"Gue putus sama Aksa." Tiga puluh menit sudah, Kila menanti kapan Nara akan bersuara. Dan empat kata, hanya empat kata yang diucapkan Nara yang sama sekali tidak mengenakkan. Masih jelas teringat beberapa hari lalu senyum di bibir Nara terpancar begitu jelasnya, ia bahagia teramat sangat dengan kekasih barunya yang diharapkan bisa membuat Nara teralih dari bayang-bayang masa lalunya dengan Bharga. Tapi, apa boleh buat? Siapa yang tahu hari esok akan tetap sama dengan hari ini? Siapa yang tahu jika bahagia akan berganti cepat dengan kesedihan? "Nar." ucap Kila lirih sambil memandang Nara. Mata wanita itu terasa kosong walaupun pupilnya menunjukkan pantulan gambar Kila yang sedang berada di hadapan Nara. Nara tidak menangis, tapi ia juga tak baik-baik saja. Perasaannya hancur, Nara harus

