"Woi, disini ada dua manusia jomblo. Kalian jangan seenaknya dong kalo mau pacaran. Inget tempat!" suara Aldi memecahkan pikiran Geo. Suara Aldi pula membuyarkan tawa Savana dan Reno.
"Pacaran? Emang disini siapa yang pacaran Ren?" tanya Savana bingung. Dahi gadis itu bergelombang.
Reno membalasnya dengan hendikan bahu singkat. "Gak tau Va. Dia emang suka ngadi-ngadi. Gak usah di dengerin," ujarnya. Savana yang memang tak paham apa-apa itu hanya mengangguk percaya.
Sementara Aldi, cowok itu dibuat gemas oleh segala tingkah laku Savana. Sedari tadi cowok itu perhatikan, segala tingkah laku Savana ini sangat menggemaskan. Polos, lugu dan cantik. Perpaduan yang sangat ah mantap.
Aldi ingin sekali mengarungi gadis itu dan membawanya pulang.
"Lo nemu bocah gemes ini dari mana sih Ren? Gue bawaannya pengen ngarungin aja tau gak dari tadi. Polos banget. Mana cantik lagi," Aldi tak dapat lagi mencegah celotehannya keluar. Terlampau gemas dengan tatapan Savana yang saat ini terlihat seperti bocah TK yang sedang linglung menunggu jemputan datang.
"Mau ape lo? Suka lo sama sahabat gue? Jan macem-macem ya. Kaga gue kasih restu!" Reno berkata galak. Over protective nya keluar untuk menjaga Savana dari para buaya-buaya darat seperti Aldi ini.
"Jadi cuma sahabat lo nih? Kaga lebih?" tanya Aldi memastikan. Reno menjawabnya dengan anggukan yakin. Memang seperti itu hubungannya dengan Savana. "Wah, sabi nih gue deketin. Berarti gue gak ada nikung temen kan ya?"
"Enak aja. Lo gak bisa deketin Sava. Gue gak rela ya kalo sahabat kesayangan gue dapet cowok tengil kaya lo. Gak ada keren-kerennya," cibir Reno keras. "Udahlah gak usah mimpi. Sava gak akan sama cowok modelan kaya lo. Dia bakalan gue cariin jodoh yang keren. Kandidat cowok yang mau jadi pacarnya Sava itu banyak. Keren-keren dan tajir-tajir lagi. Lo mah gak ada apa-apanya Al!" lanjutnya.
Aldi mendengus kesal. Hina saja terus. Aldi mah kapan sih bener? Salahhh mulu. Cape juga lama-lama.
Reno melirik kearah Geo yang sedari tadi diam kemudian. "Nah kalo gue lihat-lihat. Geo nih masuk kriteria kandidat pacarnya Sava. Sava demen nih pasti sama cowok modelan Geo gini," ujar Reno. "Ah tapi bahaya juga kalo Sava suka Geo. Dia tipe cewek yang gigih soalnya. Gue gak bisa bayangin kalo sampe dia suka Geo tapi Geo gak suka balik. Bisa jadi apa ya Sava? Dia kan tipe cewek yang penuh perjuangan banget. Ya, kalo dia berjuang dan gak dapat perlakuan gak mengenakkan sih gak masalah. Yang gue takutin si Geo macem-macem nih. Secara Geo itu kasar banget. Dia kalo gak suka ya gak suka. Dia juga kalo nyakitin gak nanggung-nanggung. Apalagi lidahnya tajem banget. Sekali ngomong, ngejleb nya tembus sampai ke relung hati dan jiwa raga," ujar Reno panjang lebar.
"Yaa jangan sampe aja Sava suka Geo deh. Dia kalo suka sama orang udah gak bisa diganggu gugat soalnya. Mau dinasihati sampe mulut berbusa kalo dia udah suka ya tetep aja suka. Mau dikasarin model gimanapun juga Sava pasti terima. Gak paham lagi gue sama hatinya Sava. Terbuat dari apa ya. Sekuat itu hatinya," lanjut Reno panjang lebar.
Aldi dan Geo menyimak dengan seksama. Mendengar apa yang dijelaskan dengan panjang lebar oleh Reno membuat Geo merasa tertantang. Geo yakin, Geo bisa mematahkan hati gadis itu. Geo bisa membuat Sava berhenti menyukainya kalau saja gadis itu ternyata benar-benar menyukainya.
Lihat saja nanti. Seberapa tahan kah Savana dengan lidah tajam milik Geo.
Sudah banyak hati yang terluka karena penolakan keras Geo. Dan Savana akan menjadi salah satunya. Geo yakin bisa melakukan itu.
"Ren, Mama Sania ada di rumah gak?" tanya Savana menghampiri Reno, Geo dan Aldi. Reno yang semula sedang berbicara dengan Aldi menoleh kearah Savana yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampignya.
"Ada Sava, kamu masuk aja," ujar Reno sembari mengusap lembut rambut Savana yang basah. "Oh iya Va, rambut kamu masih basah. Seragam kamu pasti juga masih basah kan? Kamu pualng ke rumah dulu gih, ganti baju abis itu baru ke rumah aku. Minta Mama keringin rambut kamu. Sekalian nanti minta Mama obatin luka kamu, ya," lanjut Reno baru menyadari kalau seragam dan rambut Savana sedari tadi masih basah.
Savana mengangguk semangat membalasnya. "Iya Ren," ujar Savana. Gadis itu kemudian beralih menatap Geo yang sedang berdiri diapit oleh Reno dan Aldi. "Oh iya Geo, hoodienya Sava balikin besok ya. Mau Sava cuci dulu soalnya. Kan hoodienya ikut basah," kata Savana menatap Geo dengan senyum lebarnya.
Geo yang memang pada dasarnya cuek bebek itu tak banyak bicara, dia hanya menatap Savana datar kemudian mengangguk.
Sebelum Savana benar-benar, Savana menyempatkan diri untuk beralih menatap Reno kembali dan berbisik dengan suara yang lumayan keras. "Sava suka sama temennya Reno yang namanya Geo. Dia ganteng, baik lagi," katanya. Savana cekikikan sendiri setelah berkata itu. Gadis itu langsung berlari memasuki rumahnya sendiri kemudian.
"Hati-hati Savana, jangan lari!" teriak Reno tak mau sesuatu tak terduga terjadi kepada gadis mungil yang sangat menggemaskan itu.
Savana mendengar itu, namun gadis itu tak mengindahkan perkataan Reno, dia masih tetap berlari sembari cengengesan tak jelas.
"Emang dasar bocil," cibir Reno sembari menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan tingkah Savana yang selalu menggemaskan di matanya.
Setelahnya, Reno beralih kembali menatap Geo dan Aldi bergantian. "Bahaya," ujar Reno pelan. Cowok itu benar-benar menatap Geo serius kemudian. "Ge. Lo jangan macem-macem sama Sava. Dia masih polos Ge. Dia cuma ngelakuin apa yang menurut dia bener," jelas Reno tak mau Geo sampai melakukan hal di luar dugaan kepada bocah mungil yang merupakan sahabat kesayangannya itu.
Savana bisa dalam bahaya kalau sudah menyangkut dengan Geo seperti ini. Geo tak pernah pandang bulu. Jika ada orang yang menurutnya mengganggu ketenangannya, Geo pasti akan membasmi orang tersebut.
"Gue gak akan macem-macem kalo dia gak ganggu ketenangan gue Reno. Lo tahu itu," balas Geo santai, cowok itu memposisikan tangannya untuk bersedekap d**a. "Mau dia temen lo sekalipun. Gue gak peduli Ren. Kalo menurut gue dia mengganggu, gue gak akan jamin dia gak gue apa-apain," lanjutnya menyeringai menyeramkan.
Reno dan Aldi jujur merasa ngeri saat Geo sudah seperti sekarang. Geo tak pernah main-main dengan ucapannya. Geo mungkin memang terpandang sebagai good boy di sekolahnya. Tapi faktanya, Geo diluar sekolah bahkan jauh lebih buruk dari pada para bad boy asli di sekolahnya.
"Jangan Sava Ge....," lirih Reno memohon. Namun bukan Geo namanya kalau langsung menuruti begitu saja. Geo memang menghargai kedua sahabatnya yang selalu ada di sampingnya ini. Tapi jangan pernah berpikir Geo akan menuruti kemauan Reno saat ini yang menurutnya dapat merugikannya itu.
Geo hanya menatap Reno datar. Dia acuh. Dia tak berubah pikiran sedikitpun. "Motor gue mana?" tanya Geo setelah beralih menatap Aldi.
Aldi yang sedari tadi menjadi penyimak lalu tiba-tiba ditanya seperti itu mendadak menjadi cengengesan kecil. Cowok itu juga menggaruk tengkuknya yang dapat diyakini bahwa itu sebenarnya tidak gatal. "Hehehe, lo jangan marah ya Ge," ujarnya.
"Mana?" tanya Geo dengan nada suara yang tetap konsisten datar.
"Tapi janji jangan marah," ujar Aldi lagi.
"Mana?!" nada suara Geo mulai naik satu oktaf.
"Janji dulu ya tapi Ge. Jangan marah," ujar Aldi mengulangi lagi. Geo mulai merasa semakin kesal dengan perkataan Aldi yang berbelit-belit. Tinggal jawab dimana letak motor Geo. Kenapa susah sekali?
"Mana Aldino Rasya!!" sentak Geo menatap Aldi kasar. Aldi dan bahkan Reno yang hanya menjadi penyimak tersentak kaget mendengar sentakan Geo.
Selangkah demi selangkah Aldi mulai mundur menjauh. Mata cowok itu terfokus pada pintu samping kemudi mobilnya. "Mmm, gue tinggal di sekolahan Ge. Gue lupa," ujarnya pelan lalu berlari masuk ke dalam mobil. Takut-takut Geo akan marah.
Reno yang menangkap sinyal akan terjadi pertengkaran itu mulai mundur kearah pagar rumahnya. Sepertinya akan menjadi tontonan asik nih.
Sedangkan Geo yang mendengar jawaban dari pertanyaannya yang dilontarkan untuk Aldi itu terlihat kesal. Bukan marah. Cowok itu lalu segera membuka pintu penumpang mobil Aldi dan duduk di jok penumpang sebelah Aldi.
Aldi yang merasa ada seseorang yang baru saja memasuki mobilnya dan menduduki jok penumpang yang ada di sampingnya kemudian menoleh. Disana sudah ada Geo yang menatap Aldi dengan tatapan datarnya.
Aldi menepok jidatnya. Dia lupa mengunci pintu mobil. Disaat Aldi berniat untuk kembali kabur. Suara Geo menghentikannya.
"Jalan. Balik ke sekolah," titah Geo tak terbantahkan. Cowok itu berbicara sembari menatap lurus ke depan.
"Tapi kan Ge...," Aldi hendak protes. Namun dengan cepat Geo menyela.
"Lo pikir gimana gue bisa ambil motor gue? Kunci gue lo bawa b**o!" potong Geo menyela protesan Aldi. "Gak usah bacot. Cepet jalan!" titahnya lagi yang kali ini langsung di laksanakan Aldi tanpa protesan atau bantahan.
Mobil mulai berjalan meninggalkan depan pagar rumah Reno. Reno yang sedari tadi masih menanti pertengkaran terjadi pun dibuat kesal. Dia gagal melihat pertunjukan menyenangkan.
"Yah gagal gue dapet tontonan gratis," ujar Reno nelangsa. "Gak asik lo Ge! Masa Aldi di lepasin gitu aja. Harusnya di sleding tuh anak," teriaknya pada mobil Aldi yang sudah berjalan menjauh dari rumahnya.
Reno pun pada akhirnya hanya menghela napas pelan. Ingatannya kembali pada perkataan Geo beberapa jam yang lalu. Jika Geo benar-benar melakukan apa yang cowok itu biasa lakukan, Reno tak dapat membayangkan bagaimana nasib Savana.
Savana itu memiliki hati yang lembut. Sudah jelas hatinya sangat sensitif. Jadi, bagaimana keadaan hati sahabatnya itu nanti?
Entahlah, Reno pusing memikirkan itu. Reno pun lalu memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya dan menunggu Savana di dalam. Bodo amat dengan mobilnya yang terpakir di luar gerbang rumahnya. Lagipula, di komplek rumah Reno jarang sekali banyak mobil berlalu lalang.
Komplek elite. Diisi oleh orang-orang penting yang sibuk bekerja dan tak punya waktu di rumah.