Kota Tarsa

1722 Words
Aku sudah melihatnya di map, akhirnya... Sudah sampai di kota terakhir sebelum benar-benar sampai ke Kerajaan Palapis, Kota Tarsa. “Kita akan berhenti di sini, sebentar lagi akan gelap. Meskipun kita sudah dekat dengan tujuan kita, akan sangat berbahaya melanjutkan perjalanan di malam hari,” ujarku. “Baiklah, Nak. Kalau begitu aku akan membantumu menyewa penginapan.” “Terima kasih Paman Bern, tolong ya.” “Hahaha... Tenang saja, khusus kau dan Rya aku akan mencarikan kamar yang nyaman. Sebaiknya kalian segera menikah ketika pulang nanti, ya!” ujar Paman Bern sambil berjalan menjauh pergi. Aishh, orang tua itu. Kenapa banyak sekali orang yang tiba-tiba berkumpul? Ada apa? Apa mungkin kami tidak di sambut memasuki kota ini? Benar! Ada yang aneh, tidak ada penjaga yang menjaga di depan gerbang kota. Biasanya kota besar selalu memilikinya, tapi tidak ada pemeriksaan untuk kami. Ini aneh, dan orang-orang ini... Kenapa mereka berkumpul mengelilingi kami. “Benda itu memiliki roda yang aneh, tidak terbuat dari kayu melainkan dari besi. Apakah itu tidak membuat kuda yang menariknya merasa keberatan?” “Apa kau lihat benda yang di tunggangi kedua orang itu, benda itu memiliki roda seperti kereta, namun tidak di tarik oleh kuda. Bagaimana benda itu bergerak sejauh ini?” Rupanya sepeda dan kereta yang kami gunakan mengundang rasa penasaran warga kota ini. “Dari mana mereka berasal? Bagaimana cara mereka menciptakan benda-benda itu?” Bagiamana ini? Apa aku harus menanggapi mereka? Rasanya tidak begitu nyaman untuk menjadi pusat perhatian. “Maaf semuanya, kami harus segera pergi. Bisakah kalian memberikan kami jalan?” ujarku. “Permisi!” Aku mulai mengayuh sepedaku perlahan, kemudian Torn juga mengikutiku. Setelah itu orang-orang yang berbaris di depanku mulai memberikan jalan. Hathor segera memerintahkan kudanya untuk bergerak dan berjalan di belakangku. Orang-orang ini terus mengikuti kami, kami di arak seperti iring-iringan pengantin di sepanjang kota. Semakin lama orang yang mengikuti pun semakin banyak. Kurasa... Kami sudah membuat sebuah kekacauan kecil. “Eishi, Orang-orang ini membuatku tidak nyaman,”ucap Rya yang kemudian memeluk erat tubuhku. “Tenang saja, Rya. Orang-orang ini bukan memiliki niat buruk, mereka hanya penasaran dengan sepeda yang kita tunggangi. Tidak akan ada sesuatu yang buruk,” ucapku menenangkannya. “Lihat, itu di depan ada Paman Bern, dia melambai untuk kita, sepertinya dia sudah menemukan penginapan yang bagus. Nona Pemilik Penginapan, bagaimana kalau kau menilai bagaimana penginapan itu?” gurauku. “Nak Eishi, simpan keretanya di belakang. Ada seorang pria tua bernama Gugul yang bertanggung jawab untuk mengawasi kereta juga kudanya, mungkin sepedamu juga bisa di simpan disana,” ujar Paman Bern. “Baiklah, Paman. Terimakasih! Hathor, Torn dan Lyod ayo kita ke belakang!” **** Kurasa aku tidak perlu memikirkan tentang kereta dan sepedanya, di belakang ada sebuah gudang yang tertutup dan memang di khususkan untuk menjadi bagasi. Orang-orang di kota mungkin juga tidak bisa melihat sepeda itu walaupun memaksa karena gudangnya adalah properti pribadi. “Selamat datang di Penginapan Kota Tarsa!” sapa Pelayan pria yang bertanggung jawab untuk menerima tamu dengan ramah. “Kalian pasti rombongan yang datang bersama dengan Tuan Bern, apakah tuan-tuan ingin saya membawakan barang-barang anda?” “Tidak perlu Tuan...” “Ah! Nama saya Torso. Panggil saja Torso tanpa imbuhan tuan, jika anda menyebut Torso, saya akan datang dan segera melayani anda sekalian dengan baik,” kata Pelayan yang bernama Torso. “Terima kasih, Torso. Kami akan mengandalkanmu untuk melayani kami.” “Bagaimana dengan menunjukkan kamar yang di pesan oleh Paman Bern untuk mereka bertiga,” imbuhku sambil menunjuk pada Ton, Lyod dan juga Hathor. “Baik Tuan Ichigaya, Tuan Bern sudah memberi tahu nama anda, anda adalah seorang pria muda tampan dengan rambut dan mata hitam pekat, persis seperti yang di katakan oleh Tuan Bern. Dan ini pasti... Nyonya Ichigaya. Rya bukan?” Rya mengangguk dan tersipu malu saat dirinya di panggil Nyonya Ichigaya. Terkadang ada kalanya dia terlihat polos. Sisi pencemburunya itu yang membuatku terkejut beberapa waktu lalu. “Paman Bern, apa menurutmu keadaan di kota ini tidak terlalu ganjil?” “Em... Pasti kau membicarakan tentang kota ini yang tidak di jaga oleh penjaga gerbang, bukan?” “Aku sudah membicarakannya dengan Torso karena aku pun juga penasaran dengan hal itu. Dia bilang di sini kota yang bebas, semua orang bisa keluar masuk ke kota ini. Tapi... Kota ini sangat jarang terdengar berita tentang kejahatan, itu karena ada sebuah satuan penjaga yang langsung bertindak ketika ada keributan kecil terjadi, bahkan kau akan jarang menemui percekcokan di kota ini.” Ah... Sesuatu seperti polisi, kah. “Karena orang bebas dengan mudah keluar masuk kota, Kota Tarsa ini bagus untuk para pelancong yang hanya sekedar ingin singgah sebentar,” imbuh Paman Bern. Hathor, Torn dan juga Lyod turun setelah mengemasi barang mereka. “Bagaimana kamarnya?” “Luar biasa, sangat nyaman. Kenapa kau menanyakan itu Tuan Eishi? Apa Tuan dan Nyonya Eishi tidak sabar untuk mencoba ranjangnya?” goda Lyod. Kelihatannya pembalasanku terakhir kali masih kurang, seandainya aku tau orang di desa yang mendengkur lebih keras jika di bandingkan dengan Paman Bern, maka aku akan membuat Lyod menginap dengannya selama seminggu. “Tuan dan Nyonya, bagaimana dengan makanan untuk mengisi perut kalian setelah perjalanan? Mari ikuti saya ke restoran di tempat ini.” Kami mengikuti Torso untuk pergi ke Restoran atau ruang makan yang di sediakan oleh penginapan untuk para tamu. “Rya, karena kita punya kesempatan untuk makan masakan dari daerah lain, kenapa tidak mencobanya? Mari pergi!” sambil menggandeng tangan Rya aku mengatakannya. Kalau sekarang kira-kira kita sudah terlihat seperti pasangan sungguhan tidak, ya? “Bagaimana kalau Nak Eishi dan Nak Rya pergi makan ke tempat lain saja, apa semenyenangkan itu bergabung dengan om-om tua seperti kami,” ujar Paman Bern. “Paman, aku dan Torn tidak setua itu, tau.” “Tidak perlu paman, karena kita satu keluarga, kita harus makan bersama. Tidak ada nikmat yang lebih besar di bandingkan dapat berkumpul dengan keluarga,” ujarku. “Torso, tolong ambilkan Barel minuman kosong kalau ada. Hathor tidak bisa duduk di kursi biasa. Kasihan dengan kursinya nanti.” “Baik Tuan Ichigaya, Torso ini akan mencarikannya.” “Terima Kasih!” balasku. Karena ini adalah kali pertama Rya bepergian ke luar desa, kuharap dia bisa menikmati waktunya dengan baik. “Ini namanya adalah Suandhe, sup daging yang di campur dengan beberapa sayur di dalamnya, kuahnya segar dan dagingnya juga lembut. Di nikmati di malam hari dengan b1r sangat enak, di jadikan sarapan pun rasanya tidak masalah,” kata Paman Bern. “Kau benar, sesekali ada sensai renyah ketika daging dan sayurnya kau gigit secara bersamaan,” sahut Torn. “Sebagai makanan orisinil untuk kota ini, kurasa Suandhe ini enak.” “Tapi kentang goreng buatan Eishi lebih enak dari ini, apalagi kalau dia membuatkan saus tomat spesialnya. Kurasa tidak ada makanan di dunia ini yang bisa di bandingkan dengan Kentang Goreng milik Eishi,” kata Lyod. Itu saus tomat yang biasa padahal, mereka belum tau jika sausnya di buat pedas rasanya akan menjadi lebih nikmat. Tapi di dunia ini aku sama sekali belum menemukan cabai. Mungkin aku akan mendapatkan bahan itu suatu saat ketika aku pergi berpetualang ke tempat lain lagi. “Rya, wajahmu tampak sedih, kenapa? Apa kau tidak suka dengan makanannya? Apa itu tidak sesuai dengan seleramu?” tanyaku yang tidak sengaja melihat wajah Rya yang sayu. “Tidak, Eishi. Bukan begitu, makanan disini enak. Hanya saja aku teringat dengan Tuare, dia juga belum pernah bepergian ke luar desa, aku ingin suatu saat... Dia juga bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini,” jawab Rya dengan mata yang berkaca-kaca. “Baiklah, lain kali saat kita akan pergi ke luar desa, kita ajak Tuare pergi bersama kita.” Rya kemudian tersenyum. Tapi aku sudah memikirkan ini beberapa hari yang lalu, sebelum aku menikahi Rya, alangkah baiknya jika dia menemukan teman tidur lainnya, dan Tuare adalah kandidat terbaiknya. Kalau di pikir-pikir, semakin malam tempat ini semakin ramai dengan pengunjung. Sangat berbeda dengan Penginapan Bulan Bintang di desaku. Namanya juga kota besar, sebenarnya aku iri melihat pemandangan di kota ini yang begitu hidup walaupun di malam hari, membuatku merasa berbeda dan membuatku merasa kecil. Jika di bandingkan dengannya, aku merasa masih belum apa-apa. Tapi rasa iri ini tidak membuatku berkecil hati, suatu saat nanti desaku akan menjadi kota yang bahkan lebih gemerlap di bandingkan dengan Kota Tarsa ini. “Torso, tolong bawakan kami b1rnya,” ujar Paman Bern. “Sebelum kita tidur nyenyak malam ini, mari kita semua minum-minum. Terutama kau, Nak. Kau yang paling berhak menjadi pencicip minuman kita pertama kali. Sudah seharusnya seorang peminpin yang membuka pesta ini,” sambung Paman Bern. “Kepala Desa, Paman Bern benar. Anda duduklah dan temani kami minum-minum terlebih dahulu.” “Ayolah Eishi, sebelum kita berangkat besok pagi. Mari kita adakan pesta malam ini!” Itu terserah kalian saja, karena pada dasarnya... Pemuda di bawah umur sepertiku mana boleh minum-minum, sebaiknya kalian para om-om yang menghabiskan minuman itu. Tapi aku mengendus niat terselubung Paman Bern, rasanya dia ingin membuatku mabuk agar nanti malam aku melakukan hal-hal yang aneh pada Rya secara tidak sengaja. Jangan-jangan Paman Bern di bayar oleh Paman Jerome untuk mendekatkan kami?! “Maaf Tuan-Tuan, tapi aku harus mengantarkan Rya untuk beristirahat, dia akan gelisah jika di tinggal sendirian di kamarnya.” “Eishi, tidak apa-apa. Sebaiknya kau nikmati saja malammu.” “Aku juga bisa menikmati malamku bersamamu, kan?” “Woahh... Apa itu adalah bentuk rayuan dari seorang Eishi? Dia meminta Rya untuk menikmati malam bersamanya? Ada apa ini? Eishi... Kuharap kau berhati-hati, hubungan yang dilakukan sebelum pernikahan itu di larang.” “Oy Torn, aku sedang tidak memikirkan hal-hal kotor.” “Ayo Rya, semakin malam kumpulan Paman ini akan mulai mengatakan hal-hal aneh, sebaiknya kita biarkan mereka membicarakannya sendiri,” imbuhku sambil mendorong Rya menuju kamar yang telah di pesankan oleh Paman Bern. *** Mengejutkan, jika di lihat dari luar, ukuran kamarnya berbeda dengan kamar-kamar yang berada di koridor yang aku lewati. Yang ini lebih besar, apa jangan-jangan ini adalah kamar vip yang di sewa Paman Bern? Apa orang tua itu berpikir ini adalah malam pertama kami? Dasar... “Rya aku akan membuka pintunya.” Saat ku buka, ternyata kamar ini besar karena memiliki dua ranjang yang berbeda, letaknya juga cukup berjauhan. Haha... Kelihatannya Paman Bern tidak memeriksa bagian ini. Rencana yang kau gunakan untuk membuatku tidur bersama Rya, nampaknya gagal, Paman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD