LIMA

387 Words
Akhir akhir ini Agam lebih sering memperhatikan Kirana tanpa disadari oleh perempuan itu. Seperti kali ini Agam tampak tersenyum sambil memandangi Kirana yang sedang bermain basket di lapangan. Agam tidak tahu mengapa perempuan itu memilih mengikuti ekstrakulikuler basket di sekolahnya, alih- alih seperti perempuan lain yang lebih senang ikut kegiatan masak memasak atau kegiatan yang sering diikuti perempuan pada umumnya. Kirana justrul sebaliknya, perempuan itu sepertinya rela mengorbankan kulitnya untuk berpanas panasan dilapangan. "Woy over sini!" Teriak Kirana antusias di tengah lapang. Sesekali nampak ia mengusap wajahnya yang banjir oleh keringat. Bola diover ke arah Kirana "Kirana awas." Hap dengan sigap Kirana mampu menguasai bola. Kirana gadis manis itu, selain terkenal sebagai siswi yang pintar dibidang pengetahuan ia juga ternyata pandai dalam bidang olah raga terutama basket yang kini ditekuninya. Dan itu membuat Agam semakin dibuat kagum, Kirana gadis ceria yang selalu menebar tawa karena Agam tak pernah sekali pun melihat Kirana murung atau ekpresi sedih lainnya. Aris bersiap untuk mengagetkan Agam yang tengah fokus menatap lapangan basket “Woy, lo liatin si Kirana’kan?” Aris datang dari arah belakang membuat Agam sedikit tersentak kaget. Agam melirik kesal “sotoy lo,” tepisnya meski pun memang benar adanya jika Agam tengah mencuri pandang ke arah Kirana. “jujur aja lo, anak anak kelas gue juga selalu heboh kalau ngomongin dia.” Ucap Aris membahas teman sekelasnya yang selalu membahas Kirana. “kenapa emang?” tanya Agam kini ia memalingkan wajahnya dari arah lapangan dan menoleh pada Aris yang kini duduk di sampingnya. “lah cowok kalau ngomongin cewek, terus muji muji apa tuh namanya?” jawab Aris sekaligus bertanya balik pada Agam sebagai lelucon. “suka?” tebak Agam. Aris mengangguk “yess, lagian gak guna juga mereka ngomongin si Kirana kalau gak ada faedahnya.” Tutup Aris pada topik pembicaraannya. “gue pulang duluan ah,” lanjut Aris bersiap untuk pergi padahal Agam belum juga merespon ucapannya yang lalu. “hm,” balas Agam hanya berdehem. “dehem doang lo?” tanya Aris melotot tidak percaya dengan respon yang diberikan Agam. “yah terus apa?” tanya Agam polos. Aris melongo kesal “serah lu ah,” pungkas Aris sambil berlalu meninggalkan Agam. Sedangkan Agam yang ditinggalkan oleh Aris dengan sadis hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis melihat punggung Aris yang terus semakin menjauh. bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD