Meminta Bantuan

1253 Words
Tuan Shatruva pun mengatakan situasi yang terjadi, namun anehnya... Meskipun banyak orang yang duduk bersimpuh di bunker rahasia ini, hanya Shatruva saja yang mau membuka mulutnya, ini membuatku merasa kalau semakin ada yang aneh dengan orang ini. “Keadaan disini bisa di katakan sudah tidak lagi nyaman bagi kami. Semenjak Pemimpin Kitesvhara di Kudeta oleh Bhagi, ekonomi kota ini mulai tidak stabil. Keluarga Bhagi semakin kaya namun imbasnya pada warga yang ada di kota Malvin ini. Kami semua semakin kesulitan, rasanya sesak.” “Bagaimana keadaan disini bisa menjadi sulit? Tidak! Bagaimana tepatnya Keluarga Bhagi membuat ekonomi di Kota Malvin tidak stabil, Tuan Shatruva?” “Pemungutan pajak yang tinggi, dan pengendalian perdagangan. Pengendalian perdagangan yang menjadi penyebab utama para warga kesulitan. Keluarga Baghi, mereka membayar konsumen untuk tidak membeli dagangan para warga, para warga pun mulai kesulitan hingga mereka terpaksa menjual dagangan mereka dengan harga miring.” “Disitulah Keluarga Baghi mulai memanfaatkan kesempatan, dengan membeli semua dagangan milik warga dan menghimpunnya untuk diri mereka sendiri. Setelah itu, ketika warga kesulitan mencari barang yang sudah habis, Keluarga Baghi mulai menjualnya kembali, dengan harga yang tidak masuk akal tentunya.” “Daripada mati kelaparan, mengeluarkan lebih banyak uang... Bukankah itu merupakan harga yang lebih murah?” sambung Tuan Shatruva. “Tapi menghimpun barang untuk waktu yang lama, bukankah akan membuat kualitas dagangannya menurun?” tanyaku. “Keluarga Baghi memiliki skill unik, yaitu pengawetan. Bahkan beberapa dari mereka memiliki kemampuan untuk memperbaiki kualitas suatu benda, Souran... Putra sulung keluarga bagi adalah salah satunya.” “Sihir pengawetannya adalah yang terbaik di generasinya, dan dia merupakan kebanggaan keluarga Baghi. Tak peduli seberapa banyak barang yang mereka timbun, barang itu tidak akan pernah semakin buruk dibandingkan dengan pertama mereka membelinya,” jawab Shatruva. Aku memiliki kecurigaan terhadap Shatruva, tapi untuk apa yang dia ceritakan sampai saat ini, aku merasa cerita itu bukanlah sebuah kebohongan. Memang itulah yang terjadi di kota Malvin ini. “Keadaan ini tidak bisa di biarkan semakin lama. Karena... Jika hanya terus mengeluarkan uang tanpa adanya pemasukan, sama halnya dengan mencekik diri sendiri. Pada akhirnya... Saat tidak ada lagi pilihan lain, kau hanya bisa memilih antar mati... Atau menjadi budak.” “Sebagian warga telah kehilangan semua yang mereka punya, sekarang mereka tinggal di rumah megah itu, dengan rantai di leher dan kaki mereka. Semua keluarga kami, pasti seperti itu.” Keluarga Baghi memanfaatkan ketidakmampuan mereka untuk kepentingan dirinya sendiri. Bahkan jika mereka tidak lagi memiliki uang untuk membayar, keluarga Baghi membuat mereka menjadi b***k yang setia melayani mereka tanpa imbalan. “Biadab! Bagaimana bisa seorang yang harusnya memimpin para warganya ke jalan yang lebih baik, malah membuat mereka menderita? Keluarga Baghi tidak bisa dibiarkan seperti ini.” “Tuan Shatruva! Jika kalian memendam perih selama ini, kenapa kalian tidak membuka mulut dan mencoba melawan Keluarga Baghi?” “Tuan Jajag, jika kau melihat apa yang ada di hadapanmu saat ini, apakah kau berpikir bahwa kami semua memiliki kekuatan untuk melakukan perlawanan itu?” Hanya ada anak kecil, wanita, dan sebagian orang telah sakit-sakitan. Beberapa dari mereka adalah pria yang sehat, tapi hanya dengan beberapa orang... Mana mungkin bisa memberikan perlawanan pada Keluarga Baghi? Aku sendiri sudah melihat Baghi memiliki prajurit yang banyak dan cukup terlatih. “Untuk sekarang, dapat bertahan hidup demi hari esok saja sudah sangat beruntung. Ini saja kami lakukan dengan sekuat tenaga,” imbuh Shatruva. “Tapi tetap seperti ini, bukankah tidak akan merubah apapun, Tuan Shatruva?” kata Kadeena. “Kalian hanya menunggu untuk kehabisan tenaga dan akhirnya berbaring tidak berdaya di tempat ini tanpa melakukan apapun,” ujar Kadeena. “Mukhi!” tegasku, kemudian Tuan Shatruva menjulurkan tangannya dan tersenyum. “Tak perlu memarahinya, Tuan Jajag. Apa yang di katakannya memang benar. Tapi sebenarnya kami juga sedang menunggu sesuatu. Ya... Setidaknya awalnya kami mempunyai sesuatu yang di sebut sebagai harapan.” “Harapan?” ucapku. “Awalnya kami berpikir, tak hanya kami saja, mungkin akan ada orang lain yang merasa tidak puas dengan cara Keluarga Baghi memimpin, khususnya mereka yang memiliki uang dan sumber daya untuk melawan. Tapi... Semua telah berpindah sisi ke Keluarga Baghi, daripada mendapatkan keadilan, mereka memilih hidup nyaman di sisi Keluarga Baghi tanpa menyinggung dan memilih setia pada mereka.” “Jadi... Sekarang kalian sudah kehilangan harapan, kah?” tanyaku. “Tidak! Tuan Jajag. Mungkin kami memiliki harapan lainnya. Dengan kekuatanmu sebagai seorang pemimpin suatu daerah... Bisakah kau dan wargamu membantu kami melawan Keluarga Baghi? Jika itu dirimu... Mungkin kau memiliki sumber daya yang cukup untuk melawan Baghi.” “Tuan Shatruva, apa alasanmu mencoba meyakinkan diriku untuk melawan Keluarga Baghi? Masalah yang ada di kota Malvin ini... Sudah di luar otoritasku. Apa kau memintaku melakukannya hanya karena aku kebetulan terseret masalah dengan salah satu orang dari Keluarga Baghi?” tanyaku. “Tidak, Tuan Jajag. Semua itu tidak benar. Aku memintamu karena alasan lain. Yaitu... Kemanusiaan! Tidak bisakah kau membantu diriku dan saudara-saudaraku yang lain?” Shatruva menunjukkan wajahnya yang sedih padaku, dia menunjuk orang-orang yang duduk terdiam di dalam bunker ini. Keadaan mereka memang sangat memprihatinkan, itu membuatku tidak bisa menahan kesedihanku. “Ayolah... Kau sendiri yang bilang bahwa kami tidak bisa terus seperti ini. Tapi bertindak berdasarkan emosi saja itu sudah bisa di bilang ceroboh namanya. Tanpa kekuatan bagaimana bisa kami berdiri untuk merebut keadilan kami?” “Tuan Jajag... Lihatlah sisa makanan yang kami miliki di bunker ini, segera kami akan menghabiskannya... Kemudian... Apakah kita akan memakan udara dan batu saja ketika semua itu sudah habis?” Aneh rasanya mendengar orang di dunia ini masih membicarakan soal kemanusiaan. Tapi... Di dunia ini memang ada orang yang seperti itu, meskipun hanya segelintir saja. “Apa rencanamu, Tuan Shatruva?” tanyaku. “Jika kau bisa menyiapkan prajurit untuk melawan Keluarga Baghi, maka aku dan sisa orang disini yang masih kuat bertarung akan berdiri disana bersamamu. Kami akan memberikan kalian dukungan sepenuhnya.” “Tapi untuk melakukan itu...” kemudian Shatruva menyelaku. “Ya! Aku perlu membantumu keluar dari kota ini, saat kau pulang... Kau akan kembali dengan bala bantuanmu dan menyerang kota ini.” Aku melihat karung yang berisi makanan, itu merupakan persediaan yang di miliki oleh mereka. Sejujurnya aku tidak percaya kalau itu akan cukup, apa Shatruva tidak berpikir kalau melakukan perjalanan antar kota itu memerlukan waktu? “Kami akan berusaha, kami akan bersabar sampai bantuan darimu datang, Tuan Jajag. Jadi kumohon! Bisakah kau membantu kami! Hanya dirimulah sinar harapan yang bisa aku lihat,” ujar Tuan Shatruva sambil bersujud memohon dengan sangat. “Kepala Desa? Apa kita akan diam saja seperti ini?” kata Kadeena. “Untuk orang yang di besarkan di Suku Pemberontak sepertimu, kau pastinya tidak tahan dengan hal ini bukan? Ha... Mau bagaimana lagi.” “Ayo kita hajar Keluarga Baghi!” imbuhku. Wajah Shatruva semeringah ketika aku memutuskan untuk membuat pergerakan. Dia segera berdiri, “Tuan Jajag. Kalau begitu kita tidak bisa membuang waktu lebih lama di bunker ini. Ayo, akan aku antarkan anda ke luar kota melewati jalan rahasia yang prajurit Keluarga Baghi manapun tidak mungkin mengetahuinya.” Kadeena berdiri dengan wajah yang sangat bersemangat. “Tuan Shatruva, Kepala Desaku pasti akan membantumu. Tak peduli siapapun yang membutuhkannya, jika demi ketidakadilan, dia adalah orang yang tidak akan menahan diri untuk turun tangan,” ujar Kadeena. “Mukhi, padahal kau sendiri juga tidak bisa tahan dengan hal ini, kan,” imbuhku sambil menghela nafas. “Baiklah! Tuan Shatruva, tunjukkan kami jalannya!” imbuhku dengan tegas. “Ayo!” seru Shatruva yang kemudian berbalik mengarahkan kami ke sebuah lorong yang arahnya berlawanan dari tempat kami memasuki bunker.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD