Kedua orang ini membawaku ke tempat yang cukup aneh, tempat yang begitu tertutup dan tersembunyi. Nampaknya hanya orang-orang tertentu yang mengetahui jalan ini, apa dia tidak keberatan membawa aku dan Hathor ke tempat yang tampak rahasia seperti ini?
Tuan Putri Sean ini terlalu bersemangat untuk suatu hal, dia bahkan sampai lengah terhadap hal krusial seperti ini, tapi sebaliknya... Pengawalnya Ghanira ini terlihat lebih waspada dan memberikan aura yang lebih mengancam dari pada yang tadi.
“Jika orang lain tau tempat ini, kalian berdua adalah orang pertama yang saya cari,” ujar Ghanira dengan ucapan yang begitu sinis.
Gawat! Hathor nampaknya tersulut oleh nada bicara Ghanira, aku khawatir penyamaran kami malah terbongkar jika dia tidak mampu bersikap tenang.
Aku mencubit perut Hathor, tapi ototnya itu sama sekali tidak bisa di tekan. Seperti yang kuharapkan dari orang yang mengajariku seni bela diri. Tubuhnya sangat berotot, orang lemah sepertiku bahkan tidak bisa memberikan cubitan yang berasa.
Hufft... Tapi sepertinya tidak akan jadi masalah. Sean mencari sesuatu di dinding, aku jadi ingat sesuatu seperti ini, biasanya aku melihatnya di film-film. Saat suatu tempat terlihat buntu, sebenarnya itu tidak benar-benar buntu. Benar! Ada sebuah tombol rahasia yang akan menunjukkan jalan masuknya, seperti yang di tekan oleh Sean saat ini.
Sean menyentuh sebuah batu dan menekannya sedikit, dinding yang membatasi jalan kami kemudian bergerak dan menunjukkan sebuah terowongan dengan obor yang menerangi di setiap jalannya.
Ini aneh, tidak ada roda penggerak atau apapun di belakang dinding yang menjadi pintu itu. Pintu rahasia itu bergerak dengan cara yang tidak logis, artinya... Selain benda yang memang bisa di buat menggunakan ilmu pengetahuan, masih ada benda yang bisa di buat dengan menggunakan sihir, pintu rahasia ini adalah contohnya.
“Wah... Aku benar-benar sudah tidak sabar menantikan bagaimana aku akan di ajarkan membuat benda berkilauan yang lebih bening di bandingkan berlian ini,” ujar Sean sambil melihat ke arah kacamata yang ia pegang.
Tuan Putri nampaknya benar-benar tidak mempedulikan apapun selain kaca itu, padahal saat ini ada dua orang asing yang tidak di kenal sedang mengikutinya melewati ruang rahasia yang seharusnya tidak di ketahui oleh orang lain.
Sebaliknya pengawalnya yang bernama Ghanira malah terus melihat kami dengan tatapan yang mengancam. Apa kita akan di bunuh setelah urusannya selesai? Tidak, sesuatu seperti itu tidak mungkin terjadi, lagipula aku tidak perlu menghawatirkan tentang hal itu. Saat ini Hathor bersamaku, orang dengan level tertinggi yang pernah ku temui. Bahkan aku tidak pernah melihat Ksatria dengan level yang lebih tinggi darinya. Semuanya akan baik-baik saja.
Setelah beberapa lama berjalan akhirnya kami berakhir di sebuah lorong yang memiliki banyak jalur, tapi aku sangat yakin... Kemanapun jalur itu berakhir, itu akan menuju pada ruang milik Keluarga Kerajaan. Ruangan yang memiliki tempat khusus untuk digunakan sebagai jalur penyelamatan diri jika sesuatu yang tidak terduga terjadi pada Kerajaan Badamdas ini.
Benar saja, Tiba-tiba kami berakhir di sebuah taman, lorong rahasianya di tutupi oleh semak dan juga bunga-bunga, penataannya sangat rapi sehingga membuat lubangnya benar-benar samar, hanya orang-orang yang tahu dengan pasti yang bisa menemukan tempat itu.
“Kita harus pergi secara perlahan, jangan membuat keributan apapun atau melakukan suatu hal yang mencolok,” ujar Sean dengan setengah berbisik.
“Tapi Tuan Putri, tanpa melakukan apapun. Bukankah saudaraku Hathor terlalu mencolok. Apa anda pernah melihat orang sebesar ini berjalan di taman sebelumnya? Bahkan jika dia sedikit merunduk pun semak di taman ini tak akan mampu menutupinya.”
“Benar juga, kalau begitu... Saudaramu harus merayap sambil mengikuti kita!”
Merunduk dan berjalan secara diam-diam saja sudah cukup melelahkan, apalagi merayap.
“Hathor, maafkan aku,” ujarku.
***
Setelah melakukan perjalanan diam-diam seperti seorang kriminal, akhirnya kami sampai pada sebuah ruangan yang cukup gelap. Aku tak tau ruangan apa ini, tapi di sini sama sekali tidak pengap, malahan... Baunya sangat wangi.
“Mengusir kegelapan, membawa kembali pengelihatan, membawa ketenangan... Cahaya!”
Tempat yang gelap tersebut perlahan menjadi terang, ada sesuatu di atas yang bentuknya hampir sama seperti lampu. Tapi... Di dunia ini listrik sama sekali masih belum di temukan, jadi benda yang menggantung di atas kepalaku ini tidak mungkin adalah lampu, tapi kenapa itu bisa mengeluarkan cahaya? Benar, baru saja Ghanira seperti mengucapkan sesuatu, apakah itu sebenarnya adalah mantra sihir? Aku baru pertama kali melihat dan mendengarnya secara langsung.
“Nona Ghanira, apakah anda sebenarnya adalah seorang penyihir cahaya?” tanyaku.
“Saya sama sekali bukan penyihir tipe cahaya,” jawabnya dengan singkat.
“Tapi kenapa anda bisa merapalkan mantra cahaya? Bukankah umumnya setiap orang hanya memiliki satu tipe sihir saja? Kasus manusia yang memiliki dua elemen sihir dalam dirinya adalah kasus yang sangat langka, jika anda tidak memiliki kekuatan tipe cahaya, kenapa anda bisa merapalkan sihir yang barusan?”
“Eh... Tuan tidak tau? Setiap orang memiliki satu tipe sihir dalam dirinya memang adalah pengetahuan yang sangat umum, tidak ada orang yang bisa menguasai sihir lebih dari dua tipe dari elemen bawaannya, bahkan penyihir terhebat dalam Istana Raja pun hanya memiliki satu tipe sihir. Tapi, jika ada Rune... Bahkan jika orang itu tidak memiliki tipe sihir cahaya, mereka masih dapat menggunakan sihir cahaya. Sesuatu yang menggantung di atas tempat ini adalah sesuatu yang disebut Rune, dengan tipe cahaya tentunya. Rune tersebut hanya akan aktif setelah mantra di ucapkan, tentunya Rune tersebut juga menyerap energi sang pengucap yang di sebut dengan Mana,” kata Sean.
“Jadi begitu, saya mendapat pembelajaran yang berarti dari ini,” ujarku.
Jadi ada suatu benda yang di sebut dengan Rune di dunia ini, itu adalah benda ajaib yang digunakan untuk mengaktifkan sihir yang berbeda dari tipe sihir sang pengguna, sangat menarik. Aku ingin tahu lebih detail tentang rune ini.
“Open Information!” ujarku sambil melihat ke arah benda yang mirip lampu gantung yang di sebut Rune tadi.
Jadi, benda tersebut adalah barang sihir. Rune di buat oleh penyihir menggunakan batuan khusus dan juga mantra. Mantra yang di rancang hanya akan membuat satu fungsi pada benda tersebut. Jika itu di rancang sebagai sebuah lentera maka akan menjadi lentera, mantra merupakan saklar yang mengaktifkan lentera tersebut. Aku mengerti!
Eh?!! Apa? Sebuah tanda seru? Bukankah tanda ini biasanya selalu muncul ketika ada pemberitahuan masuk? Baiklah, kali ini apa?
Sebuah Skill baru? Anda mendapatkan sebuah Skill yang bisa membantu anda dalam membuat benda sihir, sihir akan aktif sesuai dengan pengaturan yang di berikan pada benda yang di buat oleh tangan sang Crafter, Skill ini di sebut Command Block, tidak menggunakan mana jika mantra tidak di ucapkan untuk mengaktifkan benda sihir.
“Hebat!!!” seruku tanpa sadar dengan orang-orang yang berada di dekatku.
“Eh? Ada apa?”
“Ah... Tidak, tidak ada apa-apa,” ujarku sambil berkeringat.
“Benar, kita sudah membicarakan banyak hal namun kita melupakan sesuatu yang penting, bukankah kita belum berkenalan sebelumnya. Namaku adalah Sean Rommel Badamdas, aku adalah seorang Putri dari Kerajaan ini, Kerajaan Badamdas. Selamat datang para tamu di kamarku yang sederhana ini,” ucap Sean, dia mengangkat roknya sedikit dengan sangat anggun dan sedikit menunduk dengan sopan.
Meskipun dia bilang ini adalah kamar yang sederhana, ini sama sekali tidak bisa di katakan sederhana, daripada di sebut sebuah kamar, aku lebih suka menyebut tempat ini sebagai sebuah perpustakaan umum. Buku yang ada di tempat ini sangat banyak, bahkan aku seperti di kelilingi oleh dinding yang penuh dengan buku-buku. Aku tidak bisa membayangkan apakah kamar seorang gadis memang seperti ini?
Sean ini, dia orang yang lurus ya, bahkan dia sangat berterus terang tanpa menyembunyikan apapun dari seseorang yang baru ia kenal. Meskipun aku menyebut ini sebagai suatu kelengahan. Tapi... Karena dia sudah jujur maka, akupun harus jujur padanya!
Setelah berpikir dengan matang aku memberanikan diri untuk membuka kumis serta janggut palsuku di hadapan Sean. Sesaat setelah semuanya lepas sebilah pisau tiba-tiba sudah berada dekat di sekitar leherku.
Beruntung aku melihat tangan Hathor yang dengan sigap menahan tangan Ghanira yang menggenggam sebilah pisau yang di arahkannya pada leherku.
“Maafkan aku Nona, menyamar atau membohongi keluarga kerajaan memang sepatutnya orang yang melakukannya mendapat hukuman eksekusi di tempat, tapi... Jika orang itu adalah Kepala Desa, aku tidak bisa membiarkannya.”
“Tak akan kubiarkan walau seujung jarimu menyentuh Kepala Desa,” sambung Hathor dengan wajah kesal.
Ghanira, dia benar-benar seorang Assassin, tangannya sangat cepat dan cekatan, belum sekedipan mata tapi pisau yang ia sembunyikan ntah dimana tiba-tiba saja hampir menusuk tepat ke arah leherku. Bahaya bahaya bahaya! Dia sungguh bahaya! Jika itu Torn dan Lyod yang bersamaku, kemungkinan aku sudah mati tadi.
“Jadi kalian berdua memang bukan orang biasa, ya. Penyamaran hanya di lakukan oleh seorang pembunuh, apa maksud kedatangan kalian kemari? Apa kalian mengincar nyawa Tuan Putri?” ketus Ghanira. Walau tangannya yang di genggam oleh Hathor terlihat gemetar, tapi dia masih tetap berusaha terlihat kuat.
Untung orang biasa di dunia ini tidak bisa mengukur kemampuan mereka satu sama lain, tapi jika ku katakan bahwa Hathor ini memiliki Level dua kali lipat dari si Ghanira, mungkin wanita ini akan sangat terkejut.
“Tenanglah Nona Ghanira, kedatangan kami kemari bukan untuk membunuh atau membawa niat buruk lainnya. Alasan kami menyamar adalah karena kami pernah terlibat suatu masalah di kota ini. Apakah anda tau masalah yang melibatkan segerombolan pengemis dengan sekumpulan bandit beberapa minggu lalu? Kekacauan tersebut, sayalah yang menyebabkannya. Jadi... Agar saya dapat masuk kembali ke kota ini, saya harus menggunakan identitas lain.”
“Jadi itu kalian, orang yang di rumorkan membunuh dua puluh bandit dalam satu ayunan tombak, apakah pria besar yang melindungimu ini?”
Du-dua puluh?!! Selain itu, dalam satu kali ayunan tombak? Woiii! Rata-rata level para bandit itu adalah 20, lho. Yang benar saja Hathor mampu membunuh dua puluh dari mereka dengan satu ayunan tombak, aku tidak tau kejadian itu karena saat itu aku keburu pingsan. Tapi... Hathor benar-benar hebat, seperti yang diharapkan dari seorang pria tangguh ber Level 67.
“Hathor, bisakah kau melepaskan tangan Nona Ghanira?”
“Tapi Kepala Desa, jika saya melepaskan tangan gadis ini, dia mungkin akan menyerang anda secara tiba-tiba lagi.”
“Tidak, dia tidak akan melakukannya. Benarkan Nona Ghanira? Saya mohon... Saya hanya ingin membicarakan semuanya dengan damai. Saya kemari tidak dengan niatan buruk, jadi tolong dengarkan saya.”
Ghanira melihat pada Tuan Putri Sean, kemudian Sean mengangguk.
“Baiklah,” ucap Ghanira.
“Hathor.”
Hathor dengan sigap melepaskan genggamannya dari Ghanira. Si gadis Assassin itu terlihat gemetar, tampaknya karena cengkraman Hathor yang terlalu kuat, Ghanira bahkan sampai merasa kesemutan.
“Terima kasih karena anda mau menyimpan kembali pisau anda, kalau begitu... Inj adalah giliran saya mempekenalkan diri. Saya... Adalah Ichigaya Eishi, saat ini... Saya adalah seorang Kepala Desa dari Desa Nimiyan!”