Kay tersenyum menerima cangkir kopi dari tangan Kaiv, “Thank you, Pak Kaiv,” katanya dengan suara yang selalu terdengar merdu. Sebagai seorang pembawa berita, suara Kay memang selalu terdengar menyenangkan. “My pleasure, Bu Kay,” jawab Kaiv yang kini menyimpan gelas di depan Tama. Bosnya itu mengangguk kecil, “kalau begitu saya tinggal dulu,” pamitnya sambil menunduk kecil dan berbalik keluar dari ruangan Tama. Sempatnya ia melirik kedua orang yang berada di dalam ruangan direktur Djati Media itu. “Gimana D.C?” tanya Tama setelah menyesap kopinya. “Bukan gimana kabar aku?” tanya Kay lalu terkekeh geli, “gak cocok banget ya, Tam,” anulirnya pada pertanyaan sanggahannya sendiri. Tama mengangguk tapi kemudian bertanya lagi, “Gimana kabar kamu?” Gadis tiga puluh dua tahun yang juga merupa

