Bertemu Maduku

989 Words
Aleya menatap Anggita yang anggun dan cantik, satu lagi, tubuh seksinya terlihat jelas dan membuatnya kurang percaya diri. "Sayang, ini Aleya." Willy memperkenalkan keduanya. Wajah kikuknya pun membuat Anggi tertawa kecil. "Kenapa Aleya? Sini duduk," kata Anggita lembut. Ia menarik pergelangan tangan Aleya perlahan lalu memintanya duduk di sebelahnya. Willy yang melihat pemandangan itu, hanya tersenyum simpul. Sudah seharusnya seperti ini. Tidak ada keributan dan saling membenci. "Hhmm, iya," jawabnya kikuk. Willy memberi kesempatan keduanya saling memperkenalkan diri, ia berinisiatif memesan minuman hangat untuk keduanya dan dirinya sendiri. Jam tak biasa untuk mempertemukan wanita-wanitanya, membuat Willy geleng-geleng kepala, sepertinya kedua wanita itu memiliki sifat yang sama, keras kepala. "Aleya yang masih polos dan istriku yang sepertinya sudah paham hanya dari tatapan mata saja." Willy sesekali mencuri pandang ke arah keduanya sambil menunggu minumannya jadi. Ia tahu, keduanya adalah wanita baik-baik yang terjebak peliknya kehidupan. Masing-masing dengan latar belakang yang sama-sama tidak mudah. Hanya saja, Anggita jauh lebih beruntung daripada Aleya karena dibesarkan oleh keluarga dengan kondisi ekonomi yang cukup. Aleya, untuk makan saja, ia harus berjibaku dengan waktu. "Minum dulu." Willy meletakkan dua cup hot coffee untuk Aleya dan Anggita. Ia duduk di depan kedua wanita yang tengah asyik berbincang. Suasana mencair karena Anggita cukup pandai membuat nyaman Aleya. "Dengar, kamu tidak mengambil Mas Willy dariku. Kami hanya membantumu mengambil yang seharusnya milikmu. Yah, cara Mas Willy memang seperti ini untuk mengikatmu." Anggita menghela nafasnya perlahan. Sesak di dadanya ia tahan sebaik mungkin, sampai Willy sendiri tidak menyadarinya. Anggita bahkan mengulas senyum terbaiknya di depan keduanya. Ia sadar diri dengan kekurangan yang ia miliki dan berharap Aleya adalah orang yang tepat untuk membantunya. “Dan, kamu membantu kami menyelesaikan problem yang aku tidak bisa mengatasi, realistis kan? Saling menguntungkan,” ungkap Anggita lagi. Dari interaksi Anggita dan Willy, entah mengapa, ada aroma cinta sepihak di dalam rumah tangga mereka. Namun, Aleya berusaha membatasi diri untuk tidak ikut campur terlalu jauh. Tugasnya hanya membantu Anggita mendapatkan keturunan dan ia dibantu untuk merebut kembali warisan mendiang orang tuanya. “Hmmm, iya. Aku manggil apa ini, sorry, aku bingung,” jawab Aleya kepada keduanya. Gadis itu menatap kedua pasutri itu bergantian meminta jawaban. “Hahahaha, panggil Mbak aja, sudah jelas saya lebih tua sepuluh tahun daripada kamu, Aleya.” Anggita tertawa mendengar pertanyaan konyol madunya. “Sudah, kalian mau ngobrol berapa lama lagi? Aku ngantuk dan ingin tidur,” sahut Willy yang sudah beberapa kali menguap. Satu cup kopi hitam ternyata tidak mampu menahan rasa kantuknya. “Ya udah, Mas pulang aja sama Aleya, aku naik taksi,” jawab Anggita santai. “Gak ada! Aku antar kalian pulang, dan aku ke tempat Ibu,” jawab Willy mengambil keputusan. Aleya pasrah dengan keputusan Willy, ia mengikuti keduanya berjalan menuju parkiran. Seperti seorang adik yang mengikuti kakak-kakaknya, Aleya yang bertubuh mungil tampak lucu dan menggemaskan di mata Anggita. “Darimana Mas Willy menemukan gadis itu, menggemaskan dan masih polos,” gumam Anggita memperhatikan Aleya yang duduk di belakangnya, dari spion mobil Willy, ia melihat Aleya sibuk bermain ponsel. Mungkin lebih tepatnya menyibukkan diri agar tidak mengganggunya. “Aleya, besok jangan lupa daftar ulang, aku akan kirim sopir untuk mengantarmu,” ucap Willy mengingatkan Aleya. “Iya, Mas.” Willy mendaftarkan Aleya di salah satu universitas swasta terbaik di Jakarta agar gadis itu mendapatkan pendidikan yang layak, dengan harapan, jika Aleya benar-benar duduk memimpin perusahan orang tuanya, ia tidak akan mudah dimanipulasi orang lain. Willy mengantar Aleya terlebih dahulu, karena letak apartemennya yang tidak jauh dari bandara, lalu mengantar Anggita ke apartemen miliknya. “Aku pulang ke tempat Mama, kamu istirahat aja,” ucap Willy kepada Anggita ketika keduanya sudah berada di unit milik Anggita. “Iya, Mas. Aleya lucu juga. Besok, aku boleh ajak dia ngemall?” Anggita memang sudah lama tidak shopping, ia ingin mengajak madunya untuk sekedar membeli beberapa barang sekaligus ingin mendekatkan diri dengan madunya itu. “Yakin kamu?” Willy menautkan kedua alisnya bertanya. “Iya, aku dah lama gak shopping. Boleh ya?” Anggita mengedipkan matanya meminta persetujuan sang suami. “Ya sudah, pakai kartuku saja. Aleya sudah aku beri kartu tambahan,” kata Willy sambil membuka air mineral yang ia ambil dari kulkas mini di dekatnya. “Oke, mau langsung balik?” “Iya, aku jalan dulu,” ucap Willy mencium kening Anggita lembut. Willy mencintai Anggita, hanya saja teror dari ibunya yang meminta Anggita segera hamil membuat hubungan keduanya hambar, tercipta jarak yang tidak bisa dijelaskan membuatnya terpaksa menyetujui keinginan sang ibu untuk mencari wanita lain yang bersedia mengandung. Memberikan keturunan demi kelangsungan keluarga Hadinata. “Ibu yang ngotot agar aku menikahi Anggita, dia sendiri pula yang memaksaku mencari perempuan lain untuk hamil anakku, wanita sejak dulu memang sulit dipahami,” gumam Willy sambil memencet tombol lift setelah keluar dari unit Anggita. Kedua wanita yang kini ada dalam kehidupannya, Willy sadar, akan ada rasa sakit hati dan kecewa kedepannya, tidak ada satupun wanita di dunia ini yang mau di madu, termasuk Anggita tentunya. Namun, hidup memang seperti ini, ada hal yang bisa diraih dan ada yang tidak. Keinginan dan kenyataan yang tidak sejalan sudah menjadi hal umum dalam kehidupan manusia. Willy memasuki ruang tengah kediaman sang Ibu, lampu yang sudah temaram, menandakan penghuni rumah besar tersebut sudah berada di alam mimpi masing-masing. Ia menuju lantai dua, masuk ke kamar dan melanjutkan tidurnya. “Berat kali hidup ini, ada dua istri yang harus kupikirkan, semoga saja tidak ada baku hantam seperti di kisah sinetron,” gumam Willy menarik selimutnya dan mematikan lampu kamarnya. Irene, ibunda Willy sudah menyiapkan sarapan pagi untuk anaknya. Ia mendapatkan info dari salah satu asisten rumah tangganya yang mengetahui kepulangan Willy semalam. “Apa bersama Anggi?” tanya Iren kepada ART nya. “Tidak Bu, sendirian saja,” jawab ART tersebut sambil menata puding buah sebagai makanan penutup pagi itu. “Katanya sudah pulang dari New York, anak itu tetap saja gak ada hormat-hormatnya sama orang tua. Ngabarin pun tidak!” Iren mendengus kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD