Pagi itu, Jakarta Timur terasa lebih lembap dari biasanya. Siska berdiri di lobi rumah sakit, memegang tas tangan bermerk yang kini terasa berat, bukan karena isinya, tapi karena beban simbolis yang dibawanya. Di sampingnya, Bu Asih duduk di kursi roda dengan tas kain sederhana berisi pakaian bekas. Kontras itu sangat nyata; Siska yang tampak seperti sosialita yang salah alamat, dan Bu Asih yang merupakan wajah asli dari kesederhanaan.
"Sudah semua, Bu?" tanya Siska, suaranya lembut, sangat berbeda dengan nada ketusnya saat bicara dengan Linda atau Rindra.
"Sudah, nduk. Ayo pulang. Ibu kangen bau tanah di rumah," jawab Bu Asih pelan.
Saat mereka sedang menunggu taksi—karena mobil mewah Siska sudah berpindah tangan ke dealer mobil bekas—seorang wanita dengan riasan tebal dan pakaian yang tampak terlalu mewah untuk ukuran rumah sakit berlari menghampiri mereka. Itu Maya, sahabat Siska sejak zaman kuliah.
"Siska! Ya ampun, gue nyariin lo ke mana-mana!" Maya terengah-engah. Matanya yang biasanya penuh binar licik kini tampak bengkak karena menangis.
Siska mengerutkan kening. "Maya? Ada apa? Kok lo tahu gue di sini?"
"Gue tanya Linda. Sis, tolongin gue..." Maya memegang lengan Siska erat, mengabaikan kehadiran Bu Asih. "Gue kena masalah besar. Utang judi online gue numpuk, dan apartemen gue mau disita. Pria yang selama ini sama gue... dia kabur setelah tahu gue hamil."
Siska tertegun. Kebebasan yang mereka agung-agungkan selama ini ternyata hanyalah fatamorgana yang pecah saat masalah nyata datang. Maya, yang dulu selalu memamerkan tas-tas terbaru, kini tampak seperti rongsokan yang mencoba tetap terlihat berkilau.
"Berapa yang lo butuh?" tanya Siska pendek.
"Lima puluh juta, Sis. Cuma buat nutupi bunga bulan ini supaya orang-orang itu nggak datang ke rumah orang tua gue. Gue mohon, lo kan selalu punya uang."
Siska menatap Bu Asih yang hanya diam memperhatikan. Siska tahu saldo rekeningnya sekarang sangat kritis. Uang yang ia miliki seharusnya digunakan untuk biaya pemulihan Bu Asih dan uang muka sewa rumah kecil mereka. Namun, melihat Maya yang hancur, Siska melihat refleksi dirinya jika ia tidak segera berhenti.
Siska merobek selembar cek dari buku ceknya yang hampir habis. Ia menuliskan angka itu dengan tangan yang mantap, meski hatinya berteriak protes.
"Ini yang terakhir, May. Gunain buat beresin masalah lo, bukan buat foya-foya lagi," kata Siska sambil menyerahkan cek itu.
Maya memeluk Siska sambil menangis. "Makasih, Sis. Lo emang sahabat terbaik. Lo emang Ratu."
Setelah Maya pergi, Bu Asih memegang tangan Siska. "Nduk, kamu sendiri gimana? Ibu tahu uangmu sudah tidak banyak."
Siska memasang senyum "Bomat"-nya yang paling sempurna. "Gampang, Bu. Siska kan pintar cari duit. Ibu nggak usah mikir. Ayo, taksinya sudah datang."
Rumah kontrakan baru mereka terletak di sebuah gang yang hanya bisa dilewati satu mobil. Kecil, berpagar besi karat, tapi bersih. Saat Siska melangkah masuk, aroma debu dan kayu tua menyambutnya. Sangat jauh dari apartemen penthouse-nya yang memiliki pengharum ruangan otomatis beraroma lavender.
Siska mulai membongkar barang-barang. Ia meletakkan koleksi tasnya di pojok ruangan, yang kini tampak sangat tidak pada tempatnya di atas lantai ubin putih yang kusam. Ia merasa seperti seorang putri yang baru saja digulingkan dari tahtanya.
"Bomat," gumamnya sambil menyeka keringat. "Setidaknya di sini nggak ada Pak Gunawan atau Rindra."
Malam harinya, saat Bu Asih sudah terlelap, Siska duduk di teras kecil rumah itu. Ia menyalakan sebatang rokok, menatap lampu jalan yang redup. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari pengacara yang ia hubungi tadi sore.
“Mbak Siska, kasus dari Pak Gunawan ini berat karena beliau punya bukti rekaman suara saat Mbak mengancamnya soal tender. Ini bisa dikategorikan pemerasan. Beliau minta Mbak datang menemuinya besok untuk membicarakan 'penyelesaian kekeluargaan'.”
Siska tertawa miris. "Penyelesaian kekeluargaan" dari mulut Pak Gunawan artinya adalah p********n tanpa syarat. Ia tahu benar maksud pria itu.
Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti di depan gang. Siska waspada. Namun, yang keluar bukan orang suruhan Pak Gunawan, melainkan seorang pria dengan kemeja rapi yang tampak sangat dikenalinya dari kejauhan.
Pria itu berjalan mendekat, mencari-cari alamat. Saat matanya bertemu dengan mata Siska, langkahnya terhenti.
"Siska?"
Siska nyaris menjatuhkan rokoknya. Arlan.
"Arlan? Kok... kok lo bisa ada di sini?" suara Siska bergetar.
Arlan berjalan mendekat, menatap rumah kecil di belakang Siska, lalu menatap Siska yang mengenakan kaos oblong dan celana pendek—sangat berbeda dari citra mewahnya di media sosial.
"Gue dengar soal Bu Asih dari tetangga lama. Gue cari tahu alamat barunya, dan... gue nggak nyangka bakal nemuin lo di kondisi kayak gini," kata Arlan, suaranya tenang, masih memiliki kehangatan yang sama seperti sepuluh tahun lalu.
Siska langsung berdiri, mencoba memperbaiki penampilannya yang berantakan. "Gue cuma... lagi pengen suasana baru. Bu Asih lebih suka di sini."
Arlan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang seolah mengatakan bahwa ia tahu Siska sedang berbohong. "Sis, gue sudah sukses sekarang. Kalau lo butuh bantuan—"
"Gue nggak butuh bantuan!" potong Siska cepat, ego "Gadis Bomat"-nya bangkit kembali. "Gue punya segalanya. Ini cuma sementara. Lo nggak perlu kasihan sama gue."
Arlan menghela napas. Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dan meletakkannya di pagar besi. "Gue nggak kasihan, Sis. Gue cuma peduli. Kabari gue kalau lo mau bicara sebagai teman lama. Gue bukan pria yang dulu bisa lo hina lagi, tapi gue tetap Arlan yang dulu nggak akan pernah ninggalin lo kalau lo butuh."
Arlan berbalik dan pergi, meninggalkan Siska yang terpaku di teras. Siska mengambil kartu nama itu. Arlan Wicaksono – CEO Yayasan Pelita Harapan.
Siska meremas kartu nama itu, tapi tidak membuangnya. Ia masuk ke dalam rumah, menatap cermin buram di kamar mandi. Ia melihat wajah wanita usia 35 tahun yang sedang lelah berpura-pura. Topengnya mulai retak, dan di bawahnya, hanya ada Siska yang ketakutan.
Esok hari, ia harus menghadapi Pak Gunawan. Ia harus memilih: tetap menjadi "Gadis Bomat" yang menjual sisa harga dirinya untuk keamanan, atau benar-benar terhempas namun merdeka.
Siska mematikan lampu, memeluk bantalnya yang keras, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia berdoa—bukan untuk uang, tapi untuk kekuatan agar tidak jatuh lebih dalam lagi.