Tangan Nesa kembali mendekatkan ponsel ke telinganya. “Tenangin diri lo, Je!” ucapnya kalem yang belum apa-apa sudah mendapat teriakan dari sahabat yang merangkap jabatan jadi managernya itu.
Terhitung sudah dua kali ia dipanggil dengan nama lengkapnya hari ini. Nesa mengerang, ada apa sih dengan hari ini?
“Lo kemana aja, Njir?” tanya Jebi kemudian, “Gue teleponin lo dari tadi ya, Nes!”
“Sorry, gue tadi sama Mas Tama, terus hape gue ketinggalan di mobilnya” jawabnya sambil membuka pintu kamar, "ini baru dianterin."
“Hah?”
Nesa sudah memperkirakan reaksi Jebi akan seperti ini. jadi, ia menjauhkan kembali ponselnya saat gelegar suara Jebi kembali terdengar.
“NGAPAIN SAMA SUAMI LO? KALIAN UDAH BAIKAN?”
Sambil menghempaskan dirinya ke sofa di kamarnya, Nesa tersenyum sendiri, “Emangnya gue pernah marahan sama Mas Tama? Ngobrol aja gak pernah,” lirihnya pelan. Ia mengangkat kaki, memeluk lututnya.
Jebi terdengar menghela napasnya, “Jadi, ngapain lo berdua? Bukannya hari ini gak ada jadwal acara?” lalu ia terkesiap sendiri, “Oh, kalian ketemu karena berita itu?” tebaknya.
Kali ini giliran Nesa yang menghela napasnnya, “Begitulah, Je.”
“Ngapain aja kalian?” tanyanya kepo.
Pandangan Nesa berkeliling kamarnya yang luas. Kamar utama di rumah ini. kamar yang diberikan Tama padanya. Kamar yang sudah selama hampir dua tahun ia huni. Di sini juga sama, tidak ada yang berubah setelah dua tahun terlewat begitu saja.
“Ngapain,” Nesa bergumam, “Hari ini aneh banget, Mas Tama jemput gue di rumah mama, terus kita makan bareng di Massilia, anterin gue pulang dan dia pergi lagi,” jelasnya kemudian.
“Tumben,” komentar Jebi.
“Tumbenan, kan? Aneh banget gak, sih tiba-tiba makan malam bareng tanpa ada acara jelas?” mata Nesa melebar dengan kepala yang mengangguk setuju
“Kalian ngobrolin video itu?”
Nesa mengangguk lagi lalu cepat sadar kalau mereka sedang ngobrol di telepon, “Iya.”
Terdengar Jebi yang berdeham sebelum bertanya, “Dia marah?”
“Itu dia yang bikin aneh, Je,” Nesa menjeda kalimatnya.
“Apa?” Jebi penasaran.
“Dia gak marah.” Nesa mengatakannya lambat-lambat. “Dia sama sekali gak marah denger gue ngomong gitu, Je.”
“Wow!”
Reaksi Jebi sama sepertinya. WOW! Amazing sekali. Sesuatu yang tidak pernah Nesa sangka sebelumnya.
“Padahal gue udah siap banget nih dimarahin. Mama juga sampe bilang kalau gue harus sujud minta maaf sama Mas Tama. Tapi dia malah ngajak gue makan! Aneh, kan?”
“Mama bilang apa?” Jebi menahan tawa.
Mata Nesa mendelik mendengar suara tahan tawa Jebi, “Bener-bener, ye lu! Gue udah ketar-ketir takut dimarahin, syukur-syukur langsung dicere. Ini malah bikin gue kaget.”
“Jir, tunggu! Lo masih mikir mau cere dari Mas Tama lo itu?”
Nesa berkedip. “Gue masih gak tau apa fungsi gue sebagai istrinya dia.”
“Taruhan deh, dia gak akan cerein lo sampe kapanpun!” semangat Jebi.
Nesa mencibir. Seyakin ia dengan bumi itu bulat, sebesar itu juga ia yakin kalau Tama hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk menceraikannya.
“Jadi lo mau bilang apa nelepon gue?” tanya Nesa yang tidak mau membahas lagi tentangnya.
“Oh, gue ada berita!”
Nesa menunggu lanjutan ucapan Jebi.
“Dari StarSun!”
Deg!
Nesa tidak bisa tidak berdebar.
--
Kaiv mundur saat Tama keluar dari mobilnya. Ia kembali menegakkan tubuh setelah menunduk kecil pada bosnya itu.
“Sudah beres semuanya?” Tama menoleh.
Kepala Kaiv mengangguk, “Sudah, Pak, seperti yang kita duga. Sumbernya memang dari sana,” jawabnya sambil mengulurkan iPad pada Tama.
Menerima iPad dari Kaiv, Tama menunduk melihat hasil laporan assisten pribadinya itu. “Oke,” Tama mengangguk, ia mengembalikan iPad dan menepuk pelan pundak Kaiv, “Kerja bagus. Thank’s, Kav,” pujinya.
Kaiv tersenyum kecil.
“Kalau gitu saya pergi dulu,” pamit Tama lagi yang sudah kembali membuka pintu mobil.
“Kemana, Pak?” tanya Kaiv cepat-cepat. Feelingnya mengatakan kalau Tama akan pergi untuk membicarakan hal ini dengan si pembuatnya. Orang yang sudah memulai, membuat video, yang merekamnya diam-diam, sampai yang menyebarkannya begitu saja, dan jika feelingnya benar, itu tidak akan berakhir baik.
“Kamu tau saya akan kemana,” jawab Tama menanggapi basa-basi Kaiv dengan basa-basi juga.
Tangan Kaiv segera menutup kembali pintu mobil Tama, “Saya yang nyetir ya, Pak?” katanya menawarkan diri.
Bukan apa-apa, jika ia membiarkan Tama pergi sendiri, entah apa yang akan terjadi di sana. Sungguh. Ia hanya tidak mau Tama terlihat bonyok di pertemuan besok. Live pembukaan Liga Satu di Djati Sport TV, semua orang yang berpengaruh dalam bidang media akan datang menghadiri acara. Bahkan Menteri Olahraga dan Menteri Komunikasi dan digital akan datang.
Kaiv tidak akan membiarkan bosnya begitu saja.
“Saya ikut atau saya telepon Bu Annesa, nih, Pak?” ancamnya.
Tama mendelik. Bukan takut dengan ancaman Kaiv yang akan memberi tahu Nesa, tapi ia tidak mau Nesa tahu semua hal ini.
“Kamu mengancam saya?”
Buru-buru Kaiv menggeleng, “Mana berani saya, Pak,” jawabnya cepat, “Tapi kita harus membuat wajah Pak Tama tetap setampan ini besok pagi,” Kaiv membeberkan alasannya.
“Besok pagi,” Tama menggumam, “kalau bonyok tinggal pake make up,” sahutnya santai setelah ingat apa yang harus dilakukannya besok. Tangannya kembali membuka pintu mobil.
“Gak bisa, Pak, gak bisa!” Kaiv mendorong lagi pintu mobil itu memutup. “Pak Man bisa kreekk saya, Pak,” tambah Kaiv sambil membuat isyarat memotong leher dengan tangan kanannya. Kalau sudah begini menyinggung Bos Besar adalah senjata utamanya.
Pak Man, ayah Tama, Manjada Djati, yang merupakan Komisaris dari Djati Group. Bos dari semua Bos. Raja Terakhir yang harus ia hadapi setiap kali Tama membuat ulah.
“Ayah gak akan bunuh kamu,” enteng Tama mengatakannya.
“Pak,” mohon Kaiv.
Tama berbalik lalu berjalan ke pintu bagian penumpang, menyerah pada Kaiv yang memohon dengan bibir menukik naik. Kaiv tersenyum melihat itu dan mendahului lalu membukakan pintu bagian penumpang, mempersilakan Tama untuk naik.
“Terima kasih, Pak,” ucap Kaiv sebelum menutup pintu. Wajahnya sumringah dan berseri. Namun baru ia akan berbalik menuju pintu pengemudi, palisade hitam itu sudah meraung menyalakan mesin.
Dengan mata membelalak Kaiv menoleh pada kaca depan, Tama mengangkat tangan kanan tanda pamitan, lalu menarik gas begitu saja.
“PAK TAMA!” frustasi Kaiv yang menatap kepergian bosnya itu. Kedua tangannya terangkat menyugar rambutnya. “Jangan berantem ya, Pak!” teriaknya sekali lagi.
Teriakan yang pasti tidak akan terdengar oleh Tama. Tapi Kaiv tidka berhenti di sana, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seorang yang akan bisa menghentikan bosnya.
Ibu Bos.
--
“Gak mungkin!” Nesa menegakkan duduknya. “Gue udah kena skandal kayak gini, loh, Je,” tambahnya dengan nada tidak percaya. Jauh dari percaya. Bagaimana bisa?
StarSun adalah Production House yang mengambil hak atas trilogi novel Tower of Love-nya Nesa. Dua buku sebelumnya, French Kiss on Eiffel dan Petals of Sakura, sudah lebih dulu dibuat filmnya. Keduanya sukses dan meraih untung banyak. Jadi, film ketiga yang baru akan dibuat ini masih dalam tahap awal sekali.
Meski setelah melihat berita dan videonya tadi siang, Nesa merasa tidak yakin kalau film ketiganya akan terus dilanjut. Biasanya jika sudah tersandung berita, tim produksi akan menundanya sampai pihak atas memberi izin untuk lanjut. Nesa sudah kehilangan harapan sebenarnya.
Ia juga sudah tidak terlalu bersemangat karena hal yang terjadi hari ini.
Jebi terkekeh di ujung telepon, “Beneran, gue langsung konfirmasi sama Pak Braja sama Mas Hangga, katanya From Seoul With Love diterusin dan mau survei tempat dua minggu lagi. Bulan depan udah mulai casting, persiapan segalanya. dan syutingnya rencananya dimulai pertengahan tahun depan,” Jebi menjelaskan, “semuanya tetap akan berjalan sesuai jadwal.”
“Mas Hangga baru selesein proyek di Bromo. Lo tau sendiri Mas Hangga kayak gimana, kan?”
Nesa mengangguk mengenal sutradara kondang satu itu, yang selalu fokus pada proyeknya meski ada berita miring yang menerpa. Kalau Mas Hangga sudah klik dengan satu cerita, ia akan membuat cerita itu menjelma dengan begitu indahnya di dalam tangkapan kameranya. Spesialis film romantis yang kabarnya masih jomblo.
“Gue udah hopeless, Je,” Nesa mengakuinya.
“Tenang aja,” Jebi menenangkan, “gue gak akan bikin video itu menang,” tekadnya.
Nesa menghela napas lega.
“Videonya ilang setelah viral,” Jebi menjeda kalimatnya, “ini kayak yang gue bayangin di dalem kepala, kan, Nes?”
Bagaimana menjawabnya? Nesa menggumam dengan pertanyaan Jebi, “Hm?”
“Jangan pura-pura bego!” sembur Jebi tanpa filter. Sudah khatam ia dengan bagaimana Nesa selalu menyembunyikan kenyataan tentang pernikahannya. Tentang suaminya.
Dan itu membuat Jebi gregetan dengan kebisuan Nesa.
--