Bab 4

737 Words
"Ruang rawat anak lo di mana?" Tanya Alden ketika ia berhasil memarkirkan mobilnya di pelataran rumah sakit tempat putra Naima dirawat. Naima hanya diam, wanita itu sibuk melepaskan sabuk pengamannya yang sedikit macet.  "Ruang rawat anak lo di mana? Ditanyain juga, lo b***k apa emang nggak bisa ngomong?" Sarkas Alden yang disambut helaan napas oleh Naima. "Buat apa lo tahu Den? Bukan hal yang penting juga. Lo emang bakal jadi bapak tiri anak gue, tapi tetap aja di antara kalian nggak ada ikatan sama sekali. Jadi, lo nggak usah pura-pura peduli," ucapnya tajam. Laki-laki itu hanya melirik datar pada Naima, tak berniat membalas lagi. Setelah sabuk pengamannya terbuka, Naima segera meraih tas slempangnya lalu keluar dari mobil laki-laki itu. Sebentar lagi operasi putranya akan dilaksanakan, Naima tidak mau kehilangan detik-detik berharganya bersama sang putra sebelum darah dagingnya itu masuk ke ruang operasi. "Makasih udah ngantar gue," kata Naima sebelum menjalankan kakinya memasuki rumah sakit.  Alden tampak menghela napas, netra laki-laki itu memandangi punggung Naima yang semakin menjauh. Melepas sabuk pengaman, akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti calon istrinya tersebut.  Langkahnya terhenti ketika melihat Naima memasuki sebuah ruang. Saat tubuh Naima menghilang di balik pintu ia segera mendekat me ruangan tersebut. Dari balik kaca ia bisa melihat Naima mencium kening anak laki-lakinya yang terlelap---atau, lebih tepatnya sedang koma. Entah mengapa hati Alden terasa perih melihat air mata wanita itu yang jatuh, ia seolah bisa meraskan kesedihan yang Naima alami. Naima yang terlihat kuat tadi sudah berganti dengan Naima yang lemah.  Alden memutuskan ikut masuk ke dalam ruangan itu. Ketika dirinya sudah di dekat Naima, tangannya merangkul Naima membawa wanita itu ke dalam pelukan hangatnya. "Lo percaya sama gue, anak kita bakal baik-baik aja. Gue jamin dia bakal sembuh, gue janji." Naima tidak sadar dengan ucapan Alden, namun wanita itu memilih mengangguk. Ia membiarkan Alden memeluknya lebih erat, karena sejujurnya ia memang membutuhkan pelukan itu untuk menguatkan dirinya sendiri.  Sejujurnya, Naima sudah merasa tidak sanggup hidup seperti ini. Ingin rasanya dia mengakhiri hidup kacaunya itu.  "Lo harus kuat." Alden memberi semangat, Naima lagi-lagi tak memberi balasan. Wanita itu masih sibuk dengan tangisannya.  *** Operasi anaknya masih berjalan dan Naima masih senantiasa memanjatkan do'a pada Sang Kuasa. Memohon semoga operasi putranya berjalan lancar. Alden hanya diam sesekali melontarkan kata untuk menyemangati wanita itu. Ia paham betul bagaimana perasaan Naima, tanpa Naima jelaskan ia bisa membaca keadaan wanita tersebut. Naima benar-benar kacau. Ya lagipula hati ibu mana yang tak hancur melihat anaknya yang masih kecil harus bertarung dengan maut? Tidak ada bukan? Bintang Antares. Putranya. Anak itu adalah harta paling berharga untuk Naima. Naima dapat bertahan sejauh ini karena anaknya. Mungkin, dulu ia tak menginginkan anak itu, namun sekarang keadaannya sudah berbeda. Naima tak bisa hidup tanpa anaknya. Ia bisa mati. Atau, memang lebih baik dirinya mati?  "Na," panggil Alden lirih, wanita itu menolehkan kepalanya selama beberapa detik ke arah Alden, dan kemudian kembali mengarahkan atensinya pada ubin berwarna putih di bawahnya. Ya, pesona ubin itu sepertinya sudah mengalahkan seorang Alden Brawijaya. Karena baru pertama kali ini Alden melihat wanita lebih suka menatap ubin daripada wajahnya yang tak diragukan lagi ketampanannya. "Na, gue bicara sama lo. Lo tatap gue," katanya tegas. Dengan lesu dialihkannya tatapan Naima pada laki-laki itu. "Apa sih? Lo jangan ganggu gue do'a. Mending lo balik sana, kehadiran lo sama sekali nggak ada gunanya, lo tuh cuma manusia nggak tahu diri!" kata Naima kesal. Naima sadar ucapannya mungkin saja membuat laki-laki itu terluka, tapi apa pedulinya? Alden memang bukan siapa-siapanya. Laki-laki di depannya tersebut juga tidak mengenal putranya.  Terdengar helaan napas, "Gue mungkin nggak bisa ngerubah keadaan. Tapi gue cuma mau ngingatin lo, ini udah waktunya Maghrib, mending kita solat, waktu maghrib nggak lama. Do'a-do'a lo bakal sia-sia kalau lo ngelalaiin kewajiban lo. Paham?!" Naima mendengkus, seraya mengusap kasar air matanya. Ia pun melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Ternyata benar, sudah waktunya solat Maghrib. Naima kembali mengusap wajahnya sebelum mengalihkan atensinya pada Alden, laki-laki itu tampak menggelung kemejanya sampai siku. Sibuk dengan urusannya sendiri sampai tak sadar kalau sedang diperhatikan oleh Naima. Naima merasa bersalah pada Alden, ia selalu berburuk sangka, padahal niat laki-laki itu baik. "Eh? Ayo Nai! Malah bengong lagi lo. Sekalian pas solat nanti lo do'a sama Allah. Do'anya yang khusyuk." Naima menurut, ia segera bangkit dari duduknya dan mulai mengikat rambut panjangnya dengan tali rambut yang tadinya ia gunakan sebagai gelang tangan. Dalam diamnya dan tanpa Naima sadari, Alden tersenyum. Senyum yang terlihat rumit untuk dijelaskan. TBC Ada yang baca? Sepi amat komennya. Padahal saya butuh semangat loh. Jangan pelit-pelit dong komennya. Masih mau lanjut?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD