Wejangan Ibu Mertua

1078 Words
Anggita tahu, jika Irene sudah menghubunginya, artinya ada hal penting yang akan dibicarakan wanita itu. "Besok kita jadwalkan lagi yah, aku ketemu Ibu dulu," ucap Anggita mengantar Aleya ke mobilnya. Sopir pribadi yang disiapkan Willy pun sudah siap. "Iya, Mbak. Aku pulang dulu, terima kasih untuk hari ini," jawab Aleya kepada wanita yang sudah seperti saudara baginya. "Oke, aku jalan dulu," pamit Anggita kepada Aleya. Ia masuk ke dalam mobilnya dan meminta supir untuk mengantarkan dirinya ke kediaman Irene, ibu mertuanya. Mobil sudah memasuki garasi rumah Ibu mertuanya, Anggita turun dari mobil tersebut dengan menenteng buah tangan kesukaan wanita itu. Sedangkan Irene sendiri, ia menunggu kedatangan menantunya di kamar pribadinya. "Mbok, Ibu dimana?" Anggita yang baru saja masuk ruang tengah mendapati asisten rumah tangga di rumah tersebut sedang membawa nampan berdiri minuman. "Ada di kamarnya, Bu. Monggo," jawabnya kepada Anggita. "Yowes ayo, aku juga bawain kue, nanti tolong ambilkan piring yah." Menuju lantai dua, Anggi mengetuk pintu kamar Irene perlahan. Ia masuk bersama dengan Irene yang baru saja selesai membaca bukunya. "Akhirnya kamu datang juga, sini duduk sama ibu," ucap Irene kepada menantunya. Ia menggeser bantal yang berada di sampingnya agar Anggita bisa leluasa duduk. "Iya, Bu. Ini Anggi juga bawain Ibu kue," jawabnya sambil membuka paper bag bawaannya. "Makasih, Nak." Irene sedikit luluh dengan perlakuan manis menantunya itu. Anggi hanya tersenyum kecil melihat ekspresi wajah Irene yang berbinar melihat kue kesukaannya. "Kamu habis jalan sama anak itu?" Irene bertanya kepada Anggita. "Iya, Bu. Kami tadi ngemall bareng, Aleya manis dan polos," jawab Anggita apa adanya. "Walaupun niat kamu baik, kamu tetap harus jaga jarak. Jangan sampai kedekatan kalian menimbulkan malapetaka nantinya. Posisi kalian berdua bukan sahabat atau saudara, Anggita.” Irene mengingatkan menantunya itu. “Iya, Anggi tahu, Bu. Tapi, kan gak ada salahnya ajak jalan, dia gak ada siapa-siapa lagi selain kita. Pacar sama sahabatnya malah jahatin dia, Bu. Kasian lah pokoknya,” jawab Anggita kepada ibu mertuanya. “Sejauh itu kamu tahu kehidupannya, ingat Anggi, tugas dia menikah dengan Willy hanya untuk memberikan kalian anak. Setelah itu, dia akan kembali bebas dengan hidupnya, Willy tidak ada kewajiban untuk meneruskan pernikahan itu,” ucap Irene terdengar sengit di telinga Anggita. “Kita lihat kedepannya ya, Bu. Lagian mereka baru berapa bulan, kasih waktu untuk Aleya menyesuaikan diri dengan Mas Willy dan kehidupan kami,” jawab Anggita kepada ibu mertuanya. “Sudah saatnya anak itu program hamil. Waktu dia cuma dua tahun, itu sudah paling lama. Ibu juga tidak mau kamu tersisihkan hanya karena Wily terlalu banyak menghabiskan waktu dengan anak itu,” ucap Irene lagi. “Namanya Aleya, Ibu.” Anggita tersenyum kecil melihat Irene, sepertinya kesal kepada Aleya. “Iya, apalah itu namanya. Ini sudah enam bulan, setengah tahun dan dia belum ada tanda-tanda hamil. Ibu ragu, apa jangan-jangan dia sengaja mengulur waktu agar tetap bisa hidup terjamin,” ungkap Irene berpendapat. “Anggita yakin tidak seperti itu, Bu. Aleya anak baik, rasanya untuk bersikap seperti itu, jauh lah, Bu.” “Ibu hanya ingatkan kamu, tugas kamu juga kasih tahu suami kamu. Sebenarnya ibu mau marah, kamu ini pulang dari pergi jauh, bukannya ke orang tua dulu, malah ngelayap sama anak itu,” hardik Irene. “Ibu, bukan seperti itu. Aku memang yang ingin ketemu sama Aleya, dia manis tahu, Bu.” “Jangan terpengaruh dengan sikap manisnya, kamu tetap harus waspada. Menantu ibu harusnya tetap kamu, andai saja kamu segera hamil, ibu juga tidak ingin pakai cara seperti ini, Anggita. Tapi, keturunan keluarga Hadinata harus berjalan, kamu tahu kan maksud ibu,” ucap Irene kembali menyinggung soal momongan kepada Anggita. “Iya, Bu. Anggita ngerti kok,” jawab wanita itu tersenyum getir. Andai saja, ia berani jujur kepada ibu mertuanya, rasanya masalahnya tidak akan serumit ini. Namun, Anggita memilih menghindari kenyataan untuk menyelamatkan diri, entah sampai kapan. “Ya udah, ayo makan kuenya. Kamu tadi beliin dia apa saja?” Irene meraih piring saji dari asisten rumah tangganya yang datang membawakan minuman sekaligus kue bawaan dari menantunya. “Biasa, Bu. Skincare dan beberapa baju aja sih, belum beli yang mahal-mahal,” jawab Anggita jujur. “Ibu dengar, dia sudah dapat kartu kredit sendiri dari Willy, kamu pantau pemakaiannya,” ucap Irene setelah menyesap jus jeruknya. Ada rasa ragu dan ketakutan tersendiri dari Irene jika Aleya hanya memanfaatkan kekayaaan Willy untuk kepentingannya pribadi. Membuat Anggita berpikir, sepertinya perlu mempertemukan Aleya dengan ibu mertuanya untuk menepis anggapan negatif yang diungkapkan Irene kepadanya. “Iya, Bu. Anggi rasa, mereka pasti sudah ada perjanjian tersendiri. Jatah bulanan Aleya juga tidak sebanyak Anggi,” jawabnya kepada Irene. Ia tidak ingin terlalu banyak intervensi terhadap Aleya dan Willy. “Ya udah, kamu bantu ibu kasih tahu anak itu. Ibu tunggu kabar dia hamil,” ucap Irene dengan mimik wajah seriusnya. “Iya, Bu. Nanti coba Anggi bicara sama dia,” jawab Anggi yang menghindari perdebatan dengan Irene. Selama berbincang, Irene masih belum puas menyinggung Anggita soal momongan. Namun, bunyi ponsel Anggita menyelamatkannya dari situasi sulit dan menjemukan mengenai wejangan-wejangan dari ibu mertuanya. “Mas Willy, Bu,” jawab Anggita ketika ditanya siapa yang menghubunginya. “Ya udah angkat saja,” jawab Irene acuh. “Iya, Mas.” Anggita menjawab panggilan telepon dari suaminya. “Kamu masih di rumah Ibu?” Willy yang baru saja selesai meeting, sejatinya akan mengajak dinner istrinya itu. “Iya, Mas jemput kah?” Anggita seperti memberi kode kepada suaminya, beruntung Willy memahami ucapan istrinya itu. “Iya, kamu tunggu. Aku baru saja selesai meeting,” jawab Willy lagi. “Oke, Mas.” Anggi mematikan sambungan teleponnya. “Kalian ada acara?” “Kurang tahu, Bu. Mungkin Mas Willy mau ketemu aja sama Anggi,” jawabnya menenangkan ibu mertuanya. “Ya udah, jangan lupa pesan ibu. Mumpung kalian ada waktu sama-sama,” ucap Irene lagi. Dan, kedatangan Willy menyelamatkan Anggita dari banyaknya pertanyaan Irene kepadanya. Ia bersyukur memiliki suami yang pengertian dan sabar menghadapi keras kepalanya yang terkadang tidak kira-kira. “Untungnya, Mas call aku di saat yang tepat. Astaga, pertanyaan ibu membuat jantungku seperti berhenti berdetak, Mas!” Dalam perjalanan pulang, Anggi mengucapkan terima kasih kepada suaminya itu. “Aku sudah feeling, ibu pasti nekan kamu lagi?” “Iya, Mas. Apa aku jujur aja ya, tapi aku takut, Mas.” Anggita terlihat frustasi dan tidak enak hati kepada suaminya. “Jangan dulu, saat ini tidak tepat untuk kamu bicara hal itu dengan ibu. Apalagi, ada Aleya.” Willy menolak ide Anggi untuk bicara kepada ibunya. Ia mengusap puncak kepala Anggita untuk menenangkan istrinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD