Penyihir angin Simus

1535 Words
Para prajurit yang ada di dalam ruangan itu bergerak, mereka mengincar tangan dan juga kakiku. Tapi apakah memang semudah itu, ha?!! Clang!!! Senjata yang bentuknya seperti kapak itu berbenturan dengan pedang yang ku pegang. Jika serangan seperti ini saja aku tidak bisa menahannya, maka aku akan mempermalukan nama guruku. Serangan mereka mudah terbaca, itu karena aku sudah tau apa yang mereka incar, selama aku bisa menghadang lintasan serangan ke arah kaki dan juga tanganku, pastinya aku akan baik-baik saja. “Kadeena! Pakai ini untuk menutupi hidung dan mulutmu,” ucapku sambil melemparkan sebuah masker yang ku ambil dari tas pengalihan. Kadeena menangkap itu tapi gadis itu malah kebingungan. Ah... Merepotkan sekali, karena di dunia ini tidak ada masker sama sekali aku harus menunjukkan cara menggunakannya. Sial! Prajurit itu malah mendekat... Prajurit itu langsung mengarahkan kapaknya pada tanganku, dia mengayunkannya dengan kuat hingga cukup untuk membuat lenganku putus. Tapi kesadaranku akan hal ini sudah cukup terasah, jika di bandingkan dengan tekanan yang di berikan oleh Hathor, serangan orang ini tidak sebanding dengan latihanku! Swussh! Aku berhasil menghindarinya hanya dengan menunduk, tak sampai di situ aku langsung menjegal kaki sang prajurit hingga dia terjatuh. Ini adalah kesempatanku! Aku segera berlari ke arah Kadeena dan memasangkan masker itu dengan benar ke wajahnya. Wajah Kadeena tersipu ketika kami berdekatan, ah... Sepertinya aku baru saja mengaktifkan kutukanku. Dewa Garileon, bagaimana bisa aku begitu tampan? Melihat satu rekan prajurit Baghi terjatuh membuat prajurit lainnya pun ikut tergerak menyerangku. Mereka semua maju bersamaan, bagus! Mereka sama sekali tidak membuatku gentar, malahan... Inilah yang aku incar! Ku lemparkan pada mereka sebuah kantung kecil, prajurit yang berada di depan bingung dengan benda yang ku lempar ke arahnya, berniat untuk menangkis benda itu, dia malah memukulnya seperti seorang pemain baseball. Bukannya terlempar jauh, benda itu malah meledak. Ya! Karena aku merancangnya begitu, kantung itu terbuat dari kain yang mudah rusak karena sebuah tekanan, di dalamnya berisi sebuah bubuk ajaib yang ku dapat dari sebuah tanaman bernama Bhong. Poof!!! Serbuk yang seperti asap itu bertebaran kemana-mana. Sesuatu yang mengandung Chloroform, itu adalah senyawa yang sifatnya seperti obat bius, benda itu biasa di gunakan oleh dokter untuk melakukan anestesi, karena begitu kuat... Bahkan orang dewasa seperti mereka pun akan lemas, pingsan tak berdaya. “Serbuk! Serbuk apa ini?!” “Sial! Aku tidak bisa melihat apapun.” Gubrak!!! Seseorang jatuh satu persatu, yosh! Efeknya sekuat yang aku harapkan. “Oy! Apa yang terja..” para prajurit Souran Baghi mulai berjatuhan. “Tuan! Sepertinya serbuk yang seperti asap itu tidak baik, mari menjauh untuk menghindari situasi yang tidak kita inginkan,”kata Simus. Simus dan Souran Baghi pun melompat ke atas, mereka berdiri di sebuah lantai yang tidak terkepung oleh asap yang membeludak di tempat melingkar ini. Beberapa orang di dalam asap sepertinya memiliki ketahanan Chloroform, mengejutkan. Ntah mereka memilikinya atau mereka hanya menutup hidung semua itu tidak penting. “Kadeena, ini adalah kesempatan kita untuk menjatuhkan mereka!” seruku. “Tapi Kepala Desa, aku sama sekali tidak bisa melihat dimana mereka, hidungku juga tidak dapat mencium apapun. Aku bisa mendengar sedikit langkah kaki dan suara orang-orang mulai berjatuhan, tapi aku kesulitan memastikannya,” kata Kadeena. “Begitu, ya? Kalau begitu apa boleh buat!” Aku langsung menerjang ke depan, ku pegang teguh pedangku dan tanpa ragu aku mulai menebas orang-orang yang sudah separuh lumpuh itu. Bagiku, mengetahui posisi mereka sangatlah mudah. Meskipun kabut ini menghalangi pandanganku, tapi Bar Level dan Status musuhku akan selalu ada di atas kepala mereka. Selama aku bisa melihat itu, posisi mereka akan segera aku temukan. “Wahai engkau yang dapat menggerakkan semuanya, pemberi nafas juga kesejukan, wahai angin! Pinjamkanlah kekuatan untuk diriku ini! Pusaran angin!” ucap Simus. Sebuah bola angin di tembakkan seperti sebuah meriam dari atas, dia mengarahkannya di pusat kabut terbentuk. Syukurlah, jika sihir tadi mengenaiku maka akibatnya akan fatal. Tapi nampaknya tujuan orang itu bukan untuk menyerang, tapi menghilangkan semua kabut yang menyelimuti tempat ini. “Di habisi?” ucap Souran Baghi dengan wajah yang tertegun. Dia melihat ke arahku dengan perasaan sedikit cemas, saat aku mengusap pipiku, ternyata ada noda darah yang menempel. Ah... Apakah karena aku menebas para prajurit itu? Sayangnya karena terlalu banyak asap aku sama sekali tidak terlalu memperhatikannya. Bahkan tangan dan juga pedangku, bajuku pun kotor oleh noda darah. Aku sendiri pun takut melihat sosokku saat ini, mungkin Souran Baghi pun merasakannya. “Kepala Desa? Anda menghabisi semua prajurit seorang diri? Kuat! Anda sangat mengagumkan!” ucap Gadis Serigala itu dengan terkagum-kagum. Kadeena, bahkan kau sendiri pun mampu melawan mereka, level mereka tidak seberapa, jadi mereka bukan orang yang kuat. Hanya kelihatannya saja tubuh mereka besar dan kekar, tapi secara keseluruhan... Aku masih lebih kuat dari mereka. “Simus?! Dia masih hidup, bahkan dengan semua prajurit yang mengepung dan menyerangnya bersamaan,” kata Souran Baghi. Simus terlihat sudah terengah-engah. Apa karena sihir tadi dia sudah hampir kehabisan mana? Baiklah, waktunya untuk menggertak! “Simus! Lakukan sesuatu! Serang dia! Bunuh dia! Jangan biarkan orang itu mendekatiku!” kata Souran Baghi yang kemudian dia melompat ke belakang penyihirnya, Simus. “Tenang Tuan Souran! Saya pasti akan melakukan sesuatu!” tegas Simus. Simus hendak membuka mulutnya untuk merapal mantra. “Oy! Apa kau yakin ingin merapal mantra? Berpikirlah! Kau tadi berhasil merapal hanya karena para prajurit ini maju dan memberikanmu waktu. Sekarang mereka semua tumbang, kau pikit aku tidak bisa melompat dan menebas tenggorokanmu sebelum kau selesai merapal?” gertakku. “Simus?!!” “Maafkan saya Tuan Souran. Tapi terlalu beresiko bagi penyihir untuk bertarung dengan seorang petarung jarak dekat. Satu lawan satu? Orang itu tidak akan memberikan saya kesempatan untuk melakukan rapalan. Kita telah terpojok,” ucap Simus. “Jangan bercanda, sialan! Apa kau ingin pria itu datang dan membunuhku seperti dia membunuh para prajurit itu?! Simus!! Kau adalah seorang penyihir hebat! Kenapa kau menyerah begitu saja, ha?” Souran Baghi terus mendesak penyihir bernama Simus itu untuk melawan, akhirnya pria itu pun tidak punya pilihan lain selain turun dari lantai atas dan berhadapan denganku. Kadeena memanjangkan cakarnya dan bulu di ekornya mulai mengeras bagaikan jarum. “Kadeena! Biarkan aku melawan dia,” ujarku. Kadeena merespon dengan bersikap tenang, bulunya yang mengeras bagai jarum kembali ke bentuk halus, dan kukunya yang memanjang kembali ke bentuk semula. Kadeena kemudian melompat menjauh dari aku dan Simus. “Kau bisa saja meminta b***k manusia serigala itu membantumu,” ujar Simus. “Ya! Aku tau! Tapi aku menghargaimu karena kau berani turun dan menghadapiku secara langsung. Ini akan menjadi pertarungan satu lawan satu.” Simus tersenyun dan kemudian dia menunduk memberi hormat, “Terimakasih!” “Wahai angin, sang penggerak, menyejukan namun menghempaskan, menenangkan namun menekan, Hempasan Angin!” saat Simus membuka mulut untuk merapal mantra, bersamaan dengan itu kakiku tergerak untuk berlari mendekatinya. Namun nampaknya gerakanku masih kurang cepat untuk bisa mendekati orang itu dan membatalkan mantranya. Sebuah gelombang angin membentuk kipas menghujam dari arah Simus dan itu berhasil melemparkanku dengan cukup keras. Sudah kuduga! Sihir memang sangat keren, andai saja aku juga bisa melakukannya. Padahal sudah berpindah ke dunia pedang dan sihir, tapi aku masih belum bisa menguasai sihir sedikitpun. Gawat! Simus merapal sebuah mantra lainnya, padahal dia baru saja melancarkan sebuah serangan ke arahku, kali ini apa?! “Sabit angin!” seru Simus, kemudian angin yang di keluarkan oleh sihirnya itu membentuk sebuah sabit yang berputar dengan cukup cepat, sabit itu seukuran piring. Gerakannya cukup cepat, apalagi jumlah yang di keluarkan sebanyak lima, itu cukup membuat mataku pusing untuk mengikuti kemana perginya sabit angin itu. Ke lima benda itu bergerak tidak beraturan sehingga sulit di prediksi, tapi tujuan akhirnya pasti untuk melukaiku, kan?! Ctass! Kutangkis sabit angin itu satu per satu dengan pedangku. Serangan itu cukup kuat, rasanya seperti aku beradu pedang dengan ksatria lainnya. Kuhh! Aku hanya bisa memantulkan sabit angin itu saja, sihirnya sama sekali tidak menghilang. Sabit itu terus menyerangku dari berbagai arah. Melihat aku sibuk menangkis sihir anginnya, Simus mendapatkan sebuah kesempatan untuk merapalkan mantra yang lebih panjang. Aku melihat dia mengarahkan tangannya ke arahku, kemudian dia menyerukan jurusnya, “Panah Dewa Angin!” Sebuah skill ultimate, kah!!! Bagaimana menghindari sesuatu sebesar itu? Boom!!! “Kepala Desa!” seru Kadeena. Ahh! Yang tadi itu nyaris, tapi Simus berhasil melukai lenganku. Ini adalah pertama kalinya aku mendapatkan luka, sakit! Sialan... Kalau aku tidak menghindar bisa saja aku tewas terkena benda itu. Untungnya aku sempat melempar bom asap ke arah serangan Simus, sekarang tempat ini tertutup asap, Simus bisa saja menghilangkannya dalam sekejap seperti yang telah ia lakukan. Namun... Sepertinya dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk merapalkan sebuah mantra. “Uhukk! Uhukk! Uhukk! Kepala Desa?! Apa yang terjadi? Apa anda baik-baik saja? Aku tidak bisa melihat anda dimanapun, jawab saya! Kepala Desa?” Kadeena? “Open Information!” disana dia rupanya, aku harus pergi kesana tanpa membuat sedikitpun suara, kabut tebal ini memerlukan waktu untuk hilang, dan Simus sendiri membutuhkan waktu untuk mengisi Mananya kembali. “Kadeena! Ini aku!” ucapku dengan berbisik, aku merangkul gadis itu dan melompat ke atas sambil menggendongnya. Ku cari kunai peledak di ransel pengalihan yang ku buat, dan asap itu adalah... Sebuah senyawa yang mudah sekali terbakar, saat kunainya meledak, itu akan menjadi sebuah ledakan yang sepuluh kali lipat lebih besar. Maaf Simus, tapi kau harus mati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD