Bab 011 - Selingkuh Dengan ART

1751 Words
Meski tidak sampai berbuat intim, namun Gista merasa syok ketika Aryo—Papa mertuanya tengah berciuman mesra dengan Imas di dapur. Gista merasa salah melihat, namun keterkejutannya dirasakan oleh Imas. “Non Gista,” kata Imas, salah tingkah sendiri karena ketahuan. Gista hanya diam saja, dan ingin berbalik badan. Akan tetapi Aryo langsung mengejar sang menantu. “Gista, Papa mohon jangan sampai Mama tahu, oke?” kata Aryo, memohon kepada Gista. “Ta-ta-tapi kenapa Papa tega khianatin Mama?” tanya Gista, bibirnya bergetar hebat. “Ya biasalah pria. Suka tidak tahan, Gista. Apalagi Mama sedang tidak bisa dicumbu.” Gista hanya diam saja, dan memilih pamit sembari membawa kantong infus. Gista tidak menyangka kalau papa mertuanya akan setega mengkhianati mama mertuanya itu. Entah kenapa ketika sampai di dalam kamar justru kini Gista memikirkan soal Sadewa yang belum diberikan hak sebagai suami. Gista berpikiran kalau buah jatuh tidak akan pernah jauh dari pohonnya. Apa mungkin kalau Sadewa akan bermain di belakangnya dengan perempuan lain? Jika ia, kenapa rasanya sangat tidak terima jika dirinya dikhianati, Ceklek. Gista menoleh ke arah pintu yang menampilkan sesosok Sadewa di sana. “Kamu dari mana?” “Dari ruang kantor Papa, kenapa?” “Gapapa.” Sadewa langsung berjalan menuju ke arah sofa untuk merebahkan diri, namun Gista mencegahnya. “Kamu boleh tidur di kasur ini.” Sadewa mengerutkan kening bingung. “Maksudnya?” “Kamu tidak usah tidur di sofa lagi. Kamu boleh tidur di ranjang ini.” Gista merasa malu sendiri saat ini. Benar-benar seperti menjilat ludah sendiri. “Tapi jangan macam-macam!” imbuhnya memberikan ancaman tegas. “Cih! Siapa juga yang mau macam-macam. Tidak usah ge’er.” Mendengar jawaban ketus dan sombong dari Sadewa membuat Gista hanya mendecih saja. Perempuan itu langsung merebahkan diri dengan posisi miring. Tak lama ranjang itu sedikit mendapat tekanan dari atas karena Sadewa mulai menduduki dan akhirnya ikut bergabung tidur di samping Gista. “Mama Sukma udah tidur?” tanya Gista, masih berposisi miring membelakangi Sadewa. “Mungkin, kenapa?” Gista mendadak ingat apa yang barusan dilihatnya itu. Aryo—Papa mertuanya telah berselingkuh dengan Imas—asisten rumah tangganya sendiri. Di sini Gista merasa bimbang sekaligus resah. Ingin rasanya Gista menanyakan hal ini kepada Sadewa, tapi takutnya semua pertanyaan yang terlontar dari mulutnya ini membawa boomerang. “Gapapa.” Merasa takut salah ucap, Gista akhirnya memilih untuk memejamkan matanya saja. Ia akan mencoba melupakan kejadian tadi. Semoga saja besok sudah lupa. *** Seperti biasa, pagi-pagi sekali Sadewa sudah rapi dengan pakaian formalnya. Aroma maskulin dari tubuh Sadewa menguar ke udara yang membuat Gista perlahan-lahan terbangun. “Sudah jam berapa ini?” tanya Gista, sedikit menggerunyam. Sadewa yang sedang mengenakan dasi di depan cermin langsung berbalik badan—menatap Gista dengan tatapan yang sulit dijabarkan. “Jam enam.” “Hoam!” Gista menguap dan langsung terbangun duduk—menatap Sadewa yang tengah memegang dasi. “Kamu mau berangkat sekarang?” “Ya.” Sadewa kembali berbalik badan—memunggungi posisi Gista duduk. “Menghindari macet ibukota.” Gista hanya manyun saja ketika mendengar jawaban dari Sadewa. Selalu saja pria itu seperti itu. Datar tak berekspresi. “Bukannya kamu akan kuliah? Memang jam berapa?” “Nanti siang kok. Aku mau ke rumah Ibu dulu buat ngambil barang-barang di sana.” “Yaudah nanti minta dianterin sama Pak Tarjo.” Gista tidak menjawab melainkan masih ingin malas-malasan di atas kasur. Sampai akhirnya Sadewa menghampiri dirinya dan menatap penuh penekanan. “Cuci muka dan sarapan bersama. Aku tunggu di bawah.” Belum juga menjawab iya atau tidak, Sadewa sudah berjalan keluar dari kamar yang membuat Gista meradang. Perempuan itu langsung meninju Sadewa dari belakang meski pukulannya mengawang di udara. Kini mau tidak mau akhirnya Gista segera turun dari atas ranjang. Perempuan itu bergegas ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi. Masih merasa kesal membuat Gista misuh-misuh sendiri di depan cermin. Sampai akhirnya Gista merasakan bibirnya tergigit. “Awww,” ringisnya, kesakitan. “Ini semua gara-gara Sadewa!” tambahnya menyalahkan Sadewa. Selesai menyikat gigi dan mencuci muka, Gista keluar dan mulai menuruni anak tangga dengan sedikit malas. Suara obrolan antara Sukma dan Aryo begitu terdengar jelas di telinganya. Dan, benar saja jika mereka berdua kini tengah makan bersama dengan Sukma yang begitu telaten meladeni Aryo. Jangan lupakan ada Imas juga yang tengah menyiapkan berbagai lauk pauk di atas meja. Cih! Sungguh pemandangan yang luar biasa. “Eh sayang, sini duduk di samping Sadewa,” sapa Sukma, penuh perhatian. Gista hanya tersenyum tipis saja. Perempuan itu langsung duduk di samping Sadewa. Ketika baru akan membalikkan piring, Sadewa justru melarangnya. “Biar aku aja. Mau lauk yang mana?” “Terserah.” “Suka semua?” “Hm.” Gista menatap Imas yang tengah menuangkan teh hangat di cangkir milik Aryo. Entah kenapa Gista melihat pemandangan di depannya itu justru merasa sangat jijik sekali. Terlebih kini Sukma dan Aryo begitu romantis. Apakah Imas tidak cemburu melihat keromantisan pria yang disukainya itu. “Segini cukup, kan?” Gista menoleh—ke arah Sadewa dan mengangguk pelan. Kini Gista mulai sibuk menyantap menu sarapan yang diambilkan oleh Sadewa. “Hari ini kamu mulai masuk kuliah?” tanya Sukma, menatap Gista lembut. “Iya, Ma.” “Harusnya kalian berdua itu masih menikmati momen pengantin baru. Memangnya kalian berdua tidak ada rencana bulan madu gitu?” Gista hanya diam. Kini Sadewa yang menjawab ucapan Sukma soal bulan madu. Sadewa mengatakan jika saat ini belum ada waktu untuk bulan madu karena dirinya masih banyak kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Gista juga masih sibuk kuliah dan mengerjakan banyak tugas. Sampai akhirnya acara makan pagi selesai. Aryo dan Sadewa memutuskan untuk berangkat bersama. Kini hanya tinggal Sukma dan Gista saja di ruang makan. “Kamu berangkat kuliah jam berapa sayang?” “Mungkin nanti agak siang, Ma.” “Oh … yaudah kalau begitu tetap hati-hati, ya. Kalau ada apa-apa jangan sungkan telepon Sadewa atau Mama. Kamu sudah punya nomor Mama, kan?” “Hehehe, belum, Ma.” “Yasudah kamu catat nomor kamu nih.” Sukma menyodorkan ponsel miliknya kepada Gista. Perempuan itu langsung mencatat nomornya sendiri dan menyerahkan kepada Sukma. “Mama udah kirim pesan ke nomor kamu.” “Iya, Ma, nanti Gista save nomornya.” Di sini Gista merasa kasihan dengan Sukma karena sudah dikhianati oleh suami dan ART-nya sendiri. Tapi mau bagaimanalagi kalau Aryo—papa mertuanya sudah memohon untuk menyimpan rahasia ini. Hingga akhirnya Gista pamit kepada Sukma untuk pergi ke dalam kamar karena ingin siap-siap pergi ke rumah ibu-nya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mandi, Gista sudah siap dengan penampilannya yang terlihat begitu fress. Dress selutut berwarna kuning dengan rambut panjang dicepol ke atas hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang dan putih bersih. “Pak ke rumah Ibu, ya,” kata Gista, kepada Tarjo—sopir pribadi keluarga Rajata. “Siap, Non.” Selama perjalanan menuju ke rumah orangtuanya, Gista memandangi jalanan sembari pikirannya melayang kepada Elang. Sampai detik ini dirinya belum tahu kabar dan kondisi Elang. Gista benar-benar merasa resah luar biasa karena Elang dituduh mencuri mobil. Drrrt! Drrrt! Drrrt! Gista melihat ponselnya yang terpampang jelas nama Rio di sana. Gista yang akan mengangkat panggilan itu memilih untuk mengembuskan napas panjang terlebih dahulu. “Halo, Yo.” “Eh! Lo di mana sekarang? Jangan bilang lo lagi menikmati honeymoon, ya!” hardik Rio, sarkas. “Ck! To the poin aja cepetan.” “Elang ditahan sama polisi! Lo enggak jenguk dia? Katanya dituduh nyolong mobilnya Ikbal? Ini gimana ceritanya, sih, anjing!” umpat Rio, frustrasi sendiri ketika mendengar kabar soal sahabatnya—Elang tertangkap polisi. “Gue juga enggak tahu, Yo. Gue sama dia kemarin naik mobil milik Ikbal. Tapi mendadak polisi menangkap dia dengan tuduhan pencurian.” “s**t! Ikbal juga gue tanya diam aja! Benar-benar itu anak gila!” cerocos Rio, mengungkapkan rasa kesalnya. “Lo di mana sekarang? Buruan ke kampus deh.” “Gue lagi di jalan mau ke rumah ibu.” “Enggak usah! Mendingan lo buruan ke kampus dan kita bareng ke kantor polisi buat jengukin Elang! Mama-nya itu telepon gue sambil nangis-nangis, Gis! Lo digituin apa enggak ikut terenyuh hatinya?” Gista hanya diam saja mendengar ungkapan perasaan Rio saat ini. Bagaimanapun ia juga memikirkan nasib Elang sekarang. Sampai akhirnya Gista memutuskan panggilan dengan Rio setelah setuju akan pergi ke kampus sekarang. “Pak, langsung ke kampus aja, ya.” “Baik, Non.” Gista merasa tidak sabar ingin cepat-cepat sampai ke kampus. Perempuan itu merasa resah sendiri ketika mendengar ucapan dari Rio. Lagipula tidak bermaksud seperti itu. Ia juga sedih dan kasihan ketika Elang ditahan oleh polisi. Namun, mau bagaimana jika kondisi tubuhnya saja saat ini sedang kurang sehat. Hingga akhirnya ketika sampai, Gista melihat Ikbal yang tengah turun dari sepeda motornya di arena parkir. Gista langsung menghentikan mobil yang tengah ditumpanginya. “Pak, Pak, stop! Aku turun di sini saja.” “Lho, Non, tapikan—“ “Udah, Pak, gapapa.” Gista langsung meloncat saja dari dalam mobil ketika Pak Tarjo masih ingin berbicara dengannya. Perempuan itu berjalan cepat menghampiri Ikbal. Gista menepuk bahu Ikbal dengan keras. “Bal!” panggilnya lantang. Sang empu langsung menoleh dengan wajah terkejut. “Eh Gista. Ada apa?” tanya Ikbal dengan kedua alis yang naik ke atas. “Elang mana?” Mendengar Ikbal menanyakan soal Elang membuat emosi Gista semakin naik. Apalagi gara-gara Ikbal, Elang ditangkap polisi. Gista akhirnya mendecih sebagai respon. “Lo tanya Elang? Apa telinga gue enggak salah dengar? Bukannya lo yang laporin Elang atas tuduhan pencurian mobil, hah?!” hardik Gista, penuh emosi. “Em … bu—“ “Udahlah! Gue enggak butuh basa-basi lo!” potong Gista, cepat. “Yang gue enggak nyangka ternyata lo setega ini sama Elang! Padahal kalian berdua teman dekat, kan? Emangnya Elang pernah berbuat salah apa sama lo, hah?!” omel Gista, menggebu-gebu. Ikbal yang disemprot oleh Gista hanya diam saja. Posisinya sangat sulit. Serba salah. Di satu sisi dia tidak tega menjebloskan Elang—sahabatnya ke dalam penjara. Akan tetapi di sisi lain dia juga butuh uang banyak untuk pengobatan adiknya. ‘Maafin gue, Gis,’ batin Ikbal. “Gue sekarang sadar mana yang benar-benar sahabatnya Elang!” imbuh Gista, sarkas. Gista langsung pergi meninggalkan Ikbal sendirian. Tujuannya sekarang mencari Rio. Gista akan berdiskusi langsung dengan pria itu soal Elang. Di lain tempat, Ikbal langsung melaporkan apa yang barusan terjadi kepada Sadewa. Hal ini membuat hati nurani Ikbal berantakan dan tidak karuan. “Jangan pernah cabut tuntutannya!” titah seseorang di seberang telepon. “Awasi terus dan laporkan!” imbuhnya tegas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD