ADA HARGA DIBALIK BANTUAN

911 Words
"Kenapa?! Kaget?! Ayo naik sekarang!" titah Aksara pada Aruna. Aruna menoleh ke belakang dan dua lelaki preman itu sudah tersadar dan bangun. Mereka hendakmengejar Aruna dan Akssara. Aruna kembali menatap Aksara. Tatapannya begitu sengit dan bengis seklai. "Ini bukan akal -akalan kamu kan, Kak?!" Suara Aruna terdengar begitu sangat lantang. "Mau naik apa gak?! Atau kamu memang ingin dimakan hidup -hidup oleh mereka?" ucap Aksara begitu songong. Aksara sudah menghidupkan mesin motornya dan menutup kaca helm full facenya. Ia memainkan gas motornay dan menunggu Aruna yang masih namapk berpikir keras. Lagi -lagi, Aruna melihat ke belakang dan kembali menatap Aksara yang sudah tak nampak lagi wajahnya. Kalau dipikir agak gak masuk akal juga. Perasaan selama ini, Aruna tidak punya musuh. Kenapa beberapa minggu ini banayk sekali teror misterius yang sangat aneh. Terlebih teror itu sampai di kamar kosnya. Perbuatan siapa coba? Kalau bukan ... Hah! Kita lihat saja, dia beneran baik atau memang hanya modus saja. Aruna pun segera naik ke atas motor Aksara. Dan senyum tipis Aksara pun timbul namun tak terlihat karena tertutup oelh helm. "Pegangan!" teriak Aksara pada Aruna. Aruna mengangguk kecil dan memegang pinggang Aksara. Dengan cepat, Aksara melajukan motor besar itu melesat jauh dan melaju secepat kilat. Rambut Aruna seketika berantakan sekali. Kunciran ekor kuda itu ikut melayang diterpa oleh angin. Aksara membawa Aruna pergi jauh dari tempat itu. Beberapa minggu ini, Aksara memantau kampusnya dan memantau Aruna dari kejauhan. Biar bagaimana pun, Aksara haru sberterima kasih pada Aruna karena oarang yang ia benci mendapatkan hukuman yang setimpal. Walaupun sekarang belum mendapatkan hukuman yang pas dengan dosa yang telah diperbuat. Setidaknya mentalnya sudah kena. Aksara membelokkan motornya ke sebuah gang dan masuk hingga menemukan gang buntu dan masuk ke dalam halaman rumah yang besar. Ia menghentikan laju motornya dan akhirnay Aruna bisa bernapas lega. Bayangkan saja, Aruna duduk dibonceng belakang tanpa memakai jaket dan helm dengan kecepatan seratus dua puluh kilometer per jam dan bahkan rasanya lebih dari itu. Spedometer sampai mentok tak terlihat lagi jarumnya mengarah di angka berapa. Bibir Aruna pucat pasi. Aksara memang handal menyetir motor besarnya. Tubuhnay terasa meliuk -liuk melewati mobil -mobil di sepanjang jalan besar yang tak kalah cepatnya. Aksara melepas helmnya dan memegangnya lalu masuk ke dalam rumah yang terlihat sunyi itu. Aruna diam saja berdiri ditempat asal. Ia tidak tahu dimana saat ini ia berada. "Ayo masuk," panggil Aksara yang menoleh ke belakang karena ia tahu Aruan tidak mengikutinya. Aruna mengangguk kecil adn berjalan pelan menuju rumah yang terbuat dari kayu jati itu. Aksara membuka pintu rumah itu. Aroma kayu jati bercampur dengan kayu cendana menyatu dengan khas mereka yang menjadi aromaterapi tersendiri. Aruna berdecak kagum. Rumah ini dari luar nampak seperti rumah kayu biasa. Tetapi, di dalamnya begitu mewah, elegan, estetik dan mengagumkan sekali. "I -ini rumah siapa?" tanya Aruna pelan sekali. Aruna berharap pertanyaan itu tidak sampai ke telinga Aksara karena ia tadi hanay asal bicara. Tidak benar -benar sedang bicara dengan Aksara. "Rumah gue," jawab Aksara singkat. Disana hanya ada dua kamar yang tertutup rapat. Ada ruang tamu yang dilewati begitu saja oleh Aksara. Terpaksa Aruna mengikuti sang pemilik rumah. Aksara meletakkan helm kesayangannya di atas lemari kayu yang terlihat tua tapi cantik sekali bentuknya, penuh ukiran. "Duduk," titah Aksara pada Aruna. Aksara malah masuk ke ruangan lain dan mmebawakan minuman untuk Aruna. Aruan duduk di kursi kayu yang sangat panjang. Kursi yang hanya diberi bantalan agar empuk saat ada tamu yang duduk disana. "Minum ini. Kamu pucat banget tuh," titah Aksara lagi. Aksara memberikan gelas berisi teh hangat dengan gula batu yang masih belum larut di gelas Aruna. "Ini apa? Tawas?" tanya Aruna bingung. "Hmmm ... Lo tuh pinter tapi katrok! Itu gula batu. Cuma orang -orang kaya seperti gue yang tahu kesehatan dan memakai gula batu untuk minuman yang dikonsumsi," jelas Aksara dengan nada sombong. Aruna memutar kedua bola matanya dengan malas. Ia meniup -niup minuman teh panas itu lalu menyeruput dnegan nikmat. Benar -benar menghangatkan. Rasa mual dan pusing yang semapt dirasa pun menghilang perlahan. "But the way ... Makasih udah bantu aku," ucap Aruna dengan tulus. Aksara cuma diam dan menatap Aruna dengan sangat lekat. "Kamu gak jawab ucapan terima kasih aku, Kak? Aku udah bilang terima kasih tadi udah bantu aku" jelas Aruna dengan sedikit gugup. Tatapan Aksara semkain lekat dan tak berkedip. "Itu semua gak ada yang gratis, Runa," ucap Aksara mebenarkan duduknya dan melipat kedua tangannya di depan dad4. "Apa?! Apa maksud kamu, Kak?" tanya Aruna pada Aksara. Aksara menggigit bibir bawahnya dan mulai bicara. "Aku mau ajak kamu menikah. Biar kamu aman," jelas Aksara to the poin. Ia tidak mau basa basi lagi. "Apa! Gak! Ini semua kayaknay akal bulus kakak ya?!" ucap Aruna kesal. Ia merasa seperti sedang dipermainkan. Aksara menarik napasnya dalam dan tersenyum kecut. "Justru aku yang ingin menolong kamu. Tapi lebih tepatnya, kita bakal saling menguntungkan sih. Lagi pula, kamu sebatang kara, kamu pasti butuh uang untuk biaya kuliah kamu, baiya hidup, biaya lain -lain. Dan aku akan kasih semua itu asal kamu mau menikah denagn aku, sampai misi aku selesai," jelas Aksara lagi. "Gak! Kakak pikir, Aruna ini anak bayi? Yang denagn mudah kakak rayu dengan iming -iming biaya hidup dan biaya kuliah gratis? Runa masih bisa cari uang dari kerja keras Runa sendiri. Runa mau pulang sekarang," jelas Aruna lagi. "Huh! Dasar keras kepala!" umpat Aksara di dalam hati. Sampai saat ini, Aruna tidak tahu, apa yang sedang terjadi. Permasalahan yang muncul itu karena akibat, bukan akal bulus dan modus semata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD