Hanya butuh beberapa saat dan akhirnya kami berdua terkepung. Okey... Meskipun aku berdiri di sini dengan gadis dari Suku Serigala Besi. Kurasa keluar dari segerombolan orang ini bukanlah hal yang mudah.
Banyak prajurit dan yang lainnya mengenakan kuda. Sudah pasti tidak akan mudah melarikan diri dari mereka.
Cukup mengejutkan, di waktu yang sesingkat ini bagaimana cara Souran Baghi memanggil para prajuritnya kemari? Aku bahkan tidak sadar kapan dia memberikan sinyal panggilan.
“Kerja bagus Lyoura, kau melakukan tugasmu dengan baik. Aku akan memberimu hadiah nanti,” tanpa melihat pada lawan bicaranya, Souran mengatakannya.
“Terimakasih, Tuan Souran Baghi atas kerendahan hati, Tuan,” jawab wanita b***k yang berdiri di belakang Souran.
Jadi... Gadis itu yang bernama Lyoura, walaupun di puji dan di janjikan dengan hadiah, wanita itu sama sekali tidak terlihat senang. Hidupnya pasti terkekang oleh pria sialan satu ini.
Seekor burung kemudian menukik tepat di jari Lyoura yang dia angkat setinggi bahu. Seekor burung pengantar pesan... Jadi begitu cara Souran memberikan sinyal pada prajurit ini.
“Kepala Desa, kita terkepung. Bagaimana kita bisa keluar dari segerombol prajurit ini. Sepertinya kita tidak bisa keluar tanpa memperoleh luka,” ujar Kadeena.
Ya... Aku sudah memikirkan caranya sih. Kunai peledak lima detik, kunai peledak tiga detik dan aku juga punya kunai peledak instan. Alat itu sangat berguna terutama untuk mengontrol keriuhan yang terjadi.
“Kawan... Keadaan berbalik, kau tak bisa lagi mengancamku, dan sekarang giliranku yang mengancammu. Jika kau ingin keluar dari tempat ini hidup-hidup, kau harus menyerahkan kepemilikan b***k manusia serigala itu kepadaku.”
“Oy, Kumis Klimis... Apa kau pikir aku akan mengatakan iya silahkan dan menurut begitu saja? Kau naif rupanya.”
“Aku naif? Justru kau yang naif, apa kau tidak bisa melihat banyaknya prajurit yang mengelilingimu disini, satu gerakan saja maka ajalmu akan menjemput.”
“Apa kau berharap segerombolan kelinci dapat menahan seekor serigala untuk kabur?”
Aku menoleh pada Kadeena. “Jika kita tidak bisa keluar dari sini tanpa terluka, maka kita cukup buat mereka terluka...”
Aku melempar sebuah Kunai peledak Instan yang akan meledak ketika menyentuh sesuatu ke arah belakang. “...Dan keluar dari sini!!!”
Aku menabrak Kadeena dengan tanganku dan menggendong dia di bahuku kemudian aku mulai menjauh pergi dari Souran Baghi dan parajuritnya.
“Kejar mereka!!! Jangan biarkan satupun dari mereka lolos dari kota ini! Aku mau kepala mereka!!!” seru Souran Baghi.
Seorang Crafter, apakah aku bisa berlari lebih cepat di banding dengan Assassin. Bukankah itu mustahil, aku tidak punya kemampuan untuk melakukan itu, dan cara berlariku tidak jauh berbeda dengan orang biasa. Jika Prajurit berkuda itu mengejar maka...
“Kepala Desa, Prajurit itu mengikuti kita! Mereka semakin mendekat!” ucap Kadeena yang melihat ke arah belakang ketika dia ku gendong.
“Lemparkan saya ke atas, Kepala Desa,” imbuh Kadeena.
“Oy! Apa yang kau bicarakan, ha? Kau berniat menyerahkan diri agar aku bisa lari? Kau pikir aku akan membiarkan dirimu melakukannya?”
“Tidak! Saya memiliki rencana yang lebih baik dari itu!” Kadeena maronta dan akupun melepaskannya.
Energi mengalir di udara, aku pernah melihat aliran energi seperti ini sebelumnya, dan ini adalah aliran energi yang akan terlihat ketika Kadeena hendak melakukan perubahan Beastnya.
Aku melihat kebelakang sambil berlari, Kadeena yang tadinya berada jauh di belakang tiba-tiba sudah melesat ke arahku dengan kecepatan yang luar biasa. Sekarang ini dia yang menggendongku di pundaknya.
“Kadeena! Pergi ke arah kereta kita di tinggalkan!” ujarku.
“Baik, Kepala Desa!”
Berlari, melompati atap rumah demi atap rumah dan kami sampai di tempat kami memarkirkan kereta kuda hanya dalam hitungan menit saja.
“Kita akan pergi dari kota ini, tapi tampaknya tidak akan mudah. Kereta ini akan menghambat pergerakan kita. Tapi tenanglah, benda ini bisa ku masukkan ke sihir ruangku. Tapi untuk kudanya, kita berdua harus pergi dengan menungganginya.”
“Di mengerti, Kepala Desa!”
Ketika hendak ku masukkan keretanya ke Inventaris, seorang pria paruh baya tiba-tiba datang ke tempatku. Reflek aku mengeluarkan kunai dan mengarahkannya pada pria itu, aku memasang kuda-kuda, berjaga-jaga apabila harus bertarung dengannya. Kadeena pun melakukan reflek yang sama.
Tapi pria itu diam saja, dia tidak melakukan kuda-kuda apapun. Itu artinya dia sama sekali tidak memiliki niat untuk bertarung. Saat aku mengendorkan kewaspadaanku, pria itu meraga sesuatu di belakang punggungnya.
“Pria ini membawa senjata, Kepala Desa!” seru Kadeena. Hal itu membuatku kembali bersiaga. Namun apa yang di keluarkan oleh pria paruh baya itu bukanlah senjata. Melainkan sebuah kain penutup yang sangat besar. Dia menyerahkan itu padaku.
Sepertinya Pria itu ingin aku menutup kereta kudaku dengan kain yang ia berikan untuk menyembunyikannya. Aku tidak tau apa niat pria ini, tapi setidaknya aku tidak merasakan permusuhan dengannya. Kelihatannya aku tidak punya pilihan lain selain mengambil kain itu. Lagipula, jika ada orang ini aku tidak bisa membuka inventarisku.
“Kadeena! Bantu aku menutupi keretanya!”
Aku menggelar kain yang besar itu dan Kadeena menangkapnya. Setelah berhasil menutupi keretaku, pria misterius itu memberikan isyarat tangan agar aku mengikutinya.
“Ikuti aku! Mereka tidak akan bisa menemukanmu. Kau telah salah menyinggung orang, di saat seperti ini. Mustahil bagi dirimu untuk bisa keluar, kota ini adalah miliknya. Saat dia marah... Orang itu akan benar-benar menggenggammu. Tapi aku tau cara mengelabuinya.”
“Kepala Desa?” ucap Kadeena meminta persetujuan dariku. Aku di minta untuk menilai, apakah orang misterius ini bisa di percaya atau tidak.
Tapi sepertinya, kami memang harus mengikutinya.
“Kadeena, ayo kita ikuti dia!”
****
Ntah siapa orang ini, tapi dia terlihat seperti seorang prajurit revolusioner yang berusaha untuk membenarkan negerinya dari ketidak-adilan. Dia tau jalan-jalan kota yang tidak umum di lalui oleh orang lain. Bahkan dia juga mengajak kami melalui lorong-lorong rahasia.
“Namaku Shatruva, aku adalah penduduk asli wilayah ini. Aku mengabdikan hidupku untuk Tuanku yang lama,” ujar orang itu.
Tuannya yang lama? Apa maksud orang ini adalah Penguasa wilayah ini yang sebelumnya?
“Dulu kota ini di pimpin oleh Yang Mulia Avaloka Kitesvhara. Namun... Dia di kudeta oleh orang kepercayaannya sendiri, serangan dari dalam itu tidak pernah ia ketahui kapan datangnya. Keluarga Baghi... Menusuk yang mulia dari belakang, dan mereka... Menduduki singgasananya hingga hari ini.”
Oh... Benar-benar terdengar seperti pasukan revolusioner yang memiliki dendam dan kesetiaan. Pastinya tujuan mereka adalah mengkudeta kembali keluarga Bhagi dan mendapatkan kebebasan mereka kembali.
Pintu besi? Kemudia celah kecil pintu itu terbuka ketika Shatruva mengetuk pintunya, dari sana seperti ada orang yang melihat keluar. Ah... Bukankah ini seperti yang di film-film itu? Seorang penjaga meminta kata sandi.
“Kejayaan bagi Kitesvhara!” ucap Shatruva.
Kemudian orang yang di dalam membukakan pintu itu.
“Ayo! Masuklah! Selama kalian disini, mereka tidak akan bisa menemukan kalian. Keluarga Baghi memang menguasai kota ini, tapi mereka tidak tau seluk beluk dari kota ini.”
“Terimakasih, Tuan Shatruva,” jawabku.
Saat aku masuk ke dalam sebuah bunker rahasia itu, Tuan Shatruva dan si penjaga pintu rupanya bukanlah satu-satunya orang yang bersembunyi di dalam sini. Ternyata ada orang lain yang juga mengalami nasib serupa.
“Kami semua adalah orang yang berselisih dengan Keluarga Baghi, di permukaan... Kami semua tidak memiliki hak apapun, malahan kami semua di buru untuk di siksa,” ujar Shatruva.
Aku melihat seorang anak kecil dengan wajah ketakutan, anak kecil itu menggelengkan kepalanya kepadaku. Anak kecil itu memberikanku perasaan aneh, ada sesuatu yang terjadi, yang pasti hal ini tidaklah sederhana.
Ketika Shatruva yang menatap anak itu, anak kecil itu seperti tersentak dan dia seperti memaksakan dirinya untuk tenang.
“Kalian berdua berasal dari mana?” tanya Tuan Shatruva.
“Kami berasal...” ketika Kadeena hendak mengatakan asal kami, aku dengan sigap langsung menyelanya. “Dari Mardukk! Sebuah kota besar di timur seberang.”
“Ada sebuah desa kecil di Kota Mardukk, namanya adalah desa Hakhsa. Aku seorang baron, Jajag Haksha. Saat ini aku menjabat sebagai seorang Kepala Desa di desa kecil itu, dan dia adalah pengawalku Mukhi,” kataku.
“Kepala Desa...”
“Mukhi! Jika kau bersama dengan atasanmu, biarkan atasanmu yang berbicara. Itu adalah bagaimana cara kita menunjukkan kesopanan, apa kau mengerti?!” ucapku dengan tegas.
“Me-mengerti Kepala Desa! Maafkan atas kelancangan saya,” jawab Kadeena sambil berlutut menunduk di hadapanku.
“Tuan Shatruva, bisakah kau memaafkan kelancangan pengawalku, Mukhi? Karena sejak kecil dia selalu bersamaku untuk mengawal, aku membiasakan diri untuk menganggapnya sebagai seorang taman, jadi terkadang dia lupa menjaga sikap di depan orang lain, dan suka menyelaku, haha...” sambil menggaruk kepala aku mengatakannya.
“Pengawalmu seorang b***k?” tanya Shatruva.
“Ya! Bisa di bilang begitu dulunya. Ayahku membelinya untukku, tapi aku tidak menganggap Mukhi sebagai seorang b***k, dia selalu bersamaku sejak kecil jadi aku mempercayainya sebagai seorang teman.”
“Souran Baghi juga menyukai seorang b***k, tapi... Daripada menganggap para b***k yang di miliki sebagai seorang teman, dia... Menganggap mereka sebagai benda ataupun alat. Dia bukan orang rendah hati sepertmu, Tuan Kepala Desa.”
“Aku... Merasa sedikit aneh dengan tempat kau berasal, Tuan Kepala Desa. Bagaimana orang-orang di desamu mengangkat seorang pemuda sepertimu menjadi seorang Kepala Desa?” imbuh Shatruva.
Okay! Sekarang dia mencoba untuk mengetesku, dia akan mencari tahu... Apakah kata-kataku bisa di percaya atau tidak. Yang terpenting saat ini adalah tetap bersikap tenang, dan berusahalah agar lidahmu tidak tergigit. Jawab!
“Mardukk, memang desa yang sangat unik, tapi tak hanya Mardukk, sebenarnya semua desa di dataran ini memiliki keunikan mereka masing-masing. Memilih seorang pemimpin dari kaum pemuda, bisa di katakan sebagai ciri khas Desa Mardukk.”
“Disana, pada usia tiga belas tahun, pria muda akan mulai di seleksi, itikat dan juga bakat mereka. Siapapun yang memiliki sikap sebagai pemimpin, dan mempunyai bakat untuk mengembangkan desa, akan menjadi calon pemimpin, dengan kata lain Kepala Desa Mardukk berikutnya.”
“Karena aku adalah anak seorang Baron, sudah jelas penguasaan itikat dan juga bakatku lebih terasah di banding dengan anak lainnya, karena itulah aku terpilih. Tapi... Ada juga kasus di mana tandu kepemimpinan di pegang oleh orang biasa.”
“Ketika pemuda desa Mardukk memasuki usia dewasa yaitu lima belas tahun, calon pemimpin terpilih akan menjalani masa pemerintahan mereka selama tiga tahun. Itu semacam masa percobaan, kalau di guild, kami seperti anak magang.”
“Sekarang usiaku tujuh belas tahun, Tuan Shatruva. Tahun ini adalah tahun pemerintahan terakhirku. Dan ayahku memberikan tugas ini, dia memintaku untuk mencari pasokan makanan di kota ini. Orang tuaku tidak memberi tahu situasi kota ini dengan jelas. Ternyata separah ini, kah?!” ucapku sambil memukulkan tanganku ke tembok yang ada di sampingku.
“Aku mendapatkan masalah ketika baru tiba, benar-benar tugas terakhir yang berat. Apa sih yang dia pikirkan sehingga menempatkan anaknya dalam keadaan bahaya?” imbuhku.
Yah... Cerita asal-asalan ini... Hanya untuk mengelabui Tuan Shatruva. Aku merasakan hal buruk dari orang ini ketika aku tiba di bunker rahasia ini.
“Tuan Shatruva... Jika anda tidak keberatan, bisakah anda mengatakan situasi yang terjadi di kota ini?”