7. —Pembicaraan Di Meja Makan

1347 Words
Gelas berisi air putih hangat itu Tama pindahkan ke genggaman tangan Nesa di atas meja. Gadis itu menunduk, tangannya saling bertaut, dan ia menggigit bibirnya sendiri. Tama baru saja duduk saat ponselnya berdering. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel berwarna hitam itu dan mengangkatnya begitu saja di depan Nesa. “Kamu bisa atur ulang pertemuan malam ini?” tanya Tama. ‘Pak Tama, ini urgent,’ jawab Kaiv di seberang. “Pergi aja,” ucap Nesa dengan suara serak. Tama mengangkat pandangannya pada wajah Nesa di depannya. Dengan mata bengkak dan hidung merah, gadis itu mengangguk kecil. “Aku gak apa-apa,” katanya setelah berdeham, “Mas pergi aja.” ‘Pak Tama sedang bersama Bu Annesa?’ tanya Kaiv. “Hm,” Tama menjawab dengan gumaman. Tangannya mendorong kotak tisu di atas meja makan. ‘Kalau gitu biar saya jadwalkan ulang, Pak,’ Kaiv menyetujui. “Thank’s, Kav,” ucap Tama lega dengan seulas senyum di bibirnya, ia menurunkan ponsel dan menyimpannya di atas meja. Lalu kembali menatap Nesa yang kali ini menatapnya tak bersahabat. “Kena—" “Pergi aja, sih. Jangan buat aku malu,” rajuk Nesa dengan bibir maju-maju, ia menarik beberapa lembar tisu. Suara merajuknya yang imut, wajahnya yang merengut malu-malu, dan bibirnya yang sengaja di manyun-manyunkan. Semua itu membuat Tama harus sekuat hati menahan diri untuk tidak mencubit pipi bulat di depannya. Ia sadar sejak lama kalau Nesa cantik. Tapi tidak menyangka kalau gadis itu bisa bertingkah semanis ini. “Kenapa kamu harus malu?” Tama bertanya sambil menjaga suaranya agar tidak kelepasan senyum. Karena Nesa mungkin saja benar-benar sedang merasa kesal sekarang. “Karena—“ Nesa mengalihkan pandangannya ke sembarang, lalu mengelap mata dengan tisu, kemudian membuang ingus. “Karena aku udah nangis. Malu banget nangis di depan kamu itu tau, Mas,” keluhnya sekali lagi sambil menurunkan tisu dari hidung lalu melipat-lipatnya. Senyum Tama benar-benar tidak bisa ia tahan lagi, “Kenapa harus malu di depan suami kamu sendiri?” tanyanya sambil meraih tisu di tangan Nesa. Ia berjalan ke kabinet dapur di belakang Nesa dan membuka bagian tempat sampah. Nesa mengerjapkan matanya. Selain karena perih, jawaban dan apa yang dilakukan Tama juga membuatnya tidak percaya. Ia kembali menoleh pada Tama yang kini sudah duduk lagi di depannya. Mengeratkan genggaman gelas hangat di tangannya, lalu menggeleng. Tidak tahu harus menjawab apa padanya. Jelas sekali ia malu ditemukan dalam keadaan seperti itu. Juga diperlakukan seperti ini. Dan yang paling utama adalah ia yang tadi membiarkan dirinya dipeluk. Merasakan apa yang namanya dipeluk. Merasakan sendiri apa yang selalu ia tulis tentang sebuah pelukan. Hal yang dalam teorinya bisa menenangkan diri. Nyata. Teori yang ia baca memang terbukti nyata. “Apa saya sering jadi penyebab kamu nangis?” tanya Tama. Pertanyaan memecah hening yang membuat Nesa yang sedang mengangkat gelas minumnya kembali menurunkannya. Ia menoleh sambil menyimpan gelasnya di atas meja. Lalu menatap lelaki di depannya, mencoba mencari tahu apa maksud dari pertanyaan itu. tapi selain wajah tampannya yang balas menatapnya, Nesa tidak menemukan apapun. “Apa kamu penasaran, Mas?” tanya Nesa dengan suara seraknya. “Baru penasaran sekarang? Itu sebabnya kamu ngikutin aku turun dan berhasil lihat aku lagi nangis?” tanyanya lagi dengan sinis. Entah kenapa pertanyaan itu membuatnya kesal sekarang. “Nes— “Aku capek,” katanya sambil berdiri, “Kalau Mas punya agenda lain silakan diselesaikan. Kita selama ini sudah cukup sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tidak perlu diributkan lagi.” Tama memerhatikan bagaimana Nesa yang berubah secepat itu karena pertanyaannya. “Berita dan video tadi juga sudah dihapus, kan, Mas? Kita bisa kembali masing-masing lagi?” tanya Nesa. Pertanyaan yang ia sendiri tidak butuh jawabannya. “Aku akan memegang ucapan kamu yang bilang gak akan usir aku dari sini,” tambah Nesa sebelum ia berjalan ke arah tangga. Tangga menuju lantai dua dimana semua kamar berada di sana. Nesa sama sekali tidak mau membahas apapun tentang tangisannya atau apapun yang sering terjadi padanya. Kesepiannya atau kepedihannnya. Semuanya yang memang benar bersumber dari satu orang. Mahatama. Suaminya. Orang yang sudah membawanya menjadi seperti ini. Meski Anggeni adalah tersangka utamanya dalam hal ini. Tapi jika saja sejak awal Tama menolaknya dan membatalkan janji itu, ia mungkin tidak akan terjebak di dalam sini. Di dalam situasi sehampa ini. Ia mungkin masih akan bebas berada di luar sana. Tidak terkurung dalam pemenuhan janji dan hutang budi. Hutang budi. Kemarahan mamanya kini terasa masuk akal di kepalanya. Kesalahan papanya juga menjadi lebih terasa sekarang. Kenapa ia yang harus menanggung karma buruk yang dilakukan keluarganya? Kenapa harus dirinya yang berada dalam situasi buruk seperti ini? Meski Tama memperlakukannnya dengan baik seperti katanya, tetap saja ini tidak seperti pernikahan pada umumnya dan Nesa selalu merasa marah akan hal itu. kemarahan yang tidak bisa ia ungkapkan pada siapapun atau pada apapun selain tulisannya. Nesa menghentikan langkahnya. Tunggu, apa kemarahannya sekarang juga adalah salah satu alasannya karena namanya terungkap? Apa ia selama ini diam karena masih punya wadah untuk menampung kekesalannya? Dengan menuliskannya? Menuangkan pikiran dan emosinya pada setiap tulisannya? Gak tau ah! Nesa menggeleng dengan pikirannya sendiri. Ia hanya ingin semuanya kembali diam saja seperti biasanya. Kenyataan kalau apa yang diberitakan tadi siang tidak mengubah apapun yang terjadi pada mereka dan malah membuat Tama jadi mengikutinya seperti sekarang. Ia tidak ubahnya seperti tahanan yang ketahuan membuat lubang di tembok penjara. Sekarang ia bahkan diikuti sampai ditanya banyak hal. Tentu saja itu aneh untuknya yang selama dua tahun ini sama sekali tidak dipedulikan oleh suaminya sendiri. Aneh banget! Kakinya kembali melangkah menaiki tangga menuju lantai dua saat telinganya mendengar suara dering ponselnya. Nesa menoleh. Di belakangnya, Tama berdiri sambil mengangkat tangan. Memperihatkan ponsel dengan case berwarna hijau matcha. Mata Nesa berkedip melihatnya. Itu ponselnya. “Ketinggalan di mobil. Saya turun buat ngasih ini, sama sekali gak berniat membuntuti kamu,” ucap Tama dengan nada yang biasa saja. Namun tentu saja nada itu terdengar tidak biasa untuk telinga Nesa. Ia yang sudah berkata yang tidak-tidak dan berpikiran yang tidak-tidak juga tentang suaminya. Seketika juga ia merasa bersalah sudah marah dan bicara sembarangan. “Aku— “Jebi yang nelepon sejak tadi,” Tama berbicara sambil melangkah mendekatinya. Berdiri di satu anak tangga di bawah Nesa. Membuat mata mereka sejajar sekarang. Tangan Tama meraih tangan kanan Nesa yang mematung sejak tadi. Menyerahkan ponselnya yang masih berdering. “Saya pergi dulu. Kita harus bicara lagi nanti,” Tama mengangkat tangan, mengusap pelan pipi Nesa yang berwarna merah. Entah karena marahnya, atau sekarang sdah berubah jadi malu. Yang pasti, Tama suka dengan semburat merah muda itu. Nesa memundurkan wajahnya, merasa aneh dengan usapan tiba-tiba itu. “Maaf,” Tama menarik kembali tangannya, kemudian menyaku keduanya di saku kiri dan kanan. Dering ponsel Nesa berhenti lagi. “Kita bicara lagi kalau kamu lagi gak capek, ya?” Nesa berkedip, “Itu ngeledek, kan?” curiganya. Senyum Tama naik di bibirnya, lalu menggeleng, “Saya gak berani ngeledek kamu,” jawabnya ringan. Nesa masih memicingkan matanya. “Hm?” Melihat tatapan berharap Tama di depannya dan sama sekali tidak menemukan sisa kesal karena ucapannya tadi, Nesa perlahan mengangguk. Kecil. Samar, Tapi lelaki di depannya tersenyum lebih lebar. “Gimana kalau Taman Safari?” tanya Tama tiba-tiba. Kedua alis Nesa saling bertaut. “Tiba-tiba Taman Safari?” Ponsel Nesa berdering lagi. Nesa mengangkat tangan kanannya, menatap layar yang memperlihatkan nama Jebi. “Angkatlah,” Tama mengendik pelan dengan dagunya, “Saya pergi dulu,” pamitnya kemudian berbalik, turun dari tangga lalu berjalan menuju keluar rumah. Nesa mengikuti kepergian Tama dengan tatapannya yang tertuju pada punggung lebar yang masih memakai kaus hitamnya tadi. Punggung lebar yang dari lekukan kausnya saja terlihat kekar. Melihat bagaimana otot lengannya yang terbentuk, Nesa yakin kalau otot di bagian lainnya juga terbentung dengan baik. Suara dering yang kembali berhenti membuat Nesa mengerjap sendiri. Mendadak jijik dengan pikirannya sendiri. Ia mengalihkan pandangannya pada ponsel saat suara pintu ditutup terdengar, menggulir layar dan menghubingi Jebi yang ternyata sudah tiga kali menghubunginya. Nesa berbalik dan menaiki tangga sambil mengangkat ponsel ke telinga kirinya, lalu secepat itu ia menjauhkannya lagi. “ANNESA LIDYA!” gelegar suara yang sudah amat sangat dikenal Nesa. --
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD