BAB 2: TARIF YANG TERKOREKSI

1765 Words
Siska terbangun dengan kepala yang berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Sinar matahari Jakarta yang polutif menerobos masuk melalui celah gorden otomatis yang terbuka hanya setengah. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengusir sisa-sisa mimpi buruk semalam—mimpi di mana ia berdiri di tengah kerumunan pesta, namun perlahan-lahan kulitnya rontok seperti cat kering, memperlihatkan sosok keriput yang membuat orang-orang berteriak ketakutan. Ia meraba sisi tempat tidurnya. Kosong. Tentu saja kosong. Rindra hanya datang jika ia butuh hiburan, bukan untuk menemani Siska sarapan bubur ayam atau mendengarkan keluh kesahnya. Siska mendengus, bangkit dengan malas menuju kamar mandi yang luasnya hampir menyamai luas kontrakan Bu Asih. Di depan wastafel marmer, ia memulai ritual paginya. Serangkaian serum, krim mata, dan pelembap yang harganya bisa membiayai sekolah seorang anak SD selama setahun, ia aplikasikan dengan sangat hati-hati. Ia menatap wajahnya tanpa riasan. Matanya sedikit sembap, dan garis di sudut bibirnya tampak lebih nyata di bawah lampu neon yang jujur. "Lo masih cantik, Sis. Lo masih Siska yang dulu," bisiknya pada bayangan di cermin. Suaranya terdengar seperti sebuah kebohongan yang dipaksakan. Ponselnya berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari Linda, agen—atau lebih tepatnya "perantara"—yang biasa mengatur pertemuan Siska dengan para petinggi. "Halo, Lin? Ada kabar bagus?" tanya Siska langsung, mencoba terdengar antusias. "Sis," suara Linda di seberang sana terdengar ragu. "Soal perjalanan ke Singapura dengan Pak Handoko minggu depan... beliau minta dibatalkan." Siska menghentikan gerakannya yang sedang memulas pelembap. "Dibatalkan? Kenapa? Kita sudah setuju harganya, kan? Deposit juga belum masuk." "Masalahnya bukan di harga, Sis," Linda menghela napas panjang. Siska bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres. "Pak Handoko... dia melihat profil baru yang aku kirim tempo hari. Dia bilang dia mau coba suasana baru. Dia ajak Clarissa." Gelas kaca yang dipegang Siska nyaris tergelincir dari tangannya. Clarissa lagi. Nama itu mulai terasa seperti racun yang menyebar di nadinya. "Clarissa? Anak ingusan yang bahkan nggak tahu bedanya wine mahal sama cuka apel itu? Lin, lo bercanda?" "Sis, dengerin gue," suara Linda melembut, tapi kata-katanya tajam. "Dunia ini berputar. Pak Handoko bilang dia bosan dengan gaya 'wanita matang'. Dia mau sesuatu yang... lebih segar. Dan jujur saja, Sis, Clarissa mau dibayar setengah dari tarif standar lo." "Setengah?!" Siska berteriak, tidak mampu lagi menahan harga dirinya yang terluka. "Dia merusak harga pasar! Dasar murahan!" "Itu hukum alam, Sis. Penawaran dan permintaan. Gue saranin, untuk beberapa bulan ke depan, lo turunkan sedikit tarif lo. Lo harus sadar posisi, Sis. Lo sudah tiga puluh lima. Di bisnis ini, itu sudah usia pensiun bagi banyak orang." Siska langsung mematikan sambungan telepon tanpa kata pamit. Napasnya memburu. Ia merasa dilecehkan secara profesional. Selama bertahun-tahun, ia telah membangun reputasi sebagai "wanita kelas satu". Ia cerdas, ia bisa bicara tentang politik, ekonomi, hingga tren mode dunia. Ia bukan sekadar tubuh; ia adalah paket lengkap. Tapi sekarang, semua itu dianggap tidak bernilai hanya karena ada wajah baru yang lebih kencang dan lebih murah. "Bomat! Dasar orang-orang nggak punya selera!" teriaknya pada ruangan yang kosong. Ia melemparkan ponselnya ke atas ranjang dan berjalan menuju balkon. Di bawah sana, kemacetan Jakarta mulai menggila. Ia melihat mobil-mobil mewah merayap seperti semut. Ia ingat bagaimana Freddy, ayahnya, selalu membanggakan jabatan BUMN-nya tapi di rumah memperlakukan ibunya seperti barang pecah belah yang tidak diinginkan. Ia ingat ibunya yang kabur ke salon mewahnya hanya untuk mencari pelarian di pelukan pria-pria yang lebih muda. Ponselnya kembali berdering. Kali ini dari nomor yang tidak ia kenal. Siska mengerutkan kening, lalu mengangkatnya. "Halo?" "Selamat siang, apakah ini dengan Ibu Siska?" suara seorang pria yang terdengar formal. "Ya, dengan saya sendiri. Ada apa?" "Kami dari bagian administrasi Rumah Sakit Medika, Jakarta Timur. Ini mengenai Ibu Asih. Beliau baru saja dibawa ke IGD karena sesak napas yang cukup parah." Dunia Siska seolah berhenti berputar. Semua kemarahan tentang tarif dan Clarissa menguap seketika, digantikan oleh rasa dingin yang menusuk tulang. "Sesak napas? Sekarang keadaannya gimana? Saya segera ke sana!" Siska berlari menyusuri lorong rumah sakit dengan sepatu hak tinggi yang bunyinya menggema, menarik perhatian orang-orang di sekitar. Ia tidak peduli. Ia bahkan tidak sempat memakai riasan tebal, hanya kacamata hitam besar untuk menutupi matanya yang mulai memerah. Di depan ruang perawatan, ia melihat seorang wanita paruh baya tetangga Bu Asih yang membantunya tadi. "Mbak Siska, syukurlah Mbak datang," kata wanita itu cemas. "Tadi Bu Asih tiba-tiba jatuh di dapur. Katanya dadanya sakit sekali." Siska masuk ke dalam ruangan. Di sana, di atas tempat tidur yang sempit, Bu Asih terbaring lemah dengan selang oksigen di hidungnya. Wajahnya yang keriput tampak sangat pucat, kontras dengan seprai rumah sakit yang putih bersih. Wanita yang dulu selalu kuat menggendongnya saat ia menangis karena orang tuanya bercerai, kini tampak begitu kecil dan rapuh. "Bu..." bisik Siska, menggenggam tangan Bu Asih yang terasa dingin dan kasar. Bu Asih membuka matanya perlahan. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya yang kering. "Siska... nduk... maaf ya, Ibu jadi merepotkan kamu." "Jangan ngomong gitu, Bu. Ibu harus sembuh," suara Siska bergetar. Tak lama kemudian, dokter datang dan mengajak Siska bicara di luar ruangan. "Ibu Asih mengalami gagal jantung kongestif, Mbak. Usianya yang sudah lanjut dan faktor kelelahan memperburuk kondisinya. Beliau harus dirawat secara intensif dan mungkin perlu tindakan lebih lanjut. Biayanya cukup besar karena ada beberapa obat dan prosedur yang tidak ditanggung asuransi dasar." Siska mengangguk tanpa ragu. "Lakukan apa saja yang terbaik, Dok. Masalah biaya, jangan khawatir. Saya akan urus." Namun, saat Siska pergi ke bagian administrasi untuk membayar uang muka, ia tertegun melihat angka yang tertera di layar komputer. Tabungannya memang masih ada, tapi setelah pengeluaran besar bulan lalu untuk cicilan apartemen, asuransi mobil mewah, dan gaya hidupnya, angkanya tidak seaman yang ia bayangkan. Apalagi dengan hilangnya beberapa proyek besar belakangan ini. Ia mengeluarkan kartu kreditnya yang paling eksklusif. "Bayar pakai ini," katanya dengan nada penuh percaya diri yang dipaksakan. Setelah urusan administrasi selesai, Siska duduk di kursi tunggu rumah sakit yang keras. Ia menatap dinding yang catnya mulai mengelupas. Ironis. Di luar sana ia dikenal sebagai wanita bertarif mahal yang hidup di awang-awang, tapi di sini, ia hanyalah seorang anak yang terancam kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya. Ia teringat kembali masa SMA-nya, saat Freddy dan ibunya membagi harta gono-gini seolah sedang membagi potongan daging di pasar. "Siska ikut siapa?" tanya hakim saat itu. "Terserah dia, saya sibuk dengan bisnis salon saya yang baru buka cabang," jawab ibunya tanpa menoleh. "Saya juga akan sering dinas ke luar negeri, mungkin lebih baik dia sama pembantu saja dulu," timpal Freddy dingin. Hanya Bu Asih yang kemudian memeluknya erat dan berkata, "Mbak Siska ikut Ibu saja ke rumah Ibu di pinggiran. Ibu nggak punya apa-apa, tapi Ibu nggak akan tinggalin Mbak." Siska terisak pelan di balik kacamata hitamnya. Selama bertahun-tahun, ia merasa uang adalah segalanya karena uanglah yang diberikan orang tuanya sebagai pengganti kehadiran mereka. Ia mengejar uang seperti orang kesurupan, menjual harga dirinya hanya agar ia tidak pernah lagi merasa "dibuang" karena miskin. Tapi sekarang, saat uang itu mulai menjauh, ia merasa benar-benar telanjang. Ia membuka ponselnya, mencari kontak Rindra. Ia butuh bantuan. Bukan cuma uang, tapi seseorang untuk bersandar. “Rindra, aku lagi di rumah sakit. Bu Asih masuk IGD. Bisa datang sebentar? Aku butuh kamu.” Pesan itu terkirim. Sepuluh menit berlalu. Setengah jam. Satu jam. Hanya ada centang biru, namun tidak ada balasan. Siska tertawa miris. Tentu saja. Rindra hanya tertarik pada Siska yang cantik di atas ranjang atau Siska yang anggun di meja makan malam, bukan Siska yang berantakan di koridor rumah sakit. Tiba-tiba, sebuah notifikasi masuk. Bukan dari Rindra, melainkan sebuah email pengingat cicilan apartemennya yang akan jatuh tempo dalam tiga hari. Jumlahnya sangat besar. Jika ia menggunakan sisa uangnya untuk rumah sakit Bu Asih, ia tidak akan bisa membayar cicilan itu. "Siska, lo harus tetap tenang," ia bicara pada dirinya sendiri. Ia mulai menghubungi beberapa kontak "pria kaya" lainnya yang tersisa di daftar ponselnya. Ia mencoba bersikap manis, melupakan ego "Gadis Bomat"-nya demi mendapatkan setidaknya satu proyek kilat. "Halo, Pak Andre? Ingat saya, Siska? Ah, iya... saya lagi ada waktu kosong minggu ini. Mungkin Bapak mau... apa? Bapak lagi liburan sama keluarga? Oh, baiklah. Maaf mengganggu." "Halo, Pak Surya? Ini Siska. Saya cuma mau tanya kabar... oh, sudah pensiun dan pindah ke luar kota? Syukurlah kalau begitu." Penolakan demi penolakan ia terima. Ada yang menolak secara halus, ada yang bahkan tidak mengangkat teleponnya. Siska merasa seperti barang diskonan di akhir musim yang sudah tidak dilirik orang lagi. Ia berjalan kembali ke kamar Bu Asih. Wanita tua itu sedang tidur terlelap karena pengaruh obat. Siska duduk di sampingnya, mengambil sebuah foto lama dari dalam dompetnya. Foto saat ia baru masuk kuliah, masih dengan wajah polos dan harapan yang membumbung tinggi. Di sampingnya ada Arlan, mengenakan jaket almamater yang sudah kusam, namun tersenyum lebar. "Siska, aku tahu kamu pengen hidup mewah karena masa lalumu. Tapi percayalah, kemewahan itu cuma bungkus. Kalau bungkusnya sobek, yang tersisa cuma isinya. Dan isi kamu itu baik, Siska. Jangan dikotori,"kata Arlan dulu, sesaat sebelum Siska memutuskannya dengan hinaan yang paling menyakitkan. "Arlan... lo bener," bisik Siska lirih. "Bungkus gue udah mulai sobek sekarang." Siska menyadari bahwa tarifnya yang terkoreksi bukan hanya soal uang. Harga dirinya, kebebasannya yang semu, dan semua kemunafikan hidupnya mulai ditagih oleh waktu. Ia menatap Bu Asih, lalu menatap bayangannya di kaca jendela rumah sakit yang buram. Ia harus melakukan sesuatu. Jika ia harus menurunkan tarif, jika ia harus bekerja dua kali lebih keras, atau bahkan jika ia harus mengemis, ia akan melakukannya demi Bu Asih. Siska si "Gadis Bomat" mungkin mulai kalah dalam persaingan dunia kelam, tapi Siska si manusia baru saja mulai belajar apa artinya berjuang untuk sesuatu yang nyata. Ia mengambil ponselnya kembali, menghapus air matanya, dan mengetik pesan kepada Linda. “Lin, hubungi Pak Handoko lagi. Bilang saya setuju turun harga. Tapi saya butuh uang mukanya sekarang juga. Terserah dia mau ajak Clarissa juga atau nggak, saya nggak peduli. Saya butuh proyek itu.” Siska mematikan layar ponselnya. Ia merasa mual dengan keputusannya sendiri. Ia merasa telah menjilat ludahnya sendiri. Tapi saat ia melihat napas Bu Asih yang tersengal di balik masker oksigen, ia tahu bahwa di dunia ini, tidak ada yang lebih mahal daripada nyawa orang yang mencintai kita tanpa syarat. Malam itu, di koridor rumah sakit yang dingin, Siska sadar bahwa kebebasan yang ia agungkan selama ini hanyalah sebuah pelarian yang membawanya kembali ke titik nol. Ia cantik, ia pernah bebas, dan kini... ia benar-benar mulai terhempas. Namun di tengah kehempasannya, ada secercah tekad yang berbeda di matanya. Bukan lagi soal validasi dari pria, tapi soal penebusan dosa kepada wanita tua yang telah menyelamatkan hidupnya. "Bomat sama gengsi," gumamnya, kali ini dengan nada yang benar-benar tulus. "Yang penting Ibu sembuh."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD