Semua orang mulai merasa lega, tidak harus ada pertarungan yang tidak perlu sesama penduduk Kota Malvin. Karena mereka memiliki pemikiran yang sama, maka dengan memberanikan diri mereka, mereka mulai menyeru. “Hidup Tuan Arvantha!!!” “Hidup Tuan Arvantha!!!” “Hidup Tuan Arvantha!!!” Suara seru-seruan itu menggema di seluruh kota, dengan tangan kanan yang mereka junjung tinggi, mereka mengucapkannya dengan penuh keyakinan. “Jangan bercanda, kalian pikir selama ini bagaimana kalian para prajurit bisa sejahtera, haa?!! Beraninya kalian menentang orang yang telah memberi makan kalian,” ucap Garbha. “Kami tak ingin lagi hidup sejahtera dari kemalangan yang di rasakan saudara kami. Kami semua tak akan mengikuti perintahmu lagi,” balas Kepala Prajurit. “Tuan Arvantha, apa anda mengijinkan

