Bab 009 - Murka-nya Sadewa!

1234 Words
Setelah selesai soal urusan kantor, Sadewa langsung bergegas pulang ke rumah. Apalagi ia merasa resah meninggalkan Gista di rumah. Meski ada beberapa karyawan, namun tetap saja Sadewa merasa khawatir. Sebelum benar-benar pulang, Sadewa mendapatkan telepon dari pihak laboratorium. Sadewa mendengarkan penjelasan pihak laboratorium soal sampel minuman yang dibawa olehnya tadi. “Jadi diminuman itu terdapat racun?” tanya Sadewa, memastikan pendengarannya. “Iya, Pak. Di dalam minuman ini terdapat sebuah zat beracun yang membuat sakit perut, mual, dan mengakibatkan demam nantinya.” Sadewa yang mendengarkan merasa sangat emosi sekali. Buru-buru pria itu segera mematikan telepon ketika sudah paham dan jelas. Sadewa akan menuntut pihak hotel atas kasus ini! Kini Sadewa langsung mengebut ketika membawa kendaraan roda empatnya. Pria itu khawatir jika Gista mengalami gejala yang semakin parah. Sadewa tidak akan memaafkan perbuatan dari orang yang sudah mencelakai istrinya. Tidak membutuhkan waktu lama, Sadewa sampai di depan halaman rumah utama. Pria itu sedikit mengerutkan kening bingung ketika di parkiran rumahnya terdapat sebuah sepeda motor di sana. Tak mau pusing, Sadewa langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Sadewa dikejutkan dengan orang asing yang tengah duduk di ruang tamu. “Bi, dia siapa?” tanya Sadewa kepada Imas. “Dia kurir makanan, Tuan. Non Gista pesan makanan dan belum bayar.” “Terus Gista-nya mana?” “Keluar ambil uang di ATM. Tapi sampai sekarang belum kembali. Padahal udah satu jam lebih.” Mendengar penjelasan Imas, Sadewa langsung memejamkan kedua matanya—menandakan kalau ia sangat begitu emosi sekali dengan para pekerja rumahnya yang kecolongan. “CARI GISTA SEKARANG!” bentak Sadewa, emosi. Imas langsung pergi keluar rumah dan mengajak sekuriti beserta tukang kebunnya untuk mencari Gista di tempat ATM dan sekitar rumah. Sadewa yang masih sangat kesal merasakan jika deru napasnya begitu tersengal-sengal. Kini sorot matanya menatap tajam kurir makanan itu. “Berapa uang yang harus dibayar?” “470.000 ribu, Pak.” Sadewa langsung mengambil dompet miliknya. Ia memberikan lima lembar uang seratus ribuan untuk kurir itu. “Pergilah,” usirnya ketus. Kurir itu menerima uang dan segera pamit pergi kepada Sadewa. Senyumnya merekah ketika dirinya selamat. Beruntung pria di depannya tadi tidak mengamuk atau mencecar dirinya atas kepergian perempuan yang entah apa hubungannya dengan Elang dan pria ini. Mungkin saja Elang selingkuhannya, dan pria ini suaminya. Bodoh amat deh! Yang penting selamat! Lain dengan Sadewa yang terus mencoba menghubungi nomor Gista. Akan tetapi nomor itu tidak aktif sama sekali. “Ahhhh sial!” teriak Sadewa, frustrasi. Tak berapa lama Imas dan dua pekerja lainnya datang menghadap. Mereka laporan soal hasil pencariannya. Semuanya nihil karena di tempat ATM tidak ada Gista. Sadewa yang begitu emosi langsung segera pergi ke dalam ruang kerja papa-nya. Sadewa menyalakan tv dan melihat rekaman CCTV rumah ini. Keningnya mengerut ketika melihat gerak-gerik dari Gista. Matanya bahkan melotot ketika perempuan itu berhenti di dekat sebuah mobil hitam. Sadewa segera memperbesar mobil itu untuk melihat plat nomornya. Berhasil mencatat plat nomor dari mobil hitam itu, Sadewa segera menelepon temannya yang merupakan salah satu anggota polisi yang kebetulan bekerja di Samsat. “Halo, Jack.” “Hai, Bro, ada apa?” “Gue minta tolong cek-in nomor plat yang nanti dikirim lewat chat. Gue butuh cepat soalnya.” “Wuih ada apa nih pengantin baru penginnya cepat-cepat.” “Ini penting banget, Jack.” “Oke.” “Thank, Jack.” Sadewa merasa lega karena Jack—temannya tengah mengecek plat nomor yang tengah ia kirimkan melalui pesan chat. Sambil menunggu kabar dari Jack, Sadewa keluar dari ruang kantor dan berjalan menuju ke arah kamar pribadinya. Mata Sadewa melotot kaget ketika di atas meja nakas terdapat kantong plastik yang berisi obat penurun demam. Apalagi obatnya masih utuh yang membuat Sadewa semakin merasa cemas. “Imas! Bi Imas!” teriak Sadewa memanggil Imas. Orang yang dipanggil langsung menghadap kepada Sadewa dengan sedikit tergopoh-gopoh. Sadewa langsung memperlihatkan kantong plastik itu di depan Imas. “Obat milik siapa ini? Siapa yang membelinya?” “Saya, Tuan. Soalnya tubuh Non Gista panas. Wajahnya juga sangat begitu pucat.” Sadewa meremas kantong plastik yang berisi obat itu. Sadewa merasa kesal karena tidak diberitahukan kondisi Gista yang mengalami demam. “Kenapa tidak ada yang melapor ke saya, hah?!” “Ma-maaf, Tuan. Non Gista melarang kami melaporkan soal kondisinya.” Sadewa semakin murka mendengar alasan dari Imas. “Kalian ini dibayar untuk mematuhi ucapan saya bukan Gista!” Setelah memarahi Imas, Sadewa langsung keluar dari kamarnya dan segera pergi keluar rumah untuk mencari keberadaan Gista. Ketika baru masuk mobil, Sadewa mendapatkan kabar dari Jack soal nomor plat mobil itu milik siapa. Sadewa pun segera pergi ke alamat pemilik kendaraan hitam itu. Selama di perjalanan, Sadewa terus-terusan mengoceh tidak jelas sembari telapak tangannya mencengkeram kuat setir mobil. “Ternyata kamu mau macam-macam denganku gadis kecil!” gumam Sadewa, tersenyum devil. Hingga akhirnya perjalanan Sadewa sampai di alamat yang diberikan oleh Jack. Pria itu segera turun dari mobilnya dan segera mengetuk pintu. Tok! Tok! Tok! Ceklek! Tidak ada sapaan di antara keduanya. Yang ada hanya saling adu pandang saja karena sama-sama tidak saling mengenal satu sama lain. “Maaf, siapa, ya?” “Ini rumahnya Ikbal Sanjaya, betul?” “Iya betul saya sendiri.” “Oke kalau begitu. Saya ingin berbicara dengan anda, boleh?” “Boleh, silakan masuk.” Sampai akhirnya Sadewa masuk ke dalam rumah Ikbal. Sadewa pun menceritakan kejadian kronologis-nya kepada pria yang diduga masih seusia Gista. Ikbal sendiri hanya diam menyimak karena bagaimanapun dia tahu sedikit tentang kisah pernikahan paksa Gista dengan pria yang diduga pacar kakaknya. Namun, Ikbal tidak menyangka kalau pria yang diceritakan oleh Elang ini datang menemuinya dan begitu khawatir akan kondisi Gista. “Jadi bagaimana?” tanya Sadewa, menatap Ikbal penuh intimidasi. Ikbal masih diam karena sangat ragu. Bagaimanapun Elang sahabatnya. Tidak mungkin dia akan tega dan jahat menjebloskan sahabatnya ke dalam penjara dengan dalih pencurian sebuah mobil. Akan tetapi di satu sisi pria di depannya ini menawarkan sejumlah uang yang begitu fantastis nominalnya. Bagaimanapun Ikbal butuh uang untuk berobat sang adik. “Baik, saya setuju.” “Kalau begitu ikut saya dan kita ke kantor polisi,” ajak Sadewa, tersenyum tipis penuh kemenangan. Ikbal sendiri merasa berat. Dalam lubuk hati terdalamnya langsung meminta maaf kepada Elang karena dia menjadi sahabat yang kurang ajar dengan mengorbankan perjuangan cinta antara Elang dan Gista. Dan, sampailah di sini sekarang. Ikbal melaporkan kepada polisi atas kehilangan sebuah mobilnya. Ikbal mengarang bebas cerita kepada polisi agar pihak kepolisian percaya. Setelah laporannya diterima, Ikbal dan Sadewa kini berada di dalam satu mobil yang sama. Sadewa menyerahkan ponsel miliknya kepada Ikbal. “Tulis nomor rekeningmu,” kata Sadewa, datar. Ikbal ragu menerimanya karena bagaimanapun sekarang dia merasa bersalah kepada sahabatnya itu. “Tidak usah ragu. Saya hanya ingin Gista kembali. Urusan Elang biarlah nanti belakangan.” Ikbal akhirnya mengambil ponsel milik Sadewa. Laki-laki itu mengetikkan sederet nomor rekeningnya. Setelah selesai, Ikbal menyerahkan kepada Sadewa. Melihat sederet nomor rekening itu, Sadewa segera menekan sejumlah nominal yang begitu fantastis. “Itu hanya sebagian saja. Kalau kamu ingin lebih tinggi lagi. Bekerjasamalah dengan saya. Awasi Gista di kampus!” tekan Sadewa, penuh emosi. “Ba-baik,” jawab Ikbal, terbata-bata. Sadewa langsung melajukan mobilnya keluar kantor polisi. Pria itu sebentar lagi akan menerima kabar dari kepolisian di mana keberadaan Gista dan laki-laki biadab itu berada. Demi apapun Sadewa akan membalas perbuatan Elang hari ini yang sudah berani membawa istrinya kabur! Lihat Saja nanti! Tidak ada ampun bagimu Elang Dananjaya!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD