasur yang memang sudah berubah hak milik menjadi milik Savana. Kamar dan seluruh isinya ini, meskipun berada di rumah Reno, namun sebenarnya ini memang khusus di buat untuk Savana. Melihat dekorasi dan cat kamar yang bernuansa girly ini di beri warna pink, warna kesukaan Savana.
Kamar ini sengaja di buat untuk Savana karena gadis itu memang sering tidur di rumah Reno. Savana sering tidur di rumah Reno lagi-lagi karena Mama gadis itu yang jarang berada di rumah. Daripada Savana sendirian tinggal di rumah, lebih baik Savana tidur di rumah Reno. Itu yang dikatakan Mama Sania saat Savana dan Mama gadis itu menolak untuk Savana menginap di rumah Reno selagi Mama Savana bekerja. Mereka takut merepotkan.
Setelah Savana membaringkan badannya dengan nyaman, Reno segera membantu Savana menarik selimut untuk menutupi tubuh gadis itu.
"Siang Savana," ucap Reno mengelus sejenak surai hitam Savana sebelum cowok itu keluar dari kamar gadis itu.