Rasanya memang ingin tinggal sedikit lebih lama di desa, tapi tidak ada pilihan lain selain berangkat lagi. Waktunya sudah tidak banyak lagi, aku harus pergi.
Jangankan beristirahat, aku hanya punya waktu untuk mengambil baju ganti di Penginapan, setelah berpamitan pada Rya dan yang lainnya, aku dan Hathor meninggalkan desa dengan kereta barang.
“Kepala Desa, anda boleh tidur di dalam kereta jika anda ingin beristirahat.”
“Tidak apa, aku tidak kelelahan, kok.”
“Anda yakin tidak sedang memaksakan diri?”
“Aku tidak pernah memaksakan diri dalam melakukan sesuatu, terlebih untuk mereka para warga. Kau tidak perlu khawatir.”
“Baiklah kalau begitu,” jawabnya yang kemudian mempercepat laju kudanya.
Karena tidak perlu mengimbangi kecepatan dengan sepeda lagi, kereta yang di kendarai Hathor melaju begitu cepat. Perjalanan kami terasa menjadi lebih singkat.
“Kepala Desa, anda mengatakan untuk melaju ke barat. Memangnya kemana kita menuju, anda sama sekali belum mengatakan nama daerah yang akan kita kunjungi. Apakah itu sebuah Kerajaan?”
“Tidak, daerah yang akan kita tuju ini hampir sama seperti desa kita Nimiyan. Daerah ini adalah daerah independen lainnya, wilayahnya tidak di akui sisi oleh Kerajaan manapun, namun wilayah ini tidak mengakui dirinya sebagai sebuah Kerajaan.”
“Kerena wilayahnya yang terlalu kecil, maka akan sangat sulit mendapatkan pengakuan dari Kerajaan Lainnya. Itu sebabnya daerah ini hanya menjadi wilayah Independen, Kota Damaa. Sebuah wilayah yang menjadi jalur penghubung Lima Kerajaan.”
“Kota Damaa, saya belum pernah mendengarnya.”
“Kalau begitu kau harus melihatnya sendiri. Kota Damaa memiliki sesuatu yang menarik tentangnya, di kota ini tidak akan ada pertikaian antar kerajaan. Walau sebenarnya Kerajaan-kerajaan ini saling bersih tegang.”
“Kau akan bisa melihat bagaimana orang-orang yang mulanya saling bermusuhan akan bertegur sapa di kota tersebut, menarik bukan?”
“Anda tau banyak soal tempat itu, Kepala Desa. Apakah anda pernah pergi kesana sebelumnya?”
Haha... Sebenarnya aku tau tentang hal ini karena membaca peta pada sistem ku. Saat ku tekan titik yang menyatakan wilayah kota Damaa, aku tidak menyangka akan ada penjelasan mengenai kota itu. Jadi aku membacanya sampai akhir.
“Pokoknya alasan kita kesana adalah karena disana ada salah satu kelompok dagang terbesar. Dan kelompok ini pasti sangat tahu dan menyimpan banyak informasi tentang kelima kerajaan. Bagaimanapun informasi berkutat di tempat itu, jika kita mendapatkan relasi dengan kelompok ini, mungkin kita bisa tahu beberapa informasi juga.”
Pada lokasi yang terdapat pada peta, titik yang tergambar sama dengan gambar lokasi milik Guild dagang kota Irishe. Ternyata ada beberapa titik pada peta yang di gambar menggunakan simbol yang serupa.
Satu petunjuk itu yang membuatku mengatakan dengan yakin kalau sebenarnya simbol itu menandakan Grup Dagang yang ada di Dunia Khartapanca ini.
Cara penggambaran pada peta juga tidak jauh berbeda dengan yang ada di game Open World, meskipun keterangan simbolnya tidak di tulis, tapi jika kita sudah memahaminya maka akan mudah.
“Baiklah Hathor, sebaiknya kita berhenti dulu. Hari sudah mulai gelap dan kuda-kuda tidak bisa di paksa untuk terus berlari seperti ini,”
“Aku cukup terkejut kita bisa secepat ini, sebenarnya kita sudah pergi sejauh seperempat pejalanan. Mungkin dalam dua hari kita akan sampai di Kota Damaa, jika kita terus mempertahankan kecepatan ini,” imbuhku.
“Baiklah, kalau begitu kita akan terus mempertahankan kecepatannya. Semakin cepat kita sampai semakin cepat anda bisa beristirahat.”
“Tapi sebelum itu kau harus membiarkan kuda-kudanya beristirahat terlebih dahulu, kondisi mereka lebih mengkhawatirkan dibanding dengan kondisiku.”
“Kalau begitu saya akan mencari air untuk kuda-kuda ini. Jika ada sesuatu anda bisa memberikan sinyal pada saya, Kepala Desa.”
Baiklah, ku harap Hathor segera menemukan sungai di sekitar daerah ini. Sebaiknya aku membuat api. Tunggu dulu, biasanya kan Hathor yang membuat api, dia memiliki elemen api sedangkan aku tidak.
Ya... Biarlah, lagipula sebagai seorang Champion yang tugasnya menciptakan barang-barang. Membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada itu adalah tugasku.
Aku tinggal memikirkan sebuah pemantik. Mungkin tidak akan memakan begitu banyak Mana, lagipula ini hanyalah sebuah Pemantik.
“Fogging Brain!”
Yes! Korek di dapatkan. Tapi... Menempa menggunakan Skill Fogging Brain sama sekali tidak menambahkan Point Experience. Tidak mungkin naik level dengan cara ini, Exp hanya bisa di dapatkan jika aku menempa menggunakan alat Ilahi pemberian dari Dewa Garileon.
Setidaknya aku tidak perlu memutar-mutar kayu atau memukul batu untuk mendapatkan api.
Karena Kereta yang kita tumpangi ini kosong, kita bisa menggunakannya sebagai tempat untuk berteduh. Tidur di dalam kereta ini tidak begitu buruk juga.
Aku membawanya hanya sebagai alibi agar tidak ada seorangpun curiga, tidak mungkin aku menyimpan banyak benda hanya dengan kantong, bukan? Kentang yang ku jual tidak lah sedikit, Orang-orang akan berpikir bagaimana aku membawa benda sebanyak itu tanpa kereta. Dan hal ini bisa menimbulkan masalah untukku.
“Hathor cukup lama juga, apa dia tidak bisa menemukan sungai di manapun? Seharusnya aku membuka map ku dan memberitahunya arah agar dia bisa menemukannya lebih cepat. Ah... Kenapa aku tidak memikirkan hal itu, sih.”
Apa karena aku lelah dan membutuhkan waktu untuk istirahat jadi pikiranku menjadi kusut. Aku bahkan tidak sempat memikirkan soal map yang baru saja aku pikirkan saat berbincang dengan Hathor.
Ya ampun, sebaiknya aku tidur sebentar. Setidaknya ini bisa membantuku sedikit.
Krrakk!!!
Suara ranting terinjak? Apakah itu Hathor?
Tunggu dulu, meskipun sayup-sayup tapi aku yakin mendengar suara orang yang sedang berbisik.
“Show the Map!”
Aku belum sempat beristirahat, tapi sekarang aku tidak mungkin melupakan soal map. Aku baru saja memikirkannya.
Ah... Titik merah ini selalu menandakan bahaya. Kenapa harus sekarang? Kenapa saat tidak ada Hathor di sekitar sini.
Si4l, karena tadi aku mendengar suara bisikan, jadi tidak mungkin kalau itu monster atau binatang buas. Kemungkinan mereka adalah para Bandit.
Bahkan di tempat seperti ini?
Mereka hanya berjumlah delapan orang, aku dapat melihat titiknya. Tapi tanpa melihat orang-orang itu aku tidak akan pernah tahu berapa level kekuatan mereka.
Jika mereka selevel atau di bawahku aku mungkin bisa melawan mereka sendiri, tapi kalau sudah di atasku. Selain menyobek kertas sinyal aku tidak bisa memikirkan cara lain.
Meraka masih berada jauh dari sini, sebaiknya aku menyiapkan sebuah senjata jarak jauh. Meskipun aku memikirkan sebuah busur tapi itu tidak akan berguna. Aku sama sekali tidak bisa menggunakannya.
Aku memikirkan hal yang lebih mudah, memberikan serangan jarak jauh tentu bisa di lakukan dengan melempar benda.
Dulu di Jepang aku sangat mahir melempar bola baseball pada kaleng yang ku tata sendiri. Karena tidak ada teman bermain, aku biasa menghabiskan waktu untuk melempar benda.
Aku butuh senjata yang bisa di lempar, Shuriken atau Kunai... Atau mungkin sebuah Dagger.
“Fogging Brain!”
Baiklah, aku sudah menciptakan sebuah Dagger, meskipun aku tidak yakin bisa melemparnya dengan baik, tapi aku masih percaya pada kemampuan melemparku. Pastinya ini tidak akan jauh berbeda dari melempar bola. Ya, kan?
Tapi satu dagger saja tidak cukup, aku harus membuatnya lebih dari delapan. Aku tidak menjamin lemparannya akan kena. Jadi... Untuk jaga-jaga...
Si4l! Aku baru membuat empat buah dagger dan aku sudah kelelahan, nampaknya manaku sudah hampir terkuras semuanya.
Fogging Brain adalah skill yang lebih boros penggunaan Mana jika di bandingkan dengan sihir biasa.
Jika aku bisa mempelajari sihir, aku tidak akan susah-susah membuat sebuah dagger. Tinggal menciptakan sebuah sihir seperti Fire Ball atau Wind Cutter sebagai teknik serangan jarak jauh.
Pokoknya aku harus meminum Potion terlebih dulu untuk mengembalikan Manaku.
Sip! Aku sudah berhasil membuat sepuluh dagger. Aku akan keluar dan melihat seperti apa Bandit-bandit itu.
Aku keluar dari keretaku, aku melihat sekeliling dan juga melihat pada Map. Mereka tidak bergerak kecuali satu orang.
Aku tidak bisa melihat siapapun, sudah jelas mereka bersembunyi di antara pepohonan.
Lalu satu orang yang bergerak ini, dimana orang itu? Sudah jelas aku melihat titiknya pada map berada di timur, tapi aku tidak melihat apapun.
Hanya ada satu kemungkinan. Orang ini adalah Assasin, dia menggunakan Skill Stealth sehingga dia tidak terlihat oleh mataku.
Hehe... Sayang sekali ya, aku ini mempunyai Skill Map Hack yang bisa di andalkan.
Dia pasti lengah, dia pasti berpikir aku tidak menyadari kedatangannya. Itu artinya...
Ini adalah kesempatanku untuk menyerang!
Aku melemparkan daggernya tepat di mana titik merah itu bergerak. Benda yang mirip seperti pisau itu melesat secepat anak panah mengarah pada Assasin itu.
Tapi kemampuan Assasin ini rupanya tidaklah buruk, dia menangkap dagger itu dengan sebelah tangannya, dan Skill Stealthnya pun terbatalkan dengan paksa.
“Wah... Wah... Padahal aku sudah mengendap-endap dengan sempurna. Kebanyakan orang tidak akan menyadari keberadaanku. Aku dikenal dengan Nama Flyn si Tangan Berdarah yang tidak terlihat, tapi kau mampu melihatku. Tampaknya kau adalah seseorang yang memiliki kemampuan tingkat tinggi,” ujar Assasin yang mengakui namanya sebagai Flyn itu.
Kemampuan tingkat tinggi? Tidak, aku tidak merasa seperti itu. Jika kau membicarakan seseorang dengan kemampuan tingkat tinggi, kau bisa melihat Hathor. Sangat di sayangkan bagimu tidak mampu melihat seberapa tinggi levelku, sedangkan aku dapat dengan mudah melihat levelmu, Flyn.
Di bilang mempunyai kemampuan tingkat tinggi, kau terlalu berlebihan. Yah... Tapi levelku lebih tinggi darimu sih.
“Tapi meskipun kau menyadari keberadaanku, kau tidak akan pernah menyadari kematianmu yang sudah dekat bukan? Bagaimana jika kau mengatakan padaku caramu mengetahui keberadaanku? Mungkin aku akan membiarkanmu pergi dan hanya mengambil barangmu saja, aku akan mengurungkan niatku untuk membunuhmu.”
Eh... Jadi orang ini berniat langsung membunuhku, kah. Di banding dengan para Bandit Bajra, mereka ini kelompok yang lebih merepotkan ya?
“Kau yakin jika aku mengatakannya kau akan membiarkan aku pergi?”
“Tentu saja,” balas Flyn dengan senyum yang terlihat licik.
“Baiklah, kalau begitu aku akan mengatakannya. Kuda-kuda ini dan keretanya, serta barang-barang yang ada di dalamnya tidak seberharga nyawaku. Jadi aku tidak punya pilihan lain yang lebih bagus.”
“Ternyata kau bijak juga, sekarang katakan bagaimana caramu melakukannya. Itu akan menjadi pelajaran untukku agar aku tidak membuat kesalahan yang sama saat mengendap-endap.”
“Rumput yang kau injak itu, apa kau tidak menyadarinya? Saat kau menginjaknya kau membuat sebuah jejak kaki, bagaimana jejak kaki bisa tercipta sendiri tanpa ada seseorang yang menginjaknya,” jawabku.
“Benar juga, kau cukup pintar bisa melihat hal seperti itu, berkat penglihatanmu yang teliti kau menyelamatkan nyawamu.”
“Tapi itu baru saja...”
Kemudian Flyn menggunakan Skill Stealthnya lagi dan menghilang dari pandanganku.