Meski mereka bersahabat sejak mulai masuk kelas nol besar, tumbuh bersama dan berbagi rahasia bersama, Nesa yang tiba-tiba menikah dan punya suami seorang yang gak main-main, membuat sesuatu dalam hubungan mereka merenggang. Nesa yang sama sekali tidak mau membicarakan suaminya, Nesa yang tidak mau membicarakan kehidupannya di rumah barunya, Nesa yang lebih tertutup jika membicarakan masalah pribadi.
Padahal saat penangkapan papanya sekitar tujuh tahun yang lalu, Nesa mengungsi di rumahnya sampai hak atas rumah keluarga mereka dimenangkan oleh mamanya Nesa. Semuanya Nesa ceritakan selama masa mengungsinya itu. Jebi selalu menjadi tempat aman untuk Nesa yang selalu cerewet.
Lalu sekalinya Nesa curhat tentang suaminya, curhatannya itu malah bocor dan jadi konsumsi publik. Menjadi skandal dan malah membuka identitas yang selama ini disembunyikannya. Dari sana Jebi tahu kalau suami Nesa bukan orang sembarangan. Seorang yang punya jabatan dan kuasa, yang bisa saja menghilangkan berita sampai ke akarnya.
Teorinya masuk akal, kan? Jebi mengangguk dengan bibir tersenyum tipis.
“Emang apa yang ada di dalem kepala lo? Gue kan gak bisa liat,” Nesa mengelak. Meski benar ia bisa menebak apa yang Jebi pikirkan. Juga kenyataan kalau memang Tama yang sudah membuat berita dan videonya hilang. Sampai semua repost juga menghilang.
“Suami lo yang udah bikin videonya musnah, kan?” tanya Jebi akhirnya, “Gue yakin dia juga tau siapa yang nyebarin video itu. Taruhan sama gue,” tebaknya lagi yang dibarengi dengan kebiasaan buruknya yang akan mengajak bertaruh. Apapun itu.
“Gak mau, taruhan aja lo itu. Dosa tau,” Nesa menggeleng. Sungguh Jebi yang ia kenal.
“Lu juga dosa kali, Nes, masa iya gak ada berbakti-berbaktinya lo sama suami,” ledek Jebi. “udah dua taun itu lo amggurin aja.”
“Si lu mah gitu, gue gimana mau berbakti kalau yang mau gue baktiin aja gak mau,” Nesa mencebik.
“Gak mau atau gak napsu karena liat lo yang setelannya gitu doang?”
Nesa mengerutkan alis, “Apa hubungannya sama setelan kaos sama celana gue? Kalau ada acara gue kan pake gaun, ke yayasan gue pake baju lebih sopan lagi. Gue gak sekaku itu ya,” katanya tak mau
“Tapi lo gak coba pake lingerie buat mancing, Nes?”
“Mancing pake pancingan, bukan lingerie, Je. Jangan ngaco!”
Nesa mendelik pada ponselnya saat mendengar Jebi tertawa renyah di seberang sana.
“Lagian gue gak pernah kunci pintu kamar tau. Dia emang gak mau sama gue, kali.”
“Atau laki lu gay?”
Sungguh. Bicara dengan seorang Jelita Bianca akan selalu membuat Nesa tercengang. Ia tidak heran karena sudah menghadapinya selama seumur hidup sepanjang yang ia ingat. Tapi tetap saja selalu ada yang membuatnya tercengang.
“Apa gak hidup, lo ngerti, kan?”
Makin tercengang Nesa karena ia mengerti apa maksud Jebi.
“Stop lah Je. Kok lo jadi mikir laki gue kayak gitu sih?” Nesa merajuk. Karena malu. Sungguh ia tidak pernah berhubungan dengan lelaki. Tapi toh teorinya ia tahu sekali.
Jebi makin ngakak sendirian. “Ayo kita selidiki!” ajaknya, “Kali aja suami lo punya pacar cowok di luar sana. Atau kalau enggak pacar cowok, mungkin pacar cewek?”
Ajakan itu menggiurkan sebenarnya. Sudah lama juga Nesa ingin tahu apa yang sebenarnya ditutupi oleh Tama. Apa yang membuat Anggeni akhirnya pergi. Juga apa yang bisa ia cari tahu sendiri tentang Tama. Apa harus? Apa ia tidak akan lebih nelangsa jika ternyata ia benar-benar bukan yang suaminya inginkan?
Akan jadi seperti apa perasaannya jika tahu hal itu nantinya?
Sedangkan sekarang saja saat ia masih meyakini kalau yang diinginkan Tama adalah kakaknya bukan dirinya saja sudah membuatnya semenyedihkan ini.
“Gak mau!” tandas Nesa kemudian.
Jebi tergelak di seberang telepon.
Ponsel Nesa bergetar lagi, sebuah panggilan lain masuk ke ponselnya. Alisnya bertaut, “Je, kita ngobrol lagi nanti ya,” pamit Nesa kemudian.
“Oke,” cepat Jebi menjawabnya. “Ada sesuatu?” tanyanya lagi.
“Hm,” Nesa mengangguk meski tidak akan terlihat oleh sahabatnya itu, “Kaiv, assisternnya Mas Tama telepon gue.”
--
Palisade Tama berhenti di ambang gerbang tinggi rumah keluarga Djati, membuka jendela mobilnya dan seorang yang sudah dikenalnya menghampirinya dengan lari kecil.
“Den Tama, selamat malam,” sapanya ramah.
“Malam, Pak Sapri,” jawab Tama, “Maha sudah pulang, Pak?” tanyanya langsung pada pokoknya. Tujuannya datang kemari.
Pak Sapri, satpam rumah keluarga Djati itu mengangguk, “Sudah, Den,” jawabnya.
Tama mengangguk, “Makasih, Pak,” katanya lalu melajukan kembali mobilnya menuju parkiran sementara Pak Sapri kembali menutup gerbang.
Turun dari mobil dengan emosi yang sudah naik ke kepalanya, Tama menyabarkan diri. Ia tetap mengucapkan salam saat masuk ke dalam rumah. Rumah yang meski sudah tidak tinggal lagi di dalamnya ia tetap sering datangi. Selain karena harus bertemu ayahnya, yang lebih banyak menghabiskan waktu bekerjanya di rumah. Ia juga harus bertemu mamanya.
Setelah melewati foyer rumah yang menyambutnya begitu membuka pintu depan, langkah Tama melewati tangga menuju lantai dua, lalu melintasi ruang tamu besar yang bernuansa putih, navy, dan emas. Kemudian berbelok menuju ruang keluarga. Tebakannya adalah Maharaja, adiknya, ada di sana.
Benar.
Seluruh keluarganya sedang ada di sana. Di ruang keluarga yang terasa hangatnya. Dengan sofa-sofa empuk, karpet lebar terbentang, meja kotak yang tidak pernah kosong dengan makanan. Ayahnya, Manjada Djati, bahkan ada di sana juga. Yang dicarinya langsung menyadari kedatangannya.
“Tama,” mamanya, Dila Hutama, yang pertama menyambutnya. Wanita cantik itu menyembunyikan usianya yang sudah lebih dari setengah abad dengan sangat baik. Kecantikannya tidak berkurang sedikitpun. “Kamu sendirian aja? Nesa gak diajak?” tanyanya.
Tangan Tama terulur meraih tangan Dila, menunduk untuk mencium punggung tangannya. Tama kembali meneggakan punggung lalu membiarkan mamanya mencium kedua pipinya bergatian. Sebuah gestur kebiasaan yang sudah didapatkannya sejak masih kecil.
“Aku sendirian, Mah. Nesa baru aku antar ke rumah sesudah makan malam bareng,” jawabnya. Ia lalu menoleh kembali pada Maharaja.
“Aku ada perlu sama Maha,” ucap Tama dengan tegas.
“Bukan Maha yang salah, Tama,” bela Manjada.
Tama menarik napas sementara Dila mengusap punggungnya pelan. Ia lalu melangkah ke arah ayahnya. Tama melakukan hal yang sama, mencium punggung tangan Manjada dengan hormat.
“Maaf, Yah, kali ini biarkan Tama dan Maha yang menyelesaikan ini sendiri,” pintanya. Masih dengan nada sopan yang ditahannya untuk tidak meledak di depan orang tuanya.
Maharaja berdiri dari duduknya, “Ayo, kalau Kak Tama mau membicarakan ini berdua. Tapi gue rasa semua keluarga harus tau yang sebenarnya.”
Aisha Jingga menatap suaminya yang menyerahkan jas padanya, lalu menatap kakak iparnya yang sekarang sudah berwajah menyeramkan. Istri Maharaja Adra Djati itu sama sekali tidak tahu ada masalah apa. “Mas ada apa, sih?” tanyanya bingung.
“Lu gak ada hak buat menyelidiki hidup gue, Ha!” jengah Tama. Ia menoleh pada Aisha, “Aish mending lu ke kamar aja sebelum liat keributan. Kasian bayi lu kalau liat kelakuan ajaib bapaknya,” ucapnya sambil melirik perut hamil adik iparnya itu.
Langkah cepat Dila menyeberangi ruang keluarga lalu meraih pundak Aish. Ia mengangguk pada menantunya itu, “Ayo Mama temenin dulu di kamar, ya. Biarin itu adek kakak tukang berantem. Ada wasit abadinya ini,” ajaknya sambil melirik suaminya dengan pandangan penuh isyarat.
Manjada mengagguk kecil sebelum beralih menatap kedua anak lelakinya yang sedang bersitegang.
“Lu yang mulai, Kak, bukan gue!” Maha bersuara lagi setelah Aish berbelok di pintu.
“Gue gak ngelakuin apa-apa. Lu yang terlalu over thingking gue bakal ambil semuanya!” jawab Tama. “Tau apa begonya lu? Lu nyerang Nesa yang gak tau apa-apa. Bukannya benerin kualitas kerjaan lu!”
Maha berdecak, “Lu kira itu serangan omong kosong? Gue gak memanipulasi suara dia. Itu emang dia yang bilang kalau lu gak becus sebagai suami!”
Tama membiarkan Maha terus berbicara dengan kedua tangan terkepal di sisi kiri kanan tubuhnya.
“Selama dua tahun ini lu ngapain aja, Kak? Lu beneran cuma nepatin janji tanpa berbuat yang lain? Lu kira Nesa bakal diem aja sampai kapan?” serang Maha dengan wajah sengaknya. “Kakek terlalu manjain lu sampai lu gak bisa berbuat apa-apa kalau gak disuruh kakek, kan? Buat ngapa-ngapain Nesa aja lu gak bisa, kan, Kak?”
“Maha,” tegur Manjada yang merasa kalau kata-kata anak keduanya itu sudah keterlaluan.
Ponsel Tama berdering, Tama mengeryitkan alis. Ia kenal dering itu. Satu dering yang di khususkan untuk satu nomor.
Nomor Annesa.
--