Nesa masih menunggu. Tapi lelaki yang menyetir dengan santai itu sama sekali tidak menunjukan raut wakah yang berbeda. Tama masih sama seperti saat mereka berangkat tadi pagi ke acara kerja bakti. Pulangnya juga masih sama. Senyumnya tidak berbeda. Tama juga pamit mandi dan siap-siap dengan suara yang biasa. Semuanya tidak berubah. Sekarang, saat mereka sudah hampir sampai di tempat acara, Tama masih diam. Ia sama sekali tidak bertanya apapun tentang Azril padanya. Ini aneh. Dan Nesa tidak suka. Jadi, ia menoleh pada Tama. “Ada yang ketinggalan?” tanya Tama mengenali gestur tidak nyaman dari gadis di sampingnya. Tuh, kan! Nesa menggeleng. “Ada yang mau kamu bicarakan?” tanya Tama lagi. Pertanyaannya masih dengan ketenangan yang membuat Nesa berspekulasi sendiri. Tama yang tidak b

