Lampu neon di ruang tamu apartemen yang mulai kosong itu berkedip-kedip, seolah ikut merasakan kecemasan yang merayap di kulit Siska. Surat gugatan dari firma hukum Pak Gunawan tergeletak di atas lantai, menantangnya dengan barisan kalimat hukum yang dingin. Siska tahu, ini bukan sekadar gertakan; ini adalah cara Pak Gunawan menghancurkan kaktus yang berani menusuk tangannya.
Siska mematikan lampu, membiarkan kegelapan menyapu ruangan. Ia butuh memejamkan mata, namun pikirannya justru melompat mundur ke belasan tahun yang lalu. Ke masa di mana ia pertama kali menyadari bahwa gelar sarjana hanyalah sampul, sementara isi bukunya adalah tentang bagaimana ia bisa menjual diri dengan harga paling tinggi.
Flashback – Masa Kuliah (Awal Menjadi Gadis Bomat)
Universitas swasta di Jakarta Selatan itu adalah tempat di mana ego dan gengsi dipelihara lebih baik daripada ilmu pengetahuan. Siska masuk ke sana dengan bekal uang dari penjualan rumah Menteng yang dititipkan pada Bu Asih. Di hari pertamanya, ia sadar bahwa kecantikannya adalah sebuah anomali yang magnetis. Ia memiliki tatapan yang tidak bisa ditiru—campuran antara luka yang dalam dan kepercayaan diri yang angkuh.
Di kantin kampus yang lebih mirip kafe elit, Siska duduk sendiri dengan segelas kopi pahit. Ia memperhatikan teman-temannya. Ada yang sibuk belajar demi IPK, ada yang sibuk berorganisasi, dan ada yang sibuk mencari perhatian pria-pria kaya yang menjemput dengan mobil sport.
"Lo Siska, kan? Anak Komunikasi?"
Siska mendongak. Seorang pria dengan jaket almamater kusam berdiri di depannya. Namanya Arlan. Ia tidak tampan secara konvensional, tapi matanya memiliki kejujuran yang jarang Siska temui di rumah besarnya dulu.
"Kenapa?" sahut Siska ketus. Saat itu, tameng "Bomat"-nya sudah mulai ia asah dengan tajam.
"Gue Arlan. Gue lihat lo sering sendirian. Kalau lo mau, kita ada kelompok belajar buat mata kuliah Teori Komunikasi," kata Arlan dengan senyum tulus.
Siska tertawa sinis. "Kelompok belajar? Gue kuliah di sini bukan buat nambah ilmu, Lan. Gue cuma butuh relasi. Gue butuh tahu gimana caranya bicara sama orang-orang yang punya kuasa."
Arlan tidak mundur. "Relasi itu penting, tapi kalau lo nggak punya isi, lo cuma bakal jadi pajangan, Sis."
"Jadi pajangan mahal jauh lebih baik daripada jadi orang pinter yang miskin," balas Siska tajam.
Namun, Arlan adalah kegigihan yang tidak disukai Siska. Selama satu semester, Arlan terus mengejarnya—bukan dengan gombalan, tapi dengan perhatian sederhana. Arlan membawakannya nasi bungkus saat Siska lupa makan karena sibuk mengejar target penampilan, atau meminjamkannya catatan saat Siska absen demi menghadiri pesta-pesta di hotel mewah yang diatur oleh seniornya.
Perlahan, benteng Siska retak. Ia mulai jatuh cinta. Arlan adalah satu-satunya pria yang menatapnya sebagai manusia, bukan sebagai objek yang bisa dinilai dengan angka. Di bawah langit Jakarta yang mendung, di atas motor tua Arlan, Siska merasa... normal. Ia merasa bisa melepaskan topengnya sejenak.
Tapi dunia malam mulai memanggil lebih keras.
Senior Siska, seorang wanita bernama Maya yang sudah lebih dulu terjun ke dunia "simpanan elit", mulai memperkenalkannya pada lingkaran pejabat dan pengusaha.
"Siska, lihat cermin," kata Maya suatu malam di sebuah kelab eksklusif. "Kecantikan lo itu modal. Kuliah ini cuma panggung buat naikin tarif lo. Lo mau berakhir kayak Bu Asih, hidup di rumah sempit dan ngitung receh buat makan?"
Siska menatap bayangannya. Ia teringat Freddy yang membuangnya. Ia teringat ibunya yang lebih memilih salon daripada memeluknya. Dendam itu membara lagi. Ia butuh uang. Ia butuh keamanan yang tidak bisa diberikan oleh cinta Arlan yang miskin.
Puncaknya terjadi di tahun ketiga. Siska mulai menerima tawaran-tawaran makan malam berbayar. Ia belajar cara berpakaian yang menonjolkan lekuk tubuh tanpa terlihat murahan. Ia belajar cara bicara yang membuat pria-pria berkuasa merasa hebat. Ia menjadi komoditas kelas satu.
Suatu sore, Arlan menunggunya di depan gerbang kampus. Wajahnya pucat. Ia memegang sebuah foto yang diambil oleh teman sekampusnya—foto Siska sedang keluar dari hotel mewah bersama seorang pria paruh baya.
"Sis, tolong bilang ini nggak bener," suara Arlan bergetar.
Siska menatap Arlan dengan tatapan paling dingin yang bisa ia ciptakan. Hatinya hancur, tapi egonya memerintahkan untuk bertahan. "Itu bener, Lan. Dia kasih gue tas yang harganya lebih mahal dari motor lo. Dia kasih gue kepastian yang nggak bisa lo kasih."
"Gue bisa kerja, Sis! Kita bisa mulai dari bawah!"
"Gue udah di bawah sejak lahir, Lan! Gue benci di bawah!" teriak Siska. "Bomat sama cinta lo. Gue butuh kebebasan, dan cuma uang yang bisa kasih itu ke gue."
Siska meninggalkan Arlan yang mematung di tengah hujan. Sejak hari itu, Siska menghapus semua jejak Arlan. Ia tenggelam sepenuhnya dalam dunia kelam. Ia lulus kuliah dengan predikat memuaskan, tapi baginya, ijazah itu hanyalah sertifikat keberhasilan dalam membangun jaringan "klien".
Masa Kini – Usia 35 Tahun
Siska membuka matanya. Kenangan tentang Arlan selalu meninggalkan rasa pahit yang lebih tajam daripada wiski termurah sekalipun. Ia bangkit dari lantai, meraih ponselnya, dan menatap surat gugatan Pak Gunawan sekali lagi.
"Gue nggak boleh kalah lagi," bisiknya.
Ia menyadari bahwa Pak Gunawan menggunakan celah hukum tentang "pencemaran nama baik" karena Siska mengancamnya dengan informasi tender. Siska tersenyum tipis. Ia tahu benar gaya pria seperti Pak Gunawan; mereka menyerang secara hukum saat mereka merasa terancam secara pribadi.
Siska mengambil koper kecil yang berisi koleksi perhiasan terakhirnya. Besok pagi, ia akan menjual semuanya. Ia butuh pengacara terbaik, bukan untuk menang, tapi untuk mengulur waktu sampai ia bisa mengamankan pengobatan Bu Asih dan menghilang dari radar Jakarta.
Ia juga teringat Clarissa. Gadis itu mungkin sekarang sedang merasa di atas angin bersama Rindra. Siska merasa harus memberikan satu "pelajaran" terakhir pada muridnya itu—bukan karena benci, tapi karena ia tidak ingin Clarissa berakhir di lantai apartemen yang kosong seperti dirinya sekarang.
Siska mulai mengetik pesan untuk Linda.
“Lin, bilang ke Pak Gunawan. Gue terima tantangannya di pengadilan. Tapi ingatkan dia, kalau persidangan ini terbuka untuk umum, rahasia tender Pak Handoko yang gue pegang akan jadi konsumsi publik. Dia mau menang di hukum, atau mau hancur di bisnis? Pilihan di tangan dia.”
Siska tahu ini gertakan kedua yang sangat berisiko. Tapi di usianya yang ke-35, ia sadar bahwa hidupnya selama ini adalah tentang pertaruhan. Jika ia harus jatuh bebas, ia akan memastikan orang-orang yang mencoba mendorongnya ikut terseret.
Ia berjalan ke arah balkon, menatap lampu-lampu Jakarta yang mulai padam satu per satu. Ia teringat kata-kata Bu Asih: "Ibu selalu berdoa supaya kamu menemukan jalan pulang, Siska."
"Jalan pulangnya buntu, Bu," gumam Siska pelan. "Satu-satunya jalan cuma terus maju, walaupun depannya jurang."
Malam itu, Siska tidak tidur. Ia menghabiskan waktu dengan merobek-robek foto masa kuliahnya, menyisakan satu sobekan kecil: wajah Arlan yang sedang tertawa. Ia memasukkan sobekan itu ke dalam dompetnya, tepat di belakang foto Bu Asih.
Besok adalah hari di mana ia akan menjemput Bu Asih dari rumah sakit. Hari di mana ia akan secara resmi menanggalkan status "Gadis Bomat" yang mewah dan menjadi Siska yang diburu. Namun anehnya, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Siska merasa sedikit... hidup. Ketakutan akan kehancuran ternyata memberikan adrenalin yang jauh lebih nyata daripada validasi palsu dari pria-pria berkantong tebal.
Ia siap untuk terhempas. Tapi sebelum ia menyentuh dasar, ia akan memastikan dunia tahu bahwa Siska pernah berdiri di puncaknya, dan ia tidak akan pergi tanpa meninggalkan bekas luka yang sama dalamnya dengan luka yang dunia berikan padanya.