Perjuangan Emily...

1159 Words
*************** Emely terbangun setelah kilauan cahaya matahari menembus kaca kamarnya. Dia duduk ditempat tidurnya, badannya terasa sangat ringkih, ngilu dan butuh istirahat. Emely mendengar suara dentingan peralatan masak di dapur, dengan gontai dia yang masih pakai gaun tidurnya melangkah ke kamar mandi sekedar mencuci wajahnya. Desiran air mulai terdengar, dia bercermin dan menatap wajahnya yang sangat kusut karena menghadapi masalah itu beberapa hari ini. "ah. aku langsung mandi saja, biar lebih segar," gumam Emely. Emely pun langsung menggapai handuk yang ada di gantungan dan menyalakan shower. Desiran air terdengar jelas. beberapa menit kemudian, emely keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar. emely berjalan menuju cermin rias dan duduk bercermin memandang dirinya sambil merias wajahnya. tiba-tiba emely dikagetkan dengan munculnya beni dari pintu. "hai, kamu udah bangun ya. hari ini aku gak masuk kantor dulu. kita harus ke dokter. kemarin kamu pingsan gitu aja. aku takut kamu kenapa-kenapa."jelas beni. "oh.. gak usah ben. aku udah enakan. aku udah segar kok. gak usah khawatirin aku. dan lagian sekarang kamu pikirin dulu calon istri pilihan orang tuamu ben. aku udah gak apa-apa kok. aku bisa kok ben. aku bisa jaga diriku."terang emely. emely menarik nafas panjang yang terasa sangat berat. apalah arti emely jika beni benar-benar akan pergi darinya dan menikah, lalu membagi waktunya dengan wanita itu. "emely...kamu yang aku cintai. kamu semua hal yang aku impikan selama ini," balas beni tegas. "maaf ben.. aku tidak mau berdebat lagi denganmu. apakah harus aku jabarkan, jikalau memang kamu menjadikan semua hal yang kamu impikan, kenapa kamu masih menduakan hatimu untukku dengannya?"tandas emely setengah berteriak. "maaf.. sa..yang!" "sudahlah. tak perlu repot-repot ben. bekerjalah ! Aku saat ini butuh ketenangan." Beni tak mengindahkan kata-kata emily. Dia tetap menyiapkan sarapan untuk emily, bahkan dia tidak masuk kantor hari ini. Dia menemani emily seperti yang dikatakannya. Emily yang mudah hiba, mulai luluh lagi dengan sikap manisnya beni. Bahkan beni menemani emily belanja bulanan layaknya sepasang suami istri. Mereka ke pasar berdua, menghabiskan waktu berdua. Bercerita bersama, bersenda gurau seakan pernikahan merekalah yang paling bahagia saat ini. *************** Malam berlalu, beni masih setia menemani emily sesuai perkataannya. Entah hanya karena iba dengan keadaan emily yang sedang sakit atau memang murni jika dia mencintai tulus emily. Disela makan malam saat itu, beni memulai pembicaraannya berusaha meyakinkan emily tentang perasaannya dengan emily. "sayang.. aku harus menjelaskan beberapa hal kepadamu." ujar beni mengawali pembicaraan. Hal itu membuat emily, menatap beni dan menghentikan makannya. "oke. Aku akan mencoba mendengarkan penjelasan mu ben!" tukas emily berusaha tenang. "Perusahaan papa sedang mengalami masalah keuangan. Lalu mama memohon kepadaku untuk membantunya menyelesaikan masalah ini. Aku tidak mempunyai banyak uang dalam tabunganku, aku bingung sayang." jelas beni. "Lalu kamu diminta menikahi wanita itu untuk bisa meminta bantuan dari perusahaannya? begitu, ben?" tanya emily menyipitkan matanya. Sekejap emily berfikir, haruskah dia berbicara kepada mertuanya supaya dia bisa membantu mereka? tapi apakah mereka akan menerima bantuan dari emily ? atau malah akan menyudutkan emily karena mereka tidak pernah tau kekayaan emily sebanyak apa selama ini. Beni mengangguk pertanda jawaban dari pertanyaan ku benar. Hati emily tersentak? ya. Tapi emily harus cari cara supaya ia bisa mempertahankan rumah tangganya yang masih seumur jagung ini. "aku harus apa emily? aku kasihan liat mama sama papa. bagaimana kelangsungan kuliah Cathy, adikku satu-satunya jika papa sama mama bangkrut."terang beni lagi. Lagi dan lagi jawaban beni membuat emily merasa dirinya tidak bisa melawan kehendak orangtuanya yang tidak masuk akal itu. Solusi lain bisa saja di dapat beni dan keluarganya, jika mereka masih bisa berfikiran jernih tanpa tergesa-gesa. Apalagi emily merasa dia sanggup membantu keluarga beni jika mereka menginginkan, tapi emily merasa ragu mereka menerima bantuannya. "aku akan coba bicarakan ini sama mama dan papa. Jika mereka mau aku mungkin bisa mencarikan solusinya. Semoga mereka mau mendengarkan dan menerima solusi dari aku, ben." jawab emily ragu. "Jangan emily. Aku takut mereka malah menghinamu. Aku kasihan denganmu, em. Maafkan aku belum bisa meyakinkan keluargaku tentang ketulusanmu hidup bersamaku."ungkap beni sedih. Aku tau mereka tak pernah menginginkan anak laki-laki semata wayangnya menikahi aku. Mereka menganggapku menikahi beni hanya karena menginginkan kekayaannya. Cathy, adik beni memang tidak terlalu ikut campur tentang urusan rumah tanggaku tetapi dia tidak bisa menyembunyikan ketidaksukaannya terhadapku dengan sikapnya yang cuek dan tak mau tau tentangku. Apalagi mertuaku, yang selalu sinis dan terang-terangan memperlihatkan kebenciannya padaku. "Aku mencoba mendekatkan diri dengan mereka, ben. Beri aku kesempatan untuk bisa dekat dengan mereka."pinta emily. Beni hanya terdiam melihat keinginan istrinya. Disisi lain, dia harusnya senang istrinya ingin dekat dengan keluarganya. Tapi disisi lain, dia takut keluarganya malah akan lebih menghina emily terang-terangan. Beni tidak yakin emily akan bisa langsung dekat dengan keluarganya seperti halnya wika. Dan entah kenapa, alasan beni melarang emily untuk menemui keluarganya juga akan merusak rencana pernikahan dengan wika. Ahh.. persetan dengan semua ini ! fikiran beni mulai bercabang. Apa arti dari semua ini? Beni merasa ingin memiliki dua wanita ini. Mereka sama-sama pernah mengisi hati beni. "kita bicarakan ini besok ya sayang. sekarang lanjutkan makannya, dan kamu istirahat !" pinta beni sambil menyentuh tangan istrinya berharap istrinya yakin akan cintanya. Emily menatap dalam suaminya itu. Dia bimbang dengan tatapan suaminya, tapi diyakinkan hatinya untuk mencoba memperjuangkan pernikahan mereka. Emily yakin akan ada jalan terbaik dari Tuhan Sang Maha Pencipta. *************** Pagi sudah menampakkan kilauan cahaya disudut kamar beni dan emily. Emily berusaha bangkit dari tidurnya dengan malas. Dia harus ke kantor hari ini. Melangkah dengan gontaian malas, dia melihat beni yang masih tertidur di kasur. Dia sengaja tidak membangunkan beni karena dia akan tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang istri. "sebelum itu terjadi aku harus berusaha mempertahankan rumah tangga ini dan meyakinkan beni kalau yang dilakukan orangtuanya itu salah." desis emily setengah berbisik kepada dirinya sendiri. emily mengguyur badannya dengan air yang sejuk agar dia dapat merasakan kesejukan untuk hatinya. dia menikmati setiap momen me time nya pagi ini dikamar mandi. setelah dia selesai bersiap-siap dan dandan didepan cermin, emily melangkah ke dapur tak lupa langsung menenteng tas mahalnya. emily menyiapkan sarapan pagi untuknya dan beni. dia membuatkan nasi goreng kesukaan beni, sambil tersenyum dia membayangkan akan memenangkan hati beni dari hasutan orangtuanya. dia membayangkan akan berusaha mempertahankan rumah tangga ini sebisa dan semampunya. sarapan pagi telah selesai, namun beni masih belum terdengar bangun. emily melongokkan kepalanya ke pintu kamar mereka. namun dia melihat beni masih terlelap tidur dikasur itu. bergegas emily mengambil secarik kertas dan pena dalam tasnya, dan menulis untaian kata selamat pagi untuk suaminya yang sedang goyah itu. "selamat pagi, ben. semoga kamu masih menyukai apa yang aku siapkan untukmu setiap pagi. love so much, husband." untaian kata yang ditulis emily bermakna sangat dalam bagi kisah diantara keduanya itu. selesai menulis untaian kata itu, emily segera makan dan buru-buru berangkat untuk kerja. dia ingat hari ini ada beberapa pertemuan client yang harus diselesaikan secepatnya. dia masuk ke mobil dan mulai melajukan mobilnya dengan santai karena apapun itu tak perlu dikejar, harus dengan santai menghadapi karna yang sudah ditetapkan menjadi milik kita akan tetap menjadi milik kita. ***************
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD