Bab 010 - Tertangkap Polisi

1700 Words
Gista yang merasa tubuhnya semakin melemah hanya mampu bertahan sekuat tenaga saja. Apalagi tadi ia belum sempat meminum obat penurun demam. “Bee, kamu masih kuat, kan?” tanya Elang, khawatir. Gista hanya mengangguk saja sebagai jawaban. Gista tidak mungkin mengatakan jika kepalanya sudah begitu pening. Perutnya terasa mual. Tubuhnya lemas. “Kita keluar tol kalau begitu. Kita beli obat di apotek,” putus Elang, merasa resah sendiri melihat wajah kekasihnya yang sudah sangat pucat. Gista tidak menjawab karena mendadak saluran pernapasannya terasa sesak. Elang sendiri terus menggenggam telapak tangan milik Gista dengan telapaknya. Mencoba memberikan kekuatan kepada kekasihnya itu. Kini Elang mulai membanting setir menuju ke arah luar tol. Akan tetapi ketika akan keluar tol, Elang mengerutkan kening bingung ketika banyak polisi yang berjaga di arah luar pintu. Jujur saja Elang merasa heran sendiri kenapa polisi malam-malam mengadakan razia di depan pintu keluar tol segala. Dan, ketika Elang berhenti mengikuti mobil di depannya, pria itu terkejut ketika salah satu petugas polisi memberikan kabar melalui HT kalau target pencarian ketemu. Entah apa maksudnya. “Bisa tunjukkan surat-suratnya?” Elang langsung memberikan surat STNK dan SIM mobilnya. Akan tetapi, detik berikutnya justru banyak polisi yang mengepung mobil miliknya. “Elang, ada apa ini?” tanya Gista, ketakutan sendiri. “Entahlah, Bee.” Sampai akhirnya salah satu polisi menyuruh Elang dan Gista turun dari mobil. Detik berikutnya Elang langsung diborgol sembari salah satu polisi menjelaskan kepada Elang alasannya ditangkap. “Saya tidak mencuri, Pak! Ini mobil teman saya yang tak pinjam sebentar!” jelas Elang, merasa jika ini salah paham. “Pak, berikan waktu sebentar karena saya akan menelepon Ikbal—pemilik nama STNK mobil ini.” Polisi memberikan waktu akan tetapi sambungan telepon kepada Ikbal tidak diangkat-angkat. Elang pun menatap Gista penuh iba. Apalagi perempuan itu tengah sakit. “Ayo masuk mobil dan jelaskan saja nanti di kantor polisi,” kata salah satu petugas dengan tegas. “Tapi bagaimana dengan pacar saya, Pak?” Gista menangis dan mencoba menghalangi polisi itu ketika ingin membawa Elang pergi menuju ke mobil polisi. “Pak, ini pasti salah paham. Elang bukan pencuri!” teriak Gista, mencoba membela sang kekasih. “Sebaiknya anda diam saja, Mbak.” “Pak, lepasin Elang!” bela Gista sekali lagi. Perempuan itu mengejar Elang, namun detik berikutnya Gista terjatuh pingsan karena kondisi tubuhnya yang melemah. Elang yang melihat langsung berteriak kencang. Pria itu ingin berlari menolong Gista, namun polisi terus menyeretnya masuk mobil. “Beeeeeeeeeeeeeeeee!” teriak Elang, menitikan air matanya sedih. Pria itu terus memberontak dan melihat Gista yang segera ditolong oleh salah satu petugas polisi lainnya. Pikiran Elang saat ini hanya satu saja. Semoga Gista—kekasihnya itu baik-baik saja dan selamat. Di lain tempat, Sadewa telah mendapatkan kabar soal kondisi Gista yang tengah dilarikan ke salah satu rumah sakit di daerah Indramayu. Tanpa pikir panjang lagi, Sadewa segera pergi menuju ke kota Indramayu sesuai dari informasi yang didapatkannya. Kali ini Sadewa tidak sendirian. Pria itu membawa sopir pribadi karena kondisinya sedang tidak stabil jika dibuat untuk menyetir. Selama perjalanan pun perasaanya begitu was-was. Ia khawatir soal kondisi Gista yang katanya jatuh pingsan. Sampai akhirnya setelah menempuh perjalanan beberapa jam lamanya Sadewa pun sampai di salah satu rumah sakit yang terdapat Gista di dalamnya. Sadewa segera masuk dan berjalan cepat menuju ke dalam ruang rawat inap istrinya. Setelah ketemu, Sadewa menatap wajah Gista yang begitu pucat. Namun, tidak lama kedatangannya ke rumah sakit, Gista mulai tersadar dan langsung merasa syok ketakutan. “Ka-ka-kamu?” cicit Gista, ketakutan. “Kamu ini ternyata bandel juga, ya!” sindir Sadewa, sarkas. “Ka-kamu kenapa ada di sini?” “Cih! Kamu pikir kenapa aku ada di sini? Coba kamu pikir saja sendiri. Semua orang itu tahu kamu adalah istri aku Titania! Orang yang melihatmu pasti menganggap jika dirimu itu Gendis! Sudahlah tidak perlu dibahas lagi. Kita akan pindahkan kamu ke rumah sakit Jakarta.” “Tidak! Aku tidak mau!” tolak Gista, keras kepala. “Di mana Elang?” tambah Gista, menatap Sadewa penuh curiga. “Ck! Kamu pikir kalau aku ini Ibu-nya sampai harus tahu di mana dia?!” jawab Sadewa menahan emosi. Bagaimanapun Sadewa tidak suka jika Gista menyebutkan nama pria lain di depannya. “Suka tidak suka kita akan tetap pindah ke rumah sakit Jakarta. Apa kamu tidak kasihan kepada Ayah dan Ibu yang sudah mengkhawatirkamu?” Gista langsung diam jika disinggung soal keluarga. Kini Sadewa tersenyum tipis penuh kemenangan karena berhasil membuat Gista menurut. Ternyata kelemahan dari gadis nakalnya ini ada pada keluarga. Sadewa pun langsung mengurus semua segala administrasinya. Sadewa membawa Gista pergi dari rumah sakit itu. Di dalam mobil, Sadewa dan Gista sama-sama saling diam satu sama lain. Gista lebih sibuk memikirkan Elang. Sedangkan Sadewa tengah sibuk mengatur rencana berikutnya agar semakin menjerat perempuan di sebelahnya ini. “Kenapa kamu nekat pergi dari rumah?” tanya Sadewa, mengalah dengan membuka obrolan. “Apa pedulimu.” “Tentu saja aku peduli. Karena kalau kamu ketahuan orang-orang pergi dengan pria lain., maka berita soal kita akan muncul di mana-mana. Apa kamu lupa jika sekarang nama kamu di publik itu Gendis, hm?” “Cih! Aku benci situasi ini!” teriak Gista, memukul-mukul pahanya sendiri. “Kenapa tidak orang lain saja, hah?! Kenapa harus aku!” Sadewa tidak menanggapi protesan Gista. Pria itu tetap bersikap cool dan tampak masa bodoh. Sedangkan Gista tengah menangis begitu meraung-raung. Bahkan sampai tidak terasa Gista berhenti menangis dan tertidur pulas. Tentu saja karena semua ini efek tubuhnya kelelahan dan obat suntik sebelum pulang. Hingga akhirnya perjalanan mereka sampai di depan rumah utama keluarga Rajata. Sadewa tidak membawa Gista ke rumah sakit. Sadewa takut jika Gista akan kabur kembali. Hingga Sadewa memutuskan untuk merawat Gista di dalam rumah dengan memanggil tim medis. Setelah berhasil dipasang infus dan obat suntik lagi, Sadewa berbincang-bincang dengan dokter pribadi keluarganya. Sadewa meminta tolong kepada dokter itu untuk menyuntikkan vitamin kesuburan kepada Gista agar istrinya cepat hamil. Di sini Sadewa merasa lega ketika keinginannya itu terkabul. Akan tetapi bagaimana cara meminta hak suami kepada perempuan nakal ini. Sudah pasti perempuan ini akan menolak dirinya secara mentah-mentah. Sadewa tidak ingin ketara ketika akan meminta hal itu. “Sadewa ya ampun! Mama sampai kaget ketika tahu kalau mantu kesayangan Mama pingsan!” cerocos Sukma, mengomel. “Biasa, Ma, kelelahan,” jawab Sadewa, enteng. “Cih! Kamu ini kalau main jangan terlalu bersemangat dan brutal dong sayang. Kasihan Gista sampai pingsan begini.” Sadewa hanya tersenyum kecut saja. Mencium saja belum apalagi harus melakukan hal itu. Tapi biarlah hal ini menjadi rahasia miliknya saja. Tak lama datang Aryo—Papanya yang menggelengkan kepala melihat Sadewa. Aryo melihat Gista dan Sadewa secara bergantian. “Jangan terlalu diforsir, Nak. Kasihan Gista sampai pingsan gara-gara ulah burungmu itu,” ledek Aryo, kepada putranya. Lagi-lagi Sadewa hanya tersenyum masam. Kenapa juga kedua orangtuanya ini berpikir ke arah sana. Tidak tahu saja kalau Gista pingsan karena ada seseorang yang dengan sengaja memberikan minuman beracun. Untung saja tidak berbahaya karena racun itu bertujuan untuk membuat sakit perut. Untuk hal ini akan Sadewa selidiki sampai ketemu siapa pelakunya. Berani-beraninya mencoba bermain dengan keluarga Rajata. “Yaudah yuk, Pa, kita keluar. Siapa tahu Sadewa juga mau istirahat,” kata Sukma, menabok lengan suaminya—mengajak keluar dari kamar pribadi milik Sadewa. Kini hanya tinggal Sadewa dengan Gista saja di kamar. Sampai akhirnya Gista mulai tersadar dan merasa lapar. Gista memegang perut dan kepalanya secara bergantian. Perempuan itu melihat postur tubuh Sadewa yang tengah berdiri tidak jauh dari ranjang. Pria itu tampaknya sedang melihat ke arah luar jendela. “Sadewa.” Pria itu menoleh bahkan membalikkan badan ketika namanya dipanggil. Sadewa melihat jika Gista akan turun dari ranjang. “Ada apa?” “Aku lapar dan haus.” Sadewa tersenyum tipis yang amat tidak ketara sama sekali. Apalagi mendengar permintaan Gista yang mengatakan lapar membuat hatinya senang. “Oh, yasudah tunggu dulu kalau begitu. Aku akan turun ke bawah untuk mengambil makan dan minum.” Gista hanya mengangguk karena ia merasa tidak memiliki tenaga untuk berdebat. Gista juga baru tersadar kalau sebelah tangannya tengah diinfus. Perempuan itu menatap kesekeliling—memastikan jika penglihatannya benar kalau ia berada di rumah Sadewa bukan rumah sakit. “Hah?! Kenapa juga tanganku diinfus kalau berada di rumah seperti ini?” gumam Gista, merasa heran sendiri. Tak lama pintu terbuka yang menampilkan sesosok Sadewa sembari membawa nampan berisi makanan dan minuman. Gista hanya diam saja ketika pria itu duduk di pinggiran ranjang sembari memegang piring. “Bisa makan sendiri?” “Bisa.” “Yakin?” Gista mengangguk mantap. Lagipula ia masih sanggup makan sendiri meski kalau sakit suka disuapi oleh Gendis—kakaknya. “Sudahlah aku suapi saja. Lagian Gendis pernah bilang kalau kamu suka manja kalau lagi sakit.” “Cih! Siapa bilang.” “AAAA!” Gista membuka mulutnya lebar dan menerima suapan pertama dari Sadewa. Perempuan itu langsung diam dan fokus mengunyah sampai selesai. Sedangkan Sadewa begitu telaten menyuapi Gista sampai habis. Bahkan ketika sudah menyuapi Gista, Sadewa memberikan perhatian kecil yang diterima baik oleh Gista. “Sekarang kamu istirahat biar besok sudah sembuh.” “Besok aku boleh kuliah, kan?” “Boleh kalau memang kondisimu sudah benar-benar sembuh.” “Aku sudah sembuh kok. Tapi semua barang-barangku masih di rumah.” “Besok Imas yang mengambilkan semua barang-barangmu.” “Ah tidak perlu,” tolak Gista, cepat. “Aku akan mengambilnya sendiri. Lagian Imas tidak tahu mana saja barang-barangku.” “Oke terserah kamu saja.” “Em … tapi di mana tempat untuk menaruh pakaian untukku?” tanya Gista, takut-takut. Lebih tepatnya malu. “Kamu lihat pintu berwarna putih itu? Kamu buka dan masuk saja karena di sana adalah walk in closet. Kamu bisa menaruh semua pakaianmu di sana.” “Hm, oke baiklah.” Gista hanya melirik dan kembali terdiam. Sejujurnya masih banyak pertanyaan di dalam benaknya. Hanya saja Gista lelah jika harus beradu mulut dengan pria menyebalkan seperti Sadewa. Kini Sadewa pamit pergi—menaruh bekas piring ke lantai bawah. Sedangkan Gista merasa sendirian dan jenuh. “Sadewa kok lama banget,” kata Gista, merasa kesal sendiri. Sampai akhirnya Gista nekat turun dari ranjang dan menyusul Sadewa menuju ke lantai bawah. Gista berjalan ke arah dapur dan terkejut melihat sesuatu yang membuat mulutnya melongo.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD