Earl Balezza

1780 Words
Ah... Rasanya enak sekali dapat tidur dengan nyenyak, aku merasa beruntung karena letak ranjang yang cukup berjauhan ini. Di tambah... Ada kasur di penginapan ini dimana di Penginapan Bulan Bintang yang ada di desaku sama sekali tidak ada kasur. Walaupun kasurnya hanya terbuat dari jerami yang di tutupi oleh kain, tapi setidaknya ini lebih lembut jika di bandingkan dengan ranjang kayu. Mungkin aku akan mencari kapas juga lain kali. “Eishi, kau sudah bangun?” sambil meregangkan badannya dan mengucek mata Rya mengatakannya. “Ya, baru saja. Bagaimana rasanya tidur di penginapan lain, Nona pemilik penginapan?” Yawnn.... Rya menguap, mungkin dia merasa terlalu nyaman dengan tidurnya, kurasa dia ingin beristirahat lebih lama lagi. “Harus ku katakan kalau penginapan di sini masih lebih baik dari pada penginapanku. Kurasa aku harus mencontohnya.” “Tidak, mencontoh itu perbuatan yang tidak terpuji, Nona. Bagaimana kalau kita buat yang lebih baik dari ini? Tuan yang tau segalanya ini akan membantumu melakukannya,” ucapku dengan melontarkan candaan pada Rya. “Baiklah Tuan... Yang tau segalanya. Jika kau bisa membuat penginapanku jauh lebih baik dari penginapan ini, maka aku akan memberikanmu hadiah,” jawab Rya. “Oh ya?! Lalu hadiah apa yang akan kau berikan padaku, Nyonya Pemilik Penginapan?” “Apa saja!” “Apa saja? Waw... Itu adalah hadiah yang paling indah yang bisa kau berikan.” Tok tok tok! Seseorang mengetuk pintu. Apa itu Tuan Bern atau Hathor? “Tuan Ichigaya, ini saya Torso... Saya membawakan pembasuh untuk anda dan Nyonya Rya.” “Baiklah Torso, kau bisa meletakkannya di depan pintu. Aku akan segera mengambilnya, terima kasih,” jawabku. Yang di maksud dengan pembasuh di dunia ini adalah sebuah ember air dengan handuk. Jadi... Meskipun aku sudah berada di penginapan besar yang ada di kota, tetap saja aku tidak bisa menemukan kamar mandi. “Eishi, bisakah kau berbalik sebentar? Aku memerlukan waktu untuk membasuh tubuhku.” “Eishi! Kenapa kau malah tertegun?! Aku kan sudah bilang untuk berbalik, kenapa masih melihat ke arahku? Mau ku congkel matamu?!” “Ba-ba-baik Nona Pemilil Penginapan yang pemarah!” Aku segera berbalik dan kembali ke ranjangku. Aku duduk diam dengan manis sambil menghentak-hentakkan jari ke lututku, berharap detik demi detik cepat berlalu dan keluar dari penderitaan ini. Penderitaan yang ku maksud adalah, saat seorang gadis melepas pakaiannya di dekatmu, kau malah tidak bisa melihatnya. Dewa Garileon cukup kejam karena tidak memberiku kemampuan untuk melihat tanpa membuka mataku. “Eishi?” gadis itu memanggilku dengan suaranya yang lembut. Ayolah... Disini aku sudah cukup menderita, jangan kau buat aku lebih menderita lagi. Aku mencoba menjernihkan pikiranku, pikiranku bagaikan genangan air yang tenang, lalu kau seperti melempar kerikil ke dalamnya. “Eishi?! Kenapa kau diam saja? Apa jangan-jangan kau diam-diam mengintipku?” “Serius aku tidak melakukannya!” “Padahal kau bisa melakukannya jika kau mau,” ucap Rya. Eh? Dia bilang apa barusan? Aku bisa melakukannya? Aku tidak salah mendengar, kan? Tidak! Tidak! Tidak! Tenangkan diri wahai diriku, jika aku melakukannya maka akibatnya akan sangat buruk. Meskipun dia membuka gerbang sekalipun, kau tidak boleh masuk. Ini adalah Honey Trap. “Bolehkah?” Ah!!!! Kenapa aku malah mengatakannya?!! Jujur tidak terlintas di pikiranku untuk mengucapkan kata itu. “Um! Kau boleh melakukannya,” suara yang lembut malu-malu itu malah terkesan menggoda. Kuhhh! Rya benar-benar menabuh jantungku, sekarang debarannya menjadi lebih kencang dari biasanya. Tapi karena Rya telah mengatakan aku boleh melakukannya, maka sebagai seorang pria sejati. Aku tidak boleh mundur! “Kalau begitu... Aku akan....” Berbalik dan melihat semuanya. Splash!!! Saat aku berbalik Rya mencipratkan air dari kedua tangannya yang menadah, lalu dengan wajah yang memerah dia mengatakan... “Eishi... M3sum!” dengan pakaian yang sudah lengkao dia pergi keluar secepatnya. Ah... Aku benar-benar di kerjai oleh Rya. Gadis itu, dia memiliki banyak sisi lucu dalam dirinya. Lebih baik aku segera membasuh tubuhku dan segera keluar, hari ini kami akan segera berangkat dari kota ini. Mungkin sore nanti kami baru bisa sampai ke Kerajaan Palapis. **** Kami pergi sarapan di pagi hari, ntah kenapa... Rya yang selalu ingin dekat denganku, sekarang malah dia sedang menjaga jarak denganku. Apa akhirnya pesonaku di Nerf oleh Dewa Garileon? Yang benar saja. “Nak Rya, Eishi duduk di sana, dan kenapa kau malah ingin duduk di samping Pamanmu?” kata Paman Bern. “Haha... Paman, mungkin semalam Eishi tidak memperlakukan Rya dengan baik, jadi Rya kesal padanya,” jawab Lyod. “Kepala Desa, jika anda memaksa seorang gadis, maka mereka tidak akan senang. Rayu mereka perlahan, maka mereka... Pelan-pelan akan datang ke pangkuan anda.” “Kalian dengar itu apa kata guru? Karena dia mempunyai seorang istri yang cantik maka kalian harus mendengarnya. Mungkin kalian akan segera melepas status lajang kalian,” ucapku pada Torn dan Lyod. “Ehm ehmm! Tuan Ichigaya... Apakah saya mengganggu waktu sarapan anda?” kata Torso yang tiba-tiba masuk ke dalam pembicaraan kami. “Torso, ada apa?” “Tuan... Seorang Earl yang bertanggung jawab atas Kota Tarsa ini ingin menemui anda. Anda bisa berbicara dengan beliau di ruangan yang telah di sediakan oleh kami.” “Baiklah, sebentar lagi aku selesai dengan sarapanku, aku akan segera kesana.” “Baik Tuan, saya akan segera menyampaikannya pada Tuan Balezza.” Kemudian Torso pergi ke atas. “Kepala Desa? Apa saya perlu ikut dengan anda?” “Tidak Hathor, aku akan pergi sendiri.” “Tapi Kepala Desa, kita tidak tau niat apa yang di bawa oleh seorang Earl itu.” “Niat seseorang akan terlihat lebih jelas saat mereka merasa lebih kuat. Jadi biarkan dia merasa kuat dengan aku yang hanya datang sendiri. Tapi sebagai gantinya, aku ingin kau memiliki benda ini,” kataku sambil memberikan sebuah Rune pada Hathor. “Kepala Desa, ini...” “Itu adalah sebuah Rune, aku sudah mengaturnya untuk mengeluarkan cahaya dan juga bergetar saat mantranya di picu. Apa yang aku pegang adalah mantra yang akan memicu rune itu aktif,” jawabku sambil memperlihatkan sebuah kertas yang sudah aku isi dengan mantra. “Jika aku menyobek kertas ini maka mantranya akan bekerja dan benda itu akan memberikan sinyal dengan bergetar. Tandanya aku sedang dalam masalah. Setelah itu Hathor akan langsung mengetahui lokasi dimana aku berada, dengan menggenggam benda itu, sebuah peta lokasi akan dikirim langsung ke pikirannya. Begitulah aku mengatur cara kerja Runenya.” “Apa kalian paham?!” tegasku. Semuanya mengangguk dengan wajah yang sangat serius. “Baiklah semuanya, sekarang dengarkan aku. Apa yang membawa seorang Earl datang untuk menemui kita? Kita bukan satu-satunya pendatang yang berkunjung ke kota ini, banyak rombongan lain yang juga datang kemari.” “Tapi kenapa Earl ini mendatangi kita? Itu karena dia tertarik dengan sesuatu yang kita bawa. Sepeda kita, mungkin dia datang untuk itu. Sekarang Torn dan Lyod... Kalian temani Paman Bern untuk pergi ke kandang kuda. Amankan barang kita, kupercayakan barangnya dan keamanan Paman Bern di tangan kalian,” imbuhku. “Kalian sudah paham dengan rencananya, kan?” “Serahkan pada kami, Eishi.” “Kepala Desa, saya Hathor akan selalu bersiaga.” “Eishi, hati-hati!” sambil memegang tanganku Rya mengucapkannya dengan wajah cemas. *** Aku pergi ke lantai atas tempat Torso terakhir kali terlihat. Ada sebuah ruangan terbuka di depan, dan aku melihat Torso berdiri di dalam tepat di samping seseorang dengan baju yang terbuat dari kain sutra. Aku ragu apa itu benar-benar sutra, tapi yang kulihat kainnya terlihat halus dan benar-benar mewah. Mungkin dia adalah Earl Balezza yang di maksud oleh Torso. “Selamat pagi Tuan Earl,” sapaku dengan ramah dan juga sopan. Ah... Aku merasakan adanya niat buruk dan ternyata benar, di balik pintu ini berjajar sekelompok prajurit yang tampaknya kuat. Untungnya sebelum melewati pintu aku sudah mengaktifkan pembuka informasi. Rata-rata level orang yang berdiri di balik pintu hanya 33, tingkatannya setara dengan levelku. Tapi menghadapi orang sebanyak ini, aku masih ragu apakah aku bisa menang. Terlebih... Aku hanyalah pemula dalah hal bertempur, sedangkan mereka pasti memiliki banyak pengalaman, sepertinya ini akan menjadi pembicaraan yang cukup sulit. “Selamat pagi Tuan Ichigaya, ku dengar kau adalah seorang Kepala Desa? Apa kau menyandang gelar seorang Baron? Bahkan Baron pun tidak akan berani membuat Earl sepertiku menunggu. Tapi kau terlihat seperti pemuda yang sangat tangguh,” ujar Earl Balezza yang lalu menyilangkan kakinya mencoba bersikap angkuh. Baru bertemu tapi orang ini sudah ingin memperlihatkan perbedaan status di antara kita, berusaha menekanku dengan itu? Sepertinya orang tua ini belum cukup dengan memperlihatkan prajuritnya saja. “Maaf Tuan Earl, tapi sarapan itu sangat penting. Saya tidak akan bisa berdiskusi dengan baik jika saya belum sarapan. Apa menunggu barang semenit membuat anda tersinggung? Ayolah, anda seorang Earl. Tunjukkan sedikit kemurahan hati anda.” “Hahaha... Pemuda yang sangat angkuh rupanya. Berapa usiamu, Tuan Ichigaya?” “Baru tujuh belas tahun. Bukankah saya cukup dewasa untuk berbicara secara luwes dengan anda, Tuan Earl?” “Tujuh belas tahun, ya? Masih sangat muda, meskipun kau bisa di anggap dewasa, tapi tetap saja kau masih belum matang, Nak. Kau masih harus memperhatikan cara bicaramu itu, atau sebelum kau benar-benar dewasa, kau tidak akan melihat kapan hari itu akan tiba.” “Terima kasih Tuan Earl. Tapi saya akan hidup seratus tahun lagi dan seratus tahun berikutnya. Hari dimana saya menjadi dewasa, saya akan melihatnya dan mengenangnya dengan baik. Jadi... Kita lompati saja pembahasan ini, dan mari kita bicarakan pembahasan pertama kita.” “Anakku seusiamu, tapi dia tidak pandai bicara sepertimu.” “Tuan Earl, saya seorang pedagang, saya bepergian ke berbagai macam tempat untuk berkomunikasi dengan orang-orang. Berbicara adalah pekerjaan saya.” “Karena kau seorang pedagang, aku ingin membahas jual beli denganmu. Sebenarnya karena alasan inilah aku kemari. Aku tertarik dengan benda bergerak yang kau bawa ke kotaku. Sebutkan harganya, dan aku akan membelinya sekarang juga.” “Maaf Tuan Earl, tapi saya rasa saya tidak bisa menjual benda yang anda maksud. Benda itu bukan salah satu dari dagangan kami, saya membawanya karena alat itu membantu saya meringankan pekerjaan saya, jika anda membelinya saya akan kerepotan disini.” “Baiklah, aku setuju dengan harganya. Kau meminta tujuh ratus koin emas, maka akan aku berikan tujuh ratus koin emas.” Apa yang di omongkan oleh orang tua sombong ini? Bukankah aku sudah mengatakannya dengan sangat jelas bahwa aku tidak akan menjualnya. Apa telinganya bermasalah? “Tuan Earl, saya tidak menjualnya,” tegasku sekali lagi. “Tentu saja, jika kau mau seribu koin emas, kau juga akan mendapatkannya.” Kenapa dia masih memberikan harga? Apa orang ini berniat tawar-menawar denganku? Sudah kubilang aku tidak menjualnya. “Tuan Earl...” Aku berdiri dan para prajurit yang menunggu bersamanya di dalam ruangan bersamaku mulai bergerak memegang pegangan pedang mereka. Seperti dugaanku, tidak ada yang baik untuk negosiasi ini. Tapi... Aku hanya bisa tersenyun untuk mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD