“Tadi ada Aish sama Iza datang,” Nesa mengeluarkan puding lumut dari dalam lemari pendingin, memotongnya, dan memindahkan ke atas piring. “Biar saya aja,” Tama mengambil alih potongan puding itu, menyimpannya di atas kabinet lalu menyimpan kembali sisanya di dalam kulkas setelah menutup kotaknya. Nesa memerhatikan Tama yang dengan sigapnya mengambil garpu dari laci, lalu menyimpannya di atas piring pudingnya. “Aku bisa ambil sendiri, Mas,” Nesa mencegah saat Tama mengambil dua gelas. Satu untuknya satu untuk Tama sendiri. Sedari tadi lelaki itu yang menyiapkan semuanya. Membuka makanan yang dibawanya dengan cekatan. Nesa hanya disuruh duduk dan diam. “Tapi saya mau ambilin juga untuk kamu,” Tama tersenyum. “Ayo duduk kita makan,” ajaknya lagi. Nesa mengangguk. Tama sudah berjalan

