105 Calvin mengurut pelipisnya, dia tak tahu apakah yang dia lakukan sudah benar? Dia tak bisa bertanya pendapat pada keluarganya karena mereka telah tiada. Ada sanak saudara jauh yang juga pasti sangat sibuk dan tidak mau ikut campur urusannya. Dia memutuskan duduk di lorong dan berkata akan menyusul Diandra. Dia melihat ponselnya, satu nama tertulis di kolom chatnya. Anggita. Dia memutuskan untuk meneleponnya. Suara Anggita terdengar malas, sepertinya dia sudah rebahan di rumah. Apalagi sudah musim hujan, tentu bermalasan menjadi salah satu rutinitasnya. “Kenapa?” tanya Anggita dengan suara yang berat. “Sudah tidur?” “Baru mau,” ucap Anggita dari seberang sana. “Menurut kamu, bagaimana kalau aku dan Diandra menikah?” tanya Calvin sambil mengatupkan bibirnya. “Ya bagus dong

