Setelah lumayan cukup lama menunggu, Gista akhirnya keluar dan segera masuk ke dalam mobil. Kali ini perempuan itu terlihat begitu lemas tak berdaya.
“Sadewa, aku enggak ikut ke kantor dulu, ya. Aku mendadak tidak enak badan.”
“Oke, kita ke dokter kalau begitu.”
Gista menggeleng sebagai jawaban. “Tidak perlu. Aku hanya butuh waktu istirahat saja.”
“Oke.”
Sadewa langsung melajukan mobil miliknya menuju ke rumah. Padahal ia ingin mengajak Gista hidup bersama di apartemennya. Akan tetapi melihat kondisi Gista yang seperti ini membuatnya langsung mengurungkan niat.
Kini Sadewa segera menuntun Gista menuju ke dalam kamar pribadinya. Tidak banyak obrolan di antara keduanya karena Gista tampak lebih fokus memegangi perut.
“Kamu kalau ada apa-apa bisa minta tolong sama orang rumah di sini. Di bawah ada asisten rumah tangga dua. Sopir keluarga satu, dan tukang kebun satu. Selain mereka berempat, kamu jangan mudah dan gampang percaya.”
Gista hanya diam saja ketika dinasihati dan diberi arahan oleh Sadewa. Yang Gista butuhkan saat ini hanya ingin rebahan.
Setelah selesai memberikan nasihat, Sadewa segera keluar kamar dan pergi menuju ke arah dapur. Sadewa memberitahukan kepada asisten rumah tangganya jika Gista sedang istirahat di dalam kamar.
“Istri saya sedang istirahat di dalam kamar. Tolong jaga dengan baik. Saya ada urusan mendesak di kantor. Mama dan Papa sepertinya akan pulang besok pagi.”
“Baik, Tuan.”
“Jangan biarkan orang asing atau orang tidak dikenal menemui istri saya. Apapun yang terjadi di rumah ini tolong segera lapor dan hubungi saya.”
“Siap, Tuan!”
Selesai memberikan arahan kepada asisten rumah tangga, dan pegawai lainnya. Sadewa kini pergi ke kantor. Sebelumnya Sadewa mampir ke salah satu laboratorium terlebih dahulu untuk mengecek kandungan di dalam minuman yang diberikan pihak hotel untuk Gista.
Setelah semua beres, Sadewa merasa tenang. Akan tetapi ia mendadak dapat kabar jika Elang berhasil kabur dari anak buahnya. Di sini Sadewa merasa ketar-ketir sendiri. Takut jika Gista akan sering bertemu dengan pria itu.
“Berengsek!” umpat Sadewa, emosi.
***
Di lain tempat, Gista tengah merasa kedinginan. Perempuan itu menggigil luar biasa. Sampai akhirnya ada salah satu asisten rumah tangga yang masuk untuk memberikan camilan dan minum.
Ketika melihat kondisi Gista yang seperti ini, asisten rumah tangga itu ikut merasa khawatir,
“Wajah Non Gista kenapa pucat sekali?” komentar Imas—asisten rumah tangga itu. “Mau saya teleponkan Tuan Sadewa?”
Gista menggeleng pelan. “Jangan, Bi.”
“Ta-tapi ….”
“Tolong belikan obat penurun demam di apotek saja, Bi.”
“Ba-baik, Non.”
Imas langsung pergi, Gista kembali merasa panas dingin. Ponselnya pun kini bergetar terus-terusan yang menampilkan id kontak milik Elang.
Dengan sedikit tenaga yang dimilikinya, Gista akhirnya mengangkat panggilan itu. “Ha-halo,” jawabnya dengan bibir gemetar.
“Bee, kamu buruan keluar!”
“E-Elang? Ada apa?”
“Cepat keluar dari rumah itu, Bee! Aku tunggu kamu di dekat rumah Sadewa!”
Rasa dingin yang tengah Gista rasakan kini kalah dengan perasaan kagetnya. “Ka-kamu di sini?”
“Ya, kita harus pergi jauh dari Jakarta, Bee. Benar ucapan Ayah kamu kalau kita harus pergi sejauh mungkin sekarang.”
Gista terdiam bingung. Ia merasa ragu untuk bertindak seperti yang Elang katakan. “Ta-tapi kenapa, Elang?”
“Pokoknya nanti aku ceritakan kalau kita sudah bertemu. Sekarang kamu cepetan keluar dari rumah itu. Aku sejak tadi ikutin kamu dari hotel sampai sini. Sadewa itu jahat, Bee.”
Lagi-lagi Gista hanya terdiam kebingungan. Di sisi lain ingin sekali pergi dan kabur dari rumah ini. Tapi bagaimana nasib ayah dan ibu-nya nanti? Sudah pasti Klan Rajata tidak akan tinggal diam begitu saja bukan? Mereka pasti akan berbuat hal yang mengerikan.
Sampai akhirnya Gista memutuskan untuk berbohong kepada kekasihnya itu. Gista tidak mau kalau kedua orangtuanya kenapa-kenapa.
“Elang, maaf aku tidak bisa keluar,” kata Gista, lirih.
“Kenapa?!” tanya Elang sedikit membentak. “Suami kamu itu jahat, Bee! Kamu harus sadar! Bisa jadi kematian Kak Gendis ulahnya! Dia saja sampai berani menculikku!” tambah Elang, menjelaskan dengan nada menggebu-gebu.
Gista semakin dibuat bimbang. Sampai akhirnya Imas datang membawakan obat penurun demam untuknya.
Tidak ingin ketahuan membuat Gista buru-buru mematikan sambungan telepon dengan Elang secara sepihak.
“Maaf lama, Non.”
“Tidak apa-apa, Bi.”
Gista tersenyum tipis kepada asisten rumah tangga keluarga Sadewa. Bahkan Gista melirik ke arah ponsel miliknya yang terus-terusan bergetar—menampilkan id call dari Elang Dananjaya.
Ketika asisten rumah tangga itu pamit keluar, Gista merasa lega. Perempuan itu segera mengangkat kembali panggilan dari Elang.
“Ha—“
“Kamu di mana? Maksudnya di kamar mana? Aku akan nekat masuk ke sana.”
“Ja-jangan, Elang!” larang Gista, khawatir. Perempuan itu bahkan sampai menggigit bibir bawahnya sendiri kuat-kuat. “Aku akan keluar kalau begitu.”
“Oke bagus! Kalau begitu aku tunggu, Bee. I love you,” ucap Elang, melembut di akhir kalimat agar Gista kembali luluh kepadanya.
Kini niat ingin meminum obat pun Gista urungkan. Perempuan itu langsung mengambil tas selempang miliknya. Kali ini Gista tidak membawa pakaian apapun. Ia hanya membawa dompet dan kartu tanda penduduk saja.
Saat sudah berhasil keluar kamar dan menuruni anak tangga, Gista menoleh kanan dan kiri karena takut ketahuan oleh penghuni rumah.
Ketika merasa aman, Gista segera berjalan cepat menuju ke pintu utama. Lagipula Gista masih belum tahu denah rumah ini ada berapa pintu keluar. Yang ia baru tahu hanya pintu utama saja. Itupun karena tadi masuknya lewat sana.
“Non Gista,” panggil Imas, tersenyum manis. Gista sendiri langsung mendadak terdiam berdiri—menghentikan langkahnya menuju keluar. “Non mau ke mana?” lanjut Imas bertanya.
Gista menoleh dan tersenyum tipis. “A-aku mau keluar sebentar, Bi,” jawab Gista, gugup.
“Kalau begitu saya panggilkan sopir.”
“Ti-tidak perlu!” cegah Gista, cepat. “Aku hanya pergi sebentar saja,” tambah Gista, menyakinkan.
“Tapi Tuan Sadewa sudah memberikan pesan seperti itu, Non.”
Gista semakin bingung mencari alasan untuk kabur dari rumah ini. Apalagi seluruh pegawai di sini sudah diperintahkan oleh Sadewa untuk mengawasinya. Benar-benar sialan Sadewa!
Sampai akhirnya Gista memutuskan untuk kembali ke dalam kamar. Imas bahkan mengantarkan Gista sampai ke depan pintu kamar.
“Selamat istirahat, Non.”
Gagal kabur membuat Gista merasa kesal sendiri. Perempuan itu memukul-mukul kasur dengan kuat.
Terlebih handphone miliknya sejak dari tadi terus bergetar. Gista melihat layar ponsel miliknya yang terdapat nama Elang di sana.
“Ha—“
“Kenapa lama sekali! Aku udah nunggu dari tadi, Bee!” omel Elang, menerocos.
“Aku ketahuan mau kabur, Elang.”
“Kalau begitu aku nekat masuk ke sana dan bawa kamu pergi.”
“Ja-jangan!” cegah Gista, lagi. “Maksudku rumah ini sangat besar dan aku bingung memberikan petunjuk sama kamu. Aku sendiri bahkan belum tahu ada berapa pintu keluar di sini.”
“Soal ini kamu tidak perlu khawatir. Kamu tunggu saja di sana.”
Gista hanya diam dan merasa deg-degan sendiri. Apalagi Elang akan nekat menemui dirinya di rumah Sadewa.
Saking khawatirnya, Gista tidak betah duduk. Perempuan itu berjalan mondar-mandir sembari mengigiti ujung kuku miliknya.
Tok! Tok! Tok!
“Iya, masuk.”
Ceklek.
“Non, ada orderan makanan datang atas nama Non Gista. Apakah Non Gista merasa pesan atau tidak?”
Gista yang tadinya diam langsung mengangguk cepat. Sudah pasti itu Elang yang datang menyamar sebagai kurir.
“Iya, Bi. Biar aku saja yang menemui dan mengambil pesanan itu.”
“Baik, Non.”
Gista langsung keluar dan berjalan cepat menuju ke lantai bawah. Akan tetapi perempuan itu merasa heran ketika yang datang bukanlah Elang.
Merasa takut ketahuan, Gista menoleh ke belakang yang ternyata sejak tadi sudah dibuntuti oleh Imas.
“Titania Gista Bramawijaya?”
“Iya, saya sendiri.”
“Ini orderan makanannya. Totalnya sekitar 470.000 ribu rupiah.”
Gista merasa bingung sendiri di sini. Kenapa yang datang ke rumah ini bukan Elang. Lalu makanan ini dari siapa? Apakah Elang menyuruh orang lain ke sini? Atau bagaimana.
Ditambah Gista yang tidak memegang uang merasa bingung harus berbuat apa. Biasanya ia memiliki uang dari Gendis—kakaknya yang selalu memberikan jatah uang jajan. Akan tetapi semua uang dan perhiasan yang dimilikinya sudah diminta oleh sang ibu.
“Emmm … kamu suruhannya Elang?” tanya Gista, pelan. Bahkan nyaris berbisik agar Imas tidak mendengar ucapannya.
Pria itu hanya tersenyum menyeringai dan memberikan paket makanan untuk Gista. Perempuan itu hanya menerima dengan perasaan bimbang.
“Maaf aku tidak punya uang untuk membayar,” tambah Gista, menjelaskan. “Dan, aku—“
“Pergilah pura-pura akan mengambil uang di ATM atau apa. Elang sudah menunggumu di dekat rumah ini,” kata pria itu, pelan sembari tersenyum menyeringai.
Gista yang mendengar penjelasan itu merasa lega. Ternyata orang yang berdiri di depannya ini adalah suruhan Elang.
Dengan kepala mengangguk, Gista akhirnya pamit kepada Imas untuk mengambil uang di ATM sebentar. Awalnya Imas ingin menemani bahkan memberikan sejumlah uang kepada Gista. Akan tetapi Gista menolak dan merengek ingin keluar sendirian.
“Oke baiklah! Tapi ingat, Non. Setelah mengambil uang langsung segera kembali pulang.”
“Siap, Bi! Lagian ATM-nya dekat kok. Jalan kaki juga sampai.”
Gista yang berhasil keluar merasa senang luar biasa. Bibirnya tersenyum lebar ketika akan berjalan keluar dari pintu gerbang rumah Sadewa.
Sopir dan sekuriti pun berhasil Gista yakinkan agar diperbolehkan keluar sendirian. Meski awalnya mereka juga ragu memberikan izin, namun Gista pandai merengek yang membuat orang lain kasihan kepadanya.
Setelah sudah keluar rumah, Gista mencari mobil yang berhenti di dekat rumah Sadewa itu. Ketika melihat mobil hitam, Gista mengetuk pintu di sana.
“Bee,” sapa Elang, menatap haru Gista.
“Elang, kamu pakai mobil siapa?” tanya Gista mengerutkan kening heran ketika melihat mobil yang dipakai oleh Elang. Pasalnya mobil milik Elang tidak seperti ini.
“Aku pinjam milik teman. Sebaiknya kamu masuk.”
“Tapi teman kamu yang bawa makanan gimana? Dia terjebak di dalam rumah Sadewa karena menungguku untuk mengambil uang.”
“Sudahlah biarkan saja. Lagian itu kurir makanan yang sudah kubayar. Ayo masuk, Bee.”
Gista langsung menurut dan segera masuk ke dalam mobil. Elang sendiri tersenyum bahagia ketika berhasil membawa kekasihnya pergi.
Kini Elang dan Gista mulai pergi dari rumah Sadewa. Mereka berdua mulai membelah kota Jakarta bahkan Elang melaju ke arah luar Jakarta.
“Elang, kita mau ke mana?” tanya Gista, merasa ketar-ketir sendiri ketika mobil yang ditumpanginya melaju ke arah tol Cikampek.
“Ke suatu tempat.”
“Tapi—“
“Sssssttttt … kamu percaya saja sama aku, oke? Kita pokoknya akan hidup bahagia di tempat itu.”
“Terus kuliah kita bagaimana?”
“Persetan soal kuliah Titania!” geram Elang, emosi. Elang akan memanggil Gista dengan nama ‘Titania’ jika perasaannya tengah jengkel kepada perempuan itu. “Yang penting kita hidup bersama dan bahagia! Sudah kamu tidak usah banyak tanya!” tambah Elang membentak Gista.
Dibentak seperti ini membuat Gista kaget luar biasa. Akan tetapi Gista memilih diam dan menurut tanpa banyak tanya lagi.
Meski sejujurnya di dalam lubuk hati Gista begitu kepikiran dengan nasib kurir makanan itu dan kedua orangtuanya. Elang—kekasihnya benar-benar begitu nekat sekali.
“Pria k*****t itu tidak boleh mengambil kamu dari aku! Lagipula dia itu calon suami Mbak Gendis! Harusnya dia terima kenyataan kalau Mbak Gendis meninggal. Bukannya malahan menjadikan kamu korban dalam pernikahan ini.”
Gista hanya diam saja tidak merespon ucapan Elang. Perempuan itu lebih memikirkan nasib kedua orangtuanya nanti.
“Dia juga sudah menyuruh orang untuk menculik dan menghajarku habis-habisan! Lagian waktu malam pengantin kamu kemana, hah?! Apa kamu memadu kasih dengan pria biadab itu?!”
Gista menoleh dengan tatapan sedih karena dituduh seperti itu oleh Elang. “Aku pingsan, Elang.”
“Cih! Semoga saja memang betul pingsan! Aku menunggumu di kamar dengan sangat resah. Tapi ternyata yang datang justru orang suruhan Sadewa!” ungkap Elang, jengkel sendiri jika mengingat hal itu. “Tapi kamu masih perawan, kan, Bee?” tanya Elang, ke point utama tujuannya.