Selepas kepergian Aris, Agam masih tetap setia duduk di pinggir lapangan dengan ditemani sebotol minuman dingin. Rekan-rekannya sebetulnya masih berada di sana. Namun, kali ini Agam memilih untuk memisahkan diri dari kumpulan rekannya agar bisa fokus pada Kirana.
Andin menoleh Kirana, mereka kini tengah istirahat terlebih dahulu setelah hampir cukup lama bermain dengan bola basket.
“Na sini!” Andin melambaikan tangan pada Kirana memberi isyarat agar wanita itu mendekat.
Kirana melongo bingung, “ngapain?” tanyanya sambil mendekat pada Andin.
“Woy kalian sini!” ajak Andin mengerahkan pasukannya untuk mendekat.
“Keknya seru kalau tanding lawan sama cowok.” Ucap Andin nyeletuk saat semua rekannya telah berkumpul disana.
“Ide bagus tuh.”
“wih keren bener,”
“bisa bisa ayok mungpung masih ada tuh cowoknya.”
Kirana melongo, dengan ide rekannya tersebut. “Na, lo gimana siap?” tanya Andin karena Kirana tidak ikut antusias seperti rekannya yang lain.
“Bisa kok Na,” timpal Raya menunggu jawaban Kirana.
Kirana tersenyum bersemangat, “Ayok siapa takut.” Ucapnya percaya diri.
Berkat bujuk rayu dari Andin akhirnya pak Yoga pembina basket sekolah mereka akhirnya setuju untuk mengadakan latihan bersama antara putera dan puteri. Sebenarnya bukan ajang latihan namun rekan Kirana justrul ingin menunjukkan bakat mereka bahwa tim putri bisa melawan tim putra.
“Agam tim puteri ngajakin tanding.” Rudi berteriak pada Agam yang berada di pinggir lapang.
Agam melongo tidak dapat mendengar perkataan Rudi dengan jelas, “Apa?” teriak balik Agam.
Rudi mendekat karena merasa sia-sia kalau ia berteriak saja, “Itu tim betina ngajakin tanding.” Ucap Rudi yang kini berdiri di hadapan Agam yang masih duduk lesehan dipinggir lapang. Lelaki itu tidak peduli jika nanti celananya akan kotor karena duduk di sembarang tempat.
“mereka?” lirik Agam pada kumpulan cewek – cewek yang tengah berbincang dengan pak Yoga.
Rudi mengangguk, “Yoi makanya cepetan ganti baju! Gue mau cari anak-anak yang lain.” Titah Rudi pada Agam.
Agam tersenyum, “oke.” Setujunya karena tidak ada alasan untuk Agam menolak ajakan yang sangat menguntungkan bagi dirinya tersebut.
Sesaat setelah Rudi berlalu baru saja Agam bangkit dari duduknya untuk pergi mengganti bajunya, beruntung ia mempunyai seragam olahraga cadangan dalam lacinya.
Kirana berlari ke arah Agam, “Gam?” panggil Kirana pada rekan sekelasnya tersebut.
“Eh lo ngapain?” tanya Agam kaget, tidak menyadari kehadiran Kirana yang terasa tiba-tiba telah berada di hadapannya.
“Lo mau ke kantin gak?” tanya Kirana cepat.
“Enggak, gue mau ganti baju. Kan geng lo ngajakin kita tanding.”
Kirana terdiam, “Oh yaudah gak papa.” Ucapnya sedikit kecewa.
“emang mau ngapain?” tanya Agam penasaran.
“minum gue habis, mau nitip ke elo tadinya.” Jujur Kirana.
Agam tersenyum, “nih punya gue masih utuh.” Satu boto minuman itu kini diulurkan Agam pada Kirana.
Kirana terdiam belum menerima minuman yang Agam sodorkan, “Ambil nih.” Agam menarik lengan Kirana dan memberikan minumannya dengan senang hati.
“seriusan gak papa?” tanya Kirana tidak enak.
Agam mengangguk, “gue ganti baju dulu ya.” Ucap Agam bersiap untuk berlalu.
“Nanti gue ganti Gam,”
Agam tersenyum lagi, “Haha serah lo mau ganti apa enggak.” Ucap Agam bercanda.
Kirana tersenyum balik pada Agam, temannya itu memang lucu kadang dingin, kadang humoris, kadang nyebelin tapi tidak Kirana pungkiri bahwa Agam adalah orang yang baik.
Beberapa saat kemudian setelah semua tim berkumpul akhirnya pertandingan basket antara tim puteri dan putera siap dimulai. Agam yang menjadi ketua tim benar-benar percaya diri bahwa tim yang dipimpinnya mampu menjadi juara. Namun tim puteri yang dipimpin Andin pun tidak ingin kalah dengan tim putera. Sepertinya kali ini mereka sama -sama egois. Agam dan Kirana yang notabenya hidup dalam satu kelas pun seakan tidak saling mengenal untuk saat ini.
Andin tersenyum menatap Agam, tatapan sinis antara kapten dan kapten.
“Rud, awas jangan mentang-mentang lagi dilapangan kamu seenaknya sama perempuan.” Ucap pak Yoga dari pinggir lapangan menyindir Rudi karena kebiasaannya yang tidak bisa melihat perempuan cantik sedikit langsung luluh.
“Kalem pak, aman pokoknya.” Cengir Rudi sindirian pak Yoga.
“Kirana awas kamu jangan mau digombalin dia,” kini ucapan pak Yoga beralih pada Kirana.
“Alah biasa pak kami satu kelas.” Balas Kirana membantah ucapan pak Yoga.
Andin berdecak kesal karena pak Yoga belum juga memulai pertandingan. “Buruan pak mulai, ih.” Andin berbicara dengan tidak sabar.
“Eh iyah, ayok mulai.” Ucap pak Yoga tertawa.
“Tiup dulu pak terompetnya gak asyik,” celetuk Bayu nyeleneh.
“Ish kalian ribet banget.”
Pritt.. Akhrinya pertandingan dimulai dengan sengit. Bola yang selalu cepat berpindah tangan, tim Agam sepertinya cukup unggul karena mampu menguasai bola dengan baik. Sementara itu tim Kirana masih terus bersemangat untuk merebut bola dari lawan.
“Kirana ini,”
“Lempar sini Rin,”
“Woy agam rebut “
“Ambil nih, kalau bisa.”
Dan buss, Kirana berhasil mencetak koin karena berhasil memasukkan bola ke dalam ring.
“Yeyy, hore.” Tim perempuan bersorak bahagia karena berhasil unggul lebih dulu.
Sedangkan tim Agam hanya bisa melongo pasrah, mereka mengakui kehebatan lawan mainnya.
Siswa siswi yang belum pulang pun ikut menyaksikan kehebohan mereka, penonton dipinggir lapang semakin seru, para siswa yang dominan mendukung tim puteri dan para siswi yang juga lebih dominan mendukung tim Agam. Jelas saja karena daya pikat Agam dan kawan kawannya cukup kuat, bahkan kakak tingkat mereka pun mengakui bahwa Agam adalah pria yang tampan dan itu jelas dimata semua orang. Kecuali kakak tingkat lelaki yang mungkin iri dan tidak mau mengakui ketampanan Agam.
Sorak penonton semakin bergemuruh saling bersahutan dan menyemangati, “Yok Agam bisa.” Teriak banyak perempuan di pinggir lapang.
Kali ini bola dikuasai oleh tim Agam, Agam mengoper bola pada Bayu kemudian dibawa lari oleh bayu yang selanjutnya diover kepada Rudi dan bluss Rudi berhasil mencetak poin menjadikan skor mereka imbang saat ini.
“yahhhh,” Ucap Andin lesu.
“Apa gue bilang jangan sombong,” ledek Rudi pada Andin.
Kirana menoleh “udah kalem masih lama ini tandingnya,” semangat Kirana.
“Ayok hey semangat,” Ucap Pak Yoga menyemangati tim perempuan.
Bola kembali diperebutkan, Kirana kali ini sebagai orang yang menguasai bola berlari dengan semangat tanpa ia sadari ada darah segar yang mengucur dari hidungnya.
Rina kaget menghentikan langkah Kirana, “Na hidung lo berdarah.” Ucap Rina panik. Kirana memegang hidungnya dan kemudian merasakan ada cairan yang mengalir di sana.
“Na lo kenapa?”
“Hey kenapa berhenti,”
“Ayok semangat,”
Sorakan, pertanyaan dan kata-kata lainnnya benar benar tidak bisa Kirana cerna, pusing tiba tiba melanda. Matanya terasa berkunang-kunang dan kemudian buram lalu brukk Kirana jatuh di lapangan basket dengan tiba tiba.
“Kirana?” teriak..
Bersambung..