Dituduh Sudah Tidak Perawan Lagi

3022 Words
Ketika makanan sudah datang, pembicaraan Aruna dan Adrian kemudian usai, dan mereka makan siang bersama. Ketika mereka berdua sedang asik makan, tiba-tiba ada seorang pemuda yang menghampiri mereka. "Anda yang bernama Aruna?" tanyanya. "Iya, Ada apa ya?" jawab Aruna. "Anda dicari oleh Tuan Sean, general manager hotel ini!" jawab pemuda tersebut. Aruna kemudian menganggukkan kepalanya dan kemudian berkata pada Adrian, "Mas, saya pergi dulu ya. Ada panggilan dari atasan saya?" Adrian menjawab, "Iya, pergilah!" Setelah mendapat jawaban dari Adrian, Aruna kemudian pergi ke ruangan general manager bersama dengan pemuda tadi. "Tumben, Tuan Sean bukankah sangat dingin terhadap wanita, selama ini tak ada karyawan wanita yang diizinkan masuk ke dalam ruangannya?" ucap seorang karyawan. "Iya, terlebih wanita tadi adalah orang baru, apa mungkin Tuan Sean jatuh cinta padanya?" ucap karyawan lain. Adrian yang mendengar obrolan kedua karyawan itu kemudian berkata di dalam hati, "Tidak, gadis itu milikku!" Adrian memutuskan untuk pergi ke ruang general manager untuk menguping. Didalam ruangan, Aruna duduk di kursi yang terletak di depan Sean. "Saya hanya ingin bertanya sesuatu padamu, tapi diluar kerjaan, yaitu urusan pribadi, apakah boleh?" tanya Sean setelah Aruna duduk. "Boleh, Pak!" jawab Aruna. Sean bertanya pada Aruna, "Kamu tinggal dimana?" "Saya mengontrak di mekar sari, Pak!" jawab Aruna. Sean berkata, "Mengontrak dengan keluargamu?" "Tidak, saya mengontrak sendirian, Pak!" jawab Aruna. "Ayah dan Ibu kamu ada dimana, emangnya?" tanya Sean lagi. Aruna menjawab, "Saya sudah sebatang kara, Pak! Saya ditemukan dipinggir jalan oleh ibu panti ketika saya masih bayi." "Apa benar dia Aubrey, tapi Aubrey dulu pasti di culik orang, kan? Dan mengapa ditinggalkan dipinggir jalan, biasanya penculik mau untung, dengan cara menjual atau meminta tebusan?" batin Sean. "Oh, baik. Silahkan kembali bekerja!" ucap Sean. Aruna kemudian hendak keluar dari ruangan Sean, Adrian yang berada didepan pintu kemudian pergi untuk bersembunyi. Setelah Aruna benar-benar pergi, Adrian masuk ke dalam ruangan Sean. "Maaf, anda siapa?" tanya Sean. "Saya tamu VVIP, tadi saya mendengar obrolan kalian berdua," jawab Adrian. "Lalu?" tanya Sean. Adrian balik bertanya, "Mengapa kamu bertanya begitu pada, Aruna? Apa kamu ingin melamarnya, kok bertanya soal keluarga?" "Tidak, dia karyawan di hotelku, wajar apabila aku bertanya-tanya padanya. Tetapi, jika saya melamarnya emang kenapa? Anda siapanya, Aruna?" ucap Sean. Adrian menjawab, "Saat ini saya memang bukan siapa-siapa dia, tapi nanti saya akan jadi suaminya, dia milik saya! Jadi, jika kamu ingin merebutnya dari saya, saya tidak akan segan-segan melukaimu!" "Kok mengancam, ingat kamu sedang bicara pada siapa, saya general manager disini, ini hotel milik ayah saya!" ucap Sean. "Mau kamu anak pemilik hotel yang saya tempati atau anak presiden sekalian, saya tidak takut. Ingat ini, Aruna milik saya!" jawab Adrian yang kemudian keluar dari ruangan Sean. "Baru kali ini, ada orang gila masuk ke dalam ruanganku, bukan siapa-siapanya aja sudah mengklaim bahwa Aruna adalah miliknya, jodoh itu ditangan tuhan. Dasar pria gila!" Keesokan harinya, Adrian menemui Aruna lagi "Aruna?" panggilnya. Aruna menjawab, "Iya, Mas." "Nanti makan siang lagi ya?" ajak Adrian. Aruna mengagukkan kepalanya dan kemudian menjawab, "Baik, Mas!" "Tidak, siang ini kamu makan siang dengan saya!" ucap Sean yang tiba-tiba datang. "Ada yang ingin saya bicarakan padamu, Aruna!" Aruna berkata pada Adrian, "Maaf, Mas! Saya tidak bisa menolak ajakan dari atasan saya sendiri." Adrian terlihat marah dan pergi ke ruangannya, didalam hatinya berkata, "Awas kau Sean, jika kau merebut dia, lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu nanti, jika kau berani merebutnya." "Apa dia itu pacarmu?" tanya Sean pada Aruna. "Bukan, Pak! Kami baru kenal kemarin, waktu dia pertama kali menginap disini!" jawab Aruna. "Bukan siapa-siapa aja, sudah songong!" batin Sean. "Jangan lupa nanti siang ya?" ucap Sean. Aruna menjawab, "Baik, Pak!". "Panggil Kak Sean saja, jangan Pak!" jawab Sean karena Sean telah menganggap Aruna seperti adiknya sendiri, yaitu Aubrey yang hilang belasan tahun lalu. Aruna menolak, "Tapi sebutan itu tidak sopan, Pak! Saya, kan karyawan disini dan Pak Sean adalah atasan saya?" Sean menjawab, "Bukankah bawahan harus patuh pada atasannya, maka dari itu, kamu harus patuh pada sata! Panggil saya Kak Sean atau Kakak!" "Baik, Pak. Eh, Kak Sean maksud saya!" ucap Aruna. Siang hari kemudian, Sean menemui Aruna untuk mengajaknya makan siang di Restoran Andara Hotels. "Sudah siap?" tanya Sean. Aruna kemudian menjawab, "Sudah, Kak." Sean dan Aruna kemudian pergi ke Restoran Andara Hotels dan memesan makanan serta minuman. Sembari menunggu pesanannya tiba, Sean bertanya pada Aruna, "Aruna, apakah kamu mempunyai gelang?" "Apakah gelang yang ini, Kak?" tanya Aruna sembari menunjukkan gelang yang ada di tangan kanannya. "Bukan, gelang itu maksud saya adalah gelang yang ada di tangan kanan kamu sedari bayi, apakah ada?" tanya Sean. "Tidak, Kak. Hanya ini gelang saya dan gelang ini baru dua bulan saya membelinya dan memakainya!" jawab Aruna dengan jujur karena memang gelas berlian itu baru di belinya dua bulan lalu dengan uang tabungannya selama satu tahun bekerja di restoran milik Nabila. "Itu bukan gelang berlian milik Aubrey," batin Sean. Aubrey telah diberi gelang berlian oleh orang tuanya sedari Aubrey berusia satu bulan. "Maaf, mengapa Kak Sean menanyakan soal gelang pada saya?" tanya Aruna pada Sean. "Oh, tidak ada apa-apa. Lupakan saja!" jawab Sean. Beberapa saat kemudian, pesanan mereka sudah sampai, Aruna hanya melihat makanan mahal yang ada di piring yang diletakkan di depannya. "Mengapa hanya dilihat, ayo makan!" ajak Sean. Aruna menolak, "Ini makanan mahal, saya tidak berani memakannya!" "Makanlah, jangan sungkan, ayo makan bersama!" ajak Sean. "Tadi apa kata saya, bawahan harus patuh pada atasannya, bukan?" lanjutnya. Ketika mereka berdua sedang makan bersama, seorang wanita cantik datang menghampiri mereka berdua. "Sean?" panggilnya. Sean menoleh dan kemudian menjawab, "Ada apa, Gifana?" "Siapa wanita ini?" tanya Gifana pada Sean sambil menunjuk ke arah Aruna. "Bukan urusanmu, kamu bukan siapa-siapaku, kumohon berhentilah mengejarku, karena aku sudah punya pacar!" jawab Sean. "Oh, ternyata kamu menolak cintaku karena wanita ini, iya?" tanya Gifana pada Sean. Sean balik bertanya pada Gifana, "Kalau iya, kenapa? Kalo dia kekasihku memangnya kenapa?" Mendengar ucapan dari Sean yang mengatakan bahwa Aruna adalah kekasihnya, Aruna langsung menatap Sean. "Keterlaluan kamu, Sean. Kamu lebih memilih wanita seperti ini dibandingkan diriku?" ucap Gifana yang kemudian pergi meninggalkan Sean. "Maaf, saya terpaksa berbohong! Sebenarnya saya ingin terlepas dari Gifana yang selalu mengejar saya, meski saya selalu menolaknya berkali-kali," ucap Sean setelah Gifana sudah benar-benar pergi dari sana. Aruna menjawab, "Tidak apa, Kak. Tadi saya hanya sedikit kaget saja, tiba-tiba saya mendengar Kak Sean yang menyebut bahwa saya adalah kekasih Kak Sean!" Keesokan harinya, Aruna pergi ke Andara Hotels untuk bekerja seperti biasanya, namun ditengah perjalanan, Aruna dicegat oleh dua orang preman. "Ada apa, Pak?" tanya Aruna pada sopir taksi yang akan mengantarnya ke Andara Hotels. "Ada yang mencegat kita, Mba. Sepertinya mereka orang jahat?" jawab Sopir. Aruna dan sopir tersebut kemudian turun untuk melihat siapa yang mencegat mereka. "Kami tidak ada urusan dengan Bapak, kami hanya ada urusan dengan penumpang Bapak!" ucap seorang preman. "Jadi, kalo Bapak tidak ingin terkena masalah, silahkan pergi dari sini!" lanjutnya. Sopir taksi yang takut dengan ancaman preman tersebut kemudian dengan terpaksa meninggalkan Aruna. "Pak, jangan pergi!" pinta Aruna yang tak didengarkan oleh sopir tersebut. "Apa kamu mengenal saya?" ucap seorang wanita yang turun dari sebuah mobil yang di kendarai oleh para preman tadi. "Bukankah kamu adalah wanita yang menemui atasan saya tadi?" tanya balik Aruna. "Iya, itu aku. Siapa namamu, dimana rumahmu, apa pekerjaanmu?" tanya Gifana. "Saya Aruna, rumah saya di mekar sari dan saya bekerja sebagai resepsionis di Andara Hotels!" jawab Aruna. "Kehidupan kamu yang seperti itu, kamu pikir bisa mengalahkan aku? Aku adalah seorang model terkenal dan idola semua pria, jadi jauhi Sean karena Sean lebih cocok sama aku daripada sama wanita sepertimu!" ucap Gifana. "Saya it—" "Kalau kamu tidak mau mundur dan meninggalkan Sean, maka aku akan membuatmu terluka atau mungkin akan memerintahkan kedua preman bayaranku ini buat ... Oh, tidak. Tidak perlu dilanjutkan, kamu sudah tahu maksudku, bukan?" ucap Gifana seraya memotong ucapan Aruna. "Aku tidak takut dengan ancaman yang kamu cetuskan barusan!" jawab Aruna. "Tangkap dia!" ucap Gifana yang memerintah kedua preman bayarannya untuk menangkap Aruna, namun seorang pria tiba-tiba datang dan menghajar kedua preman tersebut, preman tersebut kemudian melarikan diri dan Gifana juga ikut melarikan diri. "Mas Adrian, terimakasih telah menolong saya!" ucap Aruna. Adrian menjawab, "Sama-sama!" "Mas Adrian tidak terluka, kan?" tanya Aruna. "Tidak, Aruna bisakah kita bicara sebentar?" ucap Adrian. Aruna menjawab, "Baiklah." Adrian dan Aruna kemudian pergi ke bawah pohon yang ada di pinggir jalan dan kemudian duduk di rerumputan yang tertata rapi disana. "Aruna apakah kamu sudah punya kekasih?" tanya Adrian. Aruna menatap Adrian dan kemudian menjawab, "Belum!" "Berarti hati kamu masih kosong, bolehkah mas yang mengisi kekosongan itu?" tanya Adrian pada Aruna. Aruna balik bertanya, "Maksudnya bagaimana?" "Maukah kamu menjadi kekasihku?" ucap Sean. Aruna diam beberapa saat dan kemudian menjawab, "Apakah Mas Adrian mau menerima kekurangan dan masa lalu saya yang hanya anak panti yang tidak jelas asal-usulnya ini?" tanya Aruna pada Adrian. Adrian menjawab, "Kelemahan kamu dan masa lalu kamu akan mas terima dengan ikhlas, karena mas tulus mencintai kamu, mas berjanji!" "Baiklah jika begitu, aku menerima Mas Adrian menjadi kekasih aku!" jawab Aruna. "Sungguh? Terimakasih Aruna. Aku berjanji dan aku tidak akan pernah mengingkari janjiku ini, aku berjanji