BAB 3: PERTARUHAN HARGA DIRI

1767 Words
Siska menatap layar ponselnya yang masih gelap, menunggu jawaban dari Linda. Ia duduk di kursi kayu keras di luar bangsal perawatan intensif, tempat aroma karbol dan kecemasan bercampur menjadi satu. Keputusannya untuk menurunkan tarif dan menerima "penghinaan" dengan bersedia dibanding-bandingkan dengan Clarissa adalah pil paling pahit yang pernah ia telan. Namun, setiap kali ia mendengar suara mesin EKG yang berbunyi ritmis di dalam ruangan Bu Asih, egonya yang setinggi langit itu dipaksa bertekuk lutut. Sekitar pukul dua dini hari, ponselnya bergetar. “Sis, Pak Handoko setuju. Tapi ada syarat tambahan. Dia mau ‘threesome’ sama Clarissa di Singapura. Dia bilang, dia pengen lihat gimana ‘senior’ ngajarin ‘junior’. Kalau lo oke, deposit masuk subuh ini. Kabari secepatnya.” Siska merasa perutnya melilit hebat. Ia ingin melempar ponsel itu ke dinding. Ia ingin berteriak bahwa ia bukan pelatih kursus, bukan pula barang pajangan yang bisa disandingkan dengan siapa saja demi fantasi gila seorang pria tua. Selama bertahun-tahun, ia memiliki aturan ketat: ia adalah solo player. Ia menjual eksklusivitas. Ia menjual ilusi bahwa pria yang bersamanya adalah satu-satunya orang paling beruntung di dunia. Kini, Pak Handoko ingin menghancurkan ilusi itu dan mengubahnya menjadi sirkus. "b******n," desis Siska pelan. Air mata kemarahan menggenang di pelupuk matanya. Ia menoleh ke arah jendela kecil di pintu bangsal. Bu Asih tampak begitu pucat di bawah sinar lampu fluoresens yang dingin. Siska teringat masa kecilnya di rumah besar milik Freddy. Saat itu, ia baru berusia sepuluh tahun. Ia sedang demam tinggi, namun Freddy sedang asyik berpesta di hotel dengan kolega dan simpanannya, sementara ibunya sedang sibuk mengurus peluncuran cabang salon baru. Hanya Bu Asih yang duduk di samping tempat tidurnya, mengompres dahinya dengan handuk basah sepanjang malam sambil membisikkan doa-doa yang tidak Siska mengerti. Saat itu, Siska menyadari bahwa uang orang tuanya bisa membeli kasur paling empuk, tapi tidak bisa membeli ketenangan. Dan sekarang, ia butuh uang itu untuk membalas budi. Dengan tangan gemetar, ia mengetik balasan. “Oke. Deposit sekarang. Kirim tiketnya.” Siska mematikan ponselnya dan menyandarkan kepala ke dinding. Ia merasa kotor, namun ia juga merasa mati rasa. Inilah puncak dari filosofi "Bomat" yang ia anut. Jika dunia memperlakukannya seperti sampah, maka ia akan menjadi sampah yang paling mahal dan berguna bagi orang yang ia sayangi. Tiga hari kemudian, Siska berdiri di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Ia mengenakan setelan blazer hitam yang elegan, kacamata hitam Chanel yang menutupi lelah di matanya, dan sepatu hak tinggi yang membuatnya tampak mendominasi. Di sampingnya, berdiri Clarissa. Gadis itu mengenakan rok mini ketat dan kaos bermerk yang terlalu mencolok. Ia tampak gelisah, terus-menerus memeriksa riasan wajahnya di kamera ponsel. Baginya, ini mungkin sebuah prestasi besar—bisa terbang ke Singapura bersama "legenda" seperti Siska dan klien sekelas Pak Handoko. "Kak Siska," Clarissa menyapa dengan nada bicara yang dibuat-buat manja. "Duh, aku nervous banget. Ini pertama kalinya aku dapet klien sekelas Pak Handoko. Makasih ya Kak sudah mau berbagi." Siska tidak menoleh. Ia hanya menatap lurus ke depan. "Jangan panggil gue 'Kak'. Kita bukan kakak-adik. Di sini kita kerja. Simpan suara manja lo itu buat Pak Handoko nanti. Dan satu hal lagi, jangan pernah coba-coba mencuri panggung gue kalau lo nggak mau gue tinggal di Changi tanpa paspor." Clarissa langsung terdiam, wajahnya memucat. Ia baru menyadari bahwa aura Siska bukan sekadar akting. Itu adalah otoritas yang lahir dari belasan tahun bertahan di dunia yang kejam. Selama penerbangan di kelas bisnis, Siska hanya memejamkan mata. Ia tidak menyentuh sampanye yang ditawarkan pramugari. Pikirannya melayang pada tagihan rumah sakit yang baru saja ia lunasi sebagian dengan uang deposit Pak Handoko. Ia juga sempat menelepon rumah sakit sebelum take-off. Dokter bilang kondisi Bu Asih stabil, tapi masih kritis. "Lo harus profesional, Sis," bisiknya pada diri sendiri. "Demi Ibu." Sesampainya di Marina Bay Sands, Pak Handoko sudah menunggu di suite mewahnya. Pria berusia enam puluh tahun itu tampak cerah, matanya berbinar saat melihat Siska dan Clarissa masuk bersamaan. "Ah, dua bunga kebanggaan Jakarta!" Pak Handoko tertawa, merangkul pinggang Clarissa sambil matanya tetap menatap tajam ke arah Siska. "Siska, kamu makin matang saja. Seperti wine yang disimpan lama. Dan Clarissa... kamu segar seperti jus jeruk di pagi hari. Saya suka kombinasi ini." Siska memasang senyum profesionalnya—senyum yang tidak pernah mencapai matanya. "Pak Handoko selalu tahu cara memuji wanita. Jadi, agenda kita malam ini apa?" Malam itu adalah malam terlama dalam hidup Siska. Ia harus menekan semua rasa mualnya. Ia harus melihat bagaimana Clarissa, dengan segala kecerobohan dan kenaifannya, mencoba meniru gaya Siska dalam menggoda. Ada saat di mana Pak Handoko sengaja membandingkan mereka secara langsung. "Lihat Clarissa, Siska punya cara menatap yang tidak bisa kamu tiru. Tapi Siska, lihat kulit Clarissa, tidak ada satu pun pori-pori yang terbuka. Luar biasa, bukan?" Siska hanya tersenyum, menyesap minumannya, dan memberikan komentar sarkas yang membuat Pak Handoko tertawa terbahak-bahak. Ia menggunakan kecerdasannya untuk tetap menjadi pusat perhatian, meski ia tahu secara fisik ia sedang "dikalahkan". Ia adalah konduktor di kamar itu, mengatur ritme agar Pak Handoko tetap merasa puas tanpa harus membuat Siska kehilangan martabatnya sepenuhnya di depan Clarissa. Namun, saat Pak Handoko dan Clarissa akhirnya tertidur lelap, Siska berjalan menuju balkon kamar lantai tinggi itu. Angin malam Singapura yang lembap menerpa wajahnya. Ia melihat kelap-kelip lampu di bawah sana. Ia merasa sangat kesepian. Ia mengeluarkan ponsel, berharap ada pesan dari Rindra. Masih tidak ada. Pria itu benar-benar menghilang saat Siska berada di titik terendahnya. Lalu, iseng, ia mencari nama Arlan di mesin pencari. Sesuatu muncul. Sebuah artikel berita ekonomi setahun yang lalu. “Arlan Wicaksono, CEO Muda yang Sukses Mengembangkan Startup Edukasi untuk Anak Terlantar.” Di sana ada foto Arlan. Ia tampak jauh lebih dewasa, lebih tampan, dengan aura ketenangan yang selalu Siska rindukan. Di sampingnya ada seorang wanita cantik berpakaian sederhana yang tersenyum lembut ke arah kamera—istrinya. Siska menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isakan kecil lolos dari celah jarinya. Arlan sukses. Arlan bahagia. Arlan membangun masa depan untuk anak-anak yang mungkin nasibnya sama seperti Siska dulu. Sementara Siska? Ia terjebak di kamar hotel mewah, menjual dirinya bersama seorang gadis yang usianya hampir separuh usianya, demi membayar sisa-sisa kehidupan satu-satunya orang yang menyayanginya. "Harusnya gue dengerin lo dulu, Lan," bisiknya lirih. Tiba-tiba, Clarissa muncul di balkon, mengenakan jubah mandi putih. Wajahnya tidak lagi tampak sombong; ia terlihat lelah dan sedikit takut. "Kak... maksudku, Siska," suara Clarissa pelan. "Pak Handoko... dia kasar ya kalau sudah nggak sadar?" Siska menoleh, melihat memar kecil di lengan Clarissa. Ada rasa iba yang mendalam muncul di hati Siska. Gadis ini baru memulai, dan dia sudah merasakan taring dunia ini. Siska mendekat, lalu dengan lembut mengusap lengan Clarissa. "Ini baru permulaan, Clar. Kalau lo pikir dunia ini cuma soal tas bermerk dan terbang kelas bisnis, lo salah besar. Ini soal seberapa kuat lo bisa menahan rasa mual pada diri lo sendiri setiap kali lo bangun pagi." Clarissa menatap Siska dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa Kakak masih bertahan?" Siska terdiam sejenak. "Karena gue nggak punya pilihan lain. Gue nggak punya siapa-siapa selain seorang ibu angkat yang lagi sekarat di rumah sakit. Dan gue nggak mau dia mati karena gue nggak punya duit." Clarissa terdiam. Untuk pertama kalinya, ada momen kejujuran di antara dua wanita yang seharusnya menjadi saingan itu. "Pulang dari sini, tabung uang lo," lanjut Siska. "Jangan beli barang-barang sampah yang cuma bikin lo kelihatan kaya. Beli aset. Sekolah lagi. Keluar dari sini sebelum lo sampai di usia gue dan sadar kalau cermin adalah musuh terbesar lo." Keesokan harinya, sebelum kembali ke Jakarta, Siska menerima sisa pembayaran dari Pak Handoko. Jumlahnya sangat besar, cukup untuk membayar operasi lanjutan Bu Asih dan biaya perawatan selama beberapa bulan ke depan. Di dalam pesawat saat perjalanan pulang, Clarissa duduk lebih tenang. Ia banyak bertanya pada Siska tentang bagaimana mengelola uang, bukan lagi soal bagaimana cara memakai eyeliner agar terlihat menggoda. Siska menjawab semuanya dengan jujur. Ia merasa, jika ia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari masa lalu, setidaknya ia bisa memberi peringatan pada orang lain agar tidak jatuh ke lubang yang sama. Sesampainya di Jakarta, Siska langsung menuju rumah sakit. Ia tidak pulang ke apartemennya untuk ganti baju. Ia masih mengenakan pakaian dari Singapura—simbol kemunafikannya—saat ia melangkah masuk ke bangsal Bu Asih. "Mbak Siska!" perawat menyapa dengan wajah cerah. "Bu Asih sudah sadar sepenuhnya dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Beliau terus menanyakan Mbak." Siska berlari kecil menuju ruangan itu. Di sana, Bu Asih sedang duduk bersandar, mencoba menyuap bubur rumah sakit yang hambar. Saat melihat Siska, wajah wanita tua itu langsung bersinar. "Siska... kamu dari mana, nduk? Wangi sekali, tapi wajahmu capek," Bu Asih mengelus pipi Siska. Siska berlutut di samping tempat tidur, menyembunyikan wajahnya di tangan Bu Asih. Ia menangis sejadi-jadinya. Bukan air mata kemarahan, tapi air mata kelegaan. "Siska cuma kerja, Bu. Maaf Siska baru datang. Sekarang Ibu jangan mikirin biaya lagi ya. Semua sudah Siska bereskan. Ibu cuma perlu fokus sembuh." "Uang itu... bukan uang haram kan, nduk?" tanya Bu Asih pelan, matanya menatap dalam ke mata Siska. Siska tertegun. Jantungnya berdegup kencang. Ia ingin berbohong. Ia ingin mengatakan ia mendapat bonus besar dari kantor atau memenangkan undian. Tapi di depan mata Bu Asih yang bening dan jujur, kata-kata bohong itu tersangkut di tenggorokannya. "Ini uang hasil keringat Siska, Bu," jawab Siska diplomatis, meski hatinya perih. "Siska janji, Siska akan segera cari jalan lain. Siska cuma mau Ibu tetap ada di sini sama Siska." Bu Asih menghela napas panjang, lalu mengelus rambut Siska. "Ibu selalu berdoa supaya kamu menemukan jalan pulang, Siska. Bukan pulang ke rumah, tapi pulang ke dirimu yang dulu. Gadis kecil yang selalu bangga menunjukkan gambar bintangnya pada Ibu." Siska hanya bisa terdiam. Di dalam apartemen mewahnya yang akan segera ia lelang, dan di antara tumpukan tas desainer yang akan ia jual, Siska menyadari bahwa tarif yang paling tinggi bukanlah uang dari Pak Handoko. Tarif tertinggi adalah harga dari sebuah ketenangan jiwa. Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Siska tidak mengatakan "Bomat". Ia sangat, sangat peduli. Ia mulai merencanakan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya: berhenti sebelum ia benar-benar hancur menjadi debu. Namun, dunia kelam tidak pernah melepaskan mangsanya begitu saja. Sebuah pesan masuk dari Linda saat Siska sedang menyuapi Bu Asih. “Sis, ada masalah besar. Pak Gunawan baru saja tahu lo nerima tawaran Pak Handoko dengan harga miring. Dia merasa terhina karena lo dulu nolak tawaran serupa dari dia. Dia punya foto-foto lo di Singapura... dan dia ngancam bakal sebarin ke media dan relasi lo kalau lo nggak mau 'melunasi' hutang rasa hormat ke dia. Gratis.”  Siska menatap layar itu dengan pandangan kosong. Terhempas, ternyata, punya banyak lapisan kedalaman. Dan Siska baru saja mencapai dasar yang lebih gelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD