Kadeena

1669 Words
Boreas tampak begitu terkejut, sekaligus orang itu sangat kebingungan. Yah! Aku sadar, jika di dunia ini suatu hal yang tak lazim di anggap biasa. Maka apa yang ku anggap biasa di duniaku, tidak lazim di dunia ini. “Tuan Ichigaya, Kau ingin membebaskan mereka semua? Kemudian apa? Kemana mereka akan pergi dengan keadaan seperti itu? Mereka akan kembali di tangkap dan di bawa ke pasar b***k. Orang-orang seperti mereka... Meski kau berhasil mengeluarkan mereka dari jeruji besi, kau masih belum bisa menjamin kebebasan mereka,” ujar Boreas. Benar, aku memang tidak bisa menjamin hal itu. Tapi aku sudah menyiapkan sebuah langkah untuk membantu mereka. “Kalau mereka memang harus di pekerjakan, maka aku akan membuat mereka semua mengabdikan diri mereka untuk desaku. Dengan begitu mereka semua tidak akan menjadi orang tanpa status yang jelas. Setelah keluar dari sel ini... Mereka semua akan menjadi orang Nimiyan sama sepertiku.” “Bagaimana Hathor, apa kau keberatan dengan keputusan ini?” imbuhku menoleh pada Hathor. “Sama sekali tidak, Kepala Desa. Saya menantikan untuk memiliki saudara-saudara baru!” jawab Hathor dengan semangat. “Kau yakin Tuan Ichigaya? Kau membeli mereka semua tanpa memilihnya terlebih dahulu. Bisa jadi mereka tidak akan berguna untukmu, dan malah menyusahkanmu.” “Tuan Boreas, anda tidak perlu khawatir masalah itu. Kepala Desa selalu bilang, tidak akan pernah susah seseorang yang dengan ringan hati membantu orang lain. Saya hampir tidak pernah melihat Kepala Desa kesusahan, itu karena bukan hanya saya... Tapi seluruh orang di Desa kami, semuanya menerima bantuan darinya. Dia orang yang mampu menarik kami semua dari kesusahan.” Boreas kemudian menundukkan kepalanya, dia terlihat seperti sedang berpikir. Pada awalnya dia terlihat tidak yakin, tapi setelah Hathor mengatakan hal itu, Boreas mengangguk-angguk kecil. “Berapa banyak yang ingin kau bawa, Tuan Eishi?” “Kalau emasku cukup, aku ingin membawa mereka semua.” “Kau membutuhkan sebuah kereta untuk mengangkut mereka semua, kereta barangmu tidak akan cukup.” “Kalau begitu aku akan membeli kereta yang dapat mengangkut mereka semua darimu, bisakah kau ikut denganku, Tuan Boreas?” Pria itu mengangguk, kemudian ku ajak dia menuju kereta barang kami. Ku perlihatkan padanya kotak harta yang berhasil ku jarah dari Simon, meskipun itu hanya satu kotak harta, tapi bukan hanya penuh dengan koin emas, bahkan beberapa perhiasan berlian pun ada di kotak itu. “Bagaimana? Apa uangku cukup untuk membawa mereka semua? Kalau semisalkan uang untuk membeli keretanya masih kurang, tidak perlu semuanya, utamakan keretanya dulu dan semua b***k yang sakit-sakitan.” Tuan Boreas menggelengkan kepalanya. “Aku akan mengambil kotak itu, dan kau boleh mengambil semua b***k yang ada disini, Tuan Ichigaya. Tentu, untuk keretanya aku juga akan memberikannya padamu. Aku juga akan meminta Gerald dan Herald untuk menjadi kusir keretanya.” “Mereka berdua adalah keponakanku, aku akan mempercayakan mereka berdua untuk mengantar para bud... Maksudku warga desa Nimiyan barumu.” “Tuan Boreas, bagaimana dengan biaya untuk kedua ponakanmu?” tanyaku. Kemudian Tuan Boreas tersenyum, dia membuka peti harta yang baru saja aku beri padanya dan memberikanku lima keping koin emas dari peti tersebut. “Biaya pembelianmu, untuk para b***k, kereta, bahkan biaya untuk kusirnya. Aku sudah menghitung semuanya, dan lima keping emas itu adalah kembaliannya. Terimakasih Tuan Ichigaya, senang melakukan bisnis denganmu.” “Aku akan pergi ke meja kerjaku untuk menulis surat pembelianmu, aku akan meminta pekerjaku untuk memindahkan semua b***k ke kereta.” “Tuan Boreas, bisakah anda memisahkan antara b***k yang sakit dan yang sehat?” “Jangan khawatir Tuan Ichigaya, saya akan melakukannya.” Kemudian pria agak gemuk dengan tubuh agak pendek itu pergi, ntah kenapa tapi aku merasa orang itu baru saja mengeluarkan air mata. *** Setelah menunggu beberapa lama di depan Pasar b***k Tuan Boreas, akhirnya kereta b***k itu datang. Satu kereta panjang mengangkut lebih dari sembilan puluh delapan orang, satu kereta lagi mengangkut sekitar empat puluh dua orang. Aku bisa menebak, kereta yang mengangkut lebih banyak orang adalah kereta yang di gunakan untuk mengangkut para b***k yang sakit-sakitan. Ternyata banyak yang sakit dan bertubuh kurus kering. Tak lama lagi aku tak harus melihat ke prihatinan ini kembali. “Apakah anda Tuan Ichigaya, nama saya adalah Gerald dan ini adalah saudara kembar saya Herald. Paman menyuruh kami untuk mengantar para b***k ini ke tempat anda,” ujar Gerald. Ketika aku ingin membalas perkataan pemuda yang kira-kira seumuran denganku ini. Tiba-tiba Tuan Boreas datang dengan surat tanda bukti pembelian. “Tuan Ichigaya, ini adalah tanda bukti pembeliannya,” ujar Tuan Boreas sambil memberikan kertas yang kakunya minta ampun itu. “Terimakasih Tuan Boreas, oh ya! Untuk Gerald dan Herald. Kurasa aku tidak bisa meminta bantuan mereka untuk membawa para wargaku. Aku merasa sudah cukup merepotkan Tuan Boreas, jadi... Aku tidak bisa merepotkan anda lebih jauh lagi.” Sebenarnya bukan itu alasanku, jika aku mengajak Gerald dan Herald bersamaku, aku tidak bisa mempercayai mereka untuk menjaga rahasia. Aku berencana memulihkan semua orang yang sakit dengan High Potion yang aku miliki. Jika mereka menjadi penyampai kabar mengenai hal itu... Sebaiknya aku bertindak hati-hati. “Lagipula, aku ingin berkomunikasi dengan mereka. Dan aku ingin mengenal mereka lebih jauh. Lagipula sebentar lagi aku akan menjadi Kepala Desa mereka, ya kan?” ujarku. Kemudian aku pergi mendekati kereta yang membawa para b***k yang masih sehat, bisa di bilang ke adaan mereka masih segar bugar. Khususnya para wanita yang dianggap sebagai b***k pemuas batin. Sial! Kecantikan mereka sungguh menyilaukan, kurasa untuk para b***k seperti mereka Tuan Boreas merawatnya dengan sangat baik, yah... Itu demi membuat keuntungan yang ia dapat sangat tinggi. Astaga, kenapa mataku selalu mengarah pada mereka. Aku tau mereka menarik tapi ayolah, aku adalah seorang pria yang segera menikah. Aku tidak boleh teralihkan. Baik, bagaimana seharusnya aku memulai percakapan dengan mereka? Bagaimapun juga status kami masih asing. Tapi aku harus mencobanya, dengan tetap terlihat berwibawa. “Ehm! Hai semuanya, Namaku adalah Ichigaya Eishi. Aku adalah orang yang telah membeli kalian semua, aku adalah seorang Kepala Desa. Aku berniat membawa kalian semua ke desa tempat asalku. Tolong ingat namaku, ya!” Aku yakin sudah mengatakannya dengan nada yang sangat ramah. Meskipun aku agak grogi, sih. Aku masih belum terbiasa untuk berinteraksi dengan orang lain. Tapi bagaimanapun juga, orang yang anti sosial sepertiku sekarang adalah seorang Kepala Desa. Emm.... Mereka semua hanya duduk diam sambil melihatku, apa aku harus mengatakan sesuatu yang lain? Apa ya? “Emm... Aku ingin pulang ke Desa Nimiyan membawa kalian semua, tapi aku tidak bisa mengendalikan kereta. Adakah dari kalian yang bisa membantuku?” Semua orang itu tetap diam saja, dan mereka masih melihatku. Aku benar-benar malu di lihat seperti itu, siapapun tolong katakan sesuatu! Ah... Sepertinya aku gagal berinteraksi dengan mereka. “Tidak masalah kalau kalian tidak bisa,” ujarku. Kemudian Gerald berlari ke arahku dan menawarkan dirinya lagi. Sebenarnya aku tidak mau menerimanya, tapi mau bagaimana lagi. Sepertinya tidak ada pilihan lain. “Aku minta tolong padamu, Gerald!” kataku sambil sedikit membungkukkan badanku. Aku tidak bisa menghilangkan kebiasaan dari kampung halamanku, jepang. Kemudian seorang b***k mengetuk kereta dengan cukup keras, kebisingan itu membuatku menoleh lagi pada kereta itu. Kemudian seorang gadis berdiri sambil mengacungkan tangannya. “Saya! Saya bisa mengendalikan kereta! Biarkan saya membantu anda, Tuan Ichigaya!” ujar gadis dengan penampilan manusia setengah binatang. Wajahnya seperti seorang wanita cantik, dengan telinga dan ekor serigala berwarna merah kecoklatan. Tubuhnya... Jujur saja terlihat agak berotot. Ini membuatku senang, bukan tentang gadis itu. Tapi tentang masih ada orang yang mau menanggapiku. Kupikir aku tidak cukup berwibawa hingga dapat membuat mereka tergerak. Gadis itu berjalan mendekati pintu keluar kereta. “Gerald, apa kau memegang kunci kereta itu?” tanyaku. Sambil mengeluarkan kunci kereta dari bajunya, Gerald menjawab, “Ini Tuan Eishi!” Tak membuang-buang waktu aku segera pergi ke belakang untuk membuka pintu kereta tersebut. Gadis itu turun dari kereta perlahan-lahan, kemudian aku bisa melihat dia dengan jelas. Ternyata di tubuhnya ada beberapa luka sayatan pedang, aku tidak bisa menduga-duga kehidupan seperti apa yang ia jalani sebelumnya. “Biarkan saya membantu anda, Tuan!” ucap gadis itu sambil membungkuk memberi hormat padaku. “Tentu saja, beritahu aku siapa namamu, atau... Aku harus memanggilmu apa?” tanyaku. Gadis itu terlihat bingung. Kemudian dia tersenyum agak sendu. “Saya sama sekali tidak memiliki nama, atau... Saya melupakan nama saya ketika saya masih kecil, saya sama sekali tidak tahu. Tapi orang-orang di arena pertarungan memanggil saya serigala merah pemarah.” “Kau tidak memiliki nama?” ujarku. “Umumnya b***k seperti kami tidak memilikinya, Tuan. Saya sejak dari kecil sudah menjadi seorang b***k petarung, nama julukan yang di berikan oleh orang-orang di atas arena, akan menjadi cara mereka memanggil kami.” “Hal itu masih bisa di anggap sebagai sebuah keberuntungan bagi saya sebagai b***k. Kebanyakan b***k lain tidak di panggil dengan cara seperti itu, orang-orang memanggil b***k lain dengan kalimat-kalimat kasar, seperti memanggil kami sampah, atau sesuatu yang tidak berguna.” Sungguh perlakuan yang sangat buruk, bahkan aku bisa membayangkannya, sebuah kalimat terngiang di telingaku, hei bodoh, hei anjing, hei babi, apa mereka mendapat perlakuan seperti itu setiap harinya? Dimana harga diri mereka sebagai manusia? Perlakuan semacam itu... Bukankah lebih buruk daripada memperlakukan hewan peliharaan? “Aku mengerti, mulai hari ini aku akan memanggilmu Kadeena. Itu adalah namamu mulai sekarang, apa kau mengerti Kadeena?” “Kadeena?” gadis itu mengatakannya dengan mata yang berkaca-kaca. Aku bisa melihat bahwa dia terharu. “Ya! Mulai sekarang, jika aku memanggilmu, aku mau kau menoleh dan menjawabnya. Kau mengerti Kadeena?” “Saya mengerti Tuan Ichigaya,” jawab gadis itu, dengan tersenyum dan ekor yang ia kibas-kibaskan. Kemudian sebuah tabel muncul di depanku. Itu adalah tabel rekan, tabel rekan adalah tabel yang hanya muncul jika rasa kepercayaan saling terhubung. Tabel ini pertama kali muncul ketika awal pertemuanku dengan Hathor, aku tidak menyangka tabel ini akan muncul kembali sekarang. Saat ini, nama Kadeena tercantum di bawah nama Hathor, levelnya juga tertera disana, aku terkejut bahwa level Kadeena adalah 52. Itu adalah level yang sangat tinggi, di tambah usianya masih muda, aku tidak bisa membayangkan potensi penuh wanita setengah serigala ini di masa depan. Aku sangat beruntung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD