Aku sudah berbincang dengan Pak Tua Mizzre, nampaknya memang sulit untuk mendapatkan logam atau bijih besi, harga di pasarannya sangat mahal, dan biasanya benda semacam itu hanya digunakan untuk kepentingan militer saja. Cara terbaik untuk mendapat bijih besi secara gratis adalah dengan menambangnya sendiri. Tapi... Pak Tua Mizzre bilang, tambang yang dekat dari desa ini terletak di sebuah gua yang ada di pedalaman Hutan Nimiyan.
Meskipun tidak ada monster di sekitar hutan, tapi semakin dalam pasti akan ada beberapa binatang buas yang menjadi penghuni tempat itu. Resikonya terlalu tinggi, apalagi Tuan Mizzre mengatakan kalau membuat benda dari logam hanya untuk memperbaiki cara berladang, itu sungguh sangat sia-sia.
Mungkin pikirnya sebuah harta tidaklah sepantasnya digunakan untuk menggaruk tanah yang kotor. Tapi... Jika terus memaksa menggunakan alat tani yang tidak layak seperti yang di gunakan oleh orang di dunia Khartapanca ini, tidak akan ada sebuah kemajuan yang terjadi. Daripada memperbaiki alat yang sudah ada, lebih baik aku memperbaiki pola pikir mereka terlebih dahulu.
“Terima kasih, Nak Eishi. Berkatmu pekerjaanku akan segera selesai, tidak ku sangka cangkulmu itu sangat ajaib, kau mencangkul satu kali dan satu baris selesai di kerjakan. Sudah kuduga, kau ini memang seorang Dewa Petani.”
“Tuan Mizzre, berhenti meledekku.”
“Punya sihir seperti itu pasti membuat semuanya menjadi jauh lebih mudah. Padahal sihir biasanya digunakan seorang ksatria untuk membantu mereka dalam berperang, siapa yang sangka akan ada orang yang menggunakannya untuk berladang.”
Itu dia! Ini adalah kesempatan untuk sedikit mengubah pandangan Pak Tua Mizzre.
“Jika sihir yang berguna di medan perang saja bisa berguna bahkan di ladang, kenapa peralatan besi tidak? Tuan Mizzre, tidak akan sia-sia menggunakannya untuk pekerjaan mengeruk ladang, selama itu membantu memudahkan pekerjaan maka itu adalah keuntungan. Ksatria dan Petani itu pekerjaan yang sama-sama mulia, jika tidak ada petani maka tidak akan ada Ksatria yang bisa memakan roti. Pekerjaan kalian sama-sama mulia, kenapa harus ragu menggunakan logam atau besi.”
Nampaknya ucapanku membuat Tuan Mizzre merenungkannya, semoga dia dapat merubah pemikirannya itu.
Dari jauh aku seperti mendengar suara orang yang sedang ribut, terlebih... Aku sangat familiar dengan suara ini. Benar saja, itu adalah suara Torn dan juga Lyod yang sedang memikul ember berisi air menuju ladang Tuan Mizzre.
“Huaa... Akhirnya sampai juga, memikul air dari sungai yang lumayan jauh dari sini ternyata berat juga,” ujar Lyod sambil terengah-engah.
“Ternyata ada Ichigaya disini, apa kau membantu Tuan Mizzre juga?” sambung Torn bertanya padaku.
“Yah... Seperti yang kalian lihat. Kalian terlihat sangat kesulitan, apa benar kalian membawa air dari sungai?”
“Ichigaya... Lakukan sesuatu, jika itu dirimu, kau pasti menemukan cara yang dapat memudahkan kami membawa air ini dari sungai,” kata Lyod dengan bersikap manja seolah dia itu seorang anak kecil yang minta di buatkan mainan oleh kakaknya.
“Kau benar, aku memiliki sebuah cara yang dapat memudahkan kalian membawa air itu dari sungai,” ujarku sambil tersenyum pada mereka.
“Benarkah?” ujar kedua pria tegap yang terengah-engah itu dengan mata yang berbinar-binar.
“Bahkan kalian tidak perlu membawa ember air itu lagi, air dari sungai itu akan datang ke setiap ladang dengan cara yang ajaib.”
“Nak Eishi, apa sihir semacam itu ada?”
“Tuan Mizzre, ini bukan sihir, tapi peradaban.”
Mereka berdua seperti melihat sebuah sinar baru, harapan mulai muncul, begitulah yang mereka pikirkan mungkin. Jika di ingat kembali, aku merupakan satu-satunya Champion berkelas Crafter yang di pindahkan ke dunia ini. Sepertinya tugasku adalah membantu dunia ini masuk ke era baru, membangun kembali peradaban yang lebih maju. Dimulai... Dengan membuat sebuah kincir air!
****
Pekerjaan di ladang sudah selesai, nampaknya memang semuanya di kerjakan lebih cepat dari pada yang di jadwalkan. Aku benar-benar senang bisa membantu, tanpa sadar saat ini aku sudah bukan lagi orang yang kesepian. Torn, Lyod dan semua penduduk desa, mereka semua benar-benar orang yang bisa ku katakan sebagai teman-temanku. Aku tidak punya penyesalan karena telah meninggalkan bumi.
“Ichigaya! Ichigaya! Ha... Ternyata kau ada disini,” kata Rya.
Dan dua gadis sekarang datang padaku dengan keadaan yang terengah-engah, ini mengingatkanku pada Lyod dan Torn beberapa waktu lalu.
Torn, Lyod dan Pak Tua Mizzre tersenyum dengan cara yang aneh, mereka terlihat seperti sedang meledekku.
“Enaknya di datangi istri setelah bekerja, ah... Punggung yang penat terasa bisa menjadi tegap lagi,” sindir Pak Tua Mizzre.
Dasar Pak Tua ini, dia membuatku kehilangan muka di depan Rya dan Tuare, eh? Bukan hanya aku yang tersipu, bahkan Rya dan Tuare pun sama tersipunya dengan diriku. Apa ini artinya mereka suka padaku.
“Kau tidak perlu pilih-pilih kawan,” ujar Torn sambil menepuk pundakku.
“Kau boleh menikahi keduanya,” sambung Lyod sambil mengacungkan jempolnya dan tersenyum dengan wajah yang mengesalkan.
“Oy Nak. Tanyakan pada istrimu apa yang membuat mereka datang dengan tergesa-gesa kemari!”
“Ah benar! Rya... Tuare... Ada apa? Apa ada masalah?”
“Benda buatanmu itu sangat luar biasa, sabun namanya kan. Benar katamu, mungkin benda ini akan disukai oleh banyak orang,” kata Rya.
“Setelah menggunakannya tubuh kita menjadi bersih dan juga sangat wangi, baunya seperti bunga Katrapedy yang hanya bisa ditemukan di tengah hutan. Setelah menggunakan sabun ini, kulitku terasa semakin segar dan lembut, bahkan wajah kakak menjadi lebih cerah dari biasanya,” imbuh Tuare.
“Benar, setelah di lihat... Kalian terlihat berbeda, apa Eishi menggunakan sihir ajaibnya untuk mengubah diri kalian?” kata Torn.
“Tercium juga wangi bunga Katrapedy yang kita ambil dari hutan, apa kalian membawa bunga itu kemari? Ah... Aku tidak pernah bosan mencium baunya yang wangi dan menyegarkan,” sambung Lyod.
“Ichigaya, coba kau sentuh pipiku!” dengan semangat Rya mengatakannya.
Eh? Ntah Rya sadar atau tidak dengan ucapannya, tapi... Bukankah ini terlalu...
“Kau yakin ingin aku menyentuhnya?”
“Ummm! Aku sangat yakin, lagipula ini bisa terjadi karena Ichigaya yang membuatnya.”
Aku sampai harus menelan ludah, jika aku benar-benar menyentuhnya, maka ini akan menjadi hari pertama dalam hidupku aku bisa menyentuh seorang gadis cantik secara langsung. Aku tidak akan di tangkap oleh polisi, kan? Apa yang kupikirkan? Tidak ada polisi di dunia ini, jadi mungkin ini tidak apa-apa.
Baiklah... Aku mulai.
Saat aku menyentuh pipinya perlahan dengan jari telunjukku, aku merasa aku seperti sedang menekan puding, tanganku langsung dipantulkan begitu aku sampai. Kelembutan yang luar biasa, ini surga.
“Umm!!! Kulitmu sangat lembut dan wajahmu semakin bercahaya. Mungkin orang desa akan salah mengiramu sebagai seorang keturunan bangsawan.”
“Kak Ichigaya, tidak adil jika kau hanya melakukannya pada kakak. Aku juga ingin kau menyentuh pipiku,” kata Tuare.
“Tapi kau jangan besar kepala, ya. Aku melakukan ini bukan karena aku ingin kau menyentuhku begitu saja, aku hanya ingin meminta pendapatmu, apa sabun yang kau buatkan untuk kami itu sudah benar-benar bekerja dengan baik atau tidak,” imbuhnya dengan sikap Tsundere ala Tuare.
Akhirnya aku berakhir dengan menyentuh pipi gadis itu juga, sama halnya seperti kakaknya, dia memiliki kulit yang lembut dan juga cantik. Keduanya adalah gadis yang sama-sama anggun, apa Dewa akan begitu baik untuk membiarkan mereka suka kepadaku?
Akhirnya Torn, Lyod dan pak tua Mizzre tertarik dengan sabun yang aku buat, Rya bahkan sampai membawanya. Aku meminta ke tiga orang itu membasuh tangan mereka dulu, lalu mereka kubiarkan untuk menggunakan sabun.
Wajah mereka sangat lucu sekali saat mereka mengusap tangan dan sabunnya mengeluarkan busa, mereka seperti orang yang tidak pernah melihat buih-buih sabun, aku sampai ingin menertawai mereka. Saat ini dunia mungkin dipenuhi oleh orang awam, tapi suatu hari... Dunia akan dipenuhi oleh orang yang berpengetahuan. Aku akan membawa lingkungan modern ke dalam dunia ini dengan pengetahuanku.
“Tanganku menjadi bersih dan juga wangi, benda ini benar-benar luar biasa. Ini seperti sihir, tapi setiap orang bisa melakukannya. Nak! Kau benar-benar luar biasa. Jika benda ini kau jual di ibukota, orang akan membelinya dengan harga yang bagus, kau mungkin akan segera kaya, Nak.”
“Tujuanku bukan untuk menjadi kaya, saat ini... Desa Nimiyan ini adalah desa yang pertama kali menjadi tempat memproduksi sabun. Segera nama desa ini akan kembali melejit, akan banyak orang yang datang ke desa, dan kita bisa menghidupkan tempat ini kembali. Saat kita sudah mendapatkan nama kita kembali, tidak menutup kemungkinan orang yang berniat jahat pada desa akan menunjukkan batang hidung mereka kembali, saat itu terjadi kita akan segera mengenali mereka, dan kita... Akan meminta pertanggungjawaban atas perbuatan mereka yang telah memisahkan kita dari keluarga kita.”
Semuanya mengepalkan tangan, emosi mereka kembali memuncak saat mendengar aku menyinggung pelaku yang menjadi dalang pembunuhan setiap orang di desa melalui epidemi yang di buat-buat ini.
Mereka segera menyetujui usulanku, mereka bertekad menghidupkan kembali desa, dan menghadapi orang yang menjadi dalang secara langsung. Akupun... Akan bertarung bersama mereka.
****
Kabar tentang sabun menyebar bagaikan api yang menyulut jerami kering, semua orang di desa datang ke penginapan hanya untuk melihat seperti apa benda yang di sebut sabun itu. Benar saja, benda itu langsung populer, bahkan para penduduk memintaku untuk membuatnya lagi.
Yah... Lagipula aku memang akan memproduksinya secara massal, aku akan meminta mereka membantu, aku akan menuliskan resep yang dapat membuat mereka mengerti cara membuatnya. Meskipun hasilnya tidak akan sesempurna buatanku, tapi aku ingin menjamin hasilnya akan tetap bagus.
Selanjutnya, rencana untuk merenovasi desa. Malam ini... Di penginapan Bulan Bintang ini, aku dan warga desa, akan mengadakan rapat penting yang akan memutuskan nasib desa!