akan menerima semua kekurangan atau kelemahan kamu itu, aku berjanji akan membahagiakan kamu, Aruna?" ucap Adrian. Beberapa saat kemudian, Aruna dan Adrian pergi ke Andara Hotels. Sesampainya disana, Adrian pergi ke kamarnya, sementara Aruna duduk di kursi resepsionis untuk melayani tamu yang datang. Tak berapa lama kemudian, Sean keluar dari ruangannya dan menemui Aruna. "Aruna?" panggilnya. Aruna menjawab, "Iya, ada apa, Kak Sean?" "Malam ini ikut saya, kita makan malam bersama, orangtua saya ingin bertemu denganmu!" ajak Sean. Aruna menjawab, "Baik, Kak!" Sean kemudian pergi ke luar hotel tersebut dan menemui seseorang. "Bagaimana?" tanya Sean pada orang tersebut. "Kami belum berhasil menemukannya, tapi kami akan terus berusaha untuk menemukannya, Tuan!" jawab orang tersebut. "Pak Gerno, sudah hampir dua puluh tahun keluarga saya menyewa jasa anda tapi mengapa kamu belum menemukannya juga, jika tidak bisa sudahlah, daya akan ganti orang dan kamu serta anggota kamu tidak usah melakukan pencarian lagi, pergi saja dari kami, kalian sudah tidak berhasil mengerjakan tugas!" ucap Sean yang sudah lelah dengan semuanya, bertahun-tahun Sean dan keluarganya menyewa orang untuk mencari keberadaan Aubrey tapi belum juga ditemukan. Sean kemudian pergi dari sana meninggalkan ketua tim yang ia sewa selama bertahun-tahun lamanya. Siang hari kemudian, Adrian menemui kekasihnya tersebut. "Aruna?" panggilnya. Aruna menoleh dan menjawab, "Ada apa, Mas Adrian?" "Malam ini kita makan malam bersama ya? untuk merayakan hari jadian kita!" ajak Adrian. Aruna menolak, "Maaf, Mas! Aku sudah ada janji dengan atasanku untuk makan malam bersamanya dan keluarganya, aku tidak bisa menolak permintaannya, Mas!" "Aruna, sekarang kamu itu kekasih saya, tega sekali kamu mau di ajak makan malam bersama dengan pria lain, dimana perasaanmu, Aruna?" ucap Adrian yang marah pada kekasihnya. "Bukan begitu, Mas. Aruna tidak—" "Aku kecewa kepadamu, Aruna!" ucap Adrian seraya memotong ucapan Aruna dan memilih untuk pergi dari sana tanpa menunggu jawaban dari Aruna. "Mas Adrian, tunggu!" panggil Aruna yang tidak didengarkan oleh Adrian yang malah melangkah jauh darinya. Aruna terdiam ditempatnya, karena ia merasa telah sangat jahat pada Adrian, baru jadian beberapa jam lalu saja Aruna sudah melukai hati Adrian, sungguh saat ini Aruna sedang bimbang, Aruna harus memilih makan malam bersama Adrian atau Sean yang merupakan atasannya. "Apa yang harus aku lakukan, tidak sopan rasanya jika menolak ajakan atau perintah dari Kak Sean, dia atasanku?" batin Aruna. "Aruna?" panggil seorang wanita pada Aruna. "Ada apa, Bu?" tanya Aruna pada seorang karyawan hotel. karyawan hotel itu kemudian menjawab, "Tuan Sean mencarimu, saat ini ia sedang menunggumu di ruangannya. "Baik, Bu!" jawab Aruna. Aruna kemudian pergi ke ruangan general manager untuk menemui Sean. Sesampainya disana, Aruna masuk kedalam dan duduk di kursi yang terletak di depan Sean, Sean diam beberapa saat dan kemudian Sean mengeluarkan sebuah kotak dan menaruhnya ke atas meja. "Aruna tujuan saya memanggil kamu adalah ingin memberikan ini untuk kamu!" ucap Sean sembari memberikan sebuah kotak yang berukuran tidak terlalu besar pada Aruna. "Ini apa, Kak?" tanya Aruna sembari menerima kotak tersebut. Sean menjawab, "Nanti malam kamu akan makan malam bersama saya dan orangtua saya, saya ingin kamu memakai baju yang ada di kotak itu! "Tidak usah, Kak! Saya merasa tidak pantas menerima ini, tentu ini sangat mahal, kan?" tolak Aruna. Sean menjawab, "Iya, ini mahal. Tapi saya ingin kamu memakainya, ini adalah pakaian wanita muda dan jika kamu tolak, ini mau dipakai siapa?" "Baik, Kak. Saya akan memakainya nanti!" ucap Aruna. Sean menjawab, "Terimakasih!" "Bagaimana ini, tidak mungkin aku menolak ajakan dari atasanku, terlebih ia sudah membelikanku baju mahal ini, tidak sopan menolaknya, bukan?" batin Aruna. Melihat Aruna yang melamun, Sean kemudian bertanya, "Ada apa, Aruna? Kok melamun?" Mendengar panggilan dari atasannya, Aruna kemudian langsung menjawabnya, "Oh, tidak ada apa-apa, kok!" "Iya sudah, nanti jangan lupa ya? Makan malamnya," ucap Sean. Aruna menjawab, "Baik, kak! Aruna janji tidak akan melupakannya dan akan datang tepat waktu!" jawab Aruna. "Baiklah, jika begitu silahkan lanjutkan pekerjaanmu!" ucap Sean. Aruna kemudian tersenyum dan keluar dari ruangan Sean. Didepan pintu, Aruna berhenti sejenak untuk berpikir, "Apa yang harus aku lakukan?" Malam hari kemudian, Aruna pergi ke sebuah restoran yang menjadi tempat makan malam bersamanya dengan Sean dan kedua orangtua Sean. Setibanya disana, Aruna mencari Sean dan kedua orangtua Sean, setelah Aruna melihatnya, Aruna kemudian pergi menghampiri mereka. "Selamat malam!" ucapnya dengan sangat sopan. Andara menjawab, "Malam, silahkan duduk!" "Iya, sini duduk dekat saya!" sahut Sean yang mempersilahkan Aruna untuk duduk di kursi yang terletak di samping kanan Sean. Aruna kemudian patuh, dan duduk disana. "Baik, semuanya sudah kumpul. Mari makan bersama!" ajak Moza. Semuanya kemudian makan makanan yang ada di meja tersebut, setelah makan, Aruna diajak bicara oleh Andara. "Sebenarnya, keluarga kami sedang mencari putri kamu yang hilang selama bertahun-tahun!" ucap Andara. "Iya, pertemuan pertama kita di waktu itu mengingatkan saya dengan masa lalu, ketika saya melihat kamu saya seperti melihat bayi saya dulu, saya merasa punya ikatan batin denganmu, saya merasa bahwa kamu adalah putri saya," ucap Moza. "Saya rasa tidak mungkin, Tan! Mana mungkin anak panti yang tidak berpendidikan tinggi seperti saya adalah putri dari keluarga terpandang seperti kalian, menurut saya itu tidak mungkin?" ucap Aruna. "Entahlah, tapi kami merasa punya ikatan batin denganmu, apa kamu tidak merasakannya juga?" tanya Sean. Aruna menjawab, "Hal yang saya rasakan adalah, bahwa saya merasa nyaman dan aman ketika berada di dekat kalian, tapi mungkin ini hanya perasaan saya saja, karena kalian adalah orang-orang baik." "Bagaimana jika kita lakukan tes?" tanya Andara pada Aruna. Aruna menolaknya karena ia tak ingin merasakan sakit hati lagi untuk yang kesekian kalinya, "Tidak, Om! Saya tidak ingin sakit hati lagi, karena selama ini saya sudah melakukan tes dengan beberapa orang yang mengaku sebagai orangtua saya, dan hasilnya selalu negatif, saya takut nanti hasilnya juga akan negatif pula." "Baiklah, jika kamu tidak mau, tapi jika kamu nanti berubah pikiran silahkan hubungi kami!" ucap Andara. Aruna menjawab, "Baik, Om!" Keesokan harinya, Aruna pergi menemui Adrian yang masih merajuk karena masalah kemarin, Aruna masuk ke dalam ruang tamu kamar hotel Adrian. "Mas, apa kamu masih marah padaku?" tanya Aruna pada Adrian. Namun, Adrian tak menjawab pertanyaan dari Aruna, Adrian hanya diam saja. "Ini, aku bawakan makanan untuk sarapan Mas Adrian, ini aku sendiri yang memasaknya, Mas!" ucap Aruna sembari memberikan makanan tersebut pada Adrian. Adrian menolak, "Bawa saja pergi makanan ini, makanlah sendiri, aku tidak sudi!" Setelah berkata, Adrian pergi meninggalkan Aruna. Malam hari kemudian, Aruna menemui Adrian lagi untuk meminta maaf. "Mas, maafkan aku, aku janji tidak akan mengulanginya lagi!" ucap Aruna yang meminta maaf pada Adrian secara langsung. "Tak semudah itu, aku memaafkan kamu, Aruna!" jawab Adrian. Aruna kemudian bertanya, "Lalu, Mas mau apa dari saya agar saya dapat dimaafkan?" "Kita menikah bulan depan, apa kamu mau?" tanya balik Adrian pada Aruna. Aruna terdiam sejenak dan kemudian menjawab, "Baiklah, saya bersedia, Mas!" "Baik, saya akan siapkan semuanya!" ucap Adrian. Satu bulan kemudian, pernikahan Adrian dan Aruna dilangsungkan, Andara dan keluarganya hadir di acara tersebut. "Andara?" panggil seorang pria paruh baya pada Andara. Andara menoleh dan kemudian bertanya, "Arga, apa itu kamu?" "Iya, ini aku. Sebenarnya aku ingin kita menjadi satu keluarga dengan menikahkan putra-putri kita, tapi apalah daya, Adrian sudah lebih dulu menemukan jodohnya," ucap Arga. Arga adalah pengusaha juga dan Arga merupakan sahabat Andara dari Andara remaja, ternyata Arga adalah ayah kandung dari Adrian. "Iya, aku juga ingin, tapi kamu juga tahu. Putriku masih belum di temukan!" jawab Andara. Setelah selesai berbincang-bincang Andara dan semuanya duduk di kursi yang ada disana dan pernikahan kemudian dimulai. Ketika acara telah usai, semua tamu bersalaman dengan kedua mempelai, begitupula Sean, ketika Sean bersalaman pada Adrian, Adrian membisikkan sesuatu pada Sean, "Sekarang akulah yang menjadi pemenangnya dan aku minta kamu untuk tidak mendekati Aruna yang telah menjadi istriku, mengerti!" Sean kemudian menjawab, "Aku tidak mencintai Aruna dan asal kamu tahu, kedekatan kami hanya sebatas rekan kerja saja!" "Baiklah jika begitu, awas jika kamu mengingkarinya, aku tak akan segan-segan membunuhmu!" ancam Adrian pada Sean. Malam hari kemudian, Adrian dan Aruna bermesraan di dalam kamar. "Aruna, malam ini kamu milikku seutuhnya!" bisik Adrian tepat di telinga Aruna. Aruna menjawab, "Baik, Mas. Sekarang Mas adalah suami saya, Mas berhak melakukan apapun pada saya malam ini!" Beberapa saat kemudian, malam yang indah itu berubah menjadi malam yang menegangkan, ketika Adrian menghentikan aktivitasnya dan marah pada Aruna. "Apa-apaan ini, kau menipuku?" ucap Adrian. "Tidak, Mas. Aku berani bersumpah aku tidak menipumu!" jawab Aruna dengan jujur. "Bukti ini sudah jelas Aruna, sprei putih ini tak bernoda sama sekali, itu artinya kamu sudah tidak perawan. Aku tak menyangka ternyata gadis secantik kamu tidak bisa menjaga kehormatan dan kesucian dirimu, aku kecewa padamu!" ucap Adrian. Aruna menangis karena ia juga sangat syok, sebab ia tak pernah merasa pernah berhubungan dengan lelaki sebelum menikah, Aruna menjawab ucapan Adrian dengan jujur, "Tidak, Mas! Percayalah padaku, aku tidak pernah berhubungan dengan lelaki manapun sebelum menikah kamu, aku masih perawan, Mas!" "Mulutmu bisa berkata begitu, tapi nyatanya. Oh, aku tahu sekarang. Pasti Sean sudah meniduri kamu, Sean pasti yang sudah merenggut kesucian kamu. Benar, kan?" tuduh Adrian pada Aruna. Aruna menjawab, "Tidak, Mas. Aku tidak serendah itu, aku dan dirinya hanyalah rekan kerja, kamu tidak punya hubungan apa-apa, tolong percaya padaku, Mas, aku masih perawan!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD