Akhirnya, kami benar-benar sampai dan kami mendapatkan ijin untuk masuk. Petualanganku di dunia lain... Benar-benar mendebarkan.
“Lyod, sebaiknya kita turun dari sepeda, kita tuntun saja sepedanya ke dalam. Atau kita akan menarik perhatian orang-orang seperti yang kita lakukan di Tarsa,” ujarku.
“Baik Eishi!”
Aku menuntun sepedaku masuk melewati gerbang, cukup mengejutkan. Di luar gerbang suasananya sudah cukup ramai. Tapi di dalam... Lebih ramai lagi.
Aku bisa mendengarkan bunyi-bunyian alat musik seperti yang di tuliskan oleh Ririna di dalam memonya. Alat musik di mainkan dan semakin menambah kemeriahan di Kerajaan ini.
Para pedagang menawarkan dagangan mereka menyambut kami untuk datang pada mereka. Wangi-wangi makanan di bawa terbang oleh angin melewati hidungku dan memenuhi kepalaku.
Benar-benar negeri yang indah. Dengan susunan kota yang tertata, dan bangunan-bangunan yang nampak kokoh, serta akses jalan yang bagus.
“Distrik perdagangannya di sekitar sini, Nak. Biar aku pergi dan menanyakan apakah kita bisa mendapatkan tempat untuk meletakkan dagangan kita,” kata Paman Bern.
“Baiklah, Paman. Mohon bantuannya!”
Paman Bern pergi ke suatu tempat untuk mencari orang yang bertanggung jawab mengelola lahan pasar.
Rya, Torn dan juga Lyod... Mereka semua melihat kemana-mana, nampaknya mereka sangat kagum dengan semua yang ada di negeri ini. Barang-barang yang tak pernah mereka lihat, Orang-orang dengan ciri khas beragam, pakaian yang berbeda-beda. Semuanya menarik untuk di lihat.
“Hei, selagi kita sudah di sini. Sembari menunggu Paman Bern kembali, bagaimana kalau kita melihat-lihat?” ujarku.
“Haha! Itu ide yang bagus! Eishi kau selalu bisa membaca pikiran kami,” ujar Torn.
Lyod hanya mengangguk dengan wajah yang mulai bersemangat.
“Eishi, bolehkah aku ikut denganmu?” tanya Rya.
“Tentu saja, ikutlah... Bukankah tujuan kita untuk melihat segala sesuatu yang pernah di lihat oleh temanmu Rariti di Negeri ini? Ayo!” jawabku.
“Hathor? Apa kau tidak ikut?” imbuhku melihat pada Hathor.
“Saya rasa ada seseorang yang harus bertanggung jawab melindungi barang dagangan, Kepala Desa... Jika ada apa-apa jangan lupa untuk memberikan sinyal. Saya suka dengan cara Rune ini bekerja,” kata Hathor.
“Tentu saja,” sahutku dengan tersenyum padanya.
Kami berempat pergi melihat-lihat sekitar, para pedagang dengan sangat ramah menawarkan apa yang mereka jual.
“Di beli di beli! Kain sutra dari Gunung Tatur, kainnya lembut dan juga sejuk. Sangat nyaman untuk di pakai.”
“Silahkan di lihat siapa tau ada yang cocok, perhiasan karya pengrajin yang terkenal Galarak. Cincin, kalung, anting-anting dan juga gelang... Semuanya tersedia. Indah dan membuat anda semakin berwibawa. Gadis cantik, apa kau mau membelinya?”
“Rya? Apa kau ingin aku membelikannya untukmu? Kau bisa mengambil beberapa jika kau mau,” ujarku.
“Tidak apa-apa Eishi, aku tidak...”
“Tuan... Bagaimana dengan jepit rambut dengan pernak pernik berbentuk bunga itu, bisakah aku membelinya?”
“Tentu Tuan, harganya 1 keping emas.”
“Kalau begitu berikan aku satu lagi jepit rambut yang ada di sampingnya itu,” ujarku sambil menunjuk jepit rambut yang ada di samping jepit rambut yang ku belikan untuk Rya.
Rasanya sang adik Tsunderenya akan marah jika aku hanya membelikan untuk Rya saja. Untuk jaga-jaga aku juga harus membelikan satu untuk Tuare.
“Eishi?”
“Tak apa untuk menghabiskan sedikit uang, lagipula saat pulang nanti kita akan mendapatkan banyak. Jangan cemaskan soal itu.”
Aku memasangkan jepit rambut yang baru saja aku beli pada Rya.
“Eishi... Kau curang,” ucapnya dengan lembut sambil menunjukkan wajahnya yang tersipu.
“Hei Tuan dan Nona yang sedang asik bermesraan disana, apa kalian sudah selesai dengan adegan romantis kalian? Cepatlah kemari dan lihat ini!” seru Lyod.
Mereka berdua berada di tempat yang memiliki banyak senjata dan juga perisai. Tidak salah lagi itu adalah sebuah toko milik pengrajin.
“Lihat senjata yang dj jual disini, begitu indah dan terlihat kuat. Hiasan pada pedangnya pun terlihat mewah, mungkin pedang ini akan cocok jika di gunakan oleh orang dari kasta bangsawan,” kata Lyod.
“Perisai dan juga zirahnya juga keren. Mungkin aku akan terlihat seperti seorang ksatria gagah jika aku memakainya,” imbuh Torn.
“Tuan-Tuan perkenalkan, nama saya adalah Dundar, saya adalah pemilik toko ini sekaligus pengrajin yang membuat semua peralatan yang di pajang disini. Seperti pendapat yang telah kalian berikan, semua barang dagangan saya kualitasnya bagus, apa kalian berminat untuk membelinya?” tutur seorang pedagang bernama Dundar yang merupakan seorang bangsa Dwarf.
“Kualitas barang buatan saya tidak usah di ragukan lagi, barang-barang ini adalah hasil kerja tangan keluarga Tortellini yang telah lama berkecimpung di dunia pengrajin. Ayahku, kakek ku, bahkan kakek buyutku sudah mengajarkan teknik menempa dan mengajarkannya pada para generasi penerusnya. Bahkan di Kerajaan Palapis ini kami cukup terkenal, lho.”
“Bos Dundar? Apa pesananku sudah kau buatkan?” kata seorang pria yang tampak seperti petualang dengan peringkat tinggi.
Zirah pelindung yang ia pakai nampaknya ia beli dari toko ini. Sangat terlihat jelas dari designnya yang begitu mencolok. Dengan banyaknya bagian yang sengaja di buat untuk menghiasi penampilannya.
Aku juga tidak habis pikir, apakah perlu memasangkan sebuah pernak pernik pada pedang. Bukankah pedang itu digunakan untuk menyayat daging dan bermandikan darah. Sangat disayangkan jika perhiasan harus di letakkan di dalamnya.
Tapi ya, untuk sekedar mendukung penampilan, barang-barang yang di jual di toko ini benar-benar membuat seseorang membahana.
“Lihat siapa yang datang kesini, Aaron si petualang. Bagaimana? Apa kau sudah di promosikan?” tanya Dundar pada petualang itu.
“Ya, benar-benar fantastis. Setelah aku membeli baju zirah ini, kekuatan tempurku rasanya berlipat ganda. Aku bisa memberikan kontribusi yang besar pada partiku, dan saat menjalankan Quest, aku sukses menaklukkannya. Sekarang aku di promosikan menjadi petualang kelas D. Itu berkatmu, Bos Dundar.”
Jadi dia seorang petualang Rank D, ternyata dia masih pada tahap petualang tingkat menengah, dan levelnya juga lebih rendah dariku, dia hanya mencapai level 24.
Oh ya! Di dunia ini aku telah mempelajari bahwa level sorang petualang itu di bagi menjadi empat. Dari yang terendah ke yang tertinggi adalah tingkat bawah, tingkat menengah, tingkat lanjutan, lalu tingkat atas.
Rank F dan E merupakan tingkat bawah, Rank D dan C adalah petualang tingkat menengah, Rank B dan A merupakan tingkat lanjutan, dan yang paling atas adalah Rank S, sangat sedikit orang yang bisa mencapainya. Kabarnya kekuatan seorang petualang kelas S itu sulit sekali di tandingi.
“Eishi, kau dengar itu. Barang yang di jual di toko ini bahkan membuat seorang petualang berhasil di promosikan. Bukankah berarti kualitasnya benar-benar luar biasa,” kata Lyod.
“Benar Tuan, Benar. Apa anda tertarik untuk membelinya. Bagaimana dengan mencoba barang yang di jual di sini. Kau bisa mencobanya sebelum membeli.”
“Kawan, karena Bos Dundar telah menawarkannya dengan senang hati, kenapa tidak kau mencobanya saja. Siapa tau cocok,” celetup petualang bernama Aaron itu.
“Baiklah, aku akan mencobanya.”
“Bagaimana dengan yang satu ini?” sambung Lyod sambil mengambil sebuah pedang dari lapak Tuan Dundar.
“Bagaimana, Lyod?” tanya Torn penasaran.
“Berat, pedang ini benar-benar berat. Rasanya tidak nyaman untuk mengayunkannya,” jawab Lyod.
“Benarkah? Dasar Lyod, itu karena kau lemah. Sini biar aku yang mencoba mengayunkannya,” kata Torn yang kemudian mengambil pedang itu dari tangan Lyod.
Gara-gara kelakuan kedua orang ini yang seperti anak kecil aku meras tidak nyaman pada Tuan Dundar.
“Maaf Tuan Dundar, Teman-temanku terlalu antusias,” ujarku.
“Tidak apa-apa. Itu adalah hal yang wajar,” jawab sang pengrajin itu.
Torn mengayunkan pedangnya ke depan. Kemudian ekspresi wajahnya berubah.
“Benar yang di katakan oleh Lyod. Pedang ini terlalu berat, sangat tidak nyaman untuk menggunakannya. Padahal guru bilang bahwa semakin ringan sebuah pedang terasa, semakin cepat sabetannya. Semakin cepat gerakan sebuah pedang, maka akan semakin berat bebannya yang akan di terima oleh lawan.”
“Ya, jika pedangnya terlalu berat kita bahkan tidak bisa melukai monster dengan begitu dalam,” sahut Lyod.
“Benarkah? Tapi pedang yang anda pegang itu adalah pedang teringan yang di jual di toko ku. Tidak mungkin pedang itu terlalu berat untuk kalian, bahkan aku ragu ada pedang yang lebih ringan dari itu,” kata Dundar.
Aaron mengambil pedang yang ada di tangan Torn.
“Kawan, jika di bandingkan dengan senjata yang ku miliki, pedang ini terbilang sangat ringan.”
“Benarkah, bagaimana jika kau mencoba pedang milik kami?” ujar Torn sambil mengeluarkan pedangnya.
Itu adalah pedang buatanku yang berasal dari bahan yang sama drngan kerangka sepeda yang aku buat. Meskipun ringan, tapi benda itu lebih kuat dari baja manapun. Terlebih lagi pedang yang kuberikan pada mereka itu anti karat dan tidak cepat rusak.
Meskipun tidak di hiasi oleh perhiasan yang membuatnya tampak mewah, tapi tidak diragukan lagi, pedang sederhana yang aku buat. Adalah pedang yang sempurna.
“Apa ini? Aku hampir merasa tidak memegang apapun sama sekali. Rasanya benda ini seringan bulu di tanganku,” kata Aaron setelah memegang pedang milik Torn.
“Benar-benar ringan,” sambungnya ekspresi yang terkejut.
“Mustahil, aku tidak percaya ada pengrajin yang bisa membuat pedang lebih ringan di bandingkan dengan hasil buatanku,” kata Dundar yang lalu mendekat dengan cepat ke arah Aaron dan segera mengambil pedang Torn untuk di periksa.
“A-a-apa, apa-apaan ini? Bagaimana bisa seseorang membuat pedang besi seringan ini? Bahkan leluhur kami para Dwarf tidak pernah mencapai titik ini. Siapa? Siapa orang yang telah menempanya?” Dundar begitu gelagapan seakan tak percaya.
“Tidak, semakin ringan pedangnya maka semakin buruk kualitasnya. Membuat pedang ringan yang dapat mempertahankan kualitas itu seperti membuat sebuah keajaiban. Hanya dewa penempa yang dapat melakukannya.”
“Aaron, tunjukkan pedang yang terakhir kau beli dari tokoku!” seru Dundar pada Aaron.
“Tapi, Bos. Apa yang hendak kau lakukan dengan itu?”
“Sudahlah, tidurkan pedangmu itu di kedua tanganmu!” jawab dundar.
Aaron melakukan sesuai apa yang di katakan oleh Dundar, kemudia Dundar menebas pedang Aaron dengan pedang milik Torn, dan pedang yang di tidurkan di tangan Aaron kemudian terbelah menjadi dua bagian.
“Pedangku?!!!” seru Aaron yang hampir mengeluarkan air mata.
“Tidak, Bos. Aku membelinya darimu sebanyak seratus keping emas. Bagaimana kau bisa merusaknya?!” sambung Aaron menangis.
Dundar tidak mendengarkan apa yang di katakan oleh Aaron dan langsung menidurkan pedang Torn di tangan Aaron.
Kemudian Dundar berlari ke arah tokonya untuk mencari-cari. Sepertinya dia ingin mengujinya dengan pedang terkuat yang ia jual di tokonya itu.
Dundar kembali dengan pedang yang nampak sangat kuat. Dengan memegang pedang itu di kedua genggamannya, Dundar mencoba memberikan tebasan sekuat tenaganya.
Ctang!!!
Pedang yang di pegang oleh Dundar mental ketika bertemu dengan pedang milik Torn, karena gagal membelahnya pedang itu malah terbang terlempar ntah kemana, dan itu sangat berbahanya.
Beruntung seseorang dangan insting yang sangat kuat bisa menangkap kemana jatuhnya pedang itu.
“Bagaimana orang bisa cukup ceroboh untuk melempar pedang di tengah kerumunan?”
“Seseorang bisa saja mati, lho.”