"Aku mencintaimu lebih dari istrimu, meski kau takkan pernah tahu." Nyanyian yang liriknya selalu Aleya rubah membuatnya tertawa. Ia sedang membersihkan diri karena pagi ini, ia harus ke kampus tempat ia akan melanjutkan pendidikannya.
Memakai handuk kimono nya, Aleya keluar dari kamar mandi mewahnya. Kehidupan pribadi gadis itu benar-benar berubah setelah menikah dengan Willy. Mendapatkan fasilitas premium, penampilannya berubah glamour dan up to date.
Aleya terlebih dulu ke kampus untuk mengurus administrasi pendaftaran kuliahnya. Setelah menyelesaikan urusannya, ia menghubungi Anggita yang akan mengajaknya bertemu.
“Aku sebentar lagi otewe, Mbak.” Aleya menjawab telepon dari Anggita yang menanyakan keberadaannya.
“Oke, aku jalan yah,” tutup Anggita.
Keduanya akan bertemu di salah satu mall ternama di jakarta, Anggita akan membagi ilmunya mengenai cara berpakaian hal lain yang gadis itu belum paham. Sebagai wanita biasa, tentu tidak mudah baginya untuk mengakrabkan diri dengan Aleya, seorang gadis lugu yang menjadi wanita kedua dalam pernikahannya dengan Willy. Pria yang menikahinya beberapa tahun yang lalu itu terpaksa menuruti permintaan ibunya karena ia tak kunjung hamil.
“Cantik, Mas Willy nitip ini buat kamu,” kata Anggita menyerahkan kartu kredit atas nama Aleya. Keduanya bertemu di lobby mall.
“Wah, udah jadi aja.” Aleya menerima kartu tersebut dengan wajah berbinar. Anggita hanya tersenyum kecil melihat tingkah Aleya.
“Selera kamu lumayan juga, aku akan ajari kamu nanti, perlahan juga bisa ikuti selera Ibu,” ucap Anggita sambil menyesap jus jeruknya.
“Ini yang beli Mas Willy,” jawab Aleya jujur. Wajah polosnya membuat Anggita iri.
“Oiya?” Dalam hati Anggita cemburu dengan perlakuan Willy kepada madunya. Seumur-umur, Anggita tidak pernah dibelikan baju oleh suaminya secara langsung seperti Aleya.
“Iya, pas pulang dari Singapore tempo hari,” jawab Aleya jujur.
“Ya sudah, tidak masalah. Kita mulai beli skincare kamu dulu,” ucap Anggita kepada Aleya.
“Mbak pakai apa? Mulus banget kulitnya.” Dari pertemuan pertamanya dengan Anggita di bandara, Aleya kagum dengan kondisi kulit Anggita yang mulus dan terawat sekalipun tanpa make-up.
“Hahahaha, beli merk yang sama denganku, sepertinya kulitmu butuh diperhatikan lebih. Nanti, kita cari waktu ke dokter kulit langganan ku,” ucap Anggita memperhatikan wajah Aleya yang terlihat sensitif.
“Pastinya mahal, apa Mas Willy gak marah? Aku belum izin, Mbak,” jawab Aleya terlihat cemas.
“Gak akan, kamu gak harus selalu izin sama dia, Aleya,” ucap Anggita terkekeh.
“Polos juga anak ini, sepertinya kekhawatiranku berlebihan,” batin Anggita memperhatikan Aleya yang sedang membayar ke kasir. Kepolosan Aleya ketika bersamanya, membuat Anggita menepis ketakutannya jika Aleya akan merebut suaminya. Keluar dari salah satu gerai skincare ternama, Anggita mengajaknya makan siang
“Mbak, yang ada menu nasi nya yah, aku belum sarapan dari pagi, jadi lapar," ucap Aleya malu-malu.
"Oke, aku juga lagi butuh karbohidrat neh," jawab Anggita.
Salah satu restoran di mall tersebut menjadi pilihan Anggita dan Aleya untuk makan siang bersama. Tidak ada yang tahu isi hati keduanya, yang jelas, sebagai wanita, Aleya mengkhawatirkan keadaan Anggita.
"Mbak, aku boleh ngomong?" Di tengah keduanya sedang menikmati makanannya, Aleyaa sepertinya perlu menegaskan suatu hal kepada wanita cantik di depannya itu.
"Ada apa Aleya, ngomong aja sih, serius amat," jawab Anggita terkekeh kecil melihat ekspresi wajah Aleya yang berubah serius.
"Mbak, tolong jangan berubah. Aku sudah tidak ada siapa-siapa lagi, hanya Mbak dan Mas Willy yang peduli padaku," ucap Aleya sendu.
"Hey, jangan sedih begitu. Kami sudah janji akan membantumu mengambil alih warisan orang tuamu. Mas Willy orang yang tepat janji, kamu pegang ucapan saya," jawab Anggita meyakinkan Aleya.
"Mas Willy akan tetap menjadi milikmu, Mbak. Aku janji tidak akan mengambilnya darimu. Setidaknya aku sudah lebih dulu merasakan bagaimana sakitnya dikhianati orang terdekatku, sakit, Mbak." Aleya kembali teringat Krisna dan Yuli, mantan kekasih dan sahabatnya itu kini sedang menikmati kehidupan mewahnya.
"Semoga kita tetap seperti ini seterusnya, udah ah, jangan sedih-sedihan. Kamu harus tunjukkan sama mereka kalau Aleya itu kuat." Anggita mengusap punggung kecilnya dengan lembut.
"Mereka sedang liburan ke Bangkok, Mbak. Padahal, tempat itu yang aku pengen jadi tempat bulan maduku," ucap Aleya sendu.
"Jangankan ke Bangkok, ke Paris, Cappadocia, Tokyo pun bisa kamu datangi. Mas Willy akan kasih kamu reward kalau nurut sama dia," jawab Anggita lagi.
Aleya percaya dengan ucapan Anggita, apalagi, Willy jelas jauh lebih kaya dari mantan pacarnya itu. Keduanya melanjutkan kegiatannya setelah makan siang tersebut selesai.
"Aleya, kamu harus rajin merawat diri, tidak boleh cuek dan serampangan lagi." Anggita sedang memilih baju yang sekiranya cocok untuk madunya itu.
"Iya, Mbak," jawab gadis itu patuh.
"Ibu paling tidak suka wanita yang tidak merawat diri. Jadi, pentingnya penampilan yang terawat dan manis di depan beliau. Kamu paham kan maksudnya," ucap Anggita lagi.
"Oh, begitu?"
"Iya, jadi pandai-pandai kamu saja di depan ibu."
"Aku hanya bertemu beliau saat akad nikah. Selebihnya, beliau sibuk dan aku takut jika menghubunginya duluan." Aleya bergidik ngeri menceritakan bagaimana pertemuannya dengan ibu mertuanya. Kaku dan tidak luwes membuat Aleya takut jika terlalu dekat dengan wanita tersebut.
Saat itu Irene memang terlihat menjaga jarak dengannya, Aleya sadar diri dan tidak berharap terlalu banyak. Baginya, yang penting bisa menjalin hubungan sebaik-baiknya dengan Irene sudah lebih dari cukup.
"Ibu memang kaku dan terkesan kuno, tapi dia baik kok. Kamu hanya perlu membiasakan diri dengan beliau. Dia juga gak membedakan orang. Nanti juga kamu terbiasa dengannya," jawab Anggita lagi.
"Aku seperti mimpi bisa masuk counter tas mahal ini. Astaga!" Kehidupan Aleya memang berubah setelah orang tuanya meninggal, dia harus berjuang sendiri hanya untuk makan dan memiliki tempat tinggal yang layak.
Di tengah kegiatannya, ponsel Anggita berdering. Nama Irene terlihat muncul di layar ponsel berlogo apel tersebut.
"Angkat aja, Mbak. Sini, aku bantu bawa barangnya," ucap Aleya mengambil alih paper bag milik Anggota agar ia leluasa menerima telepon dari Irene, ibu mertuanya.
"Iya, Bu," jawab Anggita lembut.
"Kamu dimana? Ibu mau bicara sama kamu, bisa ke rumah?" Irene sedang berada di kamarnya, duduk di sofa kesayangannya, wanita tua itu sedang menikmati cemilan siangnya.
"Lagi jalan sama Aleya, habis ini yah Bu, Anggi ke rumah," jawab Anggita kepada ibu mertuanya.
"Ya sudah, ibu tunggu," tutup wanita itu.
Sebenarnya Anggita penasaran, tumben sekali Irene sampai memintanya datang ke rumah
"Aleya, temani saya beli makanan kesukaan Ibu, beliau suka donat dan kue, kebetulan di mall ini ada," Kata Anggita setelah mematikan ponselnya.