"Assalamualaikum Maaaa, Reno ganteng pulanggg," teriak Reno menggelegar. Suara cowok itu terdengar sangat nyaring memenuhi seisi rumah.
"Waalaikumsalam Renoooo," balas Mama Sania yang tak kalah menggelegar. Wanita paruh baya itu terlihat baru saja keluar dari arah dapur. Biasanya, jam segini Sania memang masih memasak.
Begitu mendengar suara Reno, wanita paruh baya itu segera keluar untuk menyambut kepulangan sang anak semata wayang kesayangannya.
"Kok kamu udah pulang Ren?" tanya Mama Sania heran sembari melangkahkan kakinya mendekati Reno yang sudah duduk santai di salah satu sofa yang ada di ruang tamu. Biasanya jam Reno pulang sekolah setidaknya masih sekitar 2 jam dari sekarang.
"Iya Ma, ada masalah soalnya," ujar Reno. Reno sedikit membenahi cara duduknya ketika Mamanya juga ikut mendudukkan badannya di sebelah sofa yang Reno duduki.
"Masalah? Masalah apa lagi Reno? Ada yang ngatain pou kamu jelek lagi?" tanya Mama Sania menatap Reni penuh pertanyaan. Tidak ada rasa khawatir yang cukup jelas sebenarnya di raut wajah yang Sania tunjukkan. Karena Sania tahu, Reno memang sering membuat masalah. Jadi wanita paruh baya itu tak heran. Apalagi membuat masalah hanya karena masalah sepele, Reno terlalu sering melakukannya.
Salah satu yang sering terjadi adalah ketika ada satu teman laki-lakinya yang mengatainya banci karena bermain permainan pou. Disitu lah Reno akan sangat marah, Reno bahkan tak segan-segan membogem wajah temannya sampai babak belur hanya karena masalah itu. Reno sebenarnya hanya membuktikan saja, kalau dia yang bermain game pou lebih jantan daripada temannya yang bermain game PUBG. Menurut Reno, game tak bisa menjadi titik pacuan jantan atau tidaknya seorang laki-laki. Menurut Reno pula, seseorang laki-laki yang menyukai game pou sepertinya bukanlah suatu masalah.
"Bukan Ma, tapi masalah kali ini menyangkut sama Sava," jelas Reno. Cowok itu menggeser tubuhnya berhadapan dengan sang Mama.
"Sava?!" pekik Mama Sania terkejut. Tubuh Mama Sania segera berputar menghadap Reno. "Kenapa dia Ren? Sava kenapa?" tanyanya panik.
Reno sebenarnya cukup ragu ingin memberi tahu Mamanya mengenai berita ini karena Reno tahu, Mamanya pasti akan langsung heboh sendiri. Ini saja, belum tahu beritanya Mamanya sudah panik dan heboh. Tapi, kalau Reno tak memberi tahu Mamanya, masalah ini tak akan cepat terselesaikan. Setidaknya, jika Mamanya tahu, Mamanya pasti akan langsung turun tangan menangani masalah yang menimpa Savana.
Kalau bukan Mamanya yang turun tangan, siapa lagi? Mamanya Savana? Ah, itu tidak bisa, Mama Savana sangat sibuk. Reno sih yakin kalau cowok itu memberi tahu Mama Savana, sudah pasti Mama gadis itu akan ikut panik dan khawatir dalam satu waktu yang bersamaan. Dan itu akan menjadi sedikit berbahaya dengan apabila nanti Mama Savana pulang dalam keadaan yang panik dan tentu saja terburu-buru. Savana sendiri juga pasti tak akan mau Mamanya khawatir dengan keadaannya.
Jadi, Reno hanya berpikir jika saat ini hanya Mamanya yang bisa membantu Savana. Selain itu juga Savana sudah di anggap seperti keluarga sendiri oleh keluarga Geo.
"Reno!!" panggil Mama Sania karena Reno sedari tadi terdiam cukup lama. Reno sampai tak sadar kalau dia berpikir terlalu panjang.
"Mmm Sava jadi korban pembullyan Ma," jujur Reno pelan. Mata Sania melebar mendengar itu. Gadis mungil yang sangat manis dan menggemaskan itu menjadi korban pembullyan? Ah, Sania tak bisa membayangkannya.
"Gimana keadaan Sava Reno?" tanya Mama Sania sembari berdiri. Wanita paruh baya itu khawatir. "Dimana Sava sekarang? Dia udah pulang?"
Baru saja mulut Reno hendak menjawabnya, suara langkah kaki dan juga salam yang sangat keras terdengar nyaring memasuki area rumah Reno. Membuat Reno yang hendak menjawab mengurungkan niatnya.
"Assalamualaikum Mama Sania, Savana Arabella datangg," teriak gadis yang sedang di perbincangkan dengan nyaring. Terlihat gadis itu sedang berjalan kearah Reno dan Mama Sania dengan wajah yang berseri. Dari wajahnya, tak nampak sama sekali kalau gadis itu baru saja menjadi korban pembullyan karena ekspresinya yang tetap ceria seperti tak terjadi apa-apa. Kalau saja tak ada luka di beberapa bagian wajah, tangan dan kaki gadis itu, pasti benar-benar tak akan ada yang menyadari kalau gadis itu merupakan korban dari pembullyan.
Mama Sania yang mendengar suara salam dari anak gadis yang sedari tadi membuatnya khawatir itu segera menoleh cepat ke sumber suara. Dapat dia dapati, Savana semakin berjalan menuju kearahnya dan Reno. Tanpa banyak berkata lagi, Mama Sania segera datang dan menghampiri Savana lalu mengecek kondisi tubuh gadis itu dengan perlahan.
"Mana aja yang luka Sava?" tanya Mama Sania sembari fokus mengulik tubuh Savana untuk mencari luka mana saja yang ada di tubuh gadis itu. "Yaampun Sava, siapa yang bikin kamu kaya gini nak, luka kamu ada dimana-mana ini," pekiknya begitu melihat lumayan banyak luka di tubuh gadis itu.
Savana yang melihat betapa khawatirnya Mama Sania malah tersenyum tipis, dia senang. Dia tak merasa kehilangan sosok keluarga walaupun keluarga kandungnya tak ada yang ada di sisinya. Dari Papa Haris dan Mama Sania Savana mendapatkan rasa kasih sayang seorang ayah dan ibu. Dari Reno Savana mendapatkan rasa kasih sayang dari seorang sahabat dan kakak laki-laki.
"Sava gak apa-apa Mama," balas Savana berusaha meyakinkan Sania yang masih terlihat panik dan khawatir. "Sava cuma luka kecil doang kok. Ini Sava main ke rumah Mama buat minta Mama obatin luka Sava. Gak apa-apa kan Ma? Sava gak ngrepotin Mama kan?" tanya Savana menatap Sania sembari tersenyum. Melihat Savana tersenyum justru membuat Sania ingin nangis detik itu juga. Kenapa gadis mungil ini masih bisa tersenyum disaat orang lain yang terkena bullying pasti akan mengalami depresi dan rasa takut yang berlebihan.
Apa, Savana berusaha menyembunyikan rasa itu?
Mama Sania menggeleng keras menanggapi pertanyaan Savana tadi. "Enggak Sava, kamu enggak ngrepotin Mama. Enggak sama sekali," balas Mama Sania. "Kan tugasnya Mama salah satunya memang untuk mengobati anaknya yang terluka Sava," Mama Sania ikut menyunggingkan senyumnya.
"Ayo duduk Sava, Mama obati," ajak Sania seraya menggandeng tangan Savana untuk membawanya menuju sofa agar bisa beristirahat. "Ren, kamu tolong ambilin kotak P3K buat Mama obati Sava," titah Mama Sania yang langsung dibalas dengan hormat oleh Reno tanpa sepatah katapun. Cowok itu lalu berjalan menuju dapur yang memang disitu lah letak kotak dengan lambang tanda plus berwarna merah itu.
Reno segera mengambil kotak itu lalu berjalan kembali mendekati Mamanya dan Savana. "Ini Ma," ujar Reno seraya menyodorkan kotak P3K nya kepada sang Mama.
"Makasih Reno," ujar Mama Sania sembari menerima kotak P3K dari tangan Reno. Sania kemudian segera membuka kotak tersebut dan mulai mengobati luka di wajah, lengan dan kaki Savana dengan kapas yang sudah di tetesi dengan obat merah dan juga alkohol.
Sekitar 10 menit berlalu hanya untuk mengobati luka Savana. Sania benar-benar melakukannya dengan sangat pelan dan lembut. Takut dia nanti malah kembali melukai Savana.
"Selesai," ujar Mama Sania tersenyum senang. Savana pun ikut tersenyum senang setelahnya.
"Makasih ya Ma," ujar Savana yang hanya dibalas dengan senyuman dan anggukan kecil dari Sania.
Reno yang melihat interaksi antara kedua orang yang sangat dia sayangi itu tersenyum senang. Mereka terlihat seperti keluarga sekarang. Savana sudah benar-benar seperti adiknya.
"Yaudah, karena kamu udah selesai di obati. Kamu istirahat dulu ya Sava, naik ke kamar kamu gih," ujar Mama Sania dengan tangannya yang mengelus surai panjang dan hitam milik Savana. "Kamu anterin Sava ke kamarnya Reno. Tungguin Sava sampe Sava bener-bener tidur," pinta Mama Sania. Reno tersenyum dan mengangkat kedua jempolnya kepada Sania tanpa protes.
"Siap Mama!" semangat Reno. Cowok itu lalu mendekat kearah Savana duduk. "Ayo Sava, waktunya tidur siang," ajak Reno sembari mengulurkan tangannya pada Savana.
Savana pun menerima uluran tangan Reno dengan senang hati. "Ayo," ujarnya disertai dengan senyuman manis.
Setelah itu, keduanya mulai menaiki satu demi satu anak tangga dengan pelan. Reno juga senantiasa merangkul bahu Savana agar gadis itu akan selalu terjaga. Sania yang melihat kedekatan kedua remaja itu tersenyum tipis.
"Anak Mama sudah tumbuh besar," ujar Mama Sania pelan. Mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca.