• Teknik Ancaman
Shatruva... Orang ini membuat banyak sekali kesalahan, tapi meskipun dia percaya diri dapat menipuku, meskipun dia yakin kalau telah mendapatkan kepercayaan dariku. Bagiku... Dia masih terlalu naif, mungkin tak hanya dia... Tapi seluruh orang di dunia Khartapanca ini.
Di dunia ini... Tak ada seorangpun yang dapat menipuku, meskipun dia memikirkan tentang jebakan, aku akan segera mengetahuinya. Kenapa? Karena aku tau bahasa sistem.
“Sebentar lagi akan ada tangga yang akan membawa Tuan Jajag dan Mukhi keluar, itu adalah arah barat. Kalau kalian berdua lurus mengikutnya, kalian pasti bisa keluar dari kota ini tanpa seorang prajurit pun sadar,” ujar Shatruva.
Hehe... Tuan Shatruva... Apa yang sebenarnya kau bicarakan? Ke arah barat? Yang benar saja, walaupun tanpa ada matahari untuk memberitahuku arah angin, aku bisa tahu dengan pasti, kita... Mengarah ke selatan.
Bagaimana kau akan berbohong pada orang yang memiliki peta dunia? Itu seperti kau adalah balita yang ingin menipu orang tua untuk sebuah permen. Leluconmu itu tidak masuk akal.
“Tuan Shatruva, dengar! Aku sangat tulus ingin membantumu dan saudaramu keluar dari situasi ini,” ucapku.
Tuan Shatruva tersentak, tangannya menahan dirinya ke arah dinding. Dia seakan kaku tanpa bisa mengatakan apapun.
Tapi kemudian pria itu kembali berjalan, “Terimakasih, Tuan Jajag.”
Ya! Karena dia bereaksi seperti itu, aku bisa menyimpulkan bahwa orang ini masih memiliki perasaan. Jika perasaannya mati, dia akan terus berjalan tanpa harus merasakan apakah dia tidak enak karena telah membodohiku.
Pria ini, benar-benar ingin membawaku ke dalam kediaman keluarga Baghi. Dia akan menyerahkanku. Titik di Mapku sudah menjelaskan bahwa tempat itu sudah sangat dekat. Ah! Itu dia tangganya, saat aku naik dari tangga itu, sudah pasti aku akan masuk ke sebuah ruangan, dan di dalam ruangan itu akan banyak tentara yang menyergapku.
“Wahai engkau yang menjadi separuh wajah dari dunia, sang pijakan, tempat kami para mahluk lemah berdiri, pinjamkanlah kekuatan untuk kami menggerakkanmu. Terbukalah gerbang!”
Tebing batu yang ada di depan mataku itu bergetar, pasir dan drbu berjatuhan. Shatruva seperti merapal mantra lanjutan. Aku tak tau apa itu, karena aku sama sekali tidak mengerti mengenai hal-hal berbau sihir.
Shatruva kemudian mendorongku ke depan, tak hanya aku... Kadeena pun ia dorong sehingga kami berdua pun terhempas keluar melewati pintu batu di hadapan kami.
Akhirnya Shatruva selesai merapal mantranya, dan pintu yang tadinya terbuka akhirnya tertutup, sehingga tidak ada satupun jalan keluar. Kenapa?
Karena seperti dugaanku, saat aku keluar dari lorong... Maka akan ada banyak prajurit yang akan mengelilingiku dan Kadeena. Ah... Seperti yang kupikirkan ternyata.
Prak Prak Prak! Suara tepukan tangan yang perlahan semakin dekat, suara itu di barengi dengan suara langkah kaki. Dan tampaknya aku tidak perlu penasaran dengan siapa itu, sudah pasti... Souran Baghi.
“Kerja Bagus! Kerja Bagus! Shatruva. Kau melakukan tugas dengan sangat baik. Aku terkesan! Sesuai dengan kesepakatan kita, aku akan membebaskan istri dan juga putrimu,” ucap Souran Baghi dengan nada yang sangat arogan.
“Simus! Tolong bawa istri dan putri Tuan Shatruva kemari!” imbuh Souran Baghi.
Seseorang yang di panggil dengan nama simus itu menunduk dan segera melakukan apa yang di perintahkan.
“Shatruva b******n! Kau menjebak kami? Beraninya kau berbohong pada Kepala Desaku!” dengan nada tinggi Kadeena mengatakannya, bahkan gadis dari ras serigala itu sampai meringis memperlihatkan taringnya.
Shatruva tertegun, pria itu kemudian memilih menjauh dan bersembunyi di belakang para prajurit milik Keluarga Baghi.
Tak lama Simus kembali dengan kedua orang wanita, mereka adalah keluarga Tuan Shatruva, tepatnya istri dan seorang putrinya yang usianya bisa dikatakan dewasa di dunia ini.
“Magda! Mya!” ucap Tuan Shatruva dengan lirih, perasaan harunya mulai terlihat. Ekspresinya menyiratkan betapa pria itu rindu akan kehadiran istri dan anaknya. Setelah berlari dan mulai mendekat, Shatruva kembali tertegun, dia tersentak dan kakinya yang mulanya bersemangat untuk berlari seakan kaku tiba-tiba.
Wajah istrinya, Magda. Dan putrinya, Mya... Kedua wanita itu tertunduk dengan wajah sedih, di sekujur tubuh mereka terdapat luka lebam, terlihat seperti luka pukulan dan luka yang di sebabkan oleh sebuah cambukan.
“Shatruva, anakmu itu sepertinya masih pertama kali melakukannya ya. Ha... Aku tidak tahan dengan bagaimana dia merintih kesakitan, dia juga tidak bisa memuaskanku untuk waktu yang lama. Sungguh mengecewakan.”
“Haha... Tapi istrimu itu berbeda. Dia bisa mengikuti permainanku dan bertahan untuk waktu yang lama. Aku puas menghabiskan waktu dengannya, karena itu selain mengembalikan mereka berdua. Aku akan memberikan dua tas gandum ini untukmu!” imbuh Souran Baghi dengan melempar dua tas kecil yang berisi gandum.
“Itu adalah bonus karena kerja bagus dari istrimu. Bersyukurlah! Hahahah!”
Souran Baghi tertawa, sedangkan kedua wanita yang di sayangi oleh Shatruva menangis malu. Shatruva sendiri... Pria itu hancur, terutama mentalnya. Shatruva terjatuh dengan mulut menganga, air matanya terus keluar namun dia sama sekali tidak terisak, pria itu seperti pingsan dengan keadaan mata terbuka.
“Binatang,” ucapku sambil menatap tajam ke arah Souran Baghi.
“Ah... Aku sampai lupa, disini ada tamu rupanya. Bagaimana bisa aku menunjukkan sesuatu yang menjijikkan seperti itu di depan tamu. Maaf, Tuan dan Nona, aku akan segera membereskan pemandangan yang tidak mengenakkan ini,” kata Souran Baghi dengan senyum ramah yang ia buat-buat.
“Simus! Tolong bawa mereka bertiga keluar dari ruangan ini,” imbuh Souran Baghi.
Lagi-lagi pelayan itu melakukan apa yang di perintahkan oleh Souran Baghi. Yang membuatku heran adalah, bagaimana orang ini selalu mengikuti kemauan tuannya. Padahal... Sudah jelas kalau tuannya itu sama sekali tidak melakukan hal yang baik.
Tidakkah hatinya terluka setelah melihat semua derita yang di buat oleh tuannya? Sialan! Aku tidak mengerti lagi. Meskipun ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengan b******n menjijikkan, tapi tetap saja... Rasanya ingin ku habisi mereka semua sekaligus.
“Suamiku! Suamiku!” teriak Nyonya Magda istri Shatruva ketika dia melihat suaminya di seret seperti karung beras oleh beberapa orang pengawal.
Putri Shatruva sudah memiliki tatapan kosong di matanya, trauma yang di alami gadis itu sudah sangat dalam kurasa. Hingga dia tampak tidak perduli dengan hal-hal di sekelilingnya.
Hatiku saja sakit melihat ini, bagaimana orang-orang disini tersenyum dan merasa biasa saja? Tidakkah tersisa sedikit iba bagi kalian? Ah! Percuma saja. Mereka yang sudah tertutup mata hatinya, mana mungkin peduli pada hal-hal ini.
“Kepala Desa, aku pasti akan menarik kepala orang itu hingga putus dan terpisah dari tubuhnya. Walaupun para prajurit ini nantinya akan memutus tangan dan juga kakiku, tetap akan ku pisahkan kepala Baghi itu dari tubuhnya,” kata Kadeena.
“Aku tidak ingin memberikan dia kematian yang mudah. Itu akan menjadi kebaikan untuk Souran Baghi. Tak perlu bersikap baik pada orang sepertinya, kebaikan akan di balas dua kali, kejahatan lebih dari itu. Satu gigi akan di balas dengan satu rahang, beserta semua yang menempel padanya,” ujarku.
Melihat kemarahan di wajah kami, Souran Baghi bukannya takut, tapi malah tersenyum meremehkan kami berdua. Dia begitu percaya diri, apakah karena semua prajurit ada di pihaknya, apakah karena kami hanya berdua.
Yah... Yang manapun boleh, tak akan aku biarkan dirimu terlalu percaya diri.
“Open Information!” Sip! Sekarang semua terlihat jelas, adakah dari mereka yang berbahaya? Hah? Bagaimana orang dengan badan sekekar mereka hanya berada di level 27? Untuk ukuran orang di dunia ini mereka memang terlihat kuat, tapi bagiku... Bukankah mereka hanya kroco?
“Kalian bertamu di Kotaku, tapi... Sebelum melihat wajah dan menyapaku, kalian berdua melarikan diri? Bukankah itu tidak sopan, Tamu-tamu sekalian?” ucap Souran Baghi.
“Bahkan kalian tadinya menghinaku bukan, apa yang kalian lakukan beberapa waktu lalu, bukankah itu bisa di anggap sebagai sebuah penghinaan? Ah... Hatiku hancur sekali, bagaimana aku bisa mendapat penghinaan sampai seperti itu? Sungguh menyedihkan, Tuan Ichigaya.”
Tuan Ichigaya? Apa aku tidak salah dengar? b******n ini baru saja menyebutkan namaku, kan?
“Anggota Guild Dagang dari Kerajaan Badamdas, Ichigaya Eishi.”
“Huaa... Seseorang dengan nama belakang ya? Apakah kau salah satu bangsawan di Kerajaan itu?” imbuh Souran Baghi, wajah orang itu jadi bersemangat.
Sepertinya semua informasi di kota ini bisa di dapatkan dengan mudah oleh Souran Baghi, dia pasti meminta identitasku dari si penjaga gerbang kota. Orang ini... Tidak di ragukan lagi kalau dia adalah pemegang otoritas tertinggi di kota ini.
“Seorang Bangsawan, terjerat masalah di wilayahku. Bagaimana ini? bagaimana ini?” sambil berlari-lari dan berlagak kebingungan.
“Simus? Haruskah ku antarkan beliau ini pulang ke negrinya, atau...”
“Menahannya disini dan meminta tebusan dari negerinya?” imbuh Souran Baghi dengan wajah licik.
“Keluarga Bangsawanmu pasti kebingungan, ya kan? Jika mereka tidak terima dengan cara kami memperlakukanmu dan menyatakan perang pada keluarga Baghi kami, kau... Akan kami eksekusi. Jalan terbaik bagi mereka untuk menyelamatkanmu adalah dengan menebusmu.”
“Hehehe... Dan untuk b***k yang berada di sampingmu itu, meskipun dia berasal dari Ras Manusia Hewan, dia memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang menggoda. Hehe... Aku sepertinya akan menikmati waktu bersenang-senang dengannya.”
“Sudah kuputuskan... Sebelum Keluarga Bangsawanmu menjemputmu, aku akan memperlakukanmu dengan baik sebagai tamuku di kediamanku ini. Tapi sebagai gantinya, kau harus meminta budakmu itu untuk melayaniku, bagaimana?” tanya Souran Baghi.
“Ngomong ini ngomong itu... Kau itu berisik, tau? Apa yang kau pikirkan bodoh? Kau kira aku akan menuruti perkataanmu itu? Apa kau baru saja mengancamku? Biar kuberi tahu sesuatu yang penting tentang mengancam. Kau perlu memberikan rasa takut agar kau berhasil melakukannya. Karena kau hanya seorang badut, kau tidak menakutiku sama sekali. Kau gagal mengancamku,” ucapku.
Souran yang tadinya memaksakan untuk tersenyum ramah dengan wajah liciknya, dengan sekejap mengubah ekspresinya menjadi sangat dingin.
“Ah... Begitu. Akan aku tunjukkan kau kekejaman untuk menakutimu,” ucap Souran Baghi.
“Potong satu kaki dan juga satu tangannya! Meskipun itu akan membuat keluarga Bangsawan Eishi marah, tapi tetap saja jika mereka masih menginginkannya. Mereka masih bisa mendapati anggota mereka masih hidup.”