Melalui Kesulitan Hidup

1001 Words
Bulan berikutnya pada saat liburan musim panas telah berlalu, Amanda menempuh hari-hari pertamanya di universitas setelah melalui beberapa ujian yang berhasil ia lalui. Namun, respon mahasiswa lain padanya tidak sebagus nilainya. Seperti orang lain pada umumnya, dia selalu disudutkan. Mereka menyindir dalam diam, tatapan yang membuat risi itu akhirnya meresahkan hati Amanda. Ketika wanita itu berada di kamar mandi, Amanda mendengar obrolan dua wanita yang sedang berkaca sambil menyisir rambutnya. "Eh, kau lihat anak yang selalu duduk dekat jendela kelas kita?" "Yang mana?" "Itu yang selalu pakai kacamata abu muda, yang rambutnya panjang berwarna abu muda yang ikal." "Oh, itu, yah aku melihatnya. Kenapa?" "Pernah melihat langsung dia dari dekat tidak?" "Enggak, aku tidak pernah melihatnya." "Ih, matanya itu sebelah kanan rusak! Kasihan sekali padahal dia cantik." "Ah, serius?" "Tidak percaya? coba lihat baik-baik." Amanda mendengar percakapan dua wanita tersebut saat dirinya berada dalam toilet dengan posisi mereka di luar, dia di dalam bilik. Setelah dua wanita itu pergi, Amanda keluar dengan mata berkaca-kaca, mulutnya manyun, berjalan ke arah tempat cuci tangan. Amanda melihat wajahnya sendiri yang terlihat buruk. Berbeda dengan temannya yang lain. Amanda ingin pulang dan menenangkan dirinya, meninggalkan dua mata kuliah yang harusnya masih ada hari ini. Sama seperti saat masih SMA, teman-temannya juga selalu mengejeknya dan hanya beberapa orang yang menerima keadaannya itu. Begitu juga di universitas, Amanda pikir saat manusia beranjak dewasa, bisa semakin menerima perbedaan. Nyatanya mereka hanya mau menerima kesempurnaan semata. Berbulan-bulan Amanda menahan kerisauan dari tekanan mental akhirnya ia memilih cuti selama satu semester demi menjauhi teman-temannya yang tidak bersahabat. Perempuan malang ini terus menghabiskan waktunya di kafe. Hingga penjaga kafe mengenal dirinya. "Aku melihat kau terus duduk di sini, apa kau tidak sekolah?" tanya wanita berusia sekitar 45 tahunan dengan gaya rambut diikat ke atas yang sedikit ia keluarkan dekat dengan telinga, berdandan secara alami dan simpel. Amanda menatapnya dan tersenyum. "Aku sudah tamat SMA." "Mmh, lalu melanjutkan studi?" Wanita itu memberikannya sepiring cemilan. "Makanlah, ini gratis! Aku masak untuk diriku sendiri dan ingin berbagi pada konsumen, tapi pagi ini hanya kau yang terlihat." Dia tertawa ringan. "Aku tidak suka mereka," ujar Amanda. "Mereka itu, teman kuliahmu?" tanyanya ragu terputus-putus. Amanda mengangguk. "Ya, mereka kejam." Wanita itu menyadari keadaan Amanda mungkin jadi penyebabnya, tapi baginya itu tidak penting. "Mereka pasti anak-anak yang dibesarkan oleh monster jadi tidak menghargai orang lain," kata wanita itu mencoba menghibur gadis di hadapannya. Amanda tertawa kecil. "Aku juga merasa seperti itu. Kau tidak benci melihatku?" tanyanya. "Kenapa harus benci? Semua orang punya kelemahan. Aku juga." Wanita itu menunjukkan bagian telinganya yang rusak dibalik rambut yang menutupinya sebelah kiri. Amanda mengerutkan alis. Telinganya rusak sampai keriput dan menakutkan. Seperti bekas terkena air panas. "Dulu mamaku kejam, dia suka melampiaskan kekesalan pada ayahku dengan memukul dan menganiaya aku." Amanda mengerucutkan bibir lalu menghela napas. "Maaf," ucapnya merasa sedih. "Ya, tidak masalah. Tidak ada manusia yang sempurna, teman-temanmu hanya menutupi kekurangannya saja. Percayalah mereka tak jauh lebih baik darimu!" wanita itu tersenyum. "Hmm, ya setidaknya jangan buat aku berbeda di sana. Mereka mungkin punya kelemahan, tapi tidak terlihat sepertiku." "Abaikan saja! Kau harus menyelesaikan kuliahmu dan kembangkan bakatmu. Tunjukkan pada mereka bahwa dirimu sempurna dari hati." Motivasinya perlahan menyusup. "Oya, namaku Rea." Tangannya menjulur agar disambut oleh Amanda sebagai bentuk perkenalan yang sedikit terlambat. Perempuan itu tersenyum lalu mengambil tangannya dan berjabatan. "Aku Amanda." Amanda mendapat teman baru di kota ini. Walau seorang wanita yang lebih dewasa, tapi dia cukup membuat hatinya tenang. Rea bahkan tidak masalah kalau Amanda memanggilnya dengan sebutan mama. Nasehatnya lebih mudah masuk ketimbang nasehat dari sang ayah. Cara seorang lelaki dalam mengurus anak tentu berbeda dengan wanita. Frengky tau kalau putrinya sudah tidak lagi pergi kuliah selama beberapa bulan ini. Semua terserah Amanda, kalau dia suka, ya jalani, jika tidak suka maka ayahnya tidak bisa lagi mengaturnya. Frengky sudah berusaha memasukkannya ke jurusan yang sesuai dengan bakatnya. Namun, lingkungan menolaknya dengan cara lain. Beberapa hari kemudian. Dorongan Rea membuat Amanda memiliki semangat baru. Amanda memutuskan untuk kembali melanjutkan studinya. Gadis itu pun menuruni anak tangga dengan ceria. Frengky yang sedang duduk membaca surat kabar bingung melihat Amanda turun dari kamarnya dan segera menuju ruang makan dengan pakaian rapi, biasanya dia masih kucel. "Pagi, Ayah!" "Pagi, Amanda! Tumben sudah cantik, mau ke mana?" "Kampus." Amanda mengambil 2 lembar roti dan membuka tutup selai. Frengky menaikkan alis dan tersenyum tipis. "Mau apa?" "Kuliah," jawabnya sambil makan roti yang sudah dioles selai stroberi dan cokelat. Frengky tersenyum. "Kau mau melanjutkannya?" tanyanya masih heran. "Ya, kata Rea aku harus bangkit dari keterpurukan. Semua orang punya kelemahan dan aku akan menutupi kelemahanku dengan kelebihan yang ada," jawabnya yakin. Frengky mengangguk, putrinya sudah pandai berbicara sekarang. "Hmm, siapa Rea?" "Wanita yang punya kafe di ujung jalan. Aku sering ngobrol dengannya saat ayah tidak ada." "Ah, begitu rupanya." Frengky jadi penasaran pada wanita yang berhasil menyentuh sanubarinya tersebut. "Ayah, aku pergi!" "Ya, hati-hati, ini uang sakumu." Amanda mengambilnya lalu tersenyum. "Terima kasih, Dad!" "Aku menyayangimu, Amanda!" "Aku juga, Ayah!" Amanda pergi dan jalan sampai ke simpang lalu menunggu bus. Amanda melihat Rea sambil membawa belanjaan. "Rea!" panggilnya. "Oh, Amanda!" Rea segera mendatanginya. "Mau ke mana?" tanya Rea. "Ke kampus." Amanda tiba-tiba memeluknya dan mengucapkan terimakasih. Rea terharu dan mengelus punggungnya. "Temukan jati dirimu yang sebenarnya, Amanda," bisiknya. Amanda melepas pelukannya dan mengangguk. "Aku ingin kau menjadi salah satu orang yang melihat kesuksesanku nanti." "Haha, pasti! Aku menanti saat itu tiba." Bus datang tepat di terminal, Amanda pamit lalu berangkat ke kampus. Rea melambaikan tangannya dan melihat gadis itu hingga busnya berbelok ke persimpangan. Orang-orang melihatnya, Amanda sempat berubah suasana hatinya, tapi karena keinginannya sudah kuat, Amanda tidak menggubrisnya walau telinganya terus memanas mendengar ocehan pelan dalam kendaraan itu. Amanda akan membuat telinganya lebih kebal dari biasanya. Semangat yang kuat dari biasanya dan harapan tinggi yang semakin baik ke depannya. Benar kata Rea, semua orang punya kelemahan, tapi mereka bersikap biasa hingga orang juga tidak memperhatikannya. Aku harus cuek dan tidak mau terpengaruh. Aku ingin menjadi Amanda yang baru. Aku juga berhak bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD