Harga untuk Kebebasan

1599 Words
Semuanya terjadi begitu cepat, yah... Mau bagaimana lagi, aku masih belum menemukan ada orang yang dapat seimbang dengan Hathor. Bisa di bilang aku sangat beruntung saat itu karena bertemu dengannya. Simon, sekarang dia hanya tinggal nama. Kalau kalian ingin tahu bagaimana dia mati, aku sama sekali tidak meminta Hathor untuk menebas kepalanya. Aku... Tidak berpikir itu akan setimpal dengan perbuatan yang ia perbuat. Jadi aku sendiri memasukkan kentang yang Simon punya ke mulut Simon. Dia menggeliat seperti cacing yang terkena garam. Mati tersiksa perlahan-lahan... Hanya itu kematian yang setimpal untuk orang kejam sepertinya. Orang yang di bunuh dan tidak sempat membalaskan dendam mereka, pasti lebih senang melihat Simon mati dengan cara ini. Aku mengambil semua kotak harta yang ada di dalam ruangan rahasia milik simon, semua ku masukkan ke dalam inventaris hingga tidak tersisa barang apapun di dalam sini. “Tuan Simon, dia adalah seorang pengusaha, dia punya banyak sekali toko, banyak orang mengenalnya. Bagaimana dengan orang-orang yang menyewa toko darinya, Kepala Desa?” “Mereka... Mereka pasti lebih senang. Mereka tidak harus membayar uang sewa yang selangit itu, aku melihat banyak sekali orang yang mengeluh, tapi mereka semua berpura-pura senang agar tidak membuat pelanggan mereka risih. Sekarang mereka tidak harus merasa sesak lagi,” jawabku. “Tapi... Apa mereka tidak akan mencari si Simon ini, Kepala Desa?” “Di tempat yang hanya Simon sendiri yang tahu, bagaimana orang lain akan menemukannya? Ayo Hathor, kita pergi dari sini, tidak ada lagi yang harus kita lakukan.” “Bagaimana dengan Harta yang kita ambil, Kepala Desa. Apa kita akan membagikannya dengan orang-orang di desa Nimiyan?” “Tidak, kita tidak perlu memberi mereka uang-uang ini. Cukup kita berikan uang hasil penjualan kentang kita disini. Uang yang kita jarah dari Simon... Kita gunakan untuk sesuatu yang lebih berguna.” “Segunung uang yang hanya di tumpuk, hanya akan menjadi benda tak bernilai.” Karena itulah aku sempat berpikir untuk mencari sebuah pasar b***k, dan dengan harta jarahan ini... Aku akan membebaskan mereka semua dari p********n. Bagaimanapun di dunia ini semua itu adalah hal yang wajar, tapi tetap saja hati nuraniku tidak bisa menerima ini. Jalan perbaikan dunia yang telah busuk ini, adalah jalanku sebagai seorang Champion. Aku tidak peduli tentang berperang dengan bangsa iblis atau apapun. Bagiku... Manusia yang telah kehilangan hati nuraninya, mereka bahkan bisa lebih keji dari pada iblis. Kami keluar dari tempat rahasia Simon tanpa di ketahui oleh siapapun. Aku meminta Hathor untuk membakar semua mayat di sana hingga menjadi abu. Aku tidak lupa untuk menghancurkan rune pintu, dengan begini... Tidak akan ada orang yang tahu bahwa pernah ada ruangan di bawah sana. “Show the Map!” ujarku. Kemudian ku cari lokasi tempat pasa b***k, dan dengan mudah aku menemukannya. Tanpa menunggu apapun lagi aku dan Hathor pergi ke tempat itu dengan segera. Ternyata itu adalah tempat yang cukup besar, aku tidak pernah menyangka. Walaupun hanya tenda yang di gunakan sebagai penutup, tapi aku bisa bilang bahwa ini adalah kali pertama aku melihat tenda sebesar itu. “Selamat datang! Selamat datang! Oh! Betapa beruntungnya aku, siapa yang mengira Dewa Koki berkunjung ke tempat daganganku, selamat datang Dewa Koki!” pria yang tidak terlalu gemuk namun pendek itu mengenalku dan menyambutku. Emm... Mungkin dia adalah salah satu orang yang telah membeli kentang gorengku. “Kentang Goreng yang Dewa Koki jual kemarin, rasanya sungguh sangat lezat. Aku tidak berbohong, saya ingin merasakan makanan itu lagi, bahkan semalam saya memimpikannya.” “Apakah anda menjualnya lagi?” imbuh orang itu. “Hahaha, terima kasih karena anda sudah membeli. Tapi saya kehabisan kentang sekarang. Jika anda ingin merasakannya lagi, di Desa Nimiyan anda bisa mendapatkannya kapanpun,” jawabku. “Saya menunggu hari dimana saya sempat berkunjung kesana, Dewa Koki.” “Ngomong-ngomong nama saya adalah Ichigaya, Tuan... Kalau bisa, bisakah anda berhenti memanggil saya sebagai Dewa Koki? Saya merasa masih jauh jika di bandingkan dengan sosok agung itu.” “Sungguh Tuan Muda yang rendah hati, Tuan Ichigaya... Perkenalkan, nama saya adalah Boreas. Saya adalah pemilik pasar b***k ini. b***k seperti apa yang anda inginkan, seratus persen saya jamin akan anda temukan di tempat ini,” ujar orang yang memeperkenalkan dirinya sebagai Boreas. “Saya sangat menantikan hal itu Tuan Boreas.” “Hahaha.... Kalau begitu mari mari, aku tidak bisa membiarkan seorang pelanggan besar seperti Tuan Ichigaya menunggu. Biar ku perlihatkan pada anda Tuan!” Kemudian si Boreas itu membuka tirai yang menjadi pintu tenda besar itu. “Selamat datang, di pasar b***k terbesar di kota Damaa, Pasar b***k Boreas! Disini kami menyediakan b***k dari berbagai macam ras. b***k apapun yang anda cari, kami memilikinya, b***k pekerja, b***k petarung, budak... Hehehe... Kami biasa menyebut mereka sebagai pemuas batin, untuk Tuan Muda seperti anda, Tuan Ichigaya. Saya jamin anda pasti tertarik.” Jujur saja Tuan Boreas, saya sudah memasuki fase itu. Aku sudah genap berusia tujuh belas tahun, dan rasa penasaranku sudah mencapai puncaknya. Pemuas batin, aku benar-benar tertarik. Astaga, apa yang ku pikirkan. Bukankah tinggal menghitung hari bagiku untuk menikah, kenapa aku malah memikirkan hal seperti itu. Ah... Benar-benar pikiranku melenceng. “Hathor, Pemuas Batin itu bagaimana?” Sialan, padahal sudah ku bilang dalam hati bahwa itu melenceng, tapi aku masih menanyakannya juga. Ya... Bagaimanapun juga aku cukup penasaran. “Sederhananya, anda bisa melakukan apapun pada mereka. Tidak ada larangan walaupun hubungan kalian tidak terikat oleh pernikahan, melakukan hal itu dianggap lumrah. Pada umumnya b***k sejenis ini memiliki paras yang menarik. Dan harga mereka cukup mahal. Kepala Desa, jangan bilang... Bahwa anda tertarik?” tanya Hathor. Aku tidak bisa menyangkal hal itu, tapi bagaimanapun juga aku adalah seorang pemimpin, setidaknya aku harus bersikap bijak dan tetap terlihat berwibawa. “Tidak, aku hanya ingin menanyakannya saja,” jawabku sambil menyembunyikan muka. Karena aku memanas, aku yakin saat ini wajahku sedang memerah. Tapi harus ku akui, Tuan Boreas sama sekali tidak melebih-lebihkan perkataannya. Pasar b***k ini, benar-benar sebuah pasar b***k yang sangat besar. Tapi pemandangan disini bagiku begitu memilukan. Aku teringat dengan sebuah toko hewan yang pernah aku kunjungi saat aku kecil. Disini, terdapat banyak sekali kandang, hanya saja bukan binatang yang berada di dalamnya, melainkan manusia dan ras setengah manusia. Yang lebih memilukan adalah, di setiap kaki dan leher mereka terdapat rantai besi yang mengikat, bukan hanya diri... Tapi kebebasan mereka juga. Pakaian yang mereka pakai pun seadanya, kalau aku perhatikan dengan baik, bahannya terbuat dari bahan yang sama dengan karung. Kasar, dan pasti gatal untuk di pakai. Tapi mereka masih mengenakannya. Sungguh menyedihkan, pemandangan yang benar-benar menyayat hati. Ingin aku segera keluar dari tempat ini. Ingin aku membebaskan mereka semua. Uhukk Uhukk!! Saat aku memikirkan betapa memilukannya kehidupan yang di jalani oleh mereka orang-orang yang tidak beruntung, suara batuk itu menyadarkanku dan membuatku berhenti untuk berpikir. Langkahku terhenti. Tanganku meraih kandang yang lebih tepat jika aku sebut itu sebagai sebuah jeruji besi. Mataku tertuju pada seorang b***k dari ras non manusia. Dia memiliki telinga seperti kucing, rambutnya berwarna abu-abu, penampilannya begitu kurus, aku bisa melihat tulang rusuknya menonjol, dia terlihat sakit-sakitan. “Tuan Boreas?” Aku tidak sadar kalau orang itu sedang dengan sangat senang menceritakan tentang barang dagangannya. Aku sama sekali tidak mendengarkan kalimat yang ia ucapkan, itu semua karena aku terlalu memikirkan kehidupan menyedihkan dari orang-orang yang duduk di balik jeruji besi ini. “Ada apa Tuan Ichigaya?” sahut Tuan Boreas. “Tuan Boreas... Apakah anda membiarkan orang-orang ini sakit? Tidak masalah membiarkan mereka semua seperti ini?” tanyaku. “Tuan Ichigaya, hal ini sudah biasa disini. Bagi mereka yang tidak mau makan, maka mereka hanya akan kelaparan dan jatuh sakit, akhirnya mereka semua mati. Dalam pandangan di negeri ini, siapa saja orang yang sudah kehilangan semangatnya untuk makan, itu artinya mereka telah kehilangan tujuan hidup mereka. b***k itu... Dia memilih mati.” “Kalau begitu... Tidak bisakah anda memberikan kematian yang mudah untuk mereka?” tanyaku. “Hehe... Tuan Ichigaya, walaupun mereka sakit-sakitan seperti itu, mereka masih bisa menghasilkan beberapa perunggu untuk kami. Jadi sangat sayang kalau harus membunuh mereka.” Tuan Boreas menjawabku dengan nada perkataan yang terkesan riang, sialan! Sungguh hina orang ini, bagaimana dia masih memikirkan soal uang di banding dengan kemanusiaan yang dia punya?! Aku menoleh pada Tuan Boreas dengan perasaan kesal, wajahku tampak murka memandang orang itu. Namun Hathor saat itu menepuk pundakku dengan segera dan mendekat ke arah telingaku. “Kepala Desa, anda tidak boleh marah. Meskipun anda berpikir apa yang di lakukan oleh Boreas ini adalah sesuatu yang salah. Namun bagi dunia ini, perbuatannya itu tidak bisa di kategorikan sebagai suatu kesalahan.” “Benar kata dia, ini adalah hal biasa di dunia ini,” bisik Hathor. Aku menghela nafas, dengan bujukan Hathor aku mencoba untuk tenang. Biasa, bagaimana hal sekeji ini dianggap sebagai sesuatu yang biasa, nalarku sungguh tidak sampai untuk menerimanya. Pantas saja para dewa memilih untuk menurunkan bencana untuk menghancurkan dunia ini. Pantas saja mereka tidak bisa lagi mentolerir apa yang di lakukan manusia. Dunia yang di ciptakan penuh dengan keindahan harus di kotori dengan cara hidup manusia yang penuh kenistaan. Pembunuhan, penculikan, perdagangan manusia... Bagaimana semua itu bisa menjadi hal biasa? Sial! Aku tidak pernah menyangka akan melihat hal-hal seperti itu dalam hidupku. “Tuan Boreas, aku sudah memutuskan... Aku ingin semua b***k yang sakit. Aku akan membeli mereka semua,” ujarku dengan tegas. “Semua? Tuan Ichigaya? Apa anda tidak bercanda akan membeli mereka semua? Anda tidak mencari sesuatu yang sesuai dengan apa kegunaan mereka? Seperti melakukan pekerjaan kasar, Bertarung untuk anda atau...” “tidak!” selaku. “Aku tidak ingin membuat mereka melakukan pekerjaan kasar, ataupun membuat mereka bertarung untukku. Aku hanya ingin... Memberikan mereka semua kebebasan.” Kemudian Hathor tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD