Aleya menemaninya hingga tertidur pulas, tanggung jawab besar memimpin perusahaan dengan segala kerumitan di dalamnya membuat Willy lelah. Hari ini, banyak yang sudah ia lewati. Klien datang terlambat, pembayaran tidak sesuai kesepakatan dan yang terakhir, macetnya Jakarta yang membuatnya hampir terlambat bertemu dengan salah satu kolega bisnis Hadinata.
“Kayaknya lelah banget, aduh, mana ponselnya bunyi terus,” ucap Aleya yang baru saja menyusul Willy berbaring di ranjang empuknya. Aleya tidak berani menyentuh ponsel pria itu. Bukan perkara diizinkan atau tidak, tapi, lebih ke tata kramanya kepada pria itulah yang menjadi pertimbangannya. Apalagi, Aleya bukan tidak tahu siapa yang menghubungi Willy, ia semakin tidak tenang dan memutuskan untuk membangunkan Willy. Namun, ia urung melakukannya karena ponselnya pun ikut berdering.
“Siapa yang call malam-malam begini, awas aja kalau cuma mau ngutang!” Pelan-pelan ia beranjak dari ranjang tersebut, meraih ponselnya yang kebetulan sedang ia isi baterai, Aleya menatap layar ponsel berlogo apel itu baik-baik.
“Tidak ada nama, pertanyaannya, siapa ini orang?” Aleya masih belum berani menjawab panggilan telepon tersebut. Hingga sebuah pesan singkat membuat matanya melotot seketika. Rasa kantuk yang menyerang langsung hilang begitu ia membaca nama pengirim pesan singkat tersebut. Anggita, wanita itu yang masih berada di dalam angan-angannya selama ini, tiba-tiba datang dan memperkenalkan diri sebagai istri William.
“Astaga, kenapa harus malam-malam begini. Mas Willy udah tidur ganteng pula!” Aleya tidak enak, ia memutuskan menghubungi Anggi, ternyata, wanita itu sudah landing dari penerbangannya. Bahkan, ia sudah duduk di sebuah kedai kopi di area bandara ketika jam sudah menunjukkan jam 22.30.
“Ha-hallo, selamat malam,” ucap Aleya ketika Anggi sudah menerima panggilan telepon darinya.
“Malam, sorry, Aleya?” Anggi dengan suara lembutnya menjawab sapaan gadis itu.
“Iya, saya Aleya. Maaf aku tidak tahu,” jawab Aleya kikuk. Sungguh ia tidak siap dan tidak tahu harus berbicara apa kepada istri sah William itu.
“Santai saja, Aleya. Maaf kalau aku membuatmu tidak nyaman. Sebenarnya, aku ingin membuat kejutan kepada Mas Willy, tapi waktunya kurang tepat,” ucap Anggita lembut.
“Hmmm, Mas Willy sedang tidur. Aku bangunkan dulu ya,” jawab Aleya sedikit mengguncang tubuh Willy yang sudah terlelap.
“Boleh, bilang saja aku menunggu di Bandara, tolong ya,” tutup Anggita lalu mematikan sambungan teleponnya.
Sejenak mematung, gadis itu mulai tersadar jika tidak ada yang salah dengan dirinya. Willy memang menikahinya hanya secara siri sambil menunggu kedatangan Anggita. Tentunya, tidak mungkin Anggi akan sesantai itu jika ia keberatan dengan keberadaan Aleya di dalam pernikahannya dengan sang suami.
“Mas, bangun,” ucap Aleya kepada Willy yang justru malah memeluknya.
“Ish, Mas! Mbak Anggi call. Dia di bandara, jemput dong,” ucap Aleya berusaha membuat Willy terbangun.
“Hmmm, apaan sih, kamu berisik. Ini sudah malam Aleya, tidur,” jawab Willy yang masih enggan membuka matanya.
“Mas, Mbak Anggi sudah di bandara, Mas gak pengen jemput dia begitu?” Pertanyaan Aleya masih dicerna oleh Willy, membuka matanya perlahan, ia menatap heran Aleya yang terlihat kalang kabut.
“Apa kamu bilang?” Willy meminta Aleya mengulang ucapannya barusan.
“Mbak Anggi ada di bandara, jemput, Mas,” ucap Aleya untuk kesekian kalinya. Aleya bahkan sampai menarik guling yang akan dipakai Willy bermanja-manja di ranjangnya.
“Kamu yang bener, Anggi masih di New York dan pulang besok,” jawab Willy kembali beringsut di ranjang.
“Aku gak bohong, coba ditelepon deh, Mas. Kasian lho nunggu di bandara sendirian,” ucap Aleya lagi.
“Mana handphone ku,” kata Willy meminta Aleya mengambilkan ponselnya. Mencoba menghubungi Anggi untuk memastikan kebenaran ucapan Aleya.
“Anggi, kamu dimana?” Willy yang masih mode mengantuk menghubungi istrinya.
"Hehehe, aku lagi ngopi di bandara," jawab wanita itu terkekeh kecil.
“Astaga, kamu benar-benar! Ya sudah, jangan kemana-mana. Aku jemput,” jawab Willy mengomel.
“Mas, bawa Aleya. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya,” jawab wanita itu terdengar tanpa beban.
“Ini sudah malam, Anggi. Besok saja yah,” jawab Willy menolak permintaan istrinya.
“Mas, please.” Untuk pertama kalinya, Anggi memohon kepada suaminya setelah sekian lama, wanita itu mandiri dan independen, seperti tidak membutuhkan orang lain.
“Oke, tapi kamu pindah lah ke tempat yang lebih private,” kata Willy akhirnya mengabulkan permintaan Anggita. Ia mengajak serta Aleya menjemput Anggita.
“Ini serius, Mas?” Aleya yang sudah berganti pakaian bertanya sekali lagi kepada Willy.
“Iya, tak tahu lah aku apa maunya Anggita. Kita jalan sekarang,” kata Willy menggandengnya keluar dari unit. Aleya yang memakai riasan sekedarnya sungguh cemas. Bertemu dadakan dengan istri sah William Hadinata seperti ini diluar agendanya. Padahal, ia berharap bertemu Anggita dengan sebuah jamuan makan malam yang manis.
“Kamu mendadak diam, ada apa?” Willy yang sudah berada di balik kemudinya, memperhatikan raut wajah Aleya dari kaca spion mobilnya.
“Takut, Mas. kalau Mbak Anggita gak suka sama aku, bagaimana?”
“Hahahahaha, kalian ini lucu. Astaga, sudah, jangan mikir macam-macam, mending kamu pikirkan bagaimana kalau Anggita minta aku pulang bersamanya? Kamu bagaimana?” Willy bertanya agar tidak terjadi kesalahpahaman yang tidak penting.
“Ya gakpapa, aku bisa pulang naik taksi atau apalah. Biasanya juga naik busway,” jawab Aleya biasa saja.
“Gak ada cerita naik bis tengah malam seperti ini. Kamu jangan aneh-aneh,” ucap Willy kepada Aleya.
“Galak bener,” jawab Aleya merajuk.
“Gak ada ya, Aleya! Aku tidak main-main,” kata Willy tegas.
“Iya, ini Mbak Anggi dimana, Mas?”
“Masih di kedai kopi karena yang lain banyak yang sudah tutup, kamu mau makan lagi?”
“Gak Mas, aku mau ketemu Mbak Anggi aja,” jawabnya antusias dan khawatir bercampur jadi satu.
Sebuah alasan kuat, Willy menikahi Aleya adalah sikapnya yang tidak berubah. Ia tetap menghargai privacy pasangannya.
“Kau tidak berubah, tetaplah seperti ini, berprinsip dan memiliki etika yang baik,” gumam Willy menatap Aleya yang sedang berjalan di depannya. Gadis manis yang ia cari susah payah, ternyata muncul di hadapannya dengan cara yang tidak terduga sebelumnya. Begitulah takdir. tidak ada yang tahu, kapan dan dimana pertemuan keduanya terjadi.