***************
Emely terdiam disudut kamar yang remang cahaya. dia menyendiri dari beban hati yang menyiksanya. emely berdiam diri di villa mantan ibu bos nya, ibu angkatnya tersebut. beni tak tau posisi villa ini karena sesungguhnya beni memang mencintai emely tulus tanpa memandang apapun. tetapi, karena ingin menjadi anak yang berbakti beni rela membohongi emely dan menikmati itu semua demi membahagiakan orangtuanya. namun, tetap saja hal yang dilakukan beni salah karena mengkhianati cinta suci mereka berdua yang sudah lama dibina. beni mengetahui status emely hanya sebatas karyawan biasa yang kepercayaan sebuah perusahaan fashion ternama tanpa tau sebenarnya kalau perusahaan itu adalah hak milik emely.
suasana cahaya kamar yang menguning membuat bayangan emely samar-samar terlihat.
Drrrttt...drrtttt...drrrttt...
handphone emely bergetar, seperti ada yang menelfonnya. emely tak menghiraukannya. dia tetap duduk dilantai memangku kedua kakinya dengan mata yang berlinangan air mata. sesekali dia mengigit bibirnya menahan isak tangisnya. dia meratapi nasibnya yang tidak tau akan seperti apa kedepannya. lalu, dia mencoba menghela nafas panjang, mengusap air matanya. dia perlahan berdiri dari duduknya. emely mengambil handuk dan langsung masuk ke kamar mandi.
terdengar air mengalir deras dikamar mandi. tiba-tiba bik num penjaga villa berlari kecil masuk ke kamar emely. tak lupa beliau mengetuk pintu kamar emely yang terbuka. dia sadar emely sedang mandi dan langsung mengetuk pintu kamar mandi emely.
"non.. bibik udah selesai masak. abis mandi langsung makan ya! nanti keburu dingin." sahut bik num.
emely mendengar ketukan bik num mematikan kran airnya. dan segera menyahut dari dalam.
"oh iya bik. nanti emely langsung makan selesai mandi. sekalian bik num ikut yaa. temenin emely." pinta emely lembut dengan suara serak dan pilek karena terlalu lama menangis.
"baik, non." ujar bik num yang kemudian berbalik bergegas menyiapkan makanan di meja makan.
emely yang sepertinya sudah selesai mandi keluar dari kamar mandi menuju cermin. dia sedikit berdandan dan langsung menuju meja makan. emely sampai di villa pas pukul 17.00 WIB. dia menghabiskan waktu cukup lama meratapi kesedihannya, itu membuat hari sudah mulai gelap.
di meja makan emely langsung menyendok nasi ke piringnya. piring pun berdenting-denting terdengar sahut menyahut menandakan mereka sedang lahap memakan santapan enak buatan bik num. bik num pun tak sungkan makan, karena kebiasaan emely yaitu dia selalu ingin ditemani makan bik num kalau sudah di villa, apalagi dia datang sendiri. dia sudah dari gadis kenal bik num, dan bik num pun tau sifat emely. kalau emely datang sendiri ke villa mendadak tanpa kabar sebelumnya itu pertanda suasana hati emely sedang buruk dan butuh teman berbagi cerita. bik num menyayangi emely seperti menyayangi anaknya. emely pun tak sungkan menerima masukan dan pendapat dari bik num yang selalu setia mendengar keluh kesahnya, karena bik num lah satu-satunya orang terdekat yang emely percaya dan anggap sebagai orangtua sendiri.
beberapa menit lamanya hanya keheningan yang menemani makan malam emely dan bik num, tetapi bik num memberanikan diri memulai pembicaraan dengan nona majikannya yang sudah dianggap anak tersebut.
"non.. maaf bik num lancang. apa non emely lagi ada masalah ?" tanya bik num ragu.
"gak papa bik. emely lagi butuh udara segar. emely lagi sesak banget rasanya bik." sahut emely sambil menahan tangisnya. dia merasa sudah cukup menangisnya. dia harus kuat. dia wanita kuat, tidak boleh cengeng.
"lalu tuan beni kemana non? kenapa non emely kesini sendirian, mengemudi mobil sendirian lagi."
"mungkin dia dirumah mamanya bik. emely mungkin bukan orang yang pantas untuk beni bik. emely..."ujar emely berbicara dan terputus karena menahan getaran air matanya. dia menghela nafas dalam lagi. terdengar sekali putus asa di dalam dirinya.
"lagian villa ini juga beni gak tau kan bik. beni mana pernah kesini. dulu emely ajak kesini dia gak pernah mau. malah bik num sendiri yang repot ke resepsi pernikahan emely bantu mengurus semuanya. ini rumah emely untuk pulang. ada bik num dan pak agus yang slalu setia menunggui emely disini." jelas emely lagi. bik numa dan pak agus suami istri yang sudah lama bekerja dengan almarhumah ibu bos emely, namun setelah emely mengenalnya emely merasakan kehadiran kasih sayang orang tua lagi. oleh karena itu, bik num dan pak agus disuruh menempati villa sebagai tempat tinggalnya karena beliau berdua tinggal digubuk yang disewakan orang kepada mereka. jadi, emely membawa mereka ke villa mengurus semuanya dan menganggap villa itu bak rumah mereka sendiri. anak-anak bik num dan pak agus pun terkadang nginap di villa itu. disana emely menyediakan paviliun untuk tamu bik num dan pak agus agar bisa menginap. paviliun nya tak kalah bagus dari villa itu.
"non emely gak boleh bicara seperti itu. coba bicarakan duduk permasalahannya sama bibik. mumpung pak agus lagi keluar kita bisa bicara panjang lebar." ujar bik num.
"kebanyakan yang emely lihat selama ini kehidupan diawal pernikahan utk beberapa minggu rasanya manis ya bik. lain dengan yang emely rasakan. belum genap sebulan umur pernikahan emely, emely harus merasakan pahitnya bik. terlalu dini untuk ini emely rasakan bik." jelas emely gemetar. emely menyudahi makannya yang dipaksakan agar dia tidak tumbang.
"emely udah kenyang bik. biar emely bantu beresin ya."pinta emely sambil menyeka air matanya yang sedikit menetes.
"gak usah non. biar bik num yang membereskan semuanya." ujar bik num mengambil piring di tangan emely. bik num menyuruh emely duduk dikursi kembali menggenggam tangan emely yang sedikit gemetar menahan lukanya.
"itulah kehidupan non. non emely harus bisa jadi wanita hebat. ini namanya ujian pernikahan. non emely harus lulus ujian ini agar bisa bahagia dalam rumah tangganya. kuncinya ada di non emely sama tuan beni."ujar bik num menjelaskan lagi. benar kata bik num, setelah menikah, inilah kehidupan yang sesungguhnya.
"bik num tau kan. emely sampai saat ini masih belum bisa mendapat restu mama mertua emely. emely optimis selalu supaya bisa mendapatkan itu. tapi karena hari ini emely tau pengkhianatan beni, bik. emely jadi ragu melanjutkan usaha emely. emely ragu dengan kemampuan emely, bik." ujar emely pasrah. dia mulai sesenggukan berbicara karna air matanya mulai menetes. emely menutup wajahnya dengan kedua tangannya. dia menangis sejadi-jadinya.
bik numa yang melihat emely menangis dia menunda membereskan piring kotor tersebut demi merangkul majikan mudanya yang sudah sangat dan terlalu baik kepadanya. emily membalas rangkulan bik num.
"emily sakit bik. emely terluka karena beni mengkhianati pernikahan kami yang masih seumur jagung ini. emely menyaksi..kan sendi..ri biiik." rengek emely mengeluarkan tangisnya. bik num mengusap rambut emely. dia menenangkan emely di pelukannya.
"lepaskan semua tangis yang tertahan, non. bibik ngerti sekarang maksud non emely." ujar bik num.
"ketika emely memergoki dia dengan wanita pilihan mamanya, dia melihat emely tepat didepan matanya bik. tapii.. dia tidak mengejar eme..ly bik.. dia membiarkan emely pergi membawa lukaa i..nii bik."
"iya-iya non.. bibik ngerti. bibik paham situasi non emely sekarang. sekarang non emely boleh nangis sejadi-jadinya. untuk kedepannya jadilah wanita kuat, jangan terlihat lemah. satu pesan bibik, non juga harus mendengarkan alasan tuan terlebih dahulu. jangan gegabah dalam mengambil keputusan." ujar bik num memberikan solusinya.
emely mengangguk dalam pelukan bik num, tapi dia masih ingin menangis. matanya sudah membengkak karena menangis yang tak kunjung usai. dan malam itu emely habiskan dengan bercerita kepada bik num sampai semua sedikit perasaannya lega. perlahan tangisannya sudah mereda. bik num menyuruh emely untuk istirahat dikamar, emely pun melangkah dengan berat menuju kamarnya.
***************
Drrtt...drrtt...drrtt
ponsel emely tak henti bergetar. ada banyak pesan masuk dan panggilan tak terjawab. emily pun duduk bersandar di tempat tidurnya, dia memeluk bantal dan menyelimuti badannya yang kedinginan dengan hawa sejuk puncak tersebut. dia meraih ponselnya dan melihat panggilan tak terjawab dari beni serta membaca pesan-pesan yang dikirim beni.
[ husband : sayang.. kamu kemana ? aku rindu ]
[ husband : sayaaang maafin aku ! ? ]
[ husband : aku bisa jelasin semuanya sama kamu, please. aku sayang kamu, emely. jangan tinggalin aku kayak gini. ]
dan masih banyak lagi pesan beni yang hampir serupa dengan itu. emely hanya diam, dan tak membalas. dan masuk lagi pesan beni yang terakhir dibaca emely sebelum tidur .
[ husband : dimanapun kamu berada, aku selalu mendoakan keselamatanmu, istriku. jaga diri baik-baik. tenangkan fikiranmu dulu. aku sayang kamu. selamat berisitirahat sayang, jangan sampai kamu sakit. aku benar-benar mencintaimu. *kisshug* ]
emely pun menutup ponselnya, dan berfikir sejenak. Entah kenapa dia akhir-akhir ini emosinya berubah-ubah. gak bisa nahan tangis. ah sudahlah! memang sudah seharusnya dia menangisi kisahnya yang rumit ini, pikir emely. emely mencoba berbaring dan mematikan lampu kamarnya. dia memejamkan matanya, tapi hatinya terus gelisah. dia berpikir mungkin karena terlalu banyak masalah akhir-akhir ini. dan dia pun terus berusaha agar terlelap.
***************
di lain sisi, beni masih memikirkan kejadian siang tadi tentang emely yang pergi entah kemana setelah mendengar percakapannya dengan Wika. ya! nama wanita itu Wika. dia masa lalu beni saat di bangku menengah atas. Wika anak pejabat tertinggi perusahaan industri terbesar dikota itu, yang mana keluarga beni sangat mengenal keluarga Wika. atas dasar perjodohan Wika dan Beni disatukan oleh mama mertua emely. mama mertua emely memberi alasan bahwa emely mandul dan akan segera diceraikan beni. padahal mereka menikah baru sebulan kurang dan belum genap. memang dasarnya mama mertua emely tidak menyukai emely dari awal dan ingin beni berpisah dengan emely. hanya saja wika yang dari dulu memang menginginkan beni dan terus mendesak orangtuanya menikahkannya dengan beni. walaupun kenyataannya dia akan menjadi istri kedua beni, wika berani menanggung resiko.
atas keinginan wika yang keras kepala, orang tua wika menemui keluarga beni. dan terjadilah perjodohan yang memang ditunggu-tunggu mama beni. beni pun tak bisa menolak keinginan mamanya, karna mamanya mengancam beni kalau dia tidak menuruti keinginan mamanya, semua harta warisan untuk beni dialihkan atas nama sepupu beni. beni berfikir dari mana dia akan menafkahi emely jika perusahaan dan warisan untuknya diambil semua. jadi, dia menuruti keinginan mamanya demi membahagiakan emely dengan syarat tidak menceraikan emely. mama beni menyetujui walaupun dihatinya dia akan menyusun rencana memisahkan beni dan emely.
"emely... dimana kamu ?" gumam beni.
"maafkan aku yang harus mengambil keputusan diam-diam dari kamu.. aku tid ak bermaksud menyakitimu, sayang. maafkan aku. dimanapun kamu berada, aku slalu menunggumu." gumam beni. dia menyadari itu kesalahannya tapi malu mengungkapkan. dia juga tak berani menghubungi teman-teman emely karna takut semua akan makin kacau jika sahabatnya tau.
pikiran beni kacau, memikirkan istrinya pergi kemana. dia mencoba menghubungi orang dikantor emely tapi tidak ada yang tau karena emely memang seharusnya masuk kerja adalah besok. beni merasa kesepian tak ada emely tidur disampingnya, dia tetap memikirkan emely dan sampai akhirnya dia terlelap.
***************
Emely bangun lebih awal dari biasanya. dia merasa badannya kurang sehat, dan mencoba minum obat setelah sarapan pagi. tapi dia harus masuk kantor untuk mengecek beberapa berkas lainnya dan janji bertemu client.
"apa gak seharusnya non emely gak usah masuk kantor dulu, non." tanya pak agus khawatir.
"iya non. keliatan sekali non emely pucat seperti itu." sahut bik num membereskan sisa sarapan paginya bersama emely.
"gak bisa pak, bik.. hari ini ada beberapa berkas yang ditanda tangani dan menemui client juga bik. gak bisa ditunda bik." ujar emely sambil meneguk air putih hangat yang disediakan bik num.
"ya sudah. kali ini biar bapak yang nyetirin non emely ke kantor. nanti biar bapak pulang naik taksi aja. takut non emely kenapa-kenapa di jalan." terang pak agus.
"oke pak. emely juga kayaknya takut dulu nyetirnya pak. abisnya keliyengan kayak gini. tapi biasanya kalau udah minum obat dan vitamin, insyaallah bakal fit lagi pak, bik."jelas emely. emely langsung beranjak dari duduknya dan berpamitan untuk ke kantor sama bik numa.
"hati-hati non. pak, hati-hati juga nyetirnya ya." sahut bik num mengingatkan suaminya itu. bik num sepertinya tersadar, ada yang aneh dengan kondisi majikan mudanya itu.
di mobil dalam perjalanan ke kantor, emely lebih banyak diam menikmati pemandangan lalu lalang kendaraan yang padat karena sibuknya pagi dengan aktifitas kantor dan sebagainya. dia benar-benar menikmati perjalanan ke kantornya dan melupakan kejadian kemarin untuk saat itu. tiba-tiba ponselnya berdering, tertulis disana anjani. anjani adalah sekretarisnya dikantor sekaligus moodbosternya di kantor yang selalu heboh kalau udah jam santai kerja. mereka berdua bisa dikatakan teman dekat jaman berjuang bekerja dengan almarhumah ibu bos baiknya itu.
"iya asistenku yang bawel. ini udah dijalan tau." sahut emely mengawali pembicaraan. dia tau anjani bakalan rewel nanyain dimana, jam berapa sampai dan blablablabla.
"syukur deh bu bos baik hatiku. hahaha."balas anjani diseberang telepon.
"tau gak sih kamu gangguin aku yang lagi menikmati perjalanan pagi yang super sibuk tiap harinya dijalanan. hahaaha." ledek emely.
"abisnya aku rindu bu bos, rindu bawelnya, perintah bu bos." canda anjani.
"hahaha rese' ya karyawan satu ini. haha nanti kalau aku bawel, rewel kamu nya ga bakal tahan. hahaha. eh iya, hari ini temu client nya batasi dulu untuk 2 pertemuan aja ya. soalnya aku lagi gak enak badan nih. kemaren abis ke villa ada acara mendadak." timpal emely berbohong.
"aku sih tahan-tahan aja kalau bu bos nya secantik ini mah. hahaha. oke oke em.. tenang, pokok'e diatur sesuai komando bu bos nih. bytheway, ga enak badan pertanda baik kali ah. maklum manten baru ye kan." ledek anjani lagi.
"aamiin. semoga ya. doain aja ya onty anja hahaha. okedeh. nanti kita ketemu dikantor ya. aku mau lanjut nikmatin perjalanan dulu. bye" sahut emely.
"bye em," sahut anjani.
emily mengatur dering ponselnya lagi dan memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.
tak terasa mobil yang dikendarai pak agus yang membawa emely sampai dipelataran perusahaan yang emely pimpin.
"non nanti kunci mobilnya bapak titip satpam aja ya, bapak mau langsung balik, sebelumnya bapak singgah beliin pesanannya bik numa dulu."ujar pak agus.
"baik pak. hati-hati ya pak. oiya emely lupa ngasih tau bik numa sama bapak kemarin. dalam minggu ini emely mau menjamu client emely yang datang dari jauh. jadi mereka mau liburan dan emely menawarkan ke villa, mereka setuju. jadi nanti untuk belanja keperluan villa emely bakal transfer aja ya pak. maaf. emely lupa niat awal kesana mau ngabarin itu. hehe." jelas emely malu. emely pun pamit masuk ke kantornya.
dia berjalan anggun menuju kantor. di bagian resepsionis, emely sudah disambut sama semua karyawannya termasuk anjani.
"selamat datang kembali ke kantor yang hiruk pikuk ini bu bos." ujar anjani memberikan buket bunga kepada emely.
"terima kasih anja. terimakasih semuanya. semoga semuanya semakin dilancarkan. aamiin. selamat melanjutkan pekerjaan kembali ya rekan-rekan." sahut emely seraya menerima buket bunga dari rekan-rekan kerjanya tersebut yang diwakili anjani. setelah emely memberi perintah kembali bekerja semua karyawan bubar melanjutkan aktifitas pekerjaan mereka. hanya anjani yang mengikuti emely ke ruang kerjanya sambil membawa buku dan tab jadwal emely.
emely duduk dengan hati-hati di kursi kejayaannya itu. dan mengusap-usap manja peralatan kerjanya yang hanya sebulan ditinggalkan. anjani melihat pemandangan itu geleng-geleng kepala dibuatnya.
"Ya ampun em. segitu kali ya merindukan tuh barang. yang harus kamu rindukan itu suamimu tau." ledek anjani yang sangat lancang.
"kurang ajar kamu. hahaha. kalau bukan karna ini semua, pekerjaanku takkan beres, anja."jawab emely tertawa.
"oiya, bicara tentang pak beni. kemarin beliau telfon saya. beliau nyariin kamu em. emangnya kamu gak pamit dia ke villa?" tanya emely.
"ahh.. ceritanya panjang nja. mendadak lah intinya. hehe."timpal emely berusaha melupakan kesedihannya.
"oke deh, buk bos. oh iya, jadi hari ini jadwal kamu hanya tanda tangan berkas ini em, trus pertemuan sama bapak robi dari perusahaan AZ dan ibu Ayu manajer cabang butik kita."jelas anjani menjelaskan dengan detail jadwal emely hari ini.
"baik, anjani yang baik hatinya. sekarang kamu hubungi beliau berdua atur waktunya. biar aku lanjutin semua berkas ini." jawab emely tersenyum.
"oke buk bos. siap dilaksanakan!" ledek anjani.
anjani berbalik keluar ruangan, dan langsung menuju meja kerjanya sebagai sekretaris pribadi emely.
anjani sahabat emely saat mulai bekerja di perusahaan almarhum bos nya. dia tak selalu mendukung emely layak saudara kandung. dia bangga ketika emely dapat beasiswa ke luar negeri dan bahkan menjadi sukses seperti sekarang. buktinya sekarang dia kecipratan kesuksesan emely dengan menjadi sekretaris emely. dia hidup berkecukupan dan nyaman dengan hasil jerih payahnya dari nol bersama orang tuanya yang dulunya hanya seorang kuli bangunan dan ibu rumah tangga biasa. anjani tidak pernah iri dengan keberuntungan yang dialami emely, karena dia tau emely pantas mendapatkan semua itu.
***************
di kantor beni, beni hanya duduk terdiam memikirkan emely. ada perasaan bersalah tapi terlalu malu mengungkapkan. jika tidak diungkapkan, rumah tangga mereka akan hancur lebur. bagai makan buah simalakama untuk beni saat ini. dia mencintai emely tapi harus mengikuti keinginan orangtuanya.
ponsel beni berdering, dia berharap itu dari emely tapi ternyata dari wika yang semalam menginap dirumah mama beni.
"halo bebby, kamu lagi dimana?"tanya wika dengan nada manja. wika terlalu egois ingin memiliki beni dengan cara menyakiti emely. padahal mereka sama-sama seorang wanita.
"lagi dikantor. maaf yaa wika. hari ini aku benar-benar sedang sibuk, nanti kalau luang aku kabari kamu."jawab beni mulai cuek dan bimbang.
"yaahh padahal aku mau ngajak kamu ke rumahku, mau minta pendapat kamu bagusnya gimana. kan bentar lagi juga kita bakal tinggal disana."pinta wika memelas.
"maaf wika..tolong mengerti. aku lagi kerja, dikantor. apapun pilihan kamu aku akan setuju lho ya.. yg mana baiknya aja ya. hari ini aku bener-bener banyak kerjaan." jelas beni lagi.
"oke oke sayang. kabari aku lagi ya nanti."
"oke." jawab beni singkat dan menutup telfonnya.
beni membuka ponselnya lagi dan mengetik pesan singkat.
[ wife : emely. kamu hari ini pasti masuk kantor. aku ingin ketemu kamu, apa kita bisa bicara sebentar pas makan siang ini? aku benar-benar tidak bisa seperti ini sayang. pulang ya. atau aku jemput kamu ke kantor hari ini. ]
pesan itu masuk ke ponsel emely dan emily langsung membalas pesan suaminya itu, karena dia tidak mau beni ke kantor dan mengetahui kalau dia adalah pimpinan kantor itu. yang beni tau emely kantornya di butik dekat dengan kawasan kantornya.
[ husband : maaf ben. aku hari ini lagi di lapangan. aku gak bisa memenuhi permintaanmu. aku harus menemui client ku. jadwalku sangat padat karena tertunda sebulan sebelumnya. jadi mohon pengertiannya ben. ]
[ wife : sayang. kasih aku kesempatan utk bicara sama kamu. aku merindukanmu, sayang. kalau kamu tidak mau menemui ku jam makan siang ini, aku yang akan menjemputmu ke butik ]
[ husband : ben. jadwalku hari ini gak bisa cancel. jam makan siang ku harus ku ganti dengan pertemuan client, jadi hari ini kita ketemu dirumah saja.. sekalian aku mau jemput pakaianku dirumah. aku harap kamu mengerti dan paham. ]
beni terdiam membaca pesan terakhir emely. ada perasaan senang emely akan pulang dan bisa bertemu dengannya namun di akhir kata dia bilang mau jemput pakaian. apa maksudnya ? fikiran beni semakin dibuat penasaran.
***************
emely mengemudikan mobilnya memasuki pelataran rumah yang dihuni beni dan emely tersebut. ternyata beni masih belum pulang.
"mungkin dia pergi bersama wanita itu," bathin emely.
emely keluar mobil dan mencoba bersikap seolah-olah dia sehat bugar. padahal kenyataannya dia sedang tidak sehat.
"aduh. kenapa tubuhku hari ini bener-bener gak bisa diajak kompromi ya. lelah dan ingin rasanya beristirahat." gumam emely. dia merasa ada yang aneh dengan kondisi kesehatannya, karena biasanya kalau dia sudah minum obat dan vitamin nanti juga langsung fit lagi. tapi tiba-tiba dia ingat lagi kejadian kemarin sore.
"mungkin aku terlalu banyak fikiran dan terbawa emosi. padahal pekerjaanku masih banyak, tapi karena tubuh ini harus istirahat. sebaiknya aku mandi dulu biar segar."gumamnya lagi.
emely menuju kamar tidurnya, meletakkan tasnya dimeja dan menuju kamar mandi. desiran air mandi emely samar terdengar.
sementara emely sedang mandi, beni terdengar sudah sampai dirumahnya. dia bahagia melihat mobil istrinya terparkir didepan rumahnya. dia buru-buru turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. dia mencari keberadaan istrinya dimana. lalu dia terhenti seketika mendengar istrinya sedang membersihkan diri pulang dari bekerja.
"hmm. emely juga baru sampai."gumam beni tersenyum.
beni pun segera mengganti pakaiannya, dan bersiap untuk mandi juga. emely pun selesai mandi dan tak sengaja bertemu pandang dengan beni di depan pintu kamar mandi. dia terhenti sejenak. dia bimbang akan seperti apa seharusnya dengan lelaki ini.
"kamu juga baru sampai, sayang?" tanya beni memulai pembicaraan. beni ingin menciumi pipi istrinya tapi emely memilih untuk berjalan dan terlihat cuek.
"iya. sana mandi dulu." jawab emely singkat. seketika emely rapuh lagi melihat tatapan suaminya. dia merasa bersalah terlihat acuh didepan suaminya karena itu bukan aslinya emely. dia kasihan melihat beni, tapi setiap dia menatap beni dia juga akan ingat kejadian kemarin.
emely mengeringkan rambutnya dengan handuk dan melilitnya. lalu dia berdandan didepan cermin sambil berfikir tetapi tak tau harus memikirkan apa. bingung apa yang harus dilakukannya saat itu.
seketika beni telah selesai mandi dan duduk dipinggir tempat tidur memandangi istrinya, dia merasa bersalah atas semua yang terjadi kemarin tapi merasa canggung untuk memulai pembicaraan serta meminta maaf. namun emely mendahului pembicaraannya.
"aku..sepertinya sudah tidak pantas..." ungkap emely terputus. beni langsung membalas emely.
"kamu pantas bersamaku. kamu harus tetap bersamaku sampai kapanpun itu."ucap beni yang agak meninggikan suaranya. beni berjalan menuju emely dan meraih tubuh emely yang sebenarnya lemas karena kurang sehat.
"ben..aku gak mau dilukai lagi. aku sangat terluka ben. aku mendengar semuanya ben. jika perpisahan yang wanita itu inginkan agar kamu bisa bersamanya, akan aku siapkan hati ini agar dia paham bahwa kamu bukan lagi milikku seutuhnya."
"emely. tolong mengertilah posisiku. aku tidak ingin menjadi anak durhaka, tapi aku juga tidak ingin kehilangan kamu, em.please.... aku berharap kamu mengerti situasi aku saat ini."
"tapi tidak dengan cara ini ben ? apa yang kurang dari aku ben? sampai kamu mengkhianati ku seperti ini ben? mama ? papa? kamu ingin berbakti sama mama sama papa? silahkan ben. aku mendukungmu. tapi jika aku dimadu, aku takkan sudi ben. aku kecewa ben, kecewa dengan diri kamu, mama dan papa. aku berusaha menjadi menantu yang baik walaupun sedetikpun mama dan papa tak bisa melihat ketulusanku."ucap emely dengan nada tinggi, lalu dia mengusap dadanya, dia menahan kata-katanya. dia menangis lagi tapi tidak seperti malam di villa bersama bik numa. beni bersimpuh di hadapan emely yang masih duduk di depan cermin rias kamarnya. dia memegang tangan emely. dia menangis, dan memohon kepada emely.
"apapun itu em. aku mohon jangan pergi dari aku. aku membutuhkan kamu di sampingku. aku cinta kamu tulus, em." ujar beni gemetar melihat kemarahan emely yang begitu mendalam.
emely mengusap air matanya. dia berjanji tidak akan menangis lagi pada bik numa tapi dia mengingkarinya. dia juga berjanji mendengarkan penjelasan beni, dia menepatinya tapi dia sebenarnya rapuh dengan keadaan itu.
"ben. kamu menyayanginya dan mencintaiku. aku tidak bisa menerimanya ben. aku kecewa ben mendengar itu semua. aku merasa diriku.. aku merasa aku bukan satu-satunya untukmu lagi ben. aku rapuh ben, aku benar-benar... aku terluka dengan ini ben. aku pernah bermimpi mama, papa sayang sama aku seperti aku menyayangi beliau, dan aku bisa hidup bahagia bersama kamu ben. tapi itu semua benar hanya mimpi yang takkan menjadi kenyataan. karena sekuat apapun aku berusaha untuk diterima keluarga kamu. aku tetap akan dibenci dan dipisahkan dari kamu ben."jelas emely. dia melepaskan genggaman beni. emely ingin sekali rasanya memeluk suaminya, dia juga rindu tapi kekecewaannya terlalu kuat dan menikmati emosinya itu.
"lalu aku harus bagaimana agar kamu tetap tinggal dan menua bersamamu emely? aku mohon, jangan pergi.. tetaplah tinggal bersamaku. aku menuruti permintaan mama dan papa supaya kita bisa hidup berkecukupan, aku bisa membahagiakanmu dengan kemewahan seperti teman-temanmu. semua ini demi kamu, sayang."ujar beni membelai manja pipi istrinya.
"tidak ben. kamu salah menilai ku selama ini ben. 3 tahun kita menjalin hubungan sampai akhirnya kita menikah, aku tidak pernah menginginkan kemewahan ataupun hartamu sepersen pun beniiii.. aku hanya ingin menua bersamamu walaupun itu hanya dalam kesederhanaan asalkan kita bahagia lahir bathin. tapi kamu terlalu jauh menilai ku yang tak lain kamu juga beranggapan sama dengan apa anggapan orangtuamu terhadapku." jelas emely lagi. sejenak beni terdiam, dan emely beranjak pergi dari kursi itu. dia berjalan menuju lemari. emely mengambil koper dan membuka lemari. melihat hal itu beni langsung berdiri dan berlari mengambil koper itu. beni langsung memeluk emely, emely memberontak tapi apalah daya kekuatan wanita takkan mampu melawan lelaki.
"tetap bersamaku sampai kapanpun itu, em. aku akan mati jika tidak bisa bersamamu. kalaupun aku menikahi wika, aku takkan pernah menceraikan mu."ujar beni percaya diri. padahal kepercayaan dirinya itu semakin membuat emely terluka.
"tidak ben. aku akan membuat kamu memilih aku atau wanita yang bernama wika itu. aku bersamamu pun tak ada gunanya jika kamu masih tetap mengikuti keinginan kacau orangtuamu."jelas emely yang masih berusaha memberontak dari pelukan beni.
malam semakin larut, beni dan emely mulai hening lagi. emely mencoba berjalan ke dapur untuk sekedar minum air putih hangat. dia diam seribu bahasa meninggalkan ben yang masih terpaku didekat lemari. belum jauh emely berjalan keluar kamar, dia tumbang. emely pingsan. beni langsung berlari mengejar emely yang tergeletak pingsan dekat pintu kamar. beni menggendong emely ke tempat tidur, dia terlihat panik. beni mencoba menelfon tapi tak ada yang menyahut panggilannya. lalu beni mencari kotak kesehatan, dia mencari sesuatu yang berguna agar emely sadar dari pingsannya. sesekali dia memanggil emely dan menangis sejadi-jadinya, meminta maaf dan mengusap rambut emely.
tak berapa lama, emely sadar dari pingsannya. dia merasakan tubuhnya benar-benar drop dan pusing lebih dari sebelumnya. beni menyodorkan minuman hangat, lalu emely menerima bantuan beni dengan meminum air itu.
"terima kasih, ben."ucap emely seraya membaringkan tubuhnya lagi.
"iya sayang. sepertinya kamu kelelahan dan butuh istirahat. segeralah tidur, besok kamu harus ke dokter dan jangan ke kantor dulu. kamu harus dengar apa yang aku katakan, oke sayang." jelas beni sambil mengecup kening istrinya. beni menarik selimut lebih dekat dan tidur disebelah emely sambil memeluk istrinya. dan merekapun terlelap malam itu dengan nyenyak.
***************