Emir membuka pintu ruangan Devan. Ia melihat Devan yang tengah duduk sambil menatap ke arahnya dengan sorot mata yang tajam. Emir hanya nyengir kuda, “sorry. Gue gak bermaksud untuk ingkar janji. Ada hal yang harus gue urus.” Emir lalu mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal, “gue ada hadiah buat lo,” lanjutnya. Emir lalu mengambil sesuatu dari kantong jaket jeans yang dipakainya. Memberikannya kepada Devan. “Apa ini?” tanya Devan penasaran sambil menatap flashdisk yang ada di telapak tangannya. “Lo lihat sendiri.” Devan beranjak dari duduknya, lalu melangkah menuju meja kerjanya. Memasang flashdisk itu ke laptopnya. Membuka apa isi flashdisk yang diberikan oleh Emir. Kedua Devan membulat dengan sempurna, “Mir! Ini...” “Gimana? Lo suka gak sama hadiah yang gue berikan?” Emir lalu ber

