CHAPTER 2

1498 Words
Sementara Reno sendiri, cowok itu dibuat kesal dengan lamanya Aldi berjalan. Sebenarnya kenapa sih temannya itu? Jarak dari kelasnya dengan kelas Savana tak begitu jauh. Tapi 5 menit berlalu, Aldi masih juga tak kunjung sampai. Reno bahkan baru bisa melihat Aldi sekarang, temannya itu sedang berjalan pelan menghampirinya. Ah tak hanya pelan, tapi sangat pelan. Aldi sampai kesal dibuatnya. "Lo lemot banget sih Al," kesal Reno menghampiri Aldi kemudian mendorong temannya itu agar bisa berjalan jauh lebih cepat. "Gue capek Reno begeeee," keluh Aldi. Bagaimana tidak lelah, kalau di tiga tas yang Aldi pegang saja ada beberapa buku paket tebal milik masing-masing tas. Ditambah dengan adanya satu laptop juga di masing-masing tas. Itu sangat berat. Sungguh. "Iya entar gue bantu. Gak usah bacot mulu. Cepatan anjir, kasihan Sava," ujar Reno. Setelah mereka sampai di depan kelas Savana, Reno segera masuk kedalam kelas gadis itu. Membiarkan Aldi menunggu di depan kelas Savana dengan cowok itu duduk lesehan karena kelelahan. Cowok itu bahkan sudah berkeringat banyak sekarang. Sudah pasti selain karena lelah membawa tiga tas, tapi juga karena cuaca di SMA Nusa Bangsa saat ini memang benar-benar sangat amat panas. Reno saat ini berdiri di depan warga kelas XI MIPA 3, tanpa banyak bicara, hanya dengan mata cowok itu yang memindai seluruh bangku penjuru kelas, Reno dapat menemukan letak tas milik Savana. Begitu melihatnya, Reno segera mendekati bangku yang terdapat tas milik Savana itu. Lalu mengambilnya. Gadis yang duduk di sebelah bangku yang diyakini bangku Savana itu terlihat bingung karena tas Savana diambil tanpa kata oleh seorang salah satu mose wanted di SMA Nusa Bangsa ini. "Loh, tas nya Sava mau lo bawa kemana?" tanya gadis itu seperti bingung, gadis itu juga menatap Reno dengan tatapan curiga. Reno yang sudah memegang tas Savana dan siap berbalik itu mengurungkan niatnya. Cowok itu kembali menoleh menatap gadis yang bersuara tadi. "Lo temen sebangku Sava?" tanya Reno datar. Gadis itu hanya mengangguk kaku membalasnya. "Kalo ada guru bilangin, Savana pulang. Dia kena bully sama Raisa," pesan Reno kemudian langsung berbalik dan berlalu pergi. Gadis yang baru saja membuka mulutnya hendak bertanya itu harus kembali menutup mulutnya melihat Reno yang sudah berjalan pergi keluar dari kelas dengan membawa tas milik Savana itu. "Anjir banget Reno," kesal gadis itu. Ya, dia tentu tahu kalau cowok tadi adalah Reno Ardiansyah. Salah satu mose wanted boy SMA Nusa Bangsa. "Tapi, gimana bisa Reno kenal Sava? Sampe hafal tas dia lagi," gumam gadis itu kebingungan. "Ah enggak, itu gak penting. Yang terpenting sekarang adalah gimana keadaan Sava? Cewek polos itu baik-baik aja kan?" lanjutnya juga bergumam. Kebingungan gadis itu berubah menjadi sebuah kekhawatiran. Khawatir dengan keadaan teman barunya itu. Savana Arabella, gadis cantik dan polos yang baru saja beberapa jam lalu resmi menjadi teman sebangkunya sekaligus sahabatnya. "Sial! Gue belum tukar nomor ponsel sama Sava," kesalnya begitu mengingat dia belum sempat bertukar nomor ponsel dengan Savana. "Tapi harusnya Bu Gita punya nomornya kan?" lanjutnya kembali bergumam. Bu Gita adalah wali kelas mereka. Guru yang baru saja menginjak kepala tiga itu adalah guru yang sangat ramah dan baik. Dia juga merupakan guru termuda dan tercantik di SMA Nusa Bangsa. Saking cantik, baik dan ramahnya, bahkan banyak murid laki-laki di SMA Nusa Bangsa yang iseng-iseng menggoda dan mendekati guru itu. Bu Gita benar-benar guru idaman. Dia bukan hanya berperan sebagai guru untuk mereka, tetapi juga teman. "Iya! Pasti punya!" seru gadis itu yakin. Gadis itu kemudian segera mendiall-up nomor ponsel Bu Gita. Tak perlu waktu lama, Bu Gita pun sudah mengangkat teleponnya. "Assalamualaikum Bu Gita," salam gadis itu mendahului. "Waalaikumsalam La," terdengar Bu Gita menjawab salam dari gadis yang dipanggil 'La' itu. "Ada apa La? Ada masalah?" tanyanya kemudian. "Mmm jadi memang ada sedikit masalah Bu yang mengharuskan saya untuk meminta nomor ponsel Savana Arabella, murid baru di kelas kita," ujar gadis menjawab. "Masalah? Savana Arabella? Murid baru? Ada apa sebenarnya La?" tanya Bu Gita bingung. Guru itu juga khawatir. Perasaannya mendadak tak enak. Gadis itu sebenarnya merasa ragu untuk berkata, tapi menurutnya, Bu Gita memang harus tahu "Sebenarnya murid baru di kelas kita yang bernama Savana Arabella terkena bully Bu," ujar gadis itu pelan. "APA?!!" pekik Bu Gita terkejut. "Siapa yang membully-nya La?" tanyanya khawatir. "Raisa Laurence Bu, kakak kelas XII IPS 3," jawab gadis itu masih dengan suara pelan. "Dia lagi?" ujar Bu Gita. Sebenarnya guru itu sudah menduga kalau pelaku pembullyan ini akan tetap sama. Raisa Laurence, akan selalu gadis itu. Sebelum gadis itu dinyatakan lulus atau keluar dari SMA Nusa Bangsa. "Ya sudah La, kamu tenang aja. Bu Gita langsung lapor ke kepala sekolah sekarang," lanjutnya. "Terus nomornya Savana mana Bu?" pinta gadis itu. "Iya, setelah ini Bu Gita kirim nomornya," ujarnya. "Assalamualaikum La." "Waalaikumsalam Bu," balasnya kemudian sambungan telepon tertutup. Gadis itu menghela napas lega setelah berhasil melaporkan kelakuan Raisa terhadap Savana. Sembari menunggu Bu Gita mengirim nomor milik Savana, gadis itu hanya menggeser-geser beranda ponselnya. Lalu tak lama setelah itu, pesan Bu Gita yang mengirimkan nomor Savana masuk kedalam ponselnya. Gadis itu langsung saja membukanya, dan tak lupa berterimakasih kepada Bu Gita. Dengan semangat dan kekhawatiran yang sudah memuncak, gadis itu segera membuka nomor Savana. Baru saja dia hendak mendiall-up nomor Savana untuk pergi ke panggilan, gadis itu tiba-tiba menjadi ragu. Dia takut menganggu Savana. Bisa saja kan Savana saat ini sedang istirahat? Pada akhirnya, gadis itu mengurungkan niatnya untuk menelpon Savana dan menundanya sepulang sekolah saja. Lalu gadis itu kembali di aktivitas awalnya. Kembali pada Reno dan Aldi, kedua cowok itu saat ini sudah berada di dalam mobil Reno. Kebetulan juga Reno saat ini juga membawa mobil. Alhasil Aldi saat ini duduk di kursi penumpang mobil milik Reno dengan Reno yang duduk di kursi kemudi sebagai pengemudi. Reno mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Awalnya Aldi hendak mengambil alih setir mobil, namun Reno melarangnya dengan mengatakan kalau Aldi yang membawa mobilnya, bisa dipastikan pasti akan sangat lama untuk sampai. Padahal Reno sudah sangat ingin bertemu Savana. Dia sangat khawatir dengan gadis itu. "Pelan-pelan Reno!!!" Aldi berteriak histeris, ta gan cowok itu memegang erat pegangan yang ada di langit-langit mobil. "Gak usah bacot. Lo telpon Geo sekarang. Tanya dia bawa Sava kemana," ujar Reno tanpa mengalihkan tatapannya dari jalan raya yang ada di depannya. "Pelanin dulu mobilnya, gue gak bisa nelpon kalo lo nyetir kaya orang kesetanan kaya gini," ujar Aldi masih berteriak. Reno menurut, cowok itu menurunkan kecepatan mobilnya tepat di kecepatan rata-rata pada umumnya. "Buruan telpon," titah Reno. "Pake ponsel lo lah. Gue gak ada pulsa," ujar Aldi cengengesan yang dibalas Reno dengan tatapan malas. "Ambil di tas gue," ujar Reno melirik tasnya yang ada di jok mobil belakang. Tanpa banyak kata lagi, Aldi segera mengambil tas milik Reno di jok mobil belakang. Setelah menemukannya, Aldi segera kembali ke tempatnya. Cowok itu kemudian mengotak-atik ponsel Reno yang memang tidak terpasang sandi untuk mencari nomor ponsel Geo. Sembari mencari, Aldi sesekali bergumam mengatakan sejak kapan ponsel Reno ada di tas. Setahunya tadi Reno membawanya. Ah entahlah, lagipula itu tidak penting. Kembali fokus mencari nomor ponsel Geo, setelah menemukannya Aldi segera mendiall-up nomor temannya itu. "Hm?" deheman Geo mengawali ketika telepon mereka tersambung. "Buset Ge, cuek amat," protes Aldi kesal. Geo kebiasaan. Selalu saja singkat kalau berbicara. Untung Aldi sebagai sahabatnya ini memiliki stok kesabaran yang banyak. "Apa?!" terdengar suara Geo yang mulai naik satu oktaf. Tanda bahwa cowok itu sedang kesal dan benar-benar tak mau main-main. "Yaampun Ge, lo--," belum sempat Aldi selesai berkata. Reno dengan segera merebut ponselnya yang ada ditangan Aldi. "Bacot lo Di!" sentak Reno seraya merebut ponselnya. "Lo dimana sama Savana Ge?" tanya Reno to the point. Nada suara Reno memang benar-benar menyiratkan suatu kekhawatiran yang besar. Geo dan Aldi paham betul dengan itu. "Depan rumah lo," balas Geo dari sebrang dengan singkat. Wajah Reno saat ini tampak serius. Matanya yang masih fokus menatap jalan raya di depannya dengan tangan kanan digunakan untuk menyetir dan tangan kiri digunakan untuk memegang ponselnya. "Lo sama Savana tungguin gue disitu. Jaga Savana. Gue sama Aldi otw sekarang," pesan Reno singkat. Cowok itu lalu segera menelpon panggilan telepon sepihak. Setelah mematikan panggilan teleponnya, Reno langsung saja melempar ponselnya ke jok belakang mobilnya kembali. Masa bodo ponsel seharga 25 juta itu rusak. Yang terpenting sekarang Savana. Keadaan gadis itu. Reno kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Nanggung juga, sebentar lagi sampai. Jadi Reno kembali membawa mobilnya dengan ngebut. Sementara Aldi, cowok itu hanya mampu berdoa agar mereka bisa sampai dengan selamat dengan sesekali berteriak ketika Reno hanya mengurangi sedikit kecepatannya padahal mobilnya sedang berbelok. Karena kecepatannya yang tak main-main itu, banyak pengendara lain yang menyumpah serapahi Reno dengan berbagai u*****n. Kesal. Reno benar-benar seperti siswa yang tak punya tata krama. Untung saja mereka membawa mobil. Jadi pengendara lain tak tahu mereka berasal dari SMA mana. Kalau saja mereka ngebut menggunakan motor, bisa dipastikan almamater SMA mereka, SMA Nusa Bangsa akan ikut tercoreng karena kelakuan anak didiknya ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD