Perolehan Koin Emas yang di dapatkan di kota Damaa begitu banyak. Rasanya menjadi orang yang memiliki banyak uang, ingin aku menghabiskannya dengan segera. Lagipula aku mendapatkan semua ini dengan sangat mudah, begitulah yang aku pikirkan.
Tapi... Hidup boros itu tidak baik, aku sadar bagaimana orangtuaku sibuk mengejar kekayaan, mereka hingga lupa memiliki seorang putra yang harus di urus.
“Mari cari penginapan, Hathor,” ujarku.
Hathor mengangguk, kemudian kami berdua menuntun kereta kuda kami. Hanya beberapa langkah kami berjalan, seseorang memberhentikan kami.
“Tuan Ichigaya, maaf mengganggu waktu anda, Nama saya Feld,” ujar orang itu.
Pria itu berpakaian rapi dan terlihat terpelajar, pikirku dia adalah seorang yang bekerja di pemerintahan. Tapi nyatanya...
“Tuan Ichigaya dan Tuan Hathor... Kemana kalian akan pergi?”
“Kami berniat mencari sebuah penginapan di kota ini. Kami berencana untuk tinggal selama beberapa hari,” jawabku.
“Kalau begitu kebetulan, saya di tugaskan oleh Tuan Simon untuk memberikan ini pada anda,” Pria bernama Feld itu kemudian memberikan sebuah undangan dengan hiasan indah.
Ternyata orang ini adalah orang suruhan dari Pak Tua Gendut yang tamak itu. Ntahlah, tapi aku merasa si Simon ini memiliki beberapa niat, dan tentunya itu bukan di tujukan untuk sesuatu yang baik. Orang yang selalu melihat keuntungan cenderung membuat rugi orang lain.
“Itu adalah sebuah tiket masuk ke penginapan terbaik di kota ini. Biayanya sangat mahal, Tuan Simon ingin memberikan itu pada anda, saya harap anda mau menerimanya dan singgah di penginapan itu,” ucap Feld dengan ramah.
Penginapan terbaik, ya? Sangat menggiurkan, siapapun pasti akan menerima tawaran ini. Tapi, dia mengatakan sesuatu yang tidak aku suka. Biayanya sangat mahal? Dia menekankan kalimat itu dari nada bicaranya. Itu untuk membuatku merasa tidak nyaman pada Simon, itu untuk memaksa agar aku mau menerimanya.
Sayang sekali, semenjak aku datang ke dunia ini... Aku menjadi lebih peka terhadap niat seseorang.
“Maaf Feld, tapi katakan pada Tuan Simon, aku begitu menghargai kebaikannya. Terimakasih karna sudah menawari kami, tapi kami sudah punya rencana menginap di tempat lain,” ujarku.
“Ayo Hathor, kita harus pergi,” imbuhku.
Aku melangkah dengan santai, dan si Feld tetap berdiri di tempat dia memberhentikan kami, sampai aku merasa kami cukup jauh agar suaraku saat bicara tidak terdengar olehnya. Aku mengatakan sesuatu pada Hathor.
“Nampaknya kau merasakan sesuatu yang tidak baik dari si Feld itu, Hathor. Kau berjalan pergi menjauhinya, tapi kewaspadaanmu tetap padanya.”
“Sebenarnya aku juga merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan juga dari dia. Bukan hanya dia, tapi orang yang memerintahkannya juga. Si Simon itu,” imbuhku.
Aku sampai di sebuah penginapan sederhana, tempat tidurnya tidak buruk, tempat makanannya juga. Seperti yang di harapkan dari kota besar, bahkan toko terkecilpun tetap menjaga kualitasnya.
“Aku bisa membaca apa yang ada di dalam pikiran si Simon itu. Setelah dia melihat keuntungan yang kita dapat hari ini, mana mungkin orang tamak sepertinya tidak tergiur? Keinginannya untuk mengundang kita ke penginapan mewah itu, tidak lain untuk bernegosiasi.”
“Tapi, tentu dia mempunyai cara untuk membuat negosiasinya lancar. Tak peduli berapa banyak cara yang ia punya, namun tujuannya hanya satu. Keberhasilan dalam bernegosiasi.
Dan untuk orang yang licik seperti Simon, dia pasti menyediakan jebakan untuk kita.”
“Seperti yang di harapkan dari Kepala Desa, keputusan anda begitu bijak dan hati-hati. Dapat membaca niat seseorang memerlukan pengalaman bersosialisasi yang cukup lama. Anda pasti mengenal begitu banyak orang,” kata Hathor.
Pengalaman bersosialisasi? Sejujurnya aku tidak tau sama sekali apa itu bersosialisasi, di duniaku yang sebelumnya, bahkan orang yang aku kenal hanya sampai hitungan jari.
“Sudah malam, aku akan pergi beristirahat duluan. Selamat malam, Hathor!”
“Selamat malam, Kepala Desa.”
Hathor terlihat tidak beranjak dari tempatnya, dia memilih meminum beberapa botol anggur lagi. Ya biarlah, dia sudah bekerja sangat keras hari ini, aku ingin dia menikmati waktunya malam ini.
***
Aku tidak sadarkan diri begitu aku merebahkan diriku di ranjang kayu yang hangat ini. Apa karena aku juga bekerja terlalu keras kemarin? Hoamz.... Rasanya nyaman ketika aku meregangkan tubuhku, rasanya seperti hidup dengan semangat baru.
Baiklah, waktunya aku keluar dan menikmati udara pagi di kota ini. Begitulah pikirku, tapi saat aku pergi ke Kamar Hathor yang letaknya tepat bersebelahan dengan kamarku, Hathor tidak berada disana.
Bahkan ketika aku mencarinya di setiap ruangan di dalam penginapan, orang yang posturnya sangat menonjol itu tidak dapat di lihat di manapun.
“Kemana perginya orang itu?” ujarku. Aku pergi ke belakang untuk memeriksa kandang kuda, tapi Hathor juga tidak terlihat disana.
Pikiranku buntu seketika, aku khawatir Hathor sedang berurusan dengan orang-orang Tuan Simon, aku takut karena kami menolak ajakannya untuk menginap, dia mulai melakukan cara kotor untuk bernegosiasi.
Ini... Situasi seperti aku harus menukarkan resep Kentang Goreng dengan nyawa Hathor. Sial! Karena aku terlalu nyenyak, aku jadi tidak tau kemana Hathor pergi.
Atau jangan-jangan, ada sesuatu di makanan yang aku makan semalam. Semacam obat tidur mungkin? Apa orang-orang Simon mengikuti kami? Sialan.
Begitu aku kebakaran jenggot dan mulai berlarian seperti orang gila, tak jauh dari penginapan aku melihat seorang pria bongsor yang tidak lain adalah Hathor.
“Ya Tuhan, itu dia. Hahaha... Apa yang sebenarnya ku khawatirkan, yang kita bicarakan disini adalah Hathor. Pria dengan level tertinggi yang pernah aku temui di dunia Khartapanca ini. Apa kejadian buruk yang mungkin menimpa orang itu? Dia pasti baik-baik saja.”
Dengan segera aku menghampiri Hathor, “Hathor!” seruku. Hathor seketika menoleh dan berjalan cepat ke arahku. Kemudian dia merangkulku dan menuntunku berjalan menjauhi kerumunan.
Dia seperti telah menemukan sesuatu yang janggal di kota ini, dan orang-orang di kota tidak boleh mengetahuinya, itu sebabnya dia membawaku agak jauh dari keramaian.
“Niat Simon yang anda bicarakan, Kepala Desa. Semua itu benar. Dia berniat mencari informasi tentang mengolah kentang seperti yang kita lakukan,” bisik Hathor.
“Jadi... Semalam kau pergi untuk mencari tahu tentang ini.”
“Ya! Saya begitu penasaran, saya mencoba untuk tidur, namun rasa penasaran itu membuat saya tetap terjaga. Saya teringat dengan undangan yang sempat anda buka, saya melihat di mana lokasi tempat itu tertera. Kemudian saya memutuskan untuk pergi kesana.”
“Kala itu keadaan benar-benar sepi, tidak ada seorangpun keluar dari kediaman mereka. Saya yang melihat beberapa orang keluar membawa sebuah karung yang cukup besar, merasa aneh. Kemudiam saya ikuti mereka, dan apa yang saya temukan adalah sebuah mayat.”
“Mayat yang masih baru, dan tak hanya satu, tapi ada tiga mayat. Kelompok yang membawa mayat-mayat itu tidak mengatakan apapun, mereka tidak mengobrol, mereka tetap diam sampai mereka kembali.”
“Aku mulai mencari tahu, bagaimana ketiga orang itu bisa mati. Yang ku temukan adalah, ketiga orang itu di racuni. Dan ini adalah racun yang mereka gunakan.”
Hathor menunjukkan padaku kentang yang berwarna hijau. Jelas kalau itu adalah kentang yang sangat beracun. Berbeda dengan di bumi, kentang di dunia ini dosisnya jauh lebih kuat. Seseorang akan mati jika mengolahnya dengan penanganan yang salah.
“Saya melihat Feld keluar dari pintu yang di masuki oleh para pembawa mayat itu, Kepala Desa. Jadi saya bisa yakin seratus persen. Semua ini ulah si Simon itu.”
Si Gendut Sialan itu, dia benar-benar orang gila. Dia bisa saja melakukan apapun yang dia inginkan, dia mengesampingkan moralitasnya sebagai manusia.
“Memangnya nyawa manusia tidak lebih berharga di bandingkan emas, kah?”
Hathor sedikit tersentak. Ah... Sial, aku mungkin menyinggungnya. Bagaimanapun masa lalunya adalah seorang pemimpin bandit gunung paling berbahaya. Dia mencari nafkah dengan mencabut nyawa orang kemanapun dia pergi.
“Maafkan aku Hathor, aku tidak bermaksud untuk...”
“Tentu saja, Kepala Desa. Anda mengatakan hal itu karena anda emosi, saya bisa mengerti. Apa yang di lakukan oleh saya di masa lalu adalah sebuah kesalahan. Apanya yang bisa di banggakan dari itu? Wajar jika anda marah dan kesal. Saya tidak akan mengeluh untuk dosa yang sudah saya perbuat di masa lalu.”
Haa... Jujur aku menyesal karena telah mengatakannya. Aku merasa tidak enak.
Kemudian Hathor menepuk pundakku dengan keras. Lalu dia tersenyum.
“Tidak perlu merasa tidak enak, Kepala Desa. Saya bisa melihat, anda begitu menyesal karena anda sangat memikirkan perasaan saya. Dari sana saya mengerti, bahwa bagi anda... Saya adalah orang baik. Dan itu membuat saya lega.”
“Hathor...”
“Tuan Ichigaya dan Tuan Hathor!” suara itu datang begitu tiba-tiba. Saat aku melihat sekeliling. Aku dan Hathor ternyata sudah di kepung oleh banyak sekali orang.
Bagaimana mungkin aku tidak menyadari hal ini, dan yang lebih mustahilnya lagi, bagaimana seorang Hathor juga tidak sadar akan kedatangan mereka.
Suara langkah kaki mereka benar-benar tidak terdengar, hanya dua hal yang terpikirkan olehku tentang mereka. Mereka ahli, atau mereka sudah lama memantau pergerakan kami. Hanya itulah yang ku pikirkan karena mereka yang sangat berhati-hati.
Hathor hendak mengambil tombaknya, aku yang melihat hal itu segera mencegahnya.
“Jangan!” bisikku.
Hathor segera melemaskan dirinya. Dia terlihat begitu kaku, aku tau dia akan memasuki mode bertempur, saat dia benar-benar masuk ke dalam mode ini, maka meluluh lantakkan separuh kota dalam waktu semalam, sama sekali bukan hal yang mustahil bagi Hathor.
“Ikuti cara main mereka, biarkan mereka bawa kita ke sarang meraka. Saat mereka berkumpul disana. Hancurkan sekaligus,” ucapku pada Hathor sambil memelankan suaraku.
“Kepala Desa, jika anda punya rencana seperti itu, harusnya anda katakan lebih awal. Saya sangat menyukainya,” jawab Hathor sambil tersenyum.
Kemudian dari celah kiri dan kanan keluar dua orang kembar dengan perawakan hitam tinggi dan badan sangat gempal, yang mencolok adalah kedua dari mereka sama-sama botak, dan postur mereka tidak kalah besar dari Hathor.
“Tuan-tuan... Master Simon ingin bertemu dengan anda.”
Si Feld itu tersenyum, senyum sinis itu adalah senyum yang sering ku lihat di manga... Ah... Sepertinya sesuatu yang besar akan terjadi.