BAB 1: CERMIN YANG BERKHIANAT

1542 Words
Siska selalu percaya bahwa wajahnya adalah aset likuid yang lebih berharga daripada saham gabungan mana pun di bursa efek. Di depan cermin rias yang dikelilingi lampu-lampu LED putih yang menyilaukan, ia menatap bayangannya sendiri dengan ketelitian seorang kurator seni yang sedang mencari retakan pada lukisan antik. "Sial," umpatnya pelan. Ia mendekatkan wajah ke cermin, hingga hidungnya nyaris menyentuh kaca. Di sana, di sudut matanya, ada garis halus—sehelai kerutan yang seolah mengejeknya. Bagi wanita lain, mungkin itu hanya tanda kedewasaan yang wajar. Tapi bagi Siska, itu adalah sinyal bahaya. Itu adalah tanda bahwa masa kedaluwarsanya mulai mendekat. Ia meraih concealer mahal dari meja riasnya yang penuh sesak dengan produk kecantikan dari Paris dan Milan. Dengan gerakan tangkas, ia menutupi "khianat" kecil itu. Bomat. Bodo amat. Selama lampu klub malam cukup remang dan bedaknya cukup tebal, tidak akan ada yang sadar bahwa sang ratu mulai menua. Siska menarik napas panjang, mematut dirinya yang mengenakan gaun sutra berwarna hijau zamrud yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Di usia tiga puluh lima, tubuhnya masih menjadi dambaan. Ia masih memiliki lekukan yang bisa membuat pria beristri lupa jalan pulang. Namun, ia tahu benar, di dunia yang ia geluti, usia tiga puluh lima adalah masa senja. Di luar sana, gadis-gadis berusia dua puluh tahun dengan kulit sekencang drum baru sedang mengantre untuk merebut kursinya. Ponselnya bergetar di atas meja marmer. Sebuah pesan w******p dari Rindra. “Sis, malam ini aku nggak bisa ke apartemen. Ada urusan mendadak sama istri. Tapi aku sudah transfer buat belanja mingguan kamu. Have fun, ya.” Siska mendengus. Ia tidak membalas pesan itu. Ia tidak peduli pada alasan "urusan mendadak" yang klise itu. Yang ia pedulikan adalah notifikasi dari aplikasi perbankannya yang muncul sesaat kemudian. Angkanya cukup besar, cukup untuk membeli tas desainer terbaru tanpa harus melihat label harga. Tapi entah kenapa, malam ini, kepuasan itu terasa hambar. "Bomat," gumamnya lagi, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Yang penting duitnya masuk." Ia menyambar tas tangannya, memakai sepatu hak tinggi sepuluh senti yang membuatnya merasa setinggi dewi, dan melangkah keluar dari apartemen penthouse-nya di kawasan Jakarta Selatan. Klub malam di SCBD itu dipenuhi dentum musik yang menggetarkan d**a dan aroma campuran antara parfum mahal, alkohol, dan ego. Siska masuk dengan kepala tegak, dagu sedikit terangkat—pose andalannya yang meneriakkan kepercayaan diri tingkat tinggi. Setiap mata menoleh padanya. Ia menikmatinya. Ia haus akan pandangan-pandangan itu. Baginya, tatapan pria adalah validasi bahwa ia masih berkuasa. Ia duduk di meja VIP yang sudah dipesan. Tak lama, beberapa temannya—wanita-wanita dengan gaya hidup serupa—bergabung. Ada Lisa, yang baru saja melakukan operasi hidung ketiga, dan Maya, yang sedang bangga memamerkan berlian baru dari simpanannya. "Eh, kalian dengar nggak?" Lisa berteriak di tengah kebisingan musik. "Si Clarissa, anak baru yang baru lulus kuliah itu, katanya baru saja 'diambil' sama Pak Gunawan. Padahal itu kan dulu klien tetapnya Siska, ya?" Siska menyesap champagne-nya dengan tenang, meski dadanya terasa seperti dipukul palu godam. Pak Gunawan adalah salah satu klien paling loyal—dan paling royal—yang pernah ia miliki. Mendengar namanya bersanding dengan gadis ingusan seperti Clarissa membuat perut Siska mual. "Pak Gunawan butuh variasi mungkin," sahut Siska santai, bibirnya menyunggingkan senyum sarkas yang sempurna. "Tahu sendiri kan, anak baru biasanya lebih 'berisik' tapi kurang teknik. Biarkan saja dia belajar dulu. Nanti kalau Pak Gunawan sudah bosan sama mainan plastik, dia juga balik lagi ke saya." Teman-temannya tertawa, memuji ketajaman lidah Siska. Tapi di dalam hati, Siska merasa sesak. Ia tahu benar permainannya. Di dunia ini, teknik tidak selalu menang melawan kemudaan. Pria-pria seperti Pak Gunawan tidak mencari kecerdasan atau percakapan yang mendalam; mereka mencari sesuatu yang baru, yang belum ternoda, yang bisa mereka banggakan sebagai piala di depan kolega mereka. Malam semakin larut. Siska mulai merasa lelah, sebuah perasaan yang jarang ia akui. Ia melihat ke seberang ruangan, ke area dance floor yang penuh sesak. Di sana, ia melihat Clarissa. Gadis itu memang cantik, dengan kulit yang memantulkan cahaya lampu strobo tanpa perlu bantuan concealer berlebih. Clarissa tertawa lepas, tampak begitu bebas dan tanpa beban. Siska teringat dirinya sepuluh tahun yang lalu. Saat itu, dialah sang Clarissa. Dialah yang menjadi pusat perhatian. Dialah yang bisa membuat pria paling berkuasa sekalipun bertekuk lutut hanya dengan satu kedipan mata. Saat itu, ia merasa dunia ada di dalam genggamannya. Ia merasa tidak butuh siapa-siapa. Orang tuanya yang saling berselingkuh dan akhirnya membuangnya ke rumah Bu Asih telah mengajarkannya satu hal: jangan pernah bergantung pada kasih sayang. Bergantunglah pada uang, karena uang tidak pernah berkhianat. Tapi malam ini, uang di rekeningnya terasa seperti kertas kosong. Tiba-tiba, seorang pria asing menghampiri mejanya. Pria itu tampak berusia akhir empat puluhan, berpakaian rapi, dan memiliki aura kekuasaan yang kuat. "Siska, kan?" tanya pria itu. Siska memasang senyum terbaiknya. "Ya. Dan Anda?" "Saya teman Rindra. Dia sering cerita tentang Anda," pria itu menatap Siska dari atas ke bawah, seolah sedang menilai kualitas barang di sebuah pelelangan. "Ternyata aslinya memang cantik. Tapi, Rindra bilang Anda sudah mulai... pensiun?" Senyum Siska membeku. "Pensiun? Sepertinya Rindra terlalu banyak minum saat bicara dengan Anda." Pria itu terkekeh. "Mungkin. Tapi jujur saja, saya sedang mencari seseorang untuk menemani saya dinas ke luar negeri minggu depan. Saya sempat berpikir tentang Anda, tapi setelah melihat Clarissa di sana... sepertinya saya sudah membuat keputusan." Pria itu berbalik pergi tanpa menunggu jawaban. Siska mencengkeram gelas champagne-nya begitu kuat hingga jemarinya memutih. Hinaan itu sangat halus, namun dampaknya lebih menyakitkan daripada tamparan. Ia baru saja ditolak secara terang-terangan karena faktor usia. "Siska, kamu nggak apa-apa?" Maya bertanya, menyadari perubahan ekspresi Siska. "Nggak apa-apa," jawab Siska ketus. "Gue cuma bosan. Tempat ini mulai terasa murahan." Ia berdiri, menyambar tasnya, dan berjalan keluar tanpa pamit. Ia butuh udara segar. Ia butuh melarikan diri dari tatapan orang-orang yang mulai meragukannya. Di dalam taksi yang membawanya pulang, Siska menatap keluar jendela. Lampu-lampu Jakarta berkelebat seperti potongan-potongan film masa lalunya. Bayangan Freddy, ayahnya yang dulu selalu sibuk dengan wanita-wanita simpanannya, muncul di benaknya. Lalu ibunya, yang membalas dendam dengan cara yang sama, hingga rumah mereka terasa seperti medan perang yang dingin. "Siska, jangan percaya sama laki-laki. Mereka cuma mau tubuhmu. Ambil uangnya, simpan untuk dirimu sendiri," suara ibunya terngiang kembali. Dan Siska telah melakukannya. Ia telah mengambil uang mereka. Ia telah membangun benteng mewah untuk melindungi dirinya dari luka. Tapi sekarang, benteng itu mulai terasa seperti penjara. Ponselnya berdering. Nama "Bu Asih" muncul di layar. Siska ragu sejenak sebelum mengangkatnya. "Halo, Bu?" "Siska... Kamu apa kabar, nduk?" suara lembut itu terdengar rapuh, namun penuh ketulusan yang selalu membuat Siska merasa tidak nyaman. "Sudah lama nggak telepon. Ibu kangen." Siska memejamkan mata. Ada rasa nyeri yang menusuk ulu hatinya. Bu Asih, wanita yang membesarkannya saat kedua orang tua kandungnya sibuk dengan ego masing-masing. Wanita yang hanya menginginkannya hidup "normal", tanpa peduli berapa banyak uang yang bisa Siska hasilkan. "Siska sibuk, Bu. Banyak urusan kuliah... maksudku, urusan kerjaan," Siska berbohong dengan lancar, sebuah kebiasaan yang sudah mendarah daging. "Jangan terlalu capek, nduk. Kalau ada waktu, pulanglah sebentar. Ibu baru panen mangga di depan rumah. Ingat kan, kamu dulu suka mangga itu?" "Iya, Bu. Nanti Siska usahakan pulang. Siska tutup dulu ya, mau istirahat." Siska mematikan sambungan telepon. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, merusak riasan mahal yang ia banggakan. Ia merasa sangat kecil di dalam mobil mewah itu. Ia bebas, ya, ia bebas melakukan apa saja. Ia bisa pergi ke mana saja, membeli apa saja. Tapi di usia tiga puluh lima ini, untuk pertama kalinya, Siska merasa benar-benar terhempas. Ia adalah Gadis Bomat. Tapi malam ini, ia tidak bisa lagi mengatakan "bodo amat" pada hatinya sendiri yang mulai hancur berkeping-keping. Sampai di apartemen, Siska tidak langsung tidur. Ia berjalan menuju balkon, menatap hamparan gedung pencakar langit yang tak pernah tidur. Ia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya, dan membiarkan asapnya terbang terbawa angin malam yang dingin. Pikirannya melayang pada Arlan. Satu-satunya pria yang pernah membuatnya ingin berhenti menjadi "barang dagangan". Satu-satunya pria yang menatapnya dengan cinta, bukan nafsu. Tapi Siska telah menghancurkannya. Ia telah mengusir Arlan dengan kata-kata paling kasar tentang betapa ia lebih mencintai kemewahan daripada pria miskin seperti Arlan. "Bodoh," gumamnya pada diri sendiri. "Lo emang bodoh, Siska." Ia meraih ponselnya, mencari nama Arlan di daftar kontak yang sudah bertahun-tahun tidak ia hubungi. Tentu saja, nomor itu sudah tidak aktif atau mungkin Arlan sudah memblokirnya. Siska tertawa miris. Kebebasan yang ia agung-agungkan ternyata hanyalah kesepian yang dibungkus dengan sutra dan berlian. Besok, ia harus bangun dan menjadi Siska yang kuat lagi. Siska yang cantik. Siska yang mahal. Siska yang tidak peduli pada dunia. Tapi saat ini, di bawah langit Jakarta yang kelabu tanpa bintang, Siska hanya ingin menjadi gadis kecil yang dipeluk oleh Bu Asih saat petir menggelegar. Ia mematikan rokoknya, masuk ke dalam, dan melempar tas desainer-nya ke lantai begitu saja. Di tengah kemewahan itu, Siska merasa seperti pengungsi di rumahnya sendiri. Dunia kelam yang selama ini ia nikmati mulai menunjukkan wajah aslinya: kejam, dingin, dan tak pernah memaafkan waktu yang terbuang. Siska merebahkan tubuh di atas ranjang king size-nya. Ia menatap langit-langit kamar, membayangkan hari-hari yang akan datang. Apakah ia akan tetap bertahan di singgasana yang mulai goyah ini, ataukah ia akan membiarkan dirinya benar-benar terhempas hingga menyentuh dasar? Bomat. Tapi kali ini, kata itu terdengar seperti sebuah doa minta tolong.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD