24. —Kutukan Anak Tengah

1312 Words

“Kenapa?” Jebi duduk di samping Nesa. Sahabatnya si pecinta teh itu sudah datang lebih dulu. Janjian setelah Jebi mengambil draft novel Nesa yang harus direvisi. Editornya menghubungi kalau ada beberapa bagian yang harus Nesa perbaiki. Pekerjaan rutinnya sebagai penulis. Revisi naskah. Mereka duduk di kafe yang tidak jauh dari bangunan kantor Djati Publishing. Tugas itu memang selalu Jebi yang lakukan. Nesa tidak mungkin datang dengan wajahnya. Itu bisa mengacaukan semua yang sudah dibangunnya selama ini. “Kaiv baru telepon,” jawab Nesa. Wajahnya di tekuk, bibir bawahnya maju-maju, dengan tatapan tak bersemangat. Padahal yang di hadapan Nesa adalah lemon cake favoritnya. “Bukannya udah biasa Kaiv telepon-telepon lu kalau mau ada acara?” Jebi meminum aren lattenya yang sudah dipesankan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD