Bab 1: Peluru Perak
Tangan itu gemetar hebat, tetapi jemarinya menolak melepaskan jepitan besi dari genggamannya. Di balik rimbunnya semak-semak yang gelap, seekor serigala hitam raksasa sedang sekarat. Udara malam yang menusuk tulang mendadak terasa pengap, tertutup oleh aura kematian yang pekat dari tubuh makhluk buas tersebut. Angin malam yang berembus di sela-sela pohon pinus membawa hawa mistis yang membuat bulu kuduk berdiri, seolah seluruh hutan sedang menahan napas menyaksikan detik-detik terakhir dari sang penguasa malam.
Bau pekat darah bercampur kepulan asap belerang menyengat hidung, memicu rasa mual yang tertahan di tenggorokan. Tepat di d**a makhluk berbulu legam itu, sebuah logam keperakan tertanam dalam. Logam itu terus membakar jaringan daging di sekitarnya hingga mengeluarkan uap hitam yang tidak wajar. Setiap kali uap itu menguar, sang serigala mengeluarkan erangan lirih yang menggetarkan dedaunan di sekitar mereka. Kulit di sekitar luka itu melepuh, hancur oleh reaksi kimia aneh yang belum pernah Mary lihat di buku pelajaran mana pun.
Akal sehat Mary Jane meneriakkan agar ia segera membalik badan lalu lari sekencang mungkin menuju batas kota. Ia hanya seorang mahasiswi kedokteran hewan tingkat akhir yang sedang mencari tanaman herbal untuk tugas akhir, bukan seorang pemburu monster di dalam dongeng. Namun, insting medis yang terpahat di dalam kepalanya menolak membiarkan makhluk seindah itu mati begitu saja di atas tanah berlumpur. Keberanian nekat yang entah datang dari mana menahan kedua kakinya untuk tetap berlutut, mengabaikan suara-suara malam yang mendadak terdengar mengancam.
"Ini akan sangat sakit. Bertahanlah," bisik Mary, lebih kepada dirinya sendiri untuk menenangkan detak jantungnya yang berdentum liar di balik rongga d**a.
Begitu ujung besi menjepit logam di dalam luka, serigala raksasa itu melolong keras. Suara jantannya begitu menggelegar, meruntuhkan keheningan hutan sekaligus membuat tanah di bawah lutut Mary terasa bergetar hebat. Jantung Mary seakan berhenti berdetak selama beberapa detik karena syok yang teramat sangat. Tubuh sebesar mobil itu mengejang hebat, cakar-cakar raksasanya merobek tanah berlumpur hingga menyisakan garis-garis dalam. Mary menahan napas, membuang semua rasa takut yang menyelimuti pikirannya, lalu menarik peluru perak itu keluar dalam satu sentakan mantap.
Ting.
Logam perak itu jatuh berdenting di atas batu, menyisakan kepulan asap tipis yang berbau busuk. Luka sang serigala seketika berhenti membara, menyisakan robekan daging yang mengucurkan darah segar. Mary bergerak cepat sebelum makhluk itu kehilangan terlalu banyak darah dan mati karena kehabisan cairan tubuh. Ia menekan aliran darah yang keluar dengan kain kasa seadanya yang ia samak dari dalam tas punggungnya. Makhluk itu sempat membuka mata, menatapnya dengan sepasang netra emas menyala yang berkilau di tengah kegelapan, sebelum akhirnya kelopak mata besar itu terkulai lemas. Ia tak sadarkan diri sepenuhnya, menyisakan deru napasnya yang berat dan tidak teratur.
Mary menghela napas panjang, menyeka keringat dingin di dahinya dengan punggung tangan yang gemetar. Seluruh tubuhnya terasa lemas, seolah energinya ikut terkuras habis bersama peluru yang baru saja ia cabut. Ia mengira bagian tersulit dari malam ini sudah terlewati dan ia bisa segera pulang untuk menenangkan diri. Namun, kelegaannya buyar dalam hitungan detik berikutnya.
Di depan matanya sendiri, tubuh serigala raksasa itu berkedut hebat. Bulu-bulu hitamnya yang setajam jarum perlahan menyusut masuk ke dalam kulit secara tidak masuk akal. Struktur tulangnya yang besar mulai berderak, patah, dan bergeser dengan kecepatan yang mengerikan, menimbulkan suara benturan sendi yang membuat ngilu. Mary menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana moncong predator itu memendek, berubah bentuk menjadi garis wajah manusia yang tegas. Proses fisis yang melanggar seluruh hukum alam itu membuat Mary terpaku di tempatnya, tidak mampu menggerakkan satu pun otot tubuhnya karena syok yang menyumbat seluruh fungsi logikanya.
Hanya dalam waktu satu menit, wujud predator malam itu menghilang tanpa bekas di bawah siraman cahaya bulan. Kini, yang terbaring di atas tanah basah adalah seorang pria. Pria tegap dengan otot-otot keras yang sewarna perunggu, rambut hitam acak-acakan, dan rahang tegas yang sangat simetris. Sisa darah merah mengalir di dadanya, mempertegas bekas luka robek yang baru saja dibersihkan oleh Mary. Pria itu tampak begitu asing, namun memancarkan aura kekuasaan yang sangat pekat bahkan dalam kondisi tidak berdaya.
Mary membekap mulutnya sendiri, spontan memundurkan tubuh hingga terduduk di tanah basah yang dingin. Napasnya memburu, menjadi satu-satunya suara yang terdengar di antara kesunyian hutan yang mencekam. Dunianya runtuh dalam sekejap mata. Monster pengubah wujud yang sering dianggap dongeng pengantar tidur oleh masyarakat kota ternyata nyata, dan dia baru saja menyelamatkan nyawa pemimpin mereka yang paling berbahaya.
"Aku harus pergi dari sini sebelum terlambat," bisiknya panik, menyadari bahaya besar yang mengintainya jika makhluk sejenis lainnya datang ke tempat ini untuk mencari pemimpin mereka.
Dengan tangan yang masih gemetar, ia menyambar ranselnya secara acak, tidak memedulikan botol-botol medisnya di dalam tas hingga menimbulkan suara berdenting. Namun, belum sempat ia menegakkan kaki untuk berdiri dan mengambil langkah seribu, sebuah gerakan secepat kilat memotong seluruh rencananya.
Sebuah tangan besar yang terasa sekeras baja mencekal pergelangan tangan Mary dengan jepitan yang luar biasa kuat.
"Akh!" Mary terpekik kencang, suaranya memecah keheningan malam.
Ia menoleh dengan panik dan mendapati pria itu telah membuka mata. Sepasang netra emas menyala itu kembali menatapnya tajam, menembus kegelapan malam dan mengunci seluruh pergerakan Mary seolah gadis itu adalah mangsa yang sudah terpojok di sudut jurang tanpa jalan keluar. Kekuatan di dalam cengkeraman tangan pria itu luar biasa, membuat Mary merasa tulang pergelangan tangannya bisa remuk menjadi serpihan kapan saja jika ia nekat menariknya secara paksa.
Pria itu Jack menarik napas dalam-dalam melalui hidungnya. d**a bidangnya naik turun dengan ritme yang berat, menghirup aroma tubuh Mary yang berada sangat dekat di atasnya. Begitu aroma vanila alami yang bercampur dengan wangi antiseptik dari kulit Mary memenuhi indra penciumannya, pupil mata emas Jack melebar sempurna. Sebuah getaran tak kasat mata menyengat tubuh mereka berdua secara bersamaan, mengalir dari titik sentuhan tangan mereka langsung menuju d**a, mengunci takdir baru yang tidak bisa ditolak oleh logika manusia mana pun.
"Belahan jiwa..." sebuah suara berat dan serak keluar dari tenggorokan Jack, terdengar seperti geraman serigala yang dipaksakan membentuk kata manusia. Suara itu begitu purba, beresonansi dengan ketakutan terdalam di dalam diri Mary.
Mary tidak mengerti arti kata itu, tetapi insting manusianya meneriakkan bahaya yang luar biasa besar jika ia terus berada di sana. "Lepaskan! Tolong, lepaskan aku!" Mary memberontak, memukul lengan kekar Jack dengan tangan satunya yang bebas, namun rasanya seperti menghantam dinding batu yang tebal. Pria di bawahnya sama sekali tidak bergeming oleh pukulan Mary, matanya justru semakin dalam mengunci presensi gadis itu.
Jack tidak mendengarkan. Naluri purba di dalam dirinya menuntut untuk menahan gadis di depannya agar tidak pergi jauh dari jangkauannya. Serigala di dalam dirinya mengamuk, menolak kehilangan aroma manis yang baru saja menyelamatkan nyawanya. Namun, sisa racun perak yang telah menyebar ke dalam aliran darahnya kembali berdentum, mengirimkan gelombang rasa sakit hebat yang membuat kesadarannya kembali goyah. Cengkeramannya di tangan Mary perlahan melonggar seiring mata emasnya yang mulai meredup dan tertutup kembali oleh kabut hitam rasa sakit.
Sebelum benar-benar pingsan kembali dan kehilangan kesadaran untuk kedua kalinya, Jack mendekatkan wajahnya ke arah telinga Mary, membisikkan satu kalimat ancaman yang membuat bulu kuduk Mary merinding sempurna.
"Kau... tidak akan bisa lari dariku, Manusia."
Tangan besar itu akhirnya terkulai jatuh ke atas lumpur, melepaskan genggaman nya sepenuhnya dari pergelangan tangan Mary. Jack kembali tidak sadarkan diri, telentang tak berdaya di bawah bayang-bayang pohon pinus yang tinggi, meninggalkan Mary yang terengah-engah dalam ketakutan yang teramat sangat.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Mary berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju arah kota. Ia menerobos ranting-ranting pohon pinus yang menggores wajah dan pakaiannya, mengabaikan rasa perih yang mulai menjalar di sepanjang lengannya. Pikirannya tidak lagi mampu memproses apa yang terjadi, hanya terfokus pada jalan raya di perbatasan hutan yang berjarak beberapa kilometer di depan. Ia terus berlari menembus kegelapan malam, mencoba meninggalkan takdir baru yang baru saja mengunci hidupnya di balik semak-semak hutan terlarang itu, tanpa menyadari bahwa perburuan atas dirinya baru saja dimulai